My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kejadian saat bersepeda


__ADS_3

"Kamu menikah di usia berapa?"


"Delapan belas tahun,"


"Astaga, kamu menikah muda? kenapa punya keinginan menikah muda?"


Lovi tersenyum tipis. Bukan keinginannya. Ia dijual oleh ayahnya di usia delapan belas tahun. Ia tidak diizinkan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Menikah muda bukan keinginan Lovi yang pada saat itu memiliki mimpi untuk menjadi seseorang yang pandai dalam bidang desain interior.


"Tapi kelihatannya lelakimu lebih dewasa ya? ah kamu kecil-kecil suka yang berpengalaman,"


"Iya dia lebih dewasa daripada aku. Tapi Dia yang lebih dulu suka padaku,"


Nathalie harus tahu bahwa Devan yang tergila-gila padanya walaupun Lovi akui di awal pernikahan mereka, Ia lah yang lebih dulu menaruh perasaan pada Devan. Tapi akhirnya Devan yang bertekuk lutut.


Auristella nyaman saja mendengar Lovi berbincang. Ia hanya merengek sesekali di atas pangkuan Lovi.


"Sudah lelah?"


"Sudah, lihat keringatku. Banyak sekali, Dad." keluh Adrian seraya menunjukkan keningnya yang dipenuhi keringat.


Devan mengusapnya dengan handuk yang berada di leher anaknya. "Manja, padahal tinggal di hapus sendiri," kata lelaki itu pada anaknya.


"Ayo, kita lanjut lagi bersepeda,"


Mereka bertiga menghampiri Lovi bersama Nathalie. Lovi memperkenalkan Nathalie pada anak dan suaminya.


"Kami pergi dulu, Nyonya."


"Ya, hati-hati. Sampai bertemu lagi ya,"


Lovi melambai sebentar sebelum benar-benar menjauh dari hadapan Nathalie. Nathalie melihat keluarga kecil Devan dari belakang seraya tersenyum. "Aku ingin sekali seperti mereka. Bahagia tanpa cela,"


Devan membawa Auristella ke kursi yang berada di atas sepedanya. Mereka kembali ke wilayah mansion.


"Kita pulang?"


"Kamu mau pulang?"


"Tidak,"


"Ya sudah, lanjut lagi. Tapi jangan jauh-jauh dari mansion,"


Adrian mengangguk patuh. Saat Ia akan melajukan sepeda dengan cepat, Devan berseru tidak mengizinkan.


"Daddy dan Auris yang menjadi pemimpin nya,"


"Aku mau di depan."


"Tidak boleh,"


Devan langsung mengambil posisi paling depan. Sementara Adrian mencibir kesal di belakangnya.


"Tidak mau mengalah dengan anak,"


"Lihat saja, pasti aku balap."


Adrian mengayuh sepedanya secepat kilat. Saat akan melewati Devan Ia berseru. "BYE DADDY."


"NGEEEENGGG,"


Lovi yang melihat itu merasa khawatir. Ia jadi tidak fokus mengayuh sepedanya, begitupun dengan Devan. Jangan sampai setelah ini Adrian mena---


"BRUKK"


"AWW SAKIT,"


"HAHAHAHAHA,"


Suara benda terjatuh, teriakan kesakitan, dan tawa langsung bersahutan. Adrian menabrak tempat sampah hingga Ia terjatuh, lalu Auristella yang melihat itu langsung terbahak.


Devan dan Lovi mengayuh sepeda seperti kesetanan. Mereka khawatir melihat Adrian terjatuh dengan posisi duduk dan sepedanya terpelanting tidak jauh darinya.


Auristella bisa secepat itu melihat kakaknya terjatuh. Sampai dia menjadi orang pertama yang menertawakan Adrian.


Devan tiba lebih cepat. Ia segera turun dan saat itulah Auristella merengek karena Ia merasa ditinggalkan oleh Devan. Akhirnya Devan balik lagi ke sepeda untuk menggendong anak perempuannya itu.


Devan membantu Adrian untuk berdiri. Ia mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya Adrian membuat Ia panik ditengah semangatnya berolahraga.


