
"Nanti Daddy yang jemput, seperti biasa. Kalau terlambat sedikit, tunggu ya. Jangan pergi kemanapun,"
"Iya, Adrian hafal dengan pesan itu. Daddy hati-hati di jalan. Semangat bekerja!"
Devan mengecup kening kedua putranya sebelum mereka keluar dari mobil. Devan tidak bisa mengantar mereka sampai ke dalam karena Ia sudah sangat terlambat untuk melakukan pertemuan. Auristella yang banyak melakoni drama pagi tadi membuat semuanya jadi kacau.
Ia tiba-tiba saja tidak ingin ditinggal oleh Devan padahal biasanya tidak seperti itu. Lovi sudah membujuknya dengan berbagai cara, kakek dan dan neneknya pun demikian tetapi Auristella bersikeras ingin terus digendong Devan.
"Bye, Daddy."
Mereka melambai sebelum Devan pergi. Kedua anak laki-laki yang lahir hanya berbeda hitungan menit itu berjalan memasuki sekolah elite mereka.
"Andrean, aduh tampan sekali. Sepertinya ada yang sedang bahagia hari ini,"
Adrina menyapa kakak Adrian itu dengan hangat. Seperti biasa, Ia akan berbicara jujur tetapi mengundang geli dari Andrean tak terkecuali adiknya.
"Aku juga tampan. Tidak disapa?"
"Tidak, Thalia yang akan menyapamu. Silahkan ke bangkunya,"
Adrian mendengus kesal. Ia segera duduk di tempatnya. Lalu melihat Revin yang tengah menyelesaikan pekerjaan rumah.
"Ada tugas?"
"Ada, dan aku lupa mengerjakannya."
"Oh benarkah?"
Revin mengangguk masih fokus dengan pekerjaan yang dia lakukan. Adrian ikut panik karena seingatnya Ia tidak mengerjakan tugas apapun kemarin. Ia juga lupa ada tugas, oh sepertinya bukan lupa. Tapi karena terlalu sibuk bermain. Kalau Devan dan Lovi tahu, pasti akan diberi nasihat panjang lebar.
"Andrean, kamu sudah mengerjakan tugas?"
Andrean sedang minum dan dibuat tersedak oleh adiknya yang menepuk bahu dengan tiba-tiba.
"Lihat seragamku! belum belajar, seragam sudah membuatku tidak nyaman,"
"Kamu sudah mengerjakan tugas?" Ia mengulangi pertanyaan.
"Sudah! aku tidak lupa,"
"Aku boleh--"
"Tidak, berpikir sendiri. Lihat Revin, dia mengerjakan tugasnya sendiri walaupun terlambat,"
Adrian mengerang kesal. Bila sedang panik, Ia akan kesulitan berpikir. Khawatir jawabannya tidak sempurna. Oleh sebab itu meminta bantuan pada Andrean untuk memberikan buku tugasnya agar Ia bisa menyalin.
__ADS_1
"Mommy dan Daddy tidak pernah suka dengan caramu yang seperti itu. Kalau lupa, segera kerjakan."
"Ya, Okay. Sudah, tidak usah banyak bicara. Aku ingin fokus,"
Adrina menghampiri meja mereka. Ia penasaran, lalu melirik buku Adrian dan Revin bergantian.
"Awas, Revin, nanti punyamu disalin,"
Adrian yang sedang fokus, mengangkat kepalanya lalu menyorot tajam.
"Sembarangan saja mulutmu. Aku bisa mengerjakannya sendiri,"
"Kenapa tidak meminta bantuan Andrean biar lebih cepat?"
"Diam! jangan berisik, aku tidak bisa diganggu bila sedang sibuk, seperti Daddy-ku. Aku calon pemimpin jadi harus fokus mengerjakan semuanya,"
Adrina mencibir dengan mulutnya yang dibuat maju. Lucu sekali anak itu. Ia seperti versi perempuan dari Adrian. Namanya pun tidak berbeda jauh. Awalnya juga sangat berteman dekat, setelah ada Thalia, Adrian menyadari bahwa Adrina lebih suka bermain dengan kakaknya.
*********
Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam untuk melakukan rapat penting, Devan mendatangi rumah Lucas untuk menanyakan kondisi ayah Istrinya itu yang baru saja keluar dari rumah sakit.
Devan memang sudah tahu dari seseorang, dan semalam Raihan juga memberi tahunya. Devan sedikit terkejut. Rupanya Raihan sudah mengenal Lucas.
"Lucas baru saja keluar dari rumah sakit, Devan. Tidak ingin menjenguknya?"
Dan sampailah Devan di sebuah rumah kecil yang dari luar terlihat sangat bersih. Devan hampir tidak percaya bahwa rumah itu hanya dihuni oleh ayahnya Lovi. Dia adalah seorang laki-laki, sudah tua dan memiliki penyakit juga, tetapi masih sempat memikirkan kenyamanan tempat tinggal.
