My Cruel Husband

My Cruel Husband
Mommy pulang


__ADS_3

"Sudah cukup bermainnya. Nanti kelelahan,"


Laju hoverboard dihentikan oleh Rena. Auristella cemberut menatap Neneknya itu. Ia belum ingin selesai dikejar polisi.


"Ayo, turun! berikan contoh yang baik untuk adik kalian," titahnya pada kedua anak laki-laki yang sebenarnya berat hati untuk turun dari hoverboard. Tetapi karena adiknya baru saja sembuh, mereka harus benar-benar menjaga kondisinya.


Auristella menarik ujung kaus yang dikenakan Adrian, Ia menggeleng. Raihan menghentak-hentak kakinya di hoverboard saat Adrian sudah menuruti ucapan Rena.


"Sudah, besok lagi."


Auristella merengek tidak mau. Ia mempertahankan posisi Adrian agar tetap berdiri di atas mainan itu.


"Ya, sudah. Satu kali lagi,"


"YEAAYY!" ketiganya kompak berseru. Dengan semangat menggebu Adrian kembali melajukan hoverboard karena mainan ini akan disimpan dan mereka tidak bisa lagi menyentuhnya kalau bukan esok hari.


"DADDY DATANG. HALLO, SEMUA!"


Auristella mencari sumber suara. Ketika melihat Devan sedang berjalan bersama Lovi saling menggenggam tangan, Ia ribut ingin turun.


"Astaga, sejak kapan Auris bisa bermain itu?"


"Baru tadi, Lovi." jawab Vanilla.


Karena adiknya tidak bisa diam lagi, akhirnya Adrian menyelesaikan permainan tadi. Lagipula Mommy dan Daddy mereka sudah datang.


"Duduk dulu, Lovi."


"Iya, Ma."


"Kapan periksa lagi?"


"Tiga hari lagi, Pa." Devan yang menjawab pertanyaan Raihan. Lovi memang diminta kembali lagi untuk memeriksa perkembangannya.


Auristella berlari menghampiri Lovi dan memeluk erat Mommy-nya itu. Hal yang sama dilakukan kedua kakaknya. Mereka terlihat sangat merindukan Lovi. Seperti sudah lama sekali tidak bertemu.


"Rindu Mommy?"


"Rindu sekali," Andrean dan Adrian kompak menjawab.


"Kalau tidak ada Mommy, tidak ada yang cerewet?"


Mereka mengangguk polos. Hal itu mengundang tawa. Sementara Lovi mendengus. Jadi sebenarnya rindu dengan sosoknya atau mulutnya yang cerewet?


"Lebih enak tidak ada Mommy ya? bisa bebas melakukan apapun,"


"Huh siapa yang mengatakan itu? mereka juga diatur ketat oleh kami," bantah Senata yang diangguki oleh Raihan dan Rena.


"Bagus, Grandma. Jangan lengah kalau menjaga tiga anak ini. Apa lagi yang nomor dua," tangan Lovi menjawil hidung Adrian yang terkekeh.


"Kamu sudah bisa ikut bermain dengan kedua kakakmu ya? hmm?" Lovi gemas sekali melihat pipi bulat Auristella yang sudah mulai berwarna. Ia kira masih sangat pucat.


"Mommy benar-benar khawatir begitu mendengar kamu sakit. Gemar sekali membuat Mommy khawatir. Jangan lagi ya?"


*******


"Mom, sepertinya ada yang hilang dari diri Mommy,"


"Hmm? apa?"


"Gigi Mommy,"


Devan tak bisa menahan tawanya. Suara Devan tertawa mungkin sampai ke lantai bawah. Saat ini mereka bersiap untuk tidur. Tetapi tiba-tiba saja Adrian menyampaikan kalimat yang sedari tadi berputar di kepalanya.


Lovi memicing tajam pada suaminya. Sial! Ia ditertawakan oleh Devan karena giginya patah dan anaknya menyadari itu. Tentu saja, mereka hidup selalu berdampingan. Apapun yang terasa janggal akan di cari tahu.


"Ini sebabnya Mommy dirawat,"

__ADS_1


Lovi tidak menjelaskan lebih detail. Anaknya tidak perlu tahu tentang kecelakaan itu. Cukup sampai dimana Lovi sakit lalu harus menjalani perawatan di rumah sakit.


"Ya ampun, kenapa sampai seperti itu, Mom?"


Tawa Devan masih tersisa. Lovi memukul lengan suaminya agar diam. Lovi malu sekaligus tidak terima ketika Devan menggodanya.


