
Lovi sedang mempersiapkan dirinya untuk memeriksa kandungannya bersama Devan yang hari ini sengaja mengosongkan jadwalnya.
Usai mengikat rambutnya ke atas, Lovi memasukkan barang-barang kecil milik Lelaki itu yang sudah di letakkan di atas ranjang. Akhir-akhir ini Bila mereka akan pergi bersama, Devan selalu menyerahkan barang-barang berharganya pada Lovi. Layaknya seorang suami pada umumnya.
Sekali lagi perempuan itu menatap cermin. Perutnya semakin terlihat. Ia bahagia karena sebentar lagi waktu pertemuannya dengan sang anak akan tiba.
Devan memeluk pinggang Lovi dari belakang. Ia menghirup dalam-dalam aroma lavender milik perempuan yang dibalut dengan baju hamil bermotif bunga sakura itu.
"Baju ini terlalu besar untukmu?" Bisiknya di balik telinga Lovi. Membuat Lovi merinding karena deru napas itu menderanya.
"Tidak," Ucap Lovi dan menatap bajunya sendiri. Tidak ada yang salah dengan pakaiannya sekarang.
"Bagian lehernya terlalu besar untukmu,"
Lovi menghela napas lelah. Devan selalu mengomentari busananya. Ada saja yang kurang dimatanya. Semakin hari sikap lelaki itu sulit untuk dimengerti.
"Aku rasa tidak,"
"Ya, dan itu membuat mataku sakit,"
Lovi ingin sekali memutar bola matanya namun Ia tidak mempunyai nyali sebesar itu. Mengingat di hadapannya saat ini adalah cermin besar dan Devan akan mengetahuinya dari sana. Ia hanya bisa menggerutu dalam hati,
'Jangan dilihat kalau membuat mata sakit! Apa saja yang aku pakai pasti selalu di komentari buruk,"
Devan melepaskan jalinan tangannya di pinggang Lovi lalu menyentuh hidung bangir istrinya.
"Kamu membatin atau apa? Aku dapat mendengarnya,"
Ekspresi Lovi berubah terkejut. Ia yakin kalau bukan bibirnya yang berbicara. Tapi Kenapa Devan mendengarnya?
"Tentu saja aku mendengarnya karena yang kamu lakukan menggerutu secara jelas,"
Devan tersenyum tipis saat melihat Lovi yang mengerinyit berusaha mengingat apa yang dilakukannya tadi. Itu terlihat menggemaskan di matanya.
"Benarkah?"
Devan langsung mengangguk dengan wajah datar saat melihat Lovi ketakutan. Ia tertangkap basah menggerutu pada Tuannya. Melihat raut wajah Devan yang tiba-tiba berubah membuat Lovi kembali mengingat masa-masa kelamnya dulu. Ketika tidak ada satupun kesalahan yang boleh dilakukannya.
"Maafkan aku, Tuan," Ucapnya dengan pelan. Matanya yang sayu membuat batin Devan berteriak,
'Aku benci melihat matamu yang menyedihkan itu! Aku mohon jangan memperlihatkannya lagi di depanku.'
Secepat kilat Devan membawa tubuh Lovi dalam rengkuhan. Ia hanya berusaha untuk mencairkan suasana. Tidak menyangka kalau respon Lovi seperti itu. Devan Mengusap lembut lengan Istrinya seraya berbisik,
"Aku tidak marah. Tolong jangan takut lagi padaku,"
Devan semakin dibuat tidak percaya dikala Lovi menjawab ucapannya dengan suara setipis udara.
"Tuan menyeramkan tentu saja aku takut,"
Devan terkekeh bahagia. Lovi mulai terbuka padanya. Ia berharap perubahan yang positif akan segera terjadi dalam pernikahannya. Ia belum bisa menjanjikan apapun untuk saat ini. Yang jelas Ia tidak bisa berpisah dengan anaknya.
