My Cruel Husband

My Cruel Husband
Undangan dari sahabat


__ADS_3

"Matamu keren, mulut kembang api! kamu pikir aku laki-laki seperti apa? sudah gagah begini malah disuruh belajar balet dan cheerleader,"


"Kamu 'kan multi talenta seharusnya bisa menjadi apapun,"


Adrian pura-pura tidak mendengar. Ia meneguk air minum sebanyak mungkin lalu duduk di samping Adrina.


"Adrina, ayo pulang,"


"Grandpa-nya Adrian belum selesai?" Adrina bertanya pada kakeknya yang baru saja mengajak pulang.


"Belum, mungkin sebentar lagi,"


"Ya, sudah. Kita tunggu saja dulu, Kakek. Adrian sering menemani Adrina kalau belum dijemput Daddy. Sekarang Adrina mau temani Adrian, kasihan dia sendirian, tidak ada anak kecil di sini,"


"Oh Adrian sering menemani kamu?"


"Iya, Daddy sering lama menjemput aku. Dan Adrian ikut menunggu sampai aku dijemput,"


Syarief mengangguk, Ia baru tahu kalau pertemanan mereka sudah sedekat itu. Saling peduli ketika salah satunya tidak ada teman.


"Banyak orang di sini. Tidak perlu menemani aku," Adrian tidak apa sebenarnya dibiarkan sendiri karena Ia yakin sebentar lagi Raihan akan selesai.


"Tapi orang tua semua. Kamu tidak ada yang ajak bicara. Kasihan sekali,"


Walaupun peduli tapi tetap saja Adrina mengeluarkan sifat jahilnya yang hobi sekali menggoda Adrian sampai Adrian merasa malu sendiri. Memang hanya mereka berdua yang anak kecil. Mayoritas pengunjung adalah orang-orang dewasa.


"Kakek, aku boleh pinjam?"


Walaupun katanya menemani, tetap saja Adrina sibuk sendiri. Ia memperhatikan apa yang dilakukan kakeknya terhadap ponsel. Sementara Adrian diam memandang Raihan yang masih bergelut dengan kegiatannya.


"Kita di sini menemani Adrian, kenapa kamu mau bermain ponsel?"


Adrina mengerucutkan bibirnya. Kalau sudah bicara seperti itu artinya Ia tidak diizinkan oleh Syarief untuk meminjam ponselnya.


"Ini bola milik siapa?" telunjuk Adrian mengarah pada sebuah bola yang ada di sebelah Adrina.


"Daddyku. Tadi Daddy habis bermain sepak bola juga," jawab Adrina seraya memegang bola yang biasa digunakan Jino itu.


"Kita bermain ini sebentar, mau tidak?"


"Tidak mau, aku pasti kalah."


"Ini bukan pertandingan. Daripada kita bosan. Lebih baik tendang-tendang ini,"


Kaki Adrian mulai sibuk dengan bola. Sampai punggung dan dahinya pun diikut sertakan. Adrina hanya terperangah melihat itu. Ia sama sekali tidak mengerti tentang sepak bola. Melihatnya saja sudah sulit apa lagi ketika bermain langsung.


Adrian dan Adrina bermain sepak bola sesuka hati mereka di dekat Syarief. Mereka tidak mengganggu sama sekali karena semua orang sibuk di lapangan sementara mereka di tempat untuk beristirahat.

__ADS_1


Syarief memperhatikan keduanya. Walaupun tidak bisa, tetapi Adrina mau belajar. Ia memperhatikan Adrian yang memberi contoh lalu dia lakukan.


"Coba!"


"Itu sulit,"


"Coba dulu!"


Adrian mengoper bola agar di mainkan oleh kaki Adrina, dipantul-pantulkan ke atas berulang kali menggunakan punggung kaki.


Adrina menyerah karena kakinya tidak selincah dan sehebat Adrian. Ia menyerahkan kembali bola itu pada Adrian. "Aku jadi penonton saja,"


"Tidak seru kalau begitu,"


Raihan terlihat sudah selesai bermain. Ia mendekati cucunya yang tengah berbagi ilmu dengan Adrina.


"Ayo, pulang."


"Adrian, tidak mau datang ke rumah Adrina? Mommy-nya Adrina akan merayakan ulang tahun nanti malam. Hanya perayaan sederhana di rumah,"


Mata Adrian langsung berbinar. Ia segera meminta persetujuan pada kakeknya melalui tatapan.


"Boleh, Grandpa?"


Raihan berpikir sebentar. Kalau Adriam datang ke sana, otomatis Ia juga harus menemani karena tadi Adrian berangkat bersamanya, pulang juga harus bersamanya. Tetapi kalau mereka datang ke sana, belum ada persiapan sama sekali.


Jino juga sudah selesai. Ia bergabung dan langsung didesak oleh anaknya, "Daddy, nanti malam ada makan malam di rumah 'kan? ajak Adrian boleh ya?"