Melihat Auristella tertawa, Adrian mencubit kaki adiknya itu. Tapi tidak berpengaruh apa-apa. Auristella tetap jahil pada kakaknya.


"Itulah akibatnya kalau sulit diberi tahu. Sudah Daddy katakan tadi, Daddy saja yang di depan,"


Lovi turun dari sepeda lalu segera memeriksa kondisi tubuh anaknya. "Apa yang sakit?" yang Lovi. Adrian menunjukkan sikunya yang mengeluarkan darah karena menyentuh aspal tadi.


Devan meringis melihat itu. Lalu meniupnya beberapa kali. "Ayo, kita pulang saja. Biar lukamu segera diobati,"


Adrian menggeleng seraya melepaskan tangannya dari Devan. "Tidak mau, aku masih ingin bersepeda,"


"Jangan, Adrian. Lukanya harus diobati. Dengar kan kalau orangtua bicara! jangan melawan saja kerjaanmu," geram Lovi seraya menatap anaknya tajam.


"Masih bisa bawa sepeda sendiri? atau kita minta jemput saja?"


"Aku bisa, Dad."


"Benar?"


"Hehehehe,"


"AURIS DIAM! KAMU TERTAWA TERUS,"


"Sudah-sudah, kalau masih bisa bawa sepeda sendiri, kita pulang sekarang."


Devan menyuruh Andrean, Adrian, dan Lovi untuk kembali menaiki sepeda masing-masing. Ia menoleh sekali lagi pada anak keduanya.


"Kamu yakin, Adrian?"


"Iya, Dad. Aku bisa, aku 'kan prince masa jatuh begitu saja langsung tidak bisa bawa sepeda,"


"Tapi tadi kamu kesakitan,"


"I'm okay, Mom."


Akhirnya rencana untuk melanjutkan kegiatan bersepeda tidak jadi dilakukan. Mereka akhirnya kembali ke mansion.


Wusshh


Wusshh


Sudah jatuh tapi masih saja membawa sepeda dengan cepat. Nyali Adrian tidak ada dua nya.


Orangtuanya yang dibuat gemetar melihat tingkah anak itu. "Adrian bisa pelan-pelan?!"

__ADS_1


Adrian masih saja ingin berada di depan. Ia menyalip sepeda Devan hingga Auristella berteriak kesal.


"Nakal kakakmu ya? sudah jatuh, masih saja banyak tingkah,"


Auristella menepuk-nepuk lonceng di depannya seolah menyemangati Devan untuk membalap Adrian.


"Jangan, nanti kalau kita balap lagi, dia panik lalu jatuh. Daddy tidak mau, Auris."


Bahu Auristella meluruh lemah. Padahal menyenangkan sekali kalau bisa bertanding seperti tadi.


Mereka sudah tiba di mansion. Setelah turun dari sepeda, Adrian langsung melangkah masuk tapi Lovi segera menegurnya.


"Letakkan dulu sepedamu di tempatnya. Baru boleh masuk,"


"Ada yang meletakkannya nanti, Mom."


"Tidak boleh orang lain. Mommy mau kamu yang meletakkannya. Belajar tanggung jawab,"


Adrian segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Mommy nya. Andrean pun demikian.


Setelah selesai mengembalikan sepeda, mereka semua masuk ke dalam mansion yang megah itu. Auristella masih menunjuk pintu beberapa kali. Sepertinya Ia belum mau dibawa masuk, masih ingin di luar.


"Kita sudah selesai bersepeda," ujar Devan memberi pengertian. Auristella menggeleng tidak mau.


"Kamu mau di luar terus?"


Dengan polosnya dia mengangguk. Dan hal itu membuat Devan menggeram gemas. "Nanti kita keluar lagi. Sekarang istirahat dulu ya?"


"Errghhh,"


"Hey tidak boleh marah begitu. Kalau marah-marah, nanti tidak Daddy ajak lagi ikut naik sepeda,"


Raihan baru saja memasuki ruang tengah. Ia melihat kedatangan keluarga kecil putranya. Raihan duduk di samping Adrian yang duduk di sofa bersama Andrean juga. Saat Lovi akan beranjak ke kamar, Devan menahan.


