My Cruel Husband

My Cruel Husband
Aunty datang bawa oleh-oleh


__ADS_3

Adrian dan Jefrey sudah selesai membersihkan kandang tiga kelinci peliharaan. Setelah itu, Adrian segera mencari kelinci nya, Andrean, dan Auristella yang entah berlari kemana. Ia harus mencarinya.


Adrian mencari di pekarangan, dekat tanaman-tanaman milik Mommy nya. Ia melihat kelinci Auristella di dekat pohon yang bentuknya kerucut.


Adrian begitu gesit meraih kelinci itu. Setelah dalam gendongannya, Adrian berseru. Sementara kelinci adiknya itu menatapnya.


"Kenapa?! tidak suka aku tangkap? kamu itu harus masuk lagi ke kandang. Nanti tanaman Mommy, kamu buat usak," ucap Adrian pada kelinci berwarna abu itu.


Satu kelinci sudah aman, sekarang Ia mencari dua kelinci lainnya. "Jangan bantu aku,"


Adrian melarang Jefrey yang akan membantunya dalam mencari kelinci Adrian dan Andrean.


Jefrey mengangguk patuh pada ucapan tuan kecilnya. Adrian mulai berburu lagi. Mata tajamnya mencari dengan teliti.


"NAH ITU DIA!"


Adrian berlari pelan menuju kursi yang terletak di tengah pekarangan. Kelinci nya berada di bawah kursi.


Kebetulan posisi kelinci itu membelakangi Adrian sehingga Ia tidak tahu kalau Adrian tengah mengincarnya.


"DAPAT!"


"Aduh geli!"


Saat kelinci berhasil diraih, kelinci itu sengaja mengusap-usap tangan Adrian dengan rambut di atas mulutnya.


Adrian merasa kegelian akhirnya Ia melepaskan kelinci tersebut. "Yah kenapa dilepas lagi, Tuan kecil."


Jefrey berjalan cepat mengejar kelinci yang sedang melompat-lompat kabur itu. Adrian menggerutu seraya mengusap tangannya.


"Dasar kelinci nakal!"


Kelinci yang dia sebut nakal itu adalah miliknya. Memang kelinci nya paling susah diatur daripada kelinci kakak dan adiknya.


Jefrey berhasil menangkap kelinci Adrian. Setelah itu Ia memasukkan kelinci Adrian ke dalam kandangnya.


Sementara Adrian mencari kelinci kakaknya. Saat sedang mencari, suara klakson membuat fokusnya teralihkan. Security rumahnya membuka pagar yang menjulang.


Ia hafal mobil siapa yang datang. "YEAYYY AUNTY VANILLA DATANG,"


"Tuan kecil, kelinci yang satu lagi belum---"


"Tolong cari ya, Jefrey."


Ia tidak pedulikan lagi kelinci kakaknya yang belum masuk kandang. Ia meminta bantuan pada Jefrey untuk mencarinya.


Adrian berlari mendekati mobil Jhico. Ia mengetuk pintu mobil tidak sabaran. Padahal Jhico sedang memposisikan mobilnya dengan baik.


Setelah mesin mobil mati, Vanilla dan Jhico keluar dari mobil. Adrian berseru senang seraya memeluk Vanilla kemudian melakukan hal yang sama pada Jhico.


"Akhirnya Aunty datang juga. Bagaimana liburan nya? menyenangkan?"


"Tentu saja,"


"Ayo, masuk."


Jhico membawa Adrian dalam gendongan kemudian mencium seluruh bagian wajah Adrian.


"Jangan cium! aku belum mandi, Uncle."


"Tetap harum,"


"Ah jangan, Uncle!"


Jhico menutup bibir Jhico menggunakan tangannya. Ia merasa kurang percaya diri karena belum mandi usai bersepeda dan membersihkan kandang kelinci.

__ADS_1


"Andrean, Auris, ada yang datang."


Begitu masuk rumah, Ia langsung membuat pengumuman. Auristella dan kakak sulungnya masih sibuk menonton. Tapi Andrean sudah mandi. Auristella juga begitu bahkan sebelum Grandpa dan kedua kakaknya pulang bersepeda.


"Aunty?"


Vanilla memeluk Andrean yang terkejut setelah melihat dirinya. Setiap Vanilla dan keponakannya bertemu, selalu hangat. Seperti tidak bertemu sepuluh tahun saja.


Auristella mengulurkan tangannya pada Jhico. Ia belum disapa oleh Vanilla. Akhirnya mencari perhatian pada Jhico.


Lelaki itu tersenyum melihat Auristella. Kemudian Ia membawa Auristella dan gendongannya.


"Nilla, kamu belum menyapa si bungsu,"


Vanilla menoleh, Ia menepuk pelan keningnya. "Aunty lupa kalau ada princess kecil di sini,"


Vanilla memajukan bibirnya ke arah pipi Auristella. Anak itu menghindar. Auristella malah mencium Jhico. Vanilla langsung mendengkus. Sementara Jhico terkekeh geli.


"Oh jadi ceritanya balas dendam ya?"


Auristella membuang arah pandangnya. Sepertinya benar, Ia tengah balas dendam pada Vanilla yang tadi hanya menyapa kedua kakaknya.


"Auris---hey sejak kapan kamu datang?"


"Hallo, Ma."


Rena memeluk putrinya. Ia baru saja mengambilkan camilan untuk Auristella menonton.


Ia tidak tahu kalau Vanilla akan datang ke sini. Vanilla mengikuti kemana tangannya ditarik oleh Adrian. Sementara Auristella masih nyaman bersama Jhico. Auristella menunjuk pintu keluar.


"Mau bermain di luar?" tanya Jhico. Auristella terus menunjuk dan merengek. Akhirnya Jhico menuruti keinginan anak itu.


