My Cruel Husband

My Cruel Husband
Renald


__ADS_3

Mobil Raihan memasuki pekarangan mansion. Bersamaan dengan tibanya Vanilla dan Jane yang baru pulang dari kampus mereka.


Vanilla mengerinyit saat dilihatnya Raihan yang di tuntun oleh seorang lelaki memakai topi keluar dari mobil. Gadis itu langsung khawatir dan menghampiri Papanya.


"Pa, apa yang terjadi?" Vanilla mengambil alih lengan Raihan. Ketika lelaki baik itu mengangkat kepalanya, Vanilla terkejut bukan main.


"Kamu yang menyebabkan Papa seperti ini? iya?!" teriak Vanilla dengan marah. Kadar emosinya yang kemarin belum reda, sekarang malah dipertemukan dengan sumber emosinya. Benar-benar sialan!


Raihan menghela napasnya lalu menegur Vanilla dengan tepukan lembut di kepala gadis itu.


"Dia cleaning servis di kantor. Tadi papa jatuh, dia yang menolong Papa," jelas Raihan agar putrinya itu berhenti menatap anak buahnya seperti musuh. Padahal Renald hanya membantunya. Ia merasa tidak enak hati ketika Vanilla terlihat tidak tahu diri seperti ini. Papanya sudah dibantu, tapi dia marah-marah.


Tentu saja Vanilla tidak percaya. Suara bisikan Jane ditelinganya berhasil menyulut kemarahan Vanilla lagi.


"Itu lelaki yang membuatmu malu di kampus kemarin ya? kenapa kalian bisa bertemu lagi? ah, aku yakin kalian jodoh,"


Raihan rasa ini semua tidak akan berakhir kalau bukan Ia yang bergerak. Raihan menepuk bahu cleaning servis yang sudah dua tahun bekerja di perusahaannya itu. Ia tersenyum tipis.


"Terimakasih sudah menolong saya," ujar Raihan. Lelaki muda itu menunduk senenak.


"Iya, Pak. Lain kali hati-hati. Saya permisi kalau begitu," Ia bersiap akan pergi namun suara nyaring Vanilla menghentikannya.


"Bantu Papa masuk ke dalam dulu, Bodoh! kamu pikir aku kuat membantu Papa?" sungut gadis manis itu. Jane sebenarnya bisa membantu, tapi ia lebih senang melihat pemandangan ini. Dimana nantinya Vanilla dan lelaki itu akan berdekatan membantu Raihan berjalan.


Raihan mendengus kesal. Memangnya dia seberat apa sampai anaknya sendiri tidak kuat untuk membantu Ia berjalan?


"Papa ini kurus, Vanilla!"


Vanilla tidak menjawab Papanya.


'Kurus darimana? menderita obesitas masih merasa kurus?'


Vanilla mengutuk dirinya sendiri. Ia yakin kalau Raihan mendengar ejekan yang disampaikan batinnya tadi, Raihan pasti akan marah dan tidak terima.


Jane tersenyum puas ketika bayangannya benar terjadi. Raihan berjalan kesulitan, dibantu oleh Vanilla dan cleaning servis itu. Ah, benar-benar romantis.


Jane sepertinya masih gila!! sisi mana yang dapat dikatakan romantis? Raihan sedang kesakitan, gadis itu malah senyum-senyum sendiri menikmati kedekatan adik sepupunya dengan si lelaki cleaning servis.


Rena berseru panik saat melihat suaminya yang berjalan susah payah. Walaupun pertanyaan-pertanyaan sudah mulai bermunculan mengelilingi kepalanya, tapi lebih baik Ia memastikan terlebih dahulu keadaan suaminya. Rasa penasarannya bisa dipecahkan nanti. Bukan hanya penyebab Raihan seperti ini saja yang membuatnya bertanya-tanya. Tapi lelaki yang kini berada di samping Vanilla. Siapa dia?


Setelah membantu Raihan duduk di atas sofa, Ia menatap Raihan dengan raut khawatir khas seorang istri yang tidak ingin suaminya celaka.


"Papa perlu ke rumah sakit!"

__ADS_1


Raihan menggeleng dengan senyum menenangkan.


"Tadi Papa sudah ke sana bersama Renald," jawab lelaki paruh baya itu. Renald memang langsung membawnaya ke rumah sakit setelah menemukan Raihan terjatuh di toilet. Lelaki itu panik ketika melihat atasannya kesakitan seraya menyentuh pinggang. Wajah Raihan pun saat itu sangat pucat membuat Renald tidak bisa berpikir jernih. Ia berteriak memanggil teman-teman sejawatnya untuk menjaga Raihan sementara Ia meminta supir kantor untuk mengantar Raihan ke rumah sakit.


Rena beralih menatap Renald. Wanita itu menatap Renald dari kaki hingga kepala,berusaha menilai penampilannya. Raihan yang mengerti isi kepala Rena pun mengatakan hal yang seolah menjawab pertanyaan Rena sedari tadi.


"Renald ini cleaning servis di kantor, Ma. Sudah dua tahun dia bekerja,"


Setelah rasa penasarannya menguap, Wanita itu mengangguk lalu tersenyum.


"Terimakasih, Renald sudah membantu suami saya. Maaf membuat pekerjaanmu terganggu,"


Renald sontak menggeleng. Ia tidak merasa diganggu sama sekali. Raihan memang wajib dibantu. Karena Raihan pun sangat baik padanya.


"Saya pamit Pak, Bu."