"Tentu saja boleh. Ayo, Adrian datang ke rumah Adrina,"


"Aku mau, tapi---"


"Izin dulu dengan Mommy dan Daddy ya?"


Raihan tidak mau memutuskan sendiri. Biar bagaimanapun ada Devan dan Lovi yang sudah menunggu anaknya di mansion.


"Jangan lupa ajak Mommy dan Daddy-mu. Rencananya memang Uncle mau undang setelah olahraga nanti. Tapi ternyata kita bertemu di sini. Maaf memberi tahunya terlalu dekat dengan acara,"


"Ya sudah, aku pulang dulu. Aku sampaikan pada Mommy dan Daddy nanti,"


*********


Auristella tidak membiarkan kakak sulungnya untuk belajar. Usai digantikan baju dan penampilannya dibuat semakin cantik oleh Lovi, Ia langsung meminta Andrean untuk menggendongnya.


Jarang sekali anak ini manja. Mungkin karena merasa kesepian, tidak ada Adrian, Ia kekurangan teman saat ini. Lebih tepatnya bukan teman, melainkan musuh yang kerap bertengkar.


"Kakakmu harus belajar, Auris. Jangan seperti itu. Ayo, main dengan Daddy saja,"

__ADS_1


Begitu sampai di mansion usai makan bersama Devan di luar, Lovi langsung mengurus anaknya yang rupanya sudah menunggu kedatangan Lovi sejak tadi. Ia tidak nyaman lagi bermain, mulai rewel pada kakak sulungnya.


"Sudah puas bermain dengan Andrean tadi. Sekarang waktunya Andrean belajar,"


Auristella tidak mau melepaskan pelukannya di leher Andrean. "Kamu mengantuk ya?"


Auristella tetap saja tidak ingin lepas dari gendongan kakaknya. Ketika dipangku oleh Andrean yang sedang berhadapan dengan meja belajar, Ia langsung diam.


Tangan kecilnya mulai memainkan buku-buku Andrean. "Ini yang Daddy tidak suka. Kalau mau mengganggu lebih baik keluar," ujar Devan dengan dingin. Sepertinya Auristella mengantuk tetapi Ia bersikeras ingin menemani Andrean belajar.


"Pelajaran apapun tidak akan masuk ke dalam otakku kalau ada yang mengganggu seperti ini," Andrean menatap Lovi dengan pandangan memohon.


Auristella mengantuk tapi bukannya tidur malah mengganggu kakaknya. "Auris, ayolah. Jangan ganggu. Tugasku belum selesai semua,"


Auristella menatap Andrean sebentar. Seolah mengerti, Ia segera mengulurkan tangan pada Lovi agar digendong, dan membiarkan Andrean fokus dengan pelajarannya.


***********


"MOMMY, ADRIAN BOLEH PERGI TIDAK?"


"Memang seperti itu caranya kalau meminta izin? baru sampai sudah teriak-teriak," Raihan menegur cucunya yang begitu masuk ke mansion langsung mengeluarkan suara kencangnya.


Lovi yang sedang berjalan kesana kemari untuk membuat Auristella tertidur pun menghampiri anak keduanya. Ia mengisyaratkan Adrian untuk diam lewat tatapan tajamnya.


Adrian terkekeh, menunjukkan gigi-gigi kecilnya yang tertata rapih hingga membuatnya semakin menggemaskan.


"Mommy-nya Adrina ulang tahu hari ini. Lalu ada perayaan sederhana di rumahnya. Adrian diundang, Mom. Boleh datang tidak? Mommy dan Daddy juga diminta datang. Ayo, kita datang,"


"Siapa yang ulang tahun?" Devan belum terlalu mendengar ucapan anaknya karena baru saja dari dapur membuatkan susu untuk putrinya.


"Mommy-nya Adrina. Aunty Sheva,"


"Oh, ya sudah. Datang saja,"


"Mommy dan Daddy juga di undang,"


"Iya, Kalian diminta datang juga oleh Jino," sahut Raihan.


"Mommy tidak datang ya. Kasihan Auris baru ditinggal tadi,"


"Adrian datang bersama Daddy saja,"


"Yah, Mommy tidak ikut?"


"Adikmu mengantuk tapi tidak mau tidur juga. Mommy lagi kebingungan," ujar Devan menunjuk istrinya yang sudah sibuk mengurus anak lagi.


"Jadi malam ini kita menikmati boy's time, Dad. Oh iya, Andrean---"

__ADS_1


"Nanti coba kamu ajak. Sepertinya tidak mau, karena sedang belajar,"


Sudah biasa bagi Devan pergi menghadiri suatu acara hanya bersama anak laki-lakinya saja baik salah satu ataupun keduanya. Karena Lovi masih harus meluangkan banyak waktu untuk Auristella. Sehingga sulit sekali mencari celah untuk hadir di sebuah acara. Dan tadi juga Auristella baru ditinggal Lovi ke butik, Lovi tidak tega bila harus meninggalkan anaknya lagi walaupun hanya sebentar.


__ADS_2