My Cruel Husband

My Cruel Husband
Memenuhi undangan


__ADS_3

Suasana dari luar kediaman Jino sepertinya tidak menggambarkan kalau perayaan yang sedang terjadi di dalam berlangsung secara sederhana.


Entah terlalu senang atau memang sedang ingin berbuat konyol, Adrian sengaja keluar dari seat belt dengan cara yang membuat Devan menggeleng. Ia menurunkan tubuhnya ke bawah agar seat belt tak mengekang perutnya lagi, bukannya melepas seat belt dengan benar.


"Kamu sudah tidak sabar menikmati acaranya atau tidak sabar ingin bertemu Adrina?"


"Kedua-duanya,"


Anak itu membuka pintu mobil sendiri lalu menunggu Devan yang sedang terperangah dengan tingkah anaknya, di luar.


Devan keluar dan mereka memasuki istana yang megah itu. Ini bukan rumah Jino yang berdekatan dengan rumah Devan. Posisinya berbeda sampai Devan harus bertanya lebih detail lagi tadi.


"Terima kasih sudah datang," Sheva dan suaminya langsung menyambut kedatangan Devan dan putranya dengan hangat. Rupanya benar acara ini hanya dihadiri oleh kerabat dekat tetapi jumlahnya lumayan banyak juga. Dan terlihat sangat megah walaupun saat mengundang, jelas-jelas Jino mengatakan kalau perayaan ulang tahun istrinya kali ini. sederhana.


"Adrina dimana?"


"Sedang bermain dengan sepupunya, di taman."


"Aku mau ke sana," ujar Adrian menarik tuxedo Devan agar Daddy-nya itu menunduk dan mendengar jelas ucapannya, jangan sibuk berbincang dengan Jino. Sebenarnya maklum saja. Mereka sangat jarang bertemu. Semenjak Jino pindah, mereka tetap saja kesulitan untuk mengatur waktu.


Devan mengangguk dan membiarkan anaknya bergabung dengan Adrina dan sepupunya. Agar Devan tenang, Ia tidak akan membiarkan anaknya bermain sendiri, Ia mengajak Jino untuk berbincang di dekat saung yang ada di taman dimana Adrian bermain sekarang.


Berhubung malam ini benar-benar hanya dirinya dan Adrian, jujur Devan merasa kesulitan untuk menjaga anaknya. Penjaga Adrian Ia perintahkan untuk berjaga di luar saja. Karena sejak di mobil saja Adrian dengan tegas mengatakan pada ayahnya bahwa Ia akan main sendirian di acara itu, tidak ingin diikuti seperti biasanya.


"Lovi dan kedua anakmu yang lain kenapa tidak datang?" tanya Jino pada sang sahabat. Yang disambung oleh istrinya.

__ADS_1


"Padahal aku sudah berharap bisa bincang hangat dengan istrimu,"


"Mungkin sibuk, Sayang. Kamu yang punya anak satu saja sudah pusing minta ampun. Apa lagi Lovi yang punya tiga anak,"


"Ah kau pintar!" puji Devan atas jawaban Jino yang tahu betul dengan alasan Lovi tidak bisa datang sekarang.


"Datang tidak sempat tapi cari kado masih sempat ya?" ujar Sheva mengingat Devan dan Adrian datang ke sini tidak dengan tangan kosong.


Sementara orangtua Adrian dan Adrina menghabiskan waktu dengan obrolan, kedua anak mereka malah berkutat dengan permainan ular tangga.


Kebanyakan sepupu Adrina adalah laki-laki. Seharusnya Adrian nyaman akan hal itu karena mereka akan akrab. Tapi yang dirasakan Adrian saat ini justru sebaliknya. Karena Adrina sibuk dengan mereka, Adrian lebih sering tidak diacuhkan. Mungkin Adrian belum bisa memahami bahwa mereka adalah sepupu. Tentu saja sangat dekat.


"Aku diberi kado juga? Mommyku yang ulang tahun, Raskal."


"Ah tidak mau. Kamu anak yang jahil. Aku takut isinya sesuatu yang aneh,"


Sepupu Adrina yang bernama Raskal belum lama bergabung dan Ia datang dengan kadonya. Ia mengulurkan kotak kecil itu pada Adrina.


"Kalau kamu tidak mau membukanya, biar aku saja."


"Ck! apa sih?! ini punya sepupuku!" Raskal merampas hadiah untuk Adrina dari tangan Adrian. Adrian adalah anak yang paling tidak sabaran kalau melihat orang ingin membuka kado. Inginnya Ia saja yang membuka lalu melihat isinya.


Raskal membujuk Adrina untuk menerima pemberiannya yang dibalut kertas berwarna merah muda itu. Akhirnya Adrina membuka pemberian Raskal.


Rupanya Raskal memberikannya ballet crown atau mahkota yang bisa dipakai untuk dirinya menari balet. Adrina bahagia sekali melihatnya. Sampai Ia melompat-lompat, terlalu bahagia. Ia tidak menyangka bisa menerima kado padahal yang ulang tahun adalah Mommy-nya, Sheva.

__ADS_1


"Aku pakai sekarang," Adrina meletakkan kotaknya di atas meja tempat mereka berkumpul. Setelah terpasang dengan cantik di kepalanya, semua sepupu Adrina bertepuk tangan, memuji kecantikan Adrina yang kian memancar setelah mengenakan mahkota itu.


"Ayo, kita belajar balet sekalian," ujar Agisha, anak perempuan yang sedari tadi diam saja. Adrina mengangguk antusias untuk membagi ilmunya. Ia terlalu serius untuk menjadi pelatih balet, sampai lupa kalau ada Adrian yang wajahnya sudah tidak sedap dipandang mata.


"Aku tidak mau. Untuk apa belajar jadi perempuan. Hey Raskal, Gerald, hmm...siapa namamu?" Adrian tidak begitu hafal dengan nama sepupu Adrina yang lainnya. Mereka bertemu baru kali ini.


"Namaku Stefan,"


"Oh, Stefan sebenarnya kamu juga tidak setuju 'kan kalau kita belajar balet?" Karena Adrian melihat wajah Stefan langsung berubah setelah Adrina mengatakan ingin mengajarkan balet.


"Iya..."


Adrina tak peduli. Ia tetap berputar-putar dengan gerakan cantik menggunakan mahkota pemberian Raskal.


"Ayo, cepat! bergerak!"


Adrina tertawa sambil mengarahkan sepupu-sepupunya. Raskal dan yang lainnya melakukan itu karena untuk senang-senang saja. Sementara Adrian dan Stefan masih diam menyimpan rasa kesal.


"Adrian! aku sudah katakan, kamu harus belajar balet. Tadi aku sudah belajar sepak bola dan kamu yang mengajarkan. Sekarang giliran aku yang menjadi guru,"


Akhirnya Adrian mulai mengikuti gerak indah yang diciptakan tubuh Adrina. Melihat Adrian sudah menyerah, Stefan pun demikian.


Adrina semakin tertawa dibuatnya. Adrian memenuhi keinginannya tetapi wajah anak itu benar-benar cemberut.


"Astaga, calon atlet sepak bola disuruh belajar balet. Apa kata dunia?!"

__ADS_1


__ADS_2