My Cruel Husband

My Cruel Husband
Andrean si anak rajin


__ADS_3

Devan sampai di mansion dan Ia langsung terkejut saat melihat anaknya keluar dari ruang mencuci dengan pakaian yang basah.


Di belakangnya ada Serry, sehingga Devan meminta penjelasan dari perawat anaknya itu.


"Adrian dihukum oleh Nona, Tuan, karena mengganggu adiknya lagi. Adrian mengotori boneka Nona kecil Auris dengan cokelat jadi Nona Lovi menyuruhnya untuk mencuci boneka itu,"


"Ya, Tuhan, Adrian... Adrian. Kenapa kamu tidak pernah jera? Daddy dan Mommy yang lelah, kamu tetap saja selalu buat ulah,"


Adrian berlari ke sofa karena kesal lalu menenggelamkan kepalanya di sana. Ia berteriak untuk meluapkan perasaannya.


Devan menggeleng setelah mengisyaratkan Serry untuk pergi. Devan menatap anaknya sekali, lalu memutuskan untuk membiarkannya. Ia naik ke lantai atas untuk memasuki kamar.


Auristella tengah menemani Andrean belajar. Ia berusaha menggangu Andrean namun Andrean tetap fokus. Paha Andrean ditepuk-tepuknya, lalu Ia menarik ujung kaus yang dipakai Andrean juga.


"Auris, jangan ganggu kakakmu!" Devan memperingati lalu membawa putrinya ke dalam gendongan. Ia menimang-nimang Auristella ke segala arah hingga anak itu terkekeh geli. Devan juga mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus di wajah Auristella yang langsung merengek tidak ingin.


"Iya-iya. Maafkan, Daddy."


Devan mencari istrinya di toilet dan Lovi tidak ada. Rupanya Ia sedang berada di walk in closet mengenakan pakaian lalu menyisir rambutnya.


"Lov, lain kali kalau Andrean sedang belajar, jangan minta Ia untuk menjaga Auris,"


Lovi menoleh untuk menatap Suaminya yang berjalan mendekat. "Aku tidak menyuruhnya, Devan. Andrean yang menginginkan itu, dia membiarkan aku mandi dan Auris juga tidak mau dengan perawatnya tadi,"

__ADS_1


Devan mengangguk paham. Lalu keluar dari ruangan besar itu bersama Auristella yang masih dalam gendongannya.


"Kita lihat kakakmu yang kedua sedang merajuk,"


"Hey, mandi dulu. Mau dibawa kemana Auris?"


Devan menghentikan langkahnya lalu tersenyum meringis. Ia segera menyerahkan Auristella pada Lovi lalu berjalan memasuki kamar mandi.


"Andrean, tadi Auris mengganggumu belajar?"


"Tidak, Mom. Ia malah membantuku agar tidak mengantuk saat belajar,"


Lovi terkekeh geli mendengarnya. Ia mengusap kepala Andrean yang memang terlihat mengantuk padahal belum memasuki waktu malam hari.


"Daddy, bantu Andrean buat video menyanyi ya?"


"Okay, Prince."


Devan segera meraih kamera yang tergantung di tempatnya lalu mulai mengatur posisi. Andrean berlatih sebentar sebelum mulai.


Auristella dan Lovi memperhatikan. Devan baru selesai mandi dan anaknya langsung meminta bantuan sebelum Ia makan. Tidak apa, Devan senang bisa menjadi salah satu orang yang mendukung semua kegiatan anaknya selagi itu positif.


Andrean memiliki tugas kesenian dimana Ia harus bernyanyi satu lagu tanpa melihat lirik. Setelahnya Ia juga harus memainkan alat musik. Andrean memilih piano kecil. Tadi siang Ia sudah meminta bantuan Jane untuk merekam kegiatannya bermain alat musik.

__ADS_1


Tugas Andrean sudah hampir selesai sementara adiknya masih merajuk karena masalah tadi siang dimana Ia harus mendapat hukuman. Ketika dihampiri oleh Lovi, Ia malah enggan untuk berbicara padahal biasanya sangat hobi mengeluarkan kalimat sekalipun tidak penting.


Hanya berbicara ketika ditanya saja. Setelah itu, Ia lebih intens berkomunikasi dengan kakek dan kedua neneknya.


Sedari tadi juga Ia belum masuk ke kamar orangtuanya. Mungkin sedang bermain bersama Raihan atau mengganggu kakeknya itu bekerja.


"Sudah bagus, Sayang. Coba lihat hasilnya," Devan mengisyaratkan anaknya untuk mendekat, melihat hasil videonya. Lovi dan Auristella pun tidak ingin kalah.


Auristella tiba-tiba bertepuk tangan riang ketika melihat kakaknya yang dingin itu bernyanyi walaupun dengan ekspresi yang terbilang aneh, mungkin karena tidak terbiasa berada di depan kamera dan bernyanyi seperti itu.


"Thank you, Daddy."


"You're welcome,"


Devan mengecup pipi sang anak lalu minta balasan. "Hebat, Andrean. Bagus juga suaramu. Ya, Auris?" Auris mengangguk cepat. Ia tersenyum lebar pada Andrean sampai matanya menyipit.


------


MASIH BLM BOBOK KAN? BACA INI, LIKE, KOMEN, VOTE, TERUS LANGSUNG BOBOK YAA SEMUAAA. SUPAYA BSK SEGERRR DAN SEMANGAT MENJALANI HARI WKWK.


JANGAN LUPA MAMPIR KE NILLAKU👇


__ADS_1


__ADS_2