My Cruel Husband

My Cruel Husband
Omong kosong


__ADS_3

Devan memasuki kamar lalu melepas jas yang seharian ini membuat tubuhnya kaku. Matanya menatap punggung Lovi yang sedang duduk menatap jendela dimana matahari mulai kembali ke peraduannya.


Perempuan itu tidak menyadari kehadiran suaminya. Terlalu sibuk merangkai kata di bukunya. Kini Ia tidak diperkenankan lagi oleh Devan untuk merawat taman. Hal itu membuatnya hampir mati kebosanan. Tak ada hal apapun yang bisa dilakukannya kecuali menulis.


"Buatlah sesuatu untukku,"


Lovi menoleh dan mendapati Devan yang bersiap untuk mandi. Ia menghela napasnya pelan. Lalu beranjak dari kegiatan menulisnya.


"Aku ingin jahe hangat,"


Lovi pikir lelaki itu mengingkan makanan. Syukurlah hanya itu yang menjadi permintaannya. Karena jujur saat ini Lovi tidak bisa berlama-lama di dapur. Aroma rempah-rempah membuatnya tidak nyaman.


Lovi melihat Vanilla dan Rena yang sedang menyantap cemilan seraya berbincang.


"Aku tidak ingin melanjutkan kuliah, Ma,"


Rena berdecak seraya memutar bola matanya.


"Akan seperti apa masa depanmu, Vanilla?"


Vanilla tidak bisa menggunakan kesempatan yang menghampiri dirinya. Ia telah memiliki semuanya. Vanilla hanya diminta oleh orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Semua fasilitasnya sudah dipenuhi oleh Raihan namun sikapnya selama kuliah menunjukkan kalau Ia menolak permintaan itu. Entah akan jadi seperti apa masa depan gadis itu. Tak ada perubahan yang ditunjukkan olehnya di saat semua teman-temannya sudah menyelesaikan pendidikan dan berhasil membuat orang tua mereka bangga.


"Aku punya segalanya. Jadi untuk apa pendidikan tinggi?"


Rena menggeleng tidak setuju. Walaupun keluarga mereka memiliki harta kekayaan yang berlimpah namun itu semua tidak akan abadi. Akan ada saatnya dimana mereka berada di roda kehidupan menengah atau bahkan di bawah. Hanya ilmu yang bisa diandalkan ketika sudah dihadapkan dengan kondisi seperti itu.


"Tidak selamanya kamu seperti ini,"


Vanilla tertawa lalu melahap kentang goreng kesukaannya dengan tenang.


"Papa tidak akan membiarkanku jatuh miskin,"


"Tentu saja, Tapi dia juga tidak bisa melawan Tuhan bukan? Bagaimana kalau takdir menginginkanmu jatuh miskin?"

__ADS_1


Vanilla kian tertawa keras. Ia pikir Lelucon Ibunya benar-benar membuatnya terhibur.


"Tuhan baik padaku, Ma,"


Kini Rena yang terkekeh. Ia mengangkat alisnya menatap putri bungsunya itu.


"Kamu berharap Tuhan baik padamu? Tapi kamu tidak pernah memperlakukan makhluk Tuhan yang lain dengan baik, Vanilla,"


Vanilla berhenti makan. Ia mengerinyit tak mengerti.


"Maksud Mama?"


"Lovi dan para pekerja disini. Kamu selalu merendahkan mereka,"


Vanilla mengerti sekarang. Pada akhirnya Rena akan membela Istri kakaknya itu. Yang dulu sangat dibenci olehnya dan Devan. Tapi sialnya, saat ini lelaki itu seolah melupakan masa lalu dimana mereka sangat membenci perempuan yang bekerja di rumah bordil. Perempuan yang mereka anggap sebagai perusak kebahagiaan.


Lovi yang sedari tadi memilih diam dan mendengarkan pembicaraan itu kini menampakkan dirinya dihadapan dua perempuan yang memiliki kemiripan diwajahnya.


Rena langsung memutuskan pembicaraan tak lagi menatap anak perempuannya. Ia terkejut begitu melihat Lovi yang berjalan ke pantry.


"Tuan menginginkan Jahe hangat, Nyonya,"


Rena mengangguk lalu membiarkan menantunya untuk membuatkan Jahe hangat itu. Sementara Vanilla acuh dan kembali disibukkan dengan cemilan seraya berkutat dengan ponsel pintarnya.


"Bagaimana kabar Elea sekarang ya?" Tiba-tiba gadis cantik itu berkata pada Ibunya. Membuat Rena yang sedang meneguk teh hangat terdiam. Ia meletakkan cangkirnya dengan tenang. Begitupun Lovi yang langsung menghentikan kegiatannya menuang air hangat ke dalam gelas Devan.


Rena dengan wajah datarnya menjawab,


"Orang yang hampir mencelakai cucuku tidak seharusnya kamu sebut lagi, Vanilla!"


Vanilla terkejut saat Ibunya sedikit menaikkan nada bicaranya. Amarah di wajah itu mampu membuat Vanilla membeku. Ia telah salah berbicara.


"Mama masih membencinya? Bukankah dia sudah meminta maaf?"

__ADS_1


Rena kian meradang. Tentu saja Ia masih membencinya. Bahkan sampai kapanpun kesalahan itu tidak akan Ia lupakan. Elea berhasil membuat Rena yang lemah lembut berubah menjadi seseorang yang mampu menyimpan dendam.


"Kamu tahu apa jawabannya,"


"Aku juga sangat menyayangkan hal itu, Ma. Tapi Elea tidak bisa disalahkan sepenuhnya dalam hal itu. Ia melakukanya karena terlalu mencintai Devan dan takut kehilangannya,"


Vanilla dan Lovi terkejut ketika Rena memukul meja makan. Tidak kencang memang tapi berhasil membuat jantung Vanilla seolah lepas dari tempatnya.


"Omong kosong apa itu Vanilla? Semua itu bukan Cinta. Kalau memang dia mencintai Devan, seharusnya Dia mendukung apapun yang mampu membuat Devan bahagia,"


**************


"Lama sekali? Aku menunggumu,"


Lovi langsung meletakkan minuman hangat yang menggoda itu di meja lampu tidurnya. Devan merasa kegiatan hari ini sungguh menjadikannya penat dan lelah. Ia menginginkan sesuatu yang bisa membuat tubuh dan pikirannya tenang.


"Kenapa wajahmu kaku begitu?"


Lovi langsung menatap Devan dan ketika Lelaki itu mengerinyit, cepat-cepat Lovi menghilangkan ekspresi terkejutnya yang belum hilang.


"Ada apa? Vanilla melakukan sesuatu padamu?" Devan duduk di tepi ranjang kemudian meneguk jahe hangat yang selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik. Jahe pertama untuknya yang dibuat oleh Lovi dan Devan sangat menyukainya. Seperti ada sesuatu yang membuat minuman itu terasa lebih nikmat.


"Tidak,"


"Katakan padaku, Lovi! Jangan takut untuk meminta perlindungan,"


Lovi tersenyum miris dalam batinnya. Devan baru saja mengatakan sesuatu yang membuat perutnya tergelitik. Bagaimana mungkin Lovi meminta perlindungan pada orang yang juga menyakitinya?


'Seharusnya Tuan mengatakan itu nanti saja. Ketika kalimatnya benar-benar tulus dari hati Tuan. Tapi aku tahu itu semua tidak akan pernah terjadi.'


****************


Mayan lah yaa aku up hr ini. Jgn lupa like, coment, vote nyaa. Tencyuuu

__ADS_1


__ADS_2