"Iya, hati-hati, Renald."


***************


"Kenapa Papa terlihat sangat dekat dengan dia?" tanya Vanilla ketika sore ini Ia menghabiskan waktu bersama dengan kedua orangtuanya.


Jane yang selalu menjadi ekornya pun turut bergabung di sana. Mereka memang akan menyelami suasana hangat di setiap harinya. Untuk melepas penat, Raihan biasanya akan mengumpulkan anak-anaknya. Kebersamaan terbukti bisa menghilangkan sedikit rasa lelah dan sedih. Oleh karena itu selama Lovi belum sadar, sebisa mungkin Devan Ia rayu untuk ikut bergabung. Lelaki itu biasanya akan sibuk mengajak Lovi berbicara. Raihan tahu kalau itu membuat Devan jenuh. Hanya canda dan tawa yang bisa menghilangkan itu semua.


"Kenapa kamu begitu penasaran?"


Jane bertanya dengan senyum jahil yang menyebalkan menurut Vanilla. Vanilla mendorong kepala gadis itu. Raihan menggeleng.


'Mulai lagi,'


Jane sudah sangat dekat dengan keluarganya. Raihan sudah menganggap gadis itu sebagai anaknya juga. Lagipula kesibukan orang tua Jane membuat Raihan prihatin dengan gadis itu.


"Papa bertemu dengan dia di kampusmu, dua tahun lalu ketika Papa menghadiri rapat para pemilik saham. Saat itu kunci mobil Papa jatuh entah dimana. Papa tidak menyadari hal itu kalau saja bukan Renald yang mengembalikannya," jelas Raihan. Ia menerawang kejadian beberapa tahun lalu.


"*Pak, Pak tunggu!"


Raihan menoleh ketika mendengar suara teriakan di belakangnya. Ia menatap lelaki yang baru saja memanggilnya itu dengan kerutan di kening*.


"*Ada apa?" tanya Raihan dengan aura dinginnya seperti biasa.


Raihan membulatkan matanya ketika lelaki itu menyerahkan kunci mobil Raihan di telapak tangannya*.


"Tadi kunci mobil Bapak jatuh. Untung saya bisa kejar bapak. Saya hampir kehilangan jejak bapak tadi saat naik ke lantai lima,"

__ADS_1


penjelasan lelaki muda itu membuat Raihan terdiam. Ia tidak menyadari kelalaiannya. Beruntung ada orang baik yang bersedia mengembalikan kunci mobilnya.


"*Terimakasih..." Raihan sengaja menggantungkan ucapannya. Ia bingung ingin memanggilnya apa?


"Nama saya Renald, Pak."


Lelaki itu memperkenalkan dirinya dengan senyuman hangat. Raihan dibuat terpukau dengan kebaikannya*.


Raihan mengalihkan matanya pada seragam yang dikenakan Renald.


"*Kamu bekerja di sini?"


"Iya, saya cleaning servis Pak,"


Raihan sudah meyakinkan hatinya sebelum memutuskan ini. Renald adalah orang yang baik. Perasaannya mengatakan demikian.


"Di perusahaan saya banyak lowongan pekerjaan seperti ini. Kamu ingin bergabung?"


Renald langsung menatap Raihan tak percaya. Benarkah Ia ditawari pekerjaan?


"Dengan senang hati, Pak. Kapan saya bisa mengajukan permohonan untuk bekerja di sana?"


"Untuk pekerjaan cleaning servis tidak perlu menggunakan itu kalau di perusahaan saya. Siapapun bisa bekerja. Kamu bisa bekerja mulai besok,"


Renald tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Raihan sangat baik padanya. Ia bisa bekerja tanpa melamar. Walaupun hanya sebatas cleaning servis tapi itu adalah kebijakan yang sangat rendah hati bagi Renald. Biasanya pekerjaan apapun itu membutuhkan surat pengajuan diri.


"Tapi maaf saya belum bisa memberikan pekerjaan yang lebih dari itu. Saya sarankan kamu kuliah, agar bisa lebih baik lagi dalam hal pekerjaan," ucap Raihan dengan alis mengangkat. Ia yakin kalau Renald adalah lelaki yang memiliki potensi. Kejujurannya akan menjadi nilai tambah yang membuat perusahaan manapun tidak menyesal mempekerjakan Renald*.


"*Saya sudah lulus pendidikan strata 1, Pak."


Mata Raihan terbuka lebar. Kenapa Renald memilih cleaning servis bila mempunyai pendidikan yang lumayan tinggi seperti itu*?


*Seolah bisa membaca pertanyaan yang ada dibenak Raihan, Renald memilih untuk menjelaskannya.


"Pendidikan seperti saya masih belum ada apa-apanya di zaman sekarang, Pak. Makanya saya lagi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, supaya mendapat pekerjaan yang lebih mapan*,"


"Sepertinya anak baik ya, Pa?"


Raihan langsung menyetujui ucapan istrinya itu. Dari awal mereka bertemu saja, Raihan bisa merasakan ketulusan dari Renald ketika membantunya.


"Tidak pantang menyerah juga. Baguslah, memang laki-laki sesungguhnya harus seperti itu,"


*****************

__ADS_1


Heiii ketemu lg sm Vanilla. Di ep ini ga ada keluarga kecilnya Devan dl yaaa. Aku up nya agak ngaret yaaa soalnya mau revisi novel ini lg. Aku msh blm puas sm yg kemaren. Hehehe...


__ADS_2