
Devan memasuki dapur setelah menyuapi anak sulungnya. Di sana Ia melihat Lovi yang sedang mencuci peralatan masak.
Devan berdehem berusaha mengalihkan perhatian Istrinya yang sedari tadi terlihat sangat menghindarinya.
Devan meletakkan piring dan gelas kotor di dekat Lovi. Namun perempuan itu biasa saja walaupun dia tahu siapa pemilik tangan kekar itu.
Melihat tidak ada respon apapun yang ditunjukkan Istrinya, Devan sedikit kesal. Namun Ia tahu kalau untuk saat ini tidak ada hal apapun yang pantas untuk dilakukannya kecuali menerima segala sikap acuh sang Istri.
Lelaki itu duduk di meja makan yang posisinya tak jauh dari Lovi saat ini. Devan memperhatikan tubuh perempuan itu dalam diam. Beberapa bulan tidak bertemu sepertinya Lovi terlihat lebih kurus.
"Surat perceraian itu sudah aku rusak lagi. Kamu tahu apa yang aku inginkan?"
Lovi diam tanpa menjawab apapun. Ia malah mencuci piring dengan gerakan tak biasa hingga menimbulkan suara yang cukup mengganggu. Lovi sengaja melakukannya. Karena Ia tidak ingin mendengar lelaki itu bicara.
"Kenapa dia harus ke sini? Andrean masih di dalam kamar dan tidak ada yang menjaga,"
"Lov..."
"Devan, kamu bisa diam? Lebih baik kamu kembali ke kamar. Temani Andrean, dia begitu merindukanmu,"
Mendengar kata 'rindu' Devan tersenyum miring. Ia langsung bangkit dari posisinya. Tanpa perlu basa-basi Lelaki itu memeluk istrinya dari belakang. Devan bisa merasakan kalau Istrinya langsung membeku. Bahkan perempuan dalam dekapannya ini membiarkan air terus mengalir tanpa melanjutkan kegiatannya.
"Devan, bajing*n! Aku tidak bisa kamu perlakukan seperti ini. Aku mohon lepaskan aku," batinnya berusaha memberontak namun apa yang dilakukan tubuhnya? Diam, hanya diam tanpa melakukan perlawanan apapun membuat Devan semakin besar kepala.
"Aku tahu, bukan hanya mereka yang merindukanku. Kamu pun merasakan hal itu, bukan?"
Wajah Lovi kaku sama seperti tubuhnya. Ia benar-benar bodoh. Mudah sekali luluh hanya dalam satu sentuhan. Sial*n. Lovi merasa dirinya sangat murahan. Ia benci pada tubuhnya sendiri yang malah nyaman berada dalam dekapan Devan.
Bukan ini yang Ia inginkan.
"Devan, apa yang kamu lakukan? Ini salah, Devan!"
Setelah berhasil berpikir sedikit jernih, Lovi menggerakan tubuhnya berusaha lepas dari kungkungan suaminya.
"Kamu melakukan hal ini lagi, Sayang. Aku tidak suka penolakan,"
Lovi tersenyum miring. Apa katanya tadi?
"Tidak suka? Kamu ingat, dulu yang menolak kehadiranku siapa? Yang menolak untuk menemaniku periksa kandungan siapa? Kamu, kamu yang selalu melakukan penolakan itu,"
__ADS_1
Devan menggeleng di belakang kepala Lovi. Ia berusaha menahan air matanya mati-matian.
"Aku mohon jangan ingatkan aku dengan hal itu lagi. Aku sakit, Lovi. Aku sakit mendengarnya,"
Lovi bisa merasakan hangat dan juga basah di sekitar rambut belakangnya.
"Devan, Lepaskan!"
Berhasil, Lovi keluar dari pelukan suaminya. Ia berbalik dan mendapati Devan yang menangis seraya menunduk. Ia menatap Devan terkejut.
"Devan..."
"Kamu menyakitiku, Lov. Aku sangat menyesal pernah melakukan semua itu. Tapi bisakah kamu tidak mengungkitnya kembali?"
Lovi diam. Hatinya perih melihat luka dimata lelaki itu. Separah apa Ia menyakiti Devan? Apa sebanding dengan rasa sakit yang juga Ia alami?
"BISA KAMU TIDAK MENGUNGKITNYA LAGI?! HAH?!"
Lovi mundur beberapa langkah. Ia kaget mendengar bentakan suaminya. Rasa simpati yang tadi hadir, kini meluap entah kemana. Apa lagi begitu melihat sorot menyeramkan Devan. Lovi tidak suka dengan semua itu.
"AKU TERLUKA, KAMU TAHU?! AKU TERLUKA, SAYANG!"
Devan mendorong bahu Lovi hingga punggung Lovi membentur dinding dapur di belakangnya. Lovi menahan napas saat Devan menjerat dagunya.
"Kamu pikir semudah itu menceraikan aku? Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu, Lovi!" Desis lelaki kejam yang sudah mulai dikuasai oleh halusinasi-halusinasi gila di kepalanya. Berbagai bisikan jahat mulai menyuruhnya untuk menyakiti perempuan yang dicintainya itu.
