My Cruel Husband

My Cruel Husband
Adik kalian sakit juga


__ADS_3

"Dad, jangan pergi dulu ya,"


Sungguh, ini adalah permintaan yang paling membahagiakan untuk Devan sekaligus berhasil mencubit hatinya.


Devan merasa sangat dibutuhkan oleh anaknya. Maka Ia pun demikian. Devan membutuhkan mereka untuk menjalani hari-hari esok. Andrean dan Adrian adalah pusat dari pusara kehidupannya hingga nanti. Mereka terluka, sedih, bahagia, maka Devan pun turut merasakannya.


"Tentu, sayang. Daddy akan di sini sampai kalian baik-baik saja,"


Andrean menatap kosong ayahnya. Tangan kecil itu beralih untuk mengusap rahang berbulu tipis milik Devan. Devan menjerit dalam hatinya. Ia berusaha untuk tetap kuat tapi melihat kondisi mereka yang seperti ini, Devan seakan di hujam dengan ratusan tombak yang siap membunuhnya.


"Dad, Sudah makan?" Adrian menoleh pada Devan. Wajah yang selalu tampil tengil, kini mampu membuat siapa saja yang melihatnya merasa iba. Ia tersenyum pada Devan. Bukan senyum miring khas Adrian. Tapi lebih kepada senyum kepedulian. Karena hingga malam seperti ini, Devan belum juga makan.


"Nanti, Sayang. Kalian tidur, Daddy makan,"


"Sejak tadi Daddy di sini. Sampai-sampai belum makan. Nanti Daddy sakit seperti kami,"


Devan beralih pada anak di depannya. Malaikat kecil yang keluar lebih dulu dari rahim Lovi.


"Mommy juga belum makan," ucapnya seraya melirik Lovi yang kini menatap sendu Adrian, menilik wajah pucat anak bungsunya. Seolah tak puas memastikan kondisi Adrian. Bahkan ketika Adrian dan Andrean tersenyum saja, Lovi merasa hatinya masih dipenuhi rasa khawatir.

__ADS_1


"Iya, Mommy belum makan juga," Adrian menggoyang tangan Lovi yang masih menggenggam erat jemari mungilnya.


"Nanti, Mommy bisa makan kapanpun,"


"Kalau Mommy dan Daddy sakit, siapa yang menjaga kami?"


Devan dan Lovi hanya mampu menghela napas pelan. Memilih bungkam. Karena pergulatan batin tetap mementingkan kondisi anak-anaknya. Mereka merasa masih kuat. Karena memang harus seperti itu jika sudah di anugrahi anak. Tidak bisa lagi merengek, justru seharusnya merekalah yang mengayomi rengekan anaknya.


Ternyata keyakinan akan kata 'baik-baik saja' tanpa makan dan istirahat malah membawa petaka. Karena ketika Lovi beranjak ingin ke kamar mandi memuntahkan sesuatu yang bergejolak dalam perut, Ia malah limbung. Lovi kembali pingsan dan lagi-lagi Devan bisa membuktikan betapa tangkasnya dia dalam melindungi Lovi.


"Mommy, Mommy kenapa?"


Devan membaringkan Lovi di sofa. Ia tersenyum menenangkan kedua anaknya. Padahal Ia sendiri sudah kalang kabut sekarang.


"Apa yang terjadi, Tuan?"


Devan menunjuk Lovi dengan dagunya.


"Istriku pingsan," Devan menjawab singkat setelah itu mengusar wajahnya dengan perasaan cemas yang tak henti menggerayangi hatinya.

__ADS_1


Sudah dua kali Lovi pingsan hari ini. Kenapa Devan tak bisa dibiarkan menghela napas lega sedikit? Ada saja yang membuatnya hampir gila.


"Tuan, Kandungan Istri Anda melemah,"


Seolah belum cukup, Devan kembali ditimpa godam besar. Namun kali ini sedikit berbeda. Ada rasa bahagia yang menyusup diantara banyaknya rasa khawatir.


"Mommy kenapa, dokter? Tiba-tiba saja tidur. Padahal tadi masih belum mengantuk," Andrean bertanya penasaran tetap dengan gayanya. Belum sepenuhnya mengerti kalau Mommynya telah hilang kesadaran untuk beberapa waktu ke depan.


"Adik kalian sakit juga,"


Mata keduanya yang tadi tampak layu langsung membulat. Devan memijat hidung atasnya.


"Berapa usia kandungannya, dok?" Devan belum membiarkan anaknya banyak bicara. Ketika Andrean ingin membuka mulut, Devan langsung menyela.


"Enam minggu,"


Artinya dua minggu sebelum perceraian mereka diresmikan, Lovi sudah mengandung. Mereka telah bercerai sejak empat minggu yang lalu. Devan tidak akan meragukan apapun saat ini. Itu anaknya. Ia yakin Lovi masih mencintainya. Sekeras apapun perempuan itu mengelak, Devan percaya Lovi akan terus menjaga dirinya sendiri sampai kemudian Devan datang untuk menariknya kembali dalam pelukan.


"Nyonya akan dipindahkan ke ruang perawatan,"

__ADS_1


-----


Uhuyyy Lovi udh ketauan tekdung. JGN LUPA VOTE&KOMEN *Bodo amat w bawell😂😂


__ADS_2