"Lov, aku mau minum."


"Iya, aku ambilkan."


Raihan terkejut melihat tangan cucunya yang berdarah. Ia segera menatap tajam luka itu.


"Tanganmu kenapa Adrian?"


"Jatuh," jawabnya ringan.


"Ayo, Grandpa obati."


"Tidak mau. Biar Mommy saja,"


Adrian segera berlari ke ruang makan, Ia hanya melihat Devan dan Auristella.


"Mommy dimana?"


Adrian menunggu Devan yang sedang minum untuk menjawab. Setelah meneguk air yang diberikan Lovi, barulah Devan menjawab.


"Ke kamar, mengambil obat lukamu,"


Melihat Adrian berlari menaiki anak tangga, Devan berseru marah. "Tidak usah berlari, ini bukan lapangan!"


"Okay, Dad."


Adrian hobi sekali berlari-larian sekalipun di dalam mansion. Kalau tidak membahayakan dirinya tidak apa. Masalahnya kalau dia terjatuh, yang dibuat khawatir adalah Ia dan Lovi.


Sudah beberapa kali anak itu hampir tergelincir di tangga. Tapi tetap saja tidak jera. Pernah jatuh dari tangga di hari ulang tahunnya sampai kepala harus dijahit, rupanya tidak berpengaruh apa-apa pada Adrian.


Lovi sudah menyiapkan air hangat dan kapas untuk membersihkan luka Adrian. Ia meringis melihatnya. "Sakit ya?"


"Sakit, tadi aku teriak."


"Seharusnya jangan teriak. 'Kan yang menyebabkan ini semua kamu sendiri,"


Lovi bahkan belum mengganti bajunya karena Ia harus segera mengobati luka anaknya. Setelah dibersihkan barulah Ia memberikan obat agar Adrian merasa lebih baik.


"Di plester saja, Mom."


"Memang mau di plester,"


"Iya, biar aku bebas main."


"Huh belum apa-apa sudah memikirkan main,"


"Selain itu, bisa saja Auris menyentuhnya. Dia anak yang jahil,"


Setelah selesai mengobati luka anaknya, Lovi segera menyuruh anaknya itu untuk mengganti baju, ia pun begitu.


Adrian keluar dari kamar orangtuanya untuk mengganti baju di kamarnya, bertepatan dengan kedatangan Devan dan Auristella.


Mata Auristella langsung teralihkan pada luka Adrian yang dibalut plester. Telunjuknya mengarah ke luka dan Adrian melotot marah.


Ia menggigit pelan telunjuk adiknya yang berada di gendongan Devan. Auristella menangis sekencang-kencangnya dan sang kakak langsung melarikan diri.


"Ya Tuhan, entah sampai kapan kalian seperti ini ya. Lama-lama Daddy berikan tempat tinggal satu-satu biar kalian tinggal terpisah dan tidak bertengkar lagi,"


Devan membawa anaknya ke kamar. Ia tidak melihat kehadiran Lovi. "My Lov, anakmu menangis ini."


"Iya, tunggu sebentar." sahut Lovi dari dalam walk in closet yang terhubung dengan kamar mereka.


Devan meletakkan anaknya di ranjang. Lalu Auristella berguling-guling dengan tangis yang belum reda. Ia juga memegang telunjuknya terus.


"Masih sakit?" tanya Devan pada anaknya. Ia diabaikan karena Auristella masih sibuk menangis.


"Errghh pusing Daddy,"


Devan menggusar kepalanya. Saat Lovi menghampiri mereka, Devan segera menunjuk anaknya itu.


"Kenapa lagi?"


"Telunjuknya di gigit Adrian,"


"Kenapa kamu biarkan?!"


"Mana aku tahu kalau dia meraih tangan adiknya untuk digigit? kalau aku tahu, pasti aku larang bahkan akan aku gigit duluan tangannya,"


Lovi melihat telunjuk Auristella. Memang merah tapi tidak ada luka. "Hanya nyeri saja ya? tidak perih 'kan?"


