
"Aku tidak mau!!"
Devan menyipit pada Lovi yang kini menutup mulutnya. Perempuan itu sudah sehat rupanya. Kali ini Lovi membantah ucapannya.
"Lalu apa yang akan kamu makan?" tanya Devan penuh kesabaran. Sudah dua kali Ia menganti menu untuk makan malam Lovi.
"Aku tidak suka bubur jagung,"
Dengan matanya yang berkaca Lovi berusaha memberi pengertian pada Suaminya. Hal itu kembali membuat Devan menghela napas pelan. Lovi menguji kesabarannya.
"Tadi kamu meminta bubur jagung, Lov,"
Lovi berusaha menahan kehadiran senyum di wajahnya. Ia tersipu ketika Devan merubah panggilan untuknya. Itu terkesan manis membuat hatinya berbunga.
"Tapi sekarang tidak lagi,"
Lovi menggeleng lalu menatap hidangan manis di tangan suaminya dengan bergidik. Ia tidak bisa membayangkan hal apa yang terjadi ketika bubur jagung itu masuk ke dalam perutnya. Ia pasti akan muntah. Namun Lovi juga tidak mengerti kenapa tadi Ia meminta bubur jagung pada Devan padahal Ia sendiri tahu kalau makanan yang manis untuk saat ini bisa membuat perutnya tidak nyaman.
Devan menatap Istrinya curiga. Melihat banyaknya keinginan perempuan itu membuatnya berpikir kalau Lovi memang sengaja menghindari makan malamnya.
"Kamu tidak ingin makan malam ya?"
Mendapat tuduhan itu, Lovi langsung menggeleng panik.
"Tidak," dengan yakin dia menjawab Devan.
Namun Devan tetaplah sosok yang sulit dibohongi. Apalagi pembohong itu adalah Lovi yang tidak mempunyai bakat dalam berdusta. Menurutnya perempuan itu tidak bisa melakukannya.
"Tidak salah lagi," ucapnya seolah melanjutkan perkataan Lovi.
Lovi akhirnya tertawa. Untuk saat ini Devan dibuat terdiam menatap perempuan itu. Pertama kalinya Devan melihat tawa Lovi yang baru Ia sadari bisa membuat hatinya bahagia. Devan terpaku melihat wajah berseri yang ditunjukkan Lovi saat ini.
"Tuan..."
__ADS_1
"Jangan panggil akuTuan !"
Lovi tidak bisa mengatakan apapun lagi walaupun saat ini otaknya telah dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
Memang sudah sejauh apa hubungan mereka? sekarang Devan meminta Lovi untuk tidak memanggilnya Tuan.
"Lalu?" tanya Lovi tidak mengerti. Ia takut membuat kesalahan jika belum bertanya secara langsung pada Devan.
"Apapun, selain Tuan,"
Lovi tampak berpikir sejenak dengan matanya yang berputar. Hal itu tak luput dari perhatian Devan. Lelaki itu sampai menyatukan giginya gemas melihat tingkah Istrinya. Terlihat seperti anak-anak. Namun devan paham dengan sikap Lovi yang seperti itu. Usia Lovi memang tergolong belia.
Oh tidak! Devan baru mengingat fakta itu lagi setelah sekian lama melupakannya. Ia telah menikahi seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang seharusnya masih mengenyam pendidikan.
"Sayang boleh!"
Itu bukan permintaan. Tapi lebih terdengar sebagai perintah untuk Lovi. Dimana terdapat ke aroganan di dalamnya seolah memaksa Lovi untuk mengubah panggilannya menjadi seperti itu.
Devan menatap tajam Istrinya. Ia melakukan aksi protes lewat pandangannya. Tak terima Lovi menolak perintahnya dengan tegas.
"Kenapa?"
Devan perlu membungkam rasa penasarannya sekarang. Ia mengeluarkan pertanyaan yang seketika membuat kepalanya pening.
"Aku tidak sayang dengan Tuan,"
Lovi memuji dirinya sendiri yang berhasil menutupi perasaannya dengan sempurna. Ia tidak akan semudah itu dalam menyampaikan kenyataannya. Lovi bahkan sangat ketakutan bila harus kehilangan Lelaki di hadapannya ini.
Devan terkekeh kemudian berdecak sebelum akhirnya menimpali perkataan Lovi yang sebenarnya cukup berhasil menggores hatinya.
"Matamu mengatakan yang lain, Lov. Ayolah, aku lelaki yang sangat pandai dalam hal seperti ini,"
Ya, Devan sedang mencoba untuk menghibur dirinya sendiri. Ia akan menampilkan rasa percaya dirinya di hadapan Lovi sampai perempuan itu kalah telak dan Devan berharap Perempuan itu mengatakan perasaan yang sesungguhnya. Karena Devan terlalu takut untuk mengawali. Devan akui kalau Ia adalah Lelaki brengsek. Devan tidak siap bila harus menerima kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Saat ini Devan masih menjaga hatinya agar tidak terlalu jatuh dalam pesona Ibu dari anaknya itu.
__ADS_1
"Kalau begitu aku salut padamu. Selain pandai dalam berbisnis, Tuan juga pandai dalam hal lain,"
Devan menatap Lovi tidak menyangka kalau Lovi malah memujinya. Ia dibuat semakin gemas dengan Lovi yang cerdik menjawab ucapannya.
"Lov, kamu melakukan kesalahan,"
Lovi yang sedang memperbaiki letak selimutnya menoleh karena nada bicara Devan yang terdengar sangat kesal.
"Memangnya apa yang aku lakukan?"
Tanpa menjawab, Devan langsung meraup bibir Istrinya. Devan kembali melakukannya dengan lembut. Lovi benci dirinya yang seperti ini. Tanpa perlawanan Ia menikmati kecupan Devan. Otaknya menolak sekeras mungkin namun hatinya seakan tahu apa yang Ia inginkan.
Devan memberi jarak di antara bibir mereka. Namun terbilang masih intim. Lovi menghirup oksigen sebanyak mungkin. Ia belum terbiasa melakukan itu. Berbanding terbalik dengan Devan yang terlihat biasa saja setelah menghabiskan waktu beberapa menit hanya untuk berbagi kecupan.
"Jangan panggil aku seperti itu lagi!"
Lovi bergumam mengerti. Devan tersenyum dibuatnya. Selanjutnya, Devan membawa tubuh Lovi ke dalam rengkuhan hangatnya. Tangannya mengusap lembut punggung dan surai halus Istrinya.
"Sepertinya aku mencintaimu,"
Lovi yakin telinganya dapat bekerja dengan baik. Namun bukan itu yang Lovi inginkan. Lovi ingin ucapan itu tidak sedikitpun mengandung keraguan. Dan kalimat Devan tadi sangat jelas menggambarkan bagaimana perasaan Devan saat ini terhadapnya. Devan sendiri masih terlihat ragu, lalu bagaimana Lovi akan berani mengatakannya lebih awal? Ego nya tetap mempertahankan kebungkaman mengenai perasaan yang sesungguhnya.
"Kamu mendengarku?" bisik Devan di sela leher Lovi.
"Yakinkan dulu perasaanmu. Setelah itu, kamu boleh mengatakannya lagi,"
Lovi bisa merasakan Kalau Devan menggeleng. Mereka masih nyaman dalam posisi seperti ini. Lovi bisa merasakan hal lain yang disalurkan Devan lewat rengkuhannya.
"Baiklah, beri aku kesempatan!"
****************
Mon map maren napa pd dumel baee yaa😂😂 akutu sibuk sklh gesss mknya jrg up skrg. Maapin yaakk. Ni dehh aku ksh lg up nya spy kelean senenggg mweheheh
__ADS_1