"Bisa patah begitu ya, Mom? untungnya tidak terlalu kelihatan,"


"Iya, kalau kelihatan sekali, kalian akan malu. Benar begitu?"


"Tidak! untuk apa malu? semua manusia memang akan kehilangan gigi. Itu yang Adrian tahu,"


"Dad, mau susu."


"Daddy buatkan dulu, prince."


Devan memposisikan tangan kanannya di pelipis seperti memberi hormat. Ia segera bangkit untuk menuruti keinginan anak sulungnya.


"Sebenarnya Andrean sudah bisa buat susu sendiri,"


"Lalu kenapa minta dibuatkan?" tanya Lovi dengan pelan. Karena anaknya yang bungsu sudah terlelap sejak tadi.


"Ingin dibuatkan, Daddy. Memang tidak boleh?"


"Andrean manja,"


"Hey lihat diri sendiri dulu sebelum komentar. Kamu saja tidak lepas dari pelukan Mommy sejak tadi," Ia menunjuk Adrian yang tangannya selalu melingkari tubuh kecil Lovi.


"Mommy tidak bisa tertawa terlalu lebar ya?"


"Iya, kenapa? kamu mau buat Mommy tertawa malam-malam begini?"


Adrian menggeleng lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Lovi. Saatnya Ia berlindung dalam pelukan setelah beberapa hari tidak merasakannya. Ia dan Andrean selalu tidur dengan kedua neneknya setelah Lovi dan Devan pergi. Lalu ketika Auristella sakit, hanya Raihan yang menjadi teman mereka tidur.


"Kamu mau minum yang hangat-hangat, Lov?"


"Tidak, aku akan tidur sekarang."


Lovi menggeram pelan. Ia melakukan ancang-ancang ingin melempar bantal ke arah Devan yang tengah menuang susu formula milik sang anak ke dalam botolnya. Devan menoleh untuk menggoda sampai tidak sadar kalau Ia menuang ke meja, bukan ke botol. Lovi yang melihat itu lantas memarahinya.


"Jangan sibuk membuat orang kesal. Lihat apa yang kamu lakukan!"


"Aduh Daddy, sayang sekali susunya. Tidak bisa menuang atau matanya sudah mengantuk?" gerutu anak keduanya. Walaupun hanya satu sendok yang terbuang, Adrian tetap perhitungan.


Devan segera membersihkannya menggunakan berlembar-lembar tisu. Hal itu membuat Lovi marah lagi.


"Tidak perlu sebanyak itu tisu-nya, Astaga. Kamu selalu membuang sesuatu sia-sia,"


Devan mencibir pelan, "Anak dan Ibu sama saja. Padahal ini tidak seberapa,"


*****


"Aku kira kalau Auris sudah sembuh, Aunty tidak datang lagi ke sini,"


"Tidak senang kalau Aunty datang ya?"


"Senang sekali, tapi tidak biasanya Aunty jadi sering datang,"


Vanilla tidak lagi membalas ucapan keponakannya. Ia segera masuk ke dalam mansion, meninggalkan Andrean, Adrian, dan Auristella yang sedang bermain di pekarangan bersama perawat mereka.


"Pagi-pagi sudah datang. Ada apa ini?"


"Tidak ada apapun. Aku hanya ingin datang pagi. Nanti pukul sembilan aku akan pergi ke kampus,"


Raihan memperbaiki posisi duduknya, Ia mengisyaratkan Vanilla untuk duduk di hadapannya, menemani Ia dan Devan menikmati sarapan.


"Ada masalah dengan Jhico?"

__ADS_1


Raihan bisa mengetahui beban pikiran putrinya dari sorot mata dan raut wajah Vanilla yang sudah dua hari ini terlihat lemah juga rutin berkunjung ke mansion. Padahal setelah menikah, Ia terbilang sangat jarang datang ke mansion.


Kemarin Jhico juga tidak menjemput Vanilla. Vanilla mengatakan bahwa Jhico memiliki urusan penting sehingga Ia pulang sendiri ke apartemen.


"Bicarakan, jangan lari ke sini," pesan kakaknya dengan dewasa. Devan sudah lebih banyak belajar daripada Vanilla yang rumah tangganya baru beberapa bulan. Bila terus-terusan menghindar, kapan masalah akan usai?