*************
__ADS_1
"Akan menjadi dua penerus yang lebih tampan darimu, Tuan," ujar dokter perempuan yang khusus menangani Lovi.
Devan tersenyum dan matanya beralih pada Lovi yang justru menatap janin yang terlihat melalui monitor itu dengan pandangan sedih, kosong, tak tergambarkan hal apa yang sedang menghantui pikirannya.
Devan membantu Lovi untuk merapikan pakaiannya yang tadi disingkap. Tangannya menggengam erat Lovi agar perempuan hamil itu mudah bangkit dari posisi tidurnya.
"Terimakasih," Ucap Devan yang membuat dokter itu mengangguk seraya tersenyum hangat pada sepasang insan manusia yang Ia pikir sangat bahagia itu karena sebentar lagi akan hadir ditengah mereka sosok bayi mungil yang akan menemani masa tua mereka.
Nyatanya kebahagiaan itu tidak dirasakan oleh Lovi. Semakin dekat dengan waktu kelahirannya maka semakin dekat juga dengan perpisahan yang akan merenggut semua kehangatan dan kebahagiaan yang akhir-akhir ini menyelimutinya.
"Aku ingin ke toilet,"
Devan mengangguk dan akan bergegas menemani perempuan itu. Namun Lovi mengisyaratkan agar Lelaki itu tetap tinggal.
"Aku bisa sendiri,"
"Aku akan menemanimu,"
Seperti biasa, Lelaki itu tetap dengan pendiriannya.
"Tidak, Tuan,"
Lovi pergi meninggalkan Devan yang menghela napasnya. Seraya menunggu Lovi, Devan duduk lalu mengambil ponselnya di dalam tas Lovi yang ditinggalkan perempuan itu di sisinya.
Bukan sosial media, dan email para Relasi yang di lihatnya dalam ponsel itu. Namun Devan memilih untuk menelusuri satu persatu gambar pangeran kecilnya yang Ia ambil tadi selagi Lovi melakukan pemeriksaan.
Ia tidak sabar bertemu dengan Anaknya itu. Sebentar lagi Ia akan merasakan bagaimana menjalani kewajiban dan tugasnya sebagai seorang ayah.
Ia mulai gelisah menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya. Lovi tidak juga kembali dari toilet. Entah apa yang dilakukannya di dalam sana.
"Ya Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali?" Batin Lovi berteriak dalam kesendiriannya.
"Lov? Hei, apa yang kamu lakukan di dalam?"
Devan mengabaikan tatapan para wanita yang sedang berada di dalam toilet juga. Tidak ada yang lebih penting dari Lovi saat ini.
"Aku hanya khawatir pada Istriku," Ucapnya menjelaskan pada seorang wanita tua yang tampak tidak nyaman dengan kehadirannya. Itu terlihat dari tatapannya yang sinis pada Devan.
Lovi keluar dari dalam bilik dengan wajah yang sedikit basah. Ia baru saja menghilangkan jejak kesedihannya menggunakan air mengalir.
Devan menatap sekitarnya yang mulai sepi. Kini tinggal Ia dan Lovi yang masih berada di dalam. Devan membawa Istrinya ke area toilet yang lebih sunyi. Ia membutuhkan beberapa waktu untuk mengeluarkan semua pertanyaannya sebelum memutuskan untuk kembali ke mansion.
"Apa yang kamu lakukan di dalam?"
"Panggilan alam," Jawab Lovi singkat. Ia menunduk tidak ingin menatap manik tajam yang berhasil membuatnya jatuh cinta itu.
"Kenapa lama sekali?"
Lovi diam menatap ujung flat shoes yang di gunakannya. Devan mengangkat dagu Lovi agar Ia bisa menatap mata lembut Istrinya.
"Aku tidak ingin anakku hanya di urus olehmu. Ini anakku juga, Tuan,"
Niat hati Ia akan menyembunyikan kesedihannya dari Devan namun ternyata Lovi tidak setangguh itu untuk melakukannya. Ketakutan akan kehilangan anaknya membuat batin Lovi berontak.