Tapi Devan berusaha menahan diri. Ia tidak ingin terlihat lain di mata Istrinya. Tidak mungkin Ia merusak kesan pertama mereka bertemu setelah lama berpisah.
"Kamu tidak sadar dengan kalimatmu barusan? Kamu yang menyakitiku, Devan. KAMU!"
Lovi menunjuk tepat ke wajah Devan. Ia tidak tahu kalau itu berhasil memancing api dalam diri Devan kembali membara. Devan meraih tangan Istrinya lalu di putarnya hingga ke belakang tubuh perempuan itu.
"Devan, Kamu gila?! Lepaskan aku, Sial*n!"
Bibir itu terlihat semakin menggairahkan ketika memaki. Devan sangat menyukainya. Sehingga tanpa mengatakan apapun lagi, Ia langsung membawa Lovi dalam gendongan ala bridal style.
Lelaki itu seolah tidak mendengar teriakan Lovi. Ia juga mengacuhkan segala bentuk pemberontakan yang dilayangkan Istrinya. Mulai dari menampar, mencakar, hingga meludahi wajahnya.
Lovi akan melakukan apapun agar Ia bisa lepas dari lelaki jahat itu. Ia tidak peduli lagi dengan rasa cintanya. Ia akan membuang jauh-jauh perasaan itu. Keputusannya semakin bulat. Sekuat apapun penolakan Devan, lovi akan tetap mengajukan gugatan perceraian. Devan benar-benar semakin menggila. Dan Lovi tidak mungkin lagi hidup bersama dengan lelaki itu.
__ADS_1
Devan membawa Lovi masuk ke dalam sebuah kamar yang berjarak dua kamar dari tempat Andrean sekarang. Tentu saja otaknya masih bekerja ditengah gairah yang kian membuncah. Devan tidak akan membuat telinga dan mata anaknya ternodai.
Sebentar lagi Devan akan menunjukkan betapa berkuasanya Ia atas tubuh Lovi. Menyakiti hingga menikmati apapun bisa Ia lakukan.
Devan membanting tubuh Lovi di atas ranjang. Ia mulai sibuk membuka segala atribut yang melekat erat di tubuhnya. Lovi tidak bisa lagi menahan kepanikannya. Ia tahu apa yang akan dilakukan Devan.
Jika dalam suasana yang baik, tentu saja Lovi sama menginginkannya. Tapi kali ini, Devan benar-benar terlihat aneh. Setelah beberapa bulan tak pernah saling menyapa, Devan malah menyakiti Lovi.
Ia kira pertemuannya dengan Devan hari ini adalah langkah yang bagus sebelum mereka berpisah. Nyatanya tidak.
Devan menaiki ranjang dengan tatapan predator yang siap menerkam mangsanya dalam sekejap. Ia tertawa menyeramkan tat kala melihat Lovi yang menangis. Ia merasa bahagia melihatnya. Walaupun itu sangat bertolak belakang dengan fakta yang selama ini melekat dalam dirinya. Devan tidak pernah suka dengan air mata Lovi. Tapi kegilaannya saat ini malah menginginkan hal itu.
"Kamu terlihat semakin menggairahkan dengan raut ketakutan itu,"
Lovi menghempas tangan suaminya yang sedang menyentuh dagunya dengan gerakan begitu sensual.
"MENJIJIKAN! KAMU MENJIJIKAN, DEVAN! KAMU----HMMMPP"
Devan tidak membiarkan Istrinya melanjutkan ucapan. Ia langsung melum*t bibir yang sejak tadi mengeluarkan tangis itu.
Bagian bawah tubuh lelaki itu masih tertutup. Dengan bibir yang masih menuntut bibir Lovi, Devan melepaskan tali pinggangnya.
Lovi menggigit bibir Devan agar tautan mereka terlepas. Namun itu tidak berpengaruh sama sekali untuk Devan.
Devan menggunakan tali pinggangnya untuk mengikat kedua tangan istrinya di atas kepala. Devan akan memenuhi halusinasinya saat ini. Ia akan membuat Lovi takluk di bawahnya.
"Aku akan membuat kamu berpikir ulang mengenai perceraian sial*n itu. Ini akibatnya kalau kamu masih saja nekat, Sayang."
Devan beralih ke leher Istrinya. Ia melakukan apapun yang menyenangkan baginya. Membuat Lovi mendesah adalah keinginan Devan saat ini.
Devan melakukannya dengan begitu cepat. Tanpa membuat Istrinya tenang terlebih dahulu, Devan memuaskan hasratnya tanpa peduli betapa menyedihkannya kondisi Lovi saat ini.
Ia berusaha meraih kenikmatannya sendiri. Gairah memblenggu Devan dalam imajinasi gilanya. Melihat Lovi yang pasrah dibawah kekuasaannya, Devan tak bisa lagi mengungkapkan betapa bahagianya Ia sekarang.
"Devan... setelah ini aku mohon, pergi dari hidupku,"
--------------
'WHY' jg udh up ya Gengss. Sila dicek ;)
__ADS_1