"Kamu bertanya begitu memang dia mengerti?"


"Kamu berisik. Mengobati juga tidak, bisanya mengoceh saja. Aku lagi ganti baju, sudah dipanggil-panggil," Lovi melampiaskan kesalnya. Devan pusing, Ia lebih pusing lagi menghadapi kedua anaknya itu. Sepertinya hanya Andrean yang pengertian, dan bisa membuat kedua orangtuanya tenang.


"Okay aku obati. Pakai obat apa?"


Lovi tidak menjawab. Ia mengambil oil nya Auristella lalu dioleskan pada telunjuk kecil milik anak itu.

__ADS_1


Saat Auristella mendekatkan telunjuk nya ke hidung lalu ke mulut, Lovi segera menahan. "Jangan dimakan. Ngapain kamu makan tangan sendiri? lapar? nanti Mommy ambilkan makanan,"


Auristella suka aroma oil yang dioleskan Lovi. Jadi ingin dimakannya. Ia anggap itu makanan yang bisa dicicipi.


****


Mansion baru saja kedatangan pengantar barang dari suatu toko. Raihan membeli kursi untuk nya berelaksasi.


"Ayo semangat mengangkutnya ya."


"Kursinya besar sekali,"


"Berapa kira-kira harganya?"


Adrian yang heboh menerima barang tersebut padahal bukan miliknya. "Grandpa beli ini lagi untuk apa? punya Grandpa sudah banyak. Terlalu banyak uang jadi bingung mau beli apa ya, Grandpa? Daripada beli ini lagi, lebih baik belikan aku robot besar,"


Raihan menggeleng pelan mendengar ucapan cucunya itu. Dua orang lelaki yang mengantar sampai dibuat terkekeh mendengar kalimat Adrian.


"Terima kasih,"


"Ya, sama-sama, Tuan."


Adrian langsung membuka plastik yang membalut kursi mewah dan bermanfaat itu. Ia membukanya tidak sabaran.


"Santai, Adrian. Kamu seperti singa yang sedang mengoyak daging,"


"Aku tidak sabar mencobanya,"


Setelah pengemasnya berhasil dibuka, Adrian langsung duduk di sana. "Grandpa, tolong tekan tombolnya. Aku tidak mengerti tombol apa yang harus ditekan,"


Raihan segera melakukan apa yang diminta anak itu. Saat berfungsi, Adrian berteriak kaget.


"Kenapa?"


"Geli,"


"Ck! Grandpa kira kamu kenapa,"


"Geli pijatannya. Astaga, sampai kepala juga dipijat,"


"Sekarang Grandpa yang dipijat,"


"Aku dulu, Grandpa harus mengalah dengan cucu,"


****


Elea dan calon suaminya keluar dari butik Lovi usai melakukan fitting baju pernikahan untuk terakhir kalinya karena kurang dari seminggu lagi mereka akan menikah.


Sekali lagi Lovi diingatkan oleh Elea untuk datang ke acara pernikahannya. Semakin mendekati pernikahan Elea, Lovi jadi ragu untuk datang apalagi membawa Devan. Suaminya itu belum tentu mau. Tapi kalau dia pergi sendiri, mungkin Devan akan sangat marah.


"Dia terlihat dekat sekali denganmu Nona. Kalian berteman sejak kapan?"


"Sebenarnya dia bukan temanku. Tapi mantan kekasih suamiku,"


"Astaga, Nona bisa akrab dengan dia?"


"Kenapa tidak?"


Irene menggeleng takjub atas kebesaran hati Lovi terhadap mantan kekasih Devan. Bahkan dengan sangat ramah selalu menyambut kedatangan Elea layaknya sahabat sendiri.


Mungkin kalau Irene tahu bahwa dulu Elea pernah menyakiti Lovi dengan sangat kejam, rasa takjub nya terhadap Lovi akan semakin besar lagi. Pemilik butik tempatnya bekerja itu sangat baik sekali sekalipun pada orang yang telah berbuat jahat di masa lalu.


"Suami Nona tahu mengenai dia yang bekerja sama dengan Nona?"


"Tahu dan responnya seperti yang kamu tebak saat ini,"


"Marah?"


"Iya, karena dia bukan mantan kekasih yang meninggalkan kesan baik untuk suamiku. Ada sesuatu yang membuat Devan membencinya,"


Lovi hanya bisa cerita sampai di sana. Karena kalau dilanjutkan, sama saja Ia menjatuhkan harga diri suaminya. Irene akan tahu kalau dulu Ia begitu disia-siakan oleh Devan.


"Nona hebat, pantas saja Tuan begitu mencintai Nona,"


"Kenapa kamu mengatakan aku hebat?"


"Bisa tetap baik padanya walaupun suami Nona sendiri sudah membencinya. Nona tetap dengan hati yang putih berteman dengan dia,"


"Semua orang berhak memperbaiki diri. Dan kita tidak boleh menutup mata akan hal itu. Devan hanya belum bisa---"


Cklek


"My Love..."


Devan menimbulkan kepalanya di sela pintu ruangan Lovi yang dia buka tanpa permisi. Lovi mengisyaratkan suaminya untuk masuk.


Irene langsung keluar begitu Devan masuk. Devan bertolak pinggang setelah mengecup kening Lovi.


"Aku bertemu dengan dia di depan tadi,"


"Siapa? Elea?"


"Siapa lagi menurutmu? rupanya dia sering ke sini ya, Lov? kamu benar-benar tidak mendengarkan ucapanku?"


"Astaga, dia datang ke sini tidak melakukan apapun. Dia hanya fitting, tadi bersama calon suaminya juga begitu,"


"Aku tidak peduli dia datang ke sini mau apa. Yang aku tidak habis pikir, kenapa kamu masih bisa baik dengan dia disaat---"


"Karena aku sudah bisa menerima masa lalu. Ah sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan kamu. Kenapa datang ke sini kalau hanya ingin adu mulut?"


"My Lov, bukan begitu. Aku hanya khawatir. Kamu mengerti tidak?"


"Untuk apa khawatir? semua orang yang kamu suruh untuk menjaga aku selalu berada di dekat aku. Tidak ada yang bisa melakukan apapun padaku,"


"Aku mau tanya, tadi kamu bertemu dengan siapa saat makan siang di restoran depan?"


Devan hampir lupa dengan tujuan kedatangannya ke sini di waktu yang tidak seharusnya. Ini masih jam kerja Devan. Tapi karena mendapat suatu kabar dari bodyguard nya, Ia langsung pergi ke butik istrinya untuk bertanya langsung. Namun pertemuan dengan Elea membuat Devan jadi memperdebatkan Elea lagi.


"Oh dia teman lamaku lebih tepatnya kakak kelas. Namanya Arnold,"


"Dia temanmu?"


"Iya, memang kenapa?"


Kaki Devan terasa lemas. Fakta apa lagi ini? Orang yang disebut oleh Lovi jelas-jelas adalah orang yang sama dengan temannya juga di masa kuliah dulu.


Devan mendapat laporan dari bodyguard nya kalau Lovi baru saja bertemu dengan orang yang selama ini Devan jauhkan dari lingkup keluarga besarnya. Saat semua bodyguard ingin bertindak tegas, Devan meminta mereka untuk tetap tenang selagi Arnold tidak menunjukkan sikap yang membahayakan terhadap Lovi. Karena sejujurnya Devan juga penasaran dengan alasan Arnold yang datang menghampiri Lovi saat makan di restoran bersama Irene. Apalagi ketika melihat foto yang dikirimkan oleh bodyguardnya, Lovi terlihat sangat akrab dengan Arnold.


"Kamu tahu tidak, dulu Arnold itu pernah menyatakan cinta padaku dan menginginkan aku untuk menjadi kekasihnya. Tapi aku tolak karena aku baru masuk junior high school dan ada konflik dalam keluargaku. Aku tidak pernah berpikir untuk memiliki kekasih apalagi diusiaku yang masih sangat belia pada saat itu,"


---------

__ADS_1


Lop-lop jujur bgt yak pdhl suaminya blm nanya sampe situ. Ini bwt Devan makin pusyink🤣


__ADS_2