__ADS_1
Devan tidak mengerti maksud ucapan perempuan itu. Ia hanya bisa menatap lurus wajah Lovi yang kini memerah. Terasa menyakitkan ketika melihatnya sedang berusaha meredakan tangis seperti itu.
Devan menggeleng seraya menghapus kristal bening yang menghujani wajah cantik miliknya Istrniya. Kemudian merangkumnya dalam balutan hangat yang di berikan oleh tangannya.
"Aku tidak pernah mengatakan itu, Lov,"
"Tuan tidak perlu berbohong padaku!"
Suara Lovi naik hingga terdengar seperti membentak. Membuat emosi yang selama ini terkubur kembali meluap ke permukaan.
'Nona Vanilla mengatakannya dengan jelas padaku,'
Lovi ingin berteriak menjelaskan. Tapi tidak mungkin, karena Ia bukanlah perempuan penghancur. Devan bisa saja melukai adiknya sendiri mengingat lelaki itu terlihat sangat menyayangi anaknya. Ya, hanya anaknya.
"Kamu membentakku?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Tuan!!"
Sisi kelakiannya tidak terima dengan perlakuan Lovi yang tiba-tiba saja berubah. Ia merasa tidak pernah mengucapkan hal itu pada Lovi. Perempuan itu kini menuduhnya.
**********
Tidak ingin perdebatannya dengan Lovi dilihat oleh pengunjung toilet, Devan memutuskan untuk menarik tangan Lovi. Ia akan menyelesaikannya di mansion.
Tapi Devan sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Sampai di mobil, Ia langsung memaksa Lovi untuk menatapnya.
"Beraninya kamu kasar padaku, Jal*ng?!"
Devan membuat Lovi kesakitan lagi setelah akhir-akhir ini Ia tidak pernah melakukannya. Kepala Lovi sampai melekat erat pada jok mobil karena tekanan pada lehernya yang diciptakan lelaki itu.
Devan sampai tidak peduli dengan air mata yang kian deras mengalir itu. Devan menjerat Lovi makin kencang saat ingatannya kembali terlempar pada kejadian tadi. Dimana Lovi membuat kesalahan di saat Ia sudah berusaha untuk menghargai perempuan itu.
Wajah Lovi kian memutih, pandangannya terluka dan saat ini Devan kembali berubah menjadi manusia berhati iblis.
"Tuan, Lepaskan," Ujar Lovi tersendat karena aliran oksigen semakin menipis.
"Aku benci dengan kamu yang seperti itu, Jal*ng! Kamu tidak seharusnya marah padaku,"
"Maaf, Maafkan aku,"
Ketika bulir dari manik itu jatuh membasahi tangannya, Devan menyudahi perilaku bejatnya. Lovi langsung meraup udara sebanyak mungkin seolah tidak ada waktu untuk melakukannya selain saat ini. Ia hampir mati karena Lelaki di hadapannya.
Dengan wajah datar, Devan menghapus air mata Lovi. Ia memang menyakiti Lovi namun lagi-lagi pertahanannya runtuh ketika mengingat anaknya.
Lovi masih tergugu dalam kesedihannya dengan Devan yang kini membalutnya dalam pelukan hangat. Seolah menyalurkan segala bentuk permintaan maaf atas perbuatannya.
"Maaf, Lov,"
Lovi melepaskan tangan Devan dari tubuhnya. Ia masih kaget dengan apa yang baru saja diterimanya. Kekerasan, hingga Lovi hampir mati bersama dengan anaknya.
Devan mengusap kasar wajahnya seraya menghela napas pelan. Tangannya mulai bekerja dibalik kemudi.
*************
__ADS_1
HAAAA ko aku yg gesoh" sii kalo Devan nyebut 'Lov' bgtu😂😂 oiya jgn lupa like, comment, vote nya gezzzz. Tencuuuu