My Cruel Husband

My Cruel Husband
Aku single sekarang


__ADS_3

"Kamu bisa mengerjakan hal lain yang lebih penting dari ini. Jangan buat aku malu, Devan. Aku mohon," sorot mata Lovi melemah. Ia tidak sanggup lagi menghadapi Devan yang seagresif ini. Dulu Devan tidak seperti ini kadar sintingnya. Lovi seperti dijadikan objek obsesi sekarang.


Fifdy dan Desira memperhatikan keduanya. Desira menyenggol lengan Fifdy seraya mengerling.


"Mereka manis ya. Mau coba sama aku? barang kali bisa lebih manis,"


Fifdy bergidik saat Desira menggodanya. Ia tahu kalau itu hanya sekedar guyonan. Tapi menggelikan sekali ketika mendengarnya.


"Jijik kalau sama kamu. Bukannya manis malah kecut dipandang mata,"


Tawa Desira meledak seketika. Tangannya yang memang seperti lelaki tanpa basa-basi meninju bahu Fifdy. Cukup keras sampai lelaki itu mengerang.


"Aku tinju juga ya," ancamnya seraya mengangkat kepalan tangannya. Bukannya takut Desira justru menunjuk-nunjuk wajahnya di depan Fifdy.


"Mau dong ditinju. Di pipi aku aja. Tapi pakai bibir,"


"Ada yang lebih menjijikan lagi dari dia, Ya Tuhan? Tolong hilangkan aku sekarang,"


"Okay, untuk hari ini saja kita pulang bersama,"


Wajahnya meyakinkan sekali. Tapi Lovi tidak percaya begitu saja. Devan sudah mengetahui tempat kerjanya pasti Lelaki itu tidak akan membiarkannya hidup tenang.


Lovi bersedekap dada. Ia tidak ingin menatap Devan. Lebih baik memandang Desira dan Fifdy yang kini sudah melanjutkan pekerjaannya. Merasa diacuhkan, Devan memutar wajah Lovi agar menatap matanya.

__ADS_1


"Ada aku di sini. Kenapa malah sibuk pada hal lain? Dia yang memintamu untuk bekerja di sini?"


"Siapa?" Lovi menyingkirkan tangan Devan dari wajahnya. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.


"Lelaki itu lah. Siapa lagi memang?" Dagu Devan menunjuk Fifdy yang tengah memunggungi mereka. Fifdy sedang menyalakan air dan melanjutkan tugas Lovi.


"Aku bekerja di sini atas kemauan sendiri. Tidak ada yang mencampuri keputusanku itu,"


Devan terlihat tidak percaya. Ia duduk di atas mobilnya. Lalu ikut memperhatikan Fifdy dan Desira.


"Mereka cocok,"


"Kita berteman. Cocok apanya?"


Datang lagi sikap kekanakannya. Yang sedikit-sedikit cemburu dan curiga. Haish! Malas sekali Lovi meladeninya. Agar cepat selesai, Lovi berbohong saja. Sakit hati Devan akan lebih terasa kalau dia mengaku kagum pada Fifdy.


"Kalau iya, memang kenapa? Aku single sekarang,


Dengan senyum puas Lovi menantang Devan. Ia menyulut api dalam diri mantan suaminya. Itu adalah jawaban yang paling dibenci Devan. Lovi yang menaruh perasaan pada lelaki lain akan menjadi penyebab emosinya memuncak.


"Kamu mengatakan hal itu pada orang yang salah, Lovi. Kalau aku tidak bisa memilikimu lagi, maka lelaki lain pun tidak akan bisa. Aku akan membunuh mereka sebelum bertindak lebih jauh,"


"Kamu memang penjahat sejati ya?"

__ADS_1


Devan terkekeh sinis. Ia menghela bahunya. Lalu turun dari kap mobilnya. Berjalan memutari mobil, sebelum masuk, Ia berkata pada mantan istrinya itu,


"Aku tunggu di dalam mobil. Aku mengawasimu. Jangan coba kabur dariku!"


***


Rena dan Senata sudah membawa kedua cucunya pulang ke rumah. Mereka semua tampak kelelahan. Karena setelah makan dan menikmati es krim, kedua anak kembar itu merengek ingin bermain di wahana mandi bola yang tak jauh dari food court.


"Ganti pakaian dulu," ujar Senata melarang Andrean menghempas tubuhnya di ranjang dekat televisi. Biasanya mereka tidur siang di sana sambil menonton siaran kartun kesukaan keduanya.


"Serry, tolong ambil minum untukku ya?"


Serry terkekeh saat Adrian yang menggemaskan berbicara seperti itu. Serry meletakkan belanjaