My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pelajaran untuk si kuman


__ADS_3

"Kenapa membawaku ke sini? Kamu merindukanku?"


Devan berdecih, tanpa tedeng aling-aling Ia memberi sentuhan di leher Elea. Bukan sentuhan lembut yang biasanya selalu Elea dapatkan ketika menjadi kekasih Devan. Kali ini urat di tangan Devan yang menonjol membuktikan betapa kerasnya Ia memberi tekanan hingga gadis itu sulit untuk menghirup oksigen.


"Katakan itu sekali lagi, dan kau akan mati sekarang juga," Devan bagai iblis lupa diri. Bibir tebalnya berdesis kejam dengan senyum miring yang terlihat menyeramkan di mata Elea.


"Dev--Devan, lepaskan! Kamu tidak akan bisa me--melakukan itu,"


Devan mendorong tangannya yang sedang beraksi itu hingga akhirnya kepala gadis itu ikut terdorong ke dinding.


Untuk meringis saja rasanya sulit. Tenggorokannya terasa ditindih beban berat. Hanya air mata yang bisa memberi tahu Devan kalau gadis itu memang benar-benar sudah kesakitan. Devan bahagia, Ia terkekeh lalu mengangkat satu tangannya untuk membuat wajah Elea berpaling ke samping. Ia meninggalkan jejak merah di pipi mulus bak porselen milik mantan kekasihnya. Ketika melihat bekas jarinya sendiri di sana, Devan semakin menggila.


"Devan, kamu--kamu bi--bisa membunuhku, Brengs*k!"


"Itu yang aku inginkan. Tapi perlahan saja, Elea. Aku tahu kamu mau menikmati kesakitan ini. Akan aku berikan, sebelum kematian menjemputmu,"


Elea berontak, berusaha melepaskan lehernya dari kekuasaan Devan.


"Devan-- aku--"


"Kamu berhasil menyakiti anakku. Aku tidak bisa diam saja saat anakku menangis ketakutan. Itu semua karena kamu, Jal*ng!"


Devan kembali mengulangi perbuatannya hingga bibir Elea berdarah. Napas Elea tersengal dengan wajah memucat. Aliran darah di lehernya tak mencukupi karena perbuatan lelaki di depannya ini.


"Dev--Devan, maafkan aku,"


Devan menggeleng seraya terkekeh. Ia belum puas melihat gadis itu tersiksa.


"Coba ulangi, kamu mengatakan apa?"


Tangan Devan dicakar oleh Elea namun itu tidak meninggalkan sakit sama sekali. Devan kebal terhadap itu semua. Ditembak sekalipun, Ia hanya masuk rumah sakit tidak lama. Serangan murahan yang diberikan Elea hanya membuatnya ingin tertawa saja.


"Maafkan aku, Bodoh!"


Devan mengetatkan rahangnya. Tangan kokoh itu semakin memporak porandakan jalur pernapasan Elea.

__ADS_1


"Kamu yang bodoh! Kamu menyakiti anakku, dan hal itu adalah salah satu bentuk kebodohanmu,"


Devan melepaskan cengkaramannya. Elea langsung meraup oksigen sebanyak mungkin. Tak cukup sampai di situ, Devan menarik surai indah milik Elea yang dulu begitu dipujanya. Setiap mereka bertemu, Devan selalu memberi usapan. Seolah dengan itu, Ia bisa menyampaikan betapa Devan mencintai gadis itu.


Kini sejumput rambut Elea diperlakukan berbeda oleh Devan.Tak ada kelembutan lagi.


"Argh, sakit, Sial*n!"


Plakk


Sudah kesekian kalinya Devan mendaratkan telapak tangan di wajah Elea. Seolah menantang, Ia malah mengumpat pada Devan.


"Sekali lagi kamu menyakiti orang yang aku sayangi, kamu tidak lagi berakhir seperti ini..."


Tangan Devan mengusap wajah Elea. Setelah menyakiti, Ia berlaku lembut. Elea benar-benar seperti perempuan tak punya harga diri sekarang. Dan bodohnya Ia terlena.


"Kamu akan berakhir dengan kematian,"


Sebelum meninggalkan gadis itu, Devan dengan santai menarik rambut Elea lagi hingga pemiliknya memekik kesakitan.


Devan menoleh ke belakang, melemparkan senyum penuh ejek. Penampilan Elea yang jauh dari kata baik-baik saja sudah cukup membuat Devan puas.


"Kamu darimana?"


Rena rupanya sudah datang ke rumah sakit. Ia keluar dari ruangan Lovi dan bertemu dengan putranya yang ingin masuk ke dalam.


"Memberi pelajaran untuk kuman pengganggu,"


Devan masuk lalu menutup pintunya, meninggalkan Rena yang bertanya-tanya dalam hati.


"Kuman?"


Rena menggeleng acuh. Kemudian Ia melanjutkan langkahnya ke ruangan Andrean dan Adrian, ingin menjaga cucunya bersama sang suami. Ia membiarkan Devan menjalin komunikasi lagi dengan Lovi.


Rena melihat Elea yang baru saja keluar dari koridor ujung, dari jauh Ia memicing. Melihat wajah memar gadis itu, Rena langsung bisa menyimpulkan.

__ADS_1


"Oh dia yang dimaksud kuman oleh Devan," Ia tersenyum miring lalu melanjutkan kalimatnya,


"Kenapa dia ada di sini? apa dia sengaja datang untuk mencari masalah dengan Devan?"


Elea tidak menyadari kehadiran Rena. Rena melihat gadis itu masuk ke dalam sebuah ruangan, dan pemikiran Rena tadi langsung berubah. Sepertinya gadis itu memang sedang ada keperluan di rumah sakit ini. Mungkin menjenguk kerabatnya yang sakit.


Ia masuk ke dalam ruangan cucunya lalu melihat sang suami yang sibuk berkutat dengan kertas-kertas di tangannya.


"Pa, Elea ada di sini. Papa tahu?"


Raihan mengangkat kepalanya yang sejak tadi fokus menatap segala berkas yang sengaja Ia bawa ke sini agar bisa dikerjakannya selagi menjaga si kembar yang besok sudah diperbolehkan pulang.


"Tidak, kenapa dia ada di sini?"


Rena menghela bahunya lalu duduk di sofa yang lain. Rena tidak pernah mau menyentuh berkas pekerjaan suaminya. Dan lagi Raihan akan sangat acuh padanya sekalipun Ia mendekati Raihan. Rena sudah biasa diduakan oleh pekerjaan.


"Mereka sudah membuat cucu kita menangis tempo hari dan juga hari ini. Sepertinya Devan baru saja menyakiti bedebah itu,"


Kerutan di kening Raihan semakin dalam. Ia tidak tahu mengenai hal itu.


"Mereka menangis karena Elea?"


"Ya, Elea adalah Tante jahat menurut mereka,"


"Dia menyakiti cucuku?" nada bicaranya sudah berubah geram. Kenapa Ia baru mengetahui fakta ini?


"Adrian pernah dibentaknya habis-habisan tempo hari. Dan saat ke taman rumah sakit tadi, mereka kembali bertemu,"


Mendengar penjelasan Istrinya rahang lelaki paruh baya itu mengeras. Matanya beralih pada dua anak laki-laki yang terlelap begitu nyaman.


"Aku senang ketika Devan melakukan hal yang benar. Orang seperti itu memang harus diberi pelajaran. Kalau dia masih membangkang, Devan tahu apa yang harus Ia lakukan. Membunuh, misalnya."


Rena mendelik saat Raihan berkata begitu santai. Rena melirik kedua cucunya untuk memastikan kalau mereka masih terlelap, tidak mendengar kalimat kejam suaminya.


"Kalian benar-benar pembunuh berdarah dingin,"

__ADS_1


------


Huwaaa tarik napas buanggg. Kelar jg tulisanku hr ini. 4 ep sprti biasa, jgn irit Vote ( Poin& koin), Ratting 5, dan komen yaaa. Terima kasih untk kalian semua yg baik hati udh meninggalkan jejak. Sampe jumpa lain wktu. BABAYYYY


__ADS_2