My Cruel Husband

My Cruel Husband
Keributan di pagi hari


__ADS_3

Tengah malam semua sepupu Devan sudah kembali ke rumah masing-masing. Setelah memastikan kondisi taman kembali seperti semula, mereka semua langsung pergi. Ingin menginap, tapi Devan menolak mentah-mentah. Dengan alasan Devan tidak ingin diganggu.


Saat ini Devan tengah berusaha untuk membuat kedua mata anaknya tertutup agar mereka tak lagi mengganggunya yang sedang menyaksikan siaran balap motor.


Devan menonton sekaligus menepuk-nepuk punggung kedua anaknya yang berbaring di tengah permadani tebal bersama dengannya. Sesekali Ia menjawab celotehan Adrian yang mulai berbelok karena sudah mengantuk.


"Itu masih lama selesainya, Dad?"


Sudah berapa kali si bungsu itu bertanya hal yang sama. Pertanda kalau Ia tidak suka Devan menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk menonton.


"Iya, Sayang. Kamu tidur, cepat. Daddy tidak fokus karena kamu selalu bicara,"


Berbeda dengan Adrian, Andrean justru mulai terlelap. Napasnya sudah teratur. Ia menikmati sentuhan yang diberikan sang ayah di punggungnya.


***


Devan tak kembali ke mansion begitupun dengan Rena. Sepertinya lelaki itu akan terus di rumah, sampai Lovi menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Vanilla dan Jane sudah menampakkan wajah cantik mereka di rumah Devan dari pagi-pagi buta. Mereka kira bisa mengajak si kembar untuk jalan pagi di sekitar komplek. Sayang, Devan belum mengizinkan anaknya untuk itu.


Sehingga Rena mengambil kesempatan yang ada. Daripada mereka hanya diam di sofa, lebih baik membantunya dan Senata memasak di dapur.


"Aku tidak bisa, Ma."


Rena mendesah kesal. Melihat bibir anaknya yang sudah mencebik dengan mata berair, akhirnya Rena mengambil tugas Vanilla, memotong bawang.


"Tidak selamanya suami kamu nanti makan di luar. Sesekali dia pasti menginginkan istrinya memasak,"


"Pagi,"


Jane yang sudah mengatakan ingin melepaskan merasa goyah pagi ini. Tidak biasanya Devan menyapa hangat. Padahal yang disapa bukan hanya dia, tapi semua orang yang ada di dapur.


Matanya mengerling pada Devan yang tak ditanggapi oleh lelaki itu.


"Pagi, Tampanku."

__ADS_1


"Jijik, Jane." Devan mencibir seraya bergidik. Jane memanggan ayam dengan kekesalan tingkat dewa. Ia membalik ayam tidak santai hingga akhirnya beberapa bagian menjadi terpisah.


Rena berbalik saat mendengar suara Jane yang frustasi. Pasti semburan Rena akan singgah di telinganya.


"Jane, itu ayam utuhnya untuk Andrean yang kemarin minta dibuatkan. Kalau terbelah begitu, nanti dia tidak mau memakannya,"


"Anak itu ada-ada saja. Yang dia makan ini sama-sama ayam,"


Ia merasa disulitkan oleh Andrean. Sementara Rena malah senang karena Andrean sangat jarang meminta ini dan itu terutama dalam hal masakan. Cucunya yang satu itu tidak terlalu pemilih untuk makanan.


Devan tergelak melihat Jane yang dimarahi habis-habisan oleh Rena. Rena yang mengambil alih panggangan. Namun yang membuat matanya membulat adalah saat Rena kembali meminta ayam utuh pada Netta untuk dipanggang.


Lalu ayam yang sudah terbelah itu ingin di apakan setelah ini? tidak mungkin dibuang. Karena walaupun Rena orang berada, Ia akan marah saat makanan yang masih layak untuk dikonsumsi malah dibuang secara cuma-cuma. Ia sadar betul tidak semua manusia memiliki keberuntungan seperti dirinya. Rena banyak belajar dari anak-anak panti serta orang tak bersandang dan berpangan di jalan raya yang setiap bulan Ia kunjungi.


-----


Morning YUHUU🌈 AKYU DATANG. SEPERTI BIASA BAWA 1 EP DI PAGI INI MWEHEHEH. JGN LUPA VOTE & KOMEN, LIKE JG YAA, EH KOMEN JG. TERIMA KASIH💙😚

__ADS_1


__ADS_2