"Maaf, Hanya ada air putih,"
"Tidak masalah, Ayah. Aku memang tidak diperbolehkan oleh Lovi terlalu banyak minum kopi atau teh,"
"Bagaimana kondisi ayah?"
"Jauh lebih baik,"
Sedetik kemudian Ia terbatuk keras. Melihat Lucas yang sepertinya kesulitan mengambil napas, Devan meringis.
"Ayah yakin sudah lebih baik? kenapa masih sesak?"
"Ini batuknya orangtua, Devan. Penyakit Ayah ada di ginjal,"
"Jantung dan paru-paru ayah tidak ada yang sakit?"
"Hmm... jantung juga,"
__ADS_1
"Artinya, penyakit Ayah sudah lebih dari satu?"
"Sedikit-sedikit ayah ini sakit, Devan." ujarnya dengan tawa kecil.
"Oh ya, hari ini anak-anakku akan pulang lebih cepat karena tidak ada ekstrakurikuler. Aku akan membawa mereka datang ke sini,"
Raut Lucas berubah menjadi sangat berbinar. Ia sudah lama berharap bisa bertemu dengan cucu-cucunya. Tidak diizinkan menyentuh sekalipun, Lucas tetap bersyukur. Yang terpenting Ia bisa mengenal secara langsung.
******
"Andrean, kerjakan soal ini."
Andrean maju untuk mengerjakan soal di papan tulis sesuai titah gurunya. Ia diberikan dua soal dan bisa selesai dalam waktu kurang dari tiga menit. Ini soal yang cukup rumit untuk tingkatan Andrean menurut gurunya. Tetapi anak itu mampu menyelesaikan dengan cepat dan tepat.
"Giliran kembaranmu yang maju."
Guru perempuan yang mengampuh pendidikan matematika menulis soal yang baru lalu meminta Adrian untuk mengerjakannya.
"Ms, Aku tidak bisa secepat Andrean mengerjakannya. Tidak apa?"
Teman-temannya tertawa dan Adrian merasa hatinya tidak terima. Secara tidak langsung Ia tengah diremehkan karena tidak bisa secepat Andrean dalam menjawab soal.
"Jangan tertawa! kalian kerjakan juga di buku masing-masing. Nanti diperiksa,"
semua mulut langsung terkatup. Adrian tersenyum puas melihatnya. Mereka belum tentu bisa seperti Andrean juga tetapi berani sekali menertawakannya. Biarpun Ia tidak sepintar sang juara sekolah, yang terpenting dari otaknya masih ada yang bisa diandalkan. Adrian tergolong pintar tetapi dalam hal menyerap pelajaran, lebih cepat Andrean dibandingkan adiknya. Dan Andrean mumpuni dalam segala bidang. Sementara Adrian lebih suka berhitung daripada menghafal.
Adrian mulai mengerjakan soal dengan konsentrasi penuh agar Ia tidak malu. Sejujurnya dibanding-bandingkan dengan andrean yang kemampuan otaknya lebih hebat daripada Ia, sudah biasa Adrian dengar.
Mereka selalu mengatakan, "Andrean lebih pintar dari kamu. Cepat sekali dalam menjawab soal. Pantas saja selalu menjadi juara sekolah. Kamu tidak belajar dari Andrean?"
"Kamu pintar tapi lebih pintar Andrean. Oh bukan pintar lagi, tapi Andrean sudah jenius,"
Namun karena pada dasarnya Adrian bukanlah tipe anak yang terlalu memikirkan ucapan orang apalagi yang negatif dan bisa menghambat langkah dirinya, Adrian selalu santai dalam menanggapi.
"Semua anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,"
Ia tidak pernah memasukkan kata-kata itu ke dalam hati. Karena menurutnya Ia sudah berusaha jadi tidak ada yang perlu dikomentari. Biarkan Ia maju dengan cara dan kemampuannya sendiri. Begitupun dengan Andrean.
Tetapi untuk tawa menggelegar tadi, Adrian sedikit tersinggung. Mungkin karena mereka melakukan itu di depan guru jadi rasa malu lebih mendominasi.
"Ini benar, Adrian. Terima kasih sudah menjawab,"
"Terima kasih juga, Ms, sudah membuat soal seperti ini. Jadi aku bisa mengukur kemampuan,"
"Ternyata..."
__ADS_1
Adrian menatap guru matematikanya saat Ia berhenti bicara. "Ternyata kemampuanmu juga sangat baik," lanjutnya yang membuat Adrian tersenyum. Ketika Ia berbalik, kembali menghadap teman-temannya, Anak itu tersenyum miring seolah puas bisa membuat mereka semua menelan bukti kemampuannya.
------------