"Jhi, Auris mau dibawa kemana?"


"Tadi dia menonton di sini. Giliran ada Uncle malah minta digendong,"


"Dia mau bermanja-manja dengan Uncle-nya. Biar saja, Adrian."


Seperti biasa, Adrian selalu mengomentari apapun keinginan adiknya. Apa salah Auristella minta digendong? Auristella sudah jarang bertemu dengan Vanilla dan Jhico. Jadi sekalinya bertemu pasti Ia tidak akan membuang kesempatan.


"Mencari apa, Jef?"


Jhico bertanya pada Jefrey yang sedang menatap pekarangan dengan mata yang memicing tajam.


"Kelinci, Tuan Jhico."


"Huh? kelinci siapa?"


"Tuan kecil Andrean,"


Telunjuk Auristella tiba-tiba mengarah pada pot besar yang tidak jauh dari kursi dimana Adrian menemukan kelinci nya tadi.


"HAAA!" Seru Auristella. Dia memberi tahu bahwa kelinci kakaknya ada di balik pot. Bulu dan telinga nya kelihatan.


"Itu kelinci nya, Jef." ujar Jhico. Jefrey mengangguk cepat dan Ia segera berlari ke arah kelinci itu. Sayangnya, kelinci menghindar. Auristella terpingkal-pingkal melihat Jefrey yang mengejar kelinci pantang menyerah.


Jhico tersenyum tipis melihat keponakannya itu. Ia tidak tahan untuk tidak mengecup pipi putih bersih milik Auristella. Anak itu menggemaskan sekali. Setiap melihat Auristella, Ia semakin tidak sabar anaknya lahir ke dunia. Anaknya juga perempuan. Pasti tidak kalah menggemaskan.


"Akhirnya dapat juga,"


Jefrey menghela napas lega. Ia sudah berhasil memerangkap kelinci Andrean ke dalam gendongannya.


"YEAAAYYY!"


Auristella berseru senang kedua tangannya mengangkat ke atas untuk mengekspresikan kebahagiaannya atas keberhasilan Jefrey.

__ADS_1


"Terima kasih, Jef."


"Maaci,"


Auristella mengikuti apa yang diucapkan Jhico. Jhico berterima kasih karena Jefrey mau susah-susah mencari kelinci keponakannya.


Jhico menggeram gemas lalu menyerang Auristella dengan ciuman bertubi-tubi di pipi nya. Anak itu semakin pintar. Tapi di saat seperti inilah orang di sekitar Auristella harus bersikap dan bertutur kata yang baik karena Auristella akan mengikuti dan Ia belum bisa memfilter mana yang baik dan buruk.


"Iya, sama-sama, Tuan, Nona kecil."


"Ma-ama," gumam Auristella.


Jhico membawa Auristella mendekati kandang kelinci nya. "Ini yang punya Auris?" tanya Jhico pada Auristella seraya menunjuk kandang yang diberikan huruf AB di pintu kandangnya. Auristella mengangguk.


AB adalah Auristella Bonanza, nama lengkap Auristella. Ia tidak menggunakan AU karena kata Adrian itu kurang bagus.


Sementara kelinci yang ada di kandang bertulisan huruf AD adalah milik Adrian. Dan AN adalah kelinci milik Andrean.


Auristella dibawa berjalan-jalan oleh Jhico untuk melihat tanaman di sekitar pekarangan. Setelah anak itu bosan, Jhico segera membawanya masuk.


Di dalam Adrian sedang membongkar oleh-oleh yang dibeli Vanilla di Korea untuk tiga keponakannya itu.


"Woaahhh banyak ya,"


Vanilla melihat kedatangan Auristella dan suaminya. Ia segera memanggil Auristella," Auris, kemari, Sayang. Ini buatmu."


Auristella tersenyum senang melihat boneka perempuan dan laki-laki yang mengenakan pakaian tradisional Korea.


"Ini dijadikan pajangan saja,"


"Kenapa ada boneka laki-laki juga, Aunty?" tanya Adrian setelah melihat boneka milik adiknya.


"Memang beli nya harus sepasang. Itu lucu, jadi Aunty beli saja,"


"Terima kasih, Aunty." ujar Andrean dan diikuti juga oleh Adrian. Mereka berdua memeluk Vanilla.


"Hey itu uang nya punya Uncle. Bilang terima kasih juga pada Uncle kalian," ucap Rena memberi tahu kedua cucunya. Mereka tidak bermaksud melupakan Jhico.


"Terima kasih juga, Uncle. Ini banyak sekali oleh-oleh nya,"


"Iya, sama-sama. Senang?"


Adrian mengangguk semangat lalu menjawab,


"Senang sekali. Kemarin sedih karena adik pergi, sekarang senang karena Uncle dan Aunty datang dan bawa oleh-oleh. Sering-sering liburan ya,"


Vanilla dan Jhico sontak tertawa mendengar ucapan anak itu. Siapa yang tidak mau sering berlibur? semua orang juga mau.


"Bisikkan itu di telinga Uncle, Adrian. Agar Uncle mengajak Aunty liburan terus,"


Karena yang mengeluarkan modal untuk berlibur bukan Vanilla. Ia hanya menikmati saja. Sementara yang mengurus semuanya adalah Jhico.


"Lain kali kalau kita liburan lagi, aku yang mengurus ya. Kamu cukup mengeluarkan uang saja,"


"Nah, itu lebih adil, Jhico..." sahut Rena.


"Biarkan Vanilla belajar mandiri," lanjutnya.


---------


Selamat siang. Udh makan siang blm? jgn lupa makan dan istirahat bentar biar tetap kuat menjalani aktifitas :D



__ADS_1


__ADS_2