"Aku ingin cerita, Pa,"


"Silahkan, Papa dengarkan dengan baik,"


Selama Vanilla menceritakan rangkaian perdebatannya dengan Jhico, Devan hanya menjadi pendengar. Rupanya benar mereka ada masalah, lantas kenapa tadi mengelak?


Melihat Vanilla begitu menggebu menceritakan masalah rumah tangganya juga membela diri sendiri, Devan segera menyelesaikan makannya lalu menyeruput air minum sejenak.


"Vanilla, siapapun akan melakukan hal yang sama dengan Jhico bila orang yang disayangi jatuh sakit lalu kita tidak di sampingnya. Dia melakukan itu karena terlalu khawatir dengan neneknya,"


"Seharusnya kamu bersyukur memiliki laki-laki yang begitu menyayangi keluarga," tambah Raihan yang sedikit membuat Vanilla terhenyak.


"Kalian sudah menikah, berpikirlah dewasa. Papa rasa kemarahan Jhico masih wajar. Dia tidak melakukan sesuatu pada kamu,"


"Membentak aku, Pa. Sampai hampir menangis,"


"Kamu sudah biasa dibentak. Dulu, Papa selalu melakukan hal itu kalau kamu pulang malam. Sudah lupa?"


"Vanilla biasa diperlakukan dengan lembut oleh Jhico, Pa. Jadi dibentak sekali langsung dibawa masuk ke dalam hati. Seharusnya tidak begitu, Vanilla."


"Aku sudah melakukan hal yang benar. Aku tidak ingin dia kembali berdebat dengan Papanya. Aku pikir lebih baik tidak diberi tahu, daripada mereka kembali adu mulut,"


"Memang ada masalah apa? Jhico sering berdebat dengan Thanatan?"


Vanilla tidak langsung menjawabnya. Ia sedang berpikir. Ia khawatir jawabannya nanti akan menyalahi privasi dalam kehidupan rumah tangganya.


"Intinya keluarga Jhico tidak seharmonis keluarga kita, Pa."


"Kalau seperti itu, seharusnya kamu dukung dia. Biarkan Jhico menentukan sikap, jangan kamu yang mengatur. Tidak masalah jika Thanatan ingin membuat keributan lagi, tapi pastikan Jhico sudah kuat. Kamu yang menjadi penopangnya,"


"Tapi mereka sangat hangat waktu pertama kali datang ke sini," ujar Devan disela tangannya yang bergerak untuk menghapus jejak air minum di sekitar mulutnya.


"Aku pun tidak menyangka,"


"Apa yang mereka ributkan? pasti berkaitan dengan sikap egois Thanatan. Papa yakin sekali,"


"Banyak hal. Keluarga Jhico sering membuat suasana menjadi tidak nyaman. Aku yang baru mengenal mereka saja sudah merasakan hal itu sejak awal,"


********


Setelah pulang sekolah, Andrean dan adiknya segera mengganti pakaian lalu menyantap makan siang dengan lahap. Padahal setiap ke sekolah selalu dibekali makanan.


"Serry, siapkan hoverboard aku ya?"


"Tolong siapkan," koreksi Lovi dengan tegas. Anaknya akan semakin tumbuh dewasa tetapi hal-hal seperti ini tidak boleh dilupakan.


Serry mengeluarkan apa yang diminta Adrian. Auristella yang sedang makan di pangkuan Lovi, langsung berhenti mengunyah. Ia menatap Adrian dengan dalam.


"Jangan ikut Aku bermain, aku mohon. Kalau ada kamu, kurang menyenangkan," Adrian tahu kalau adiknya ingin kembali bermain bersama.


"Mulai lagi mengganggu adiknya. Tidak boleh seperti itu pada adik sendiri. Sejak kemarin sikapmu sudah berbeda dengan Auristella. Mommy kira akan bertahan lama,"


"Tergantung, Mom. Kalau Auris tidak nakal, aku akan baik."


"Auris pernah nakal? bukankah itu kamu?"


"Ya, aku Mom. Tapi Auris sudah mulai mengikuti,"


"Memang iya?"


"Iya, saat disuruh berhenti bermain, Ia mulai melawan,"

__ADS_1


Lovi mendekap anak bungsunya dengan penuh kasih sayang. Rupanya Auristella sudah mulai sulit untuk diatur. Padahal usianya belum genap satu tahun. Ini tanda-tanda kalau Auristella akan tumbuh seperti kakak keduanya. Keras kepala, tidak bisa diam, tapi terkadang mampu membuat suasana hati orang lain menjadi lebih baik.


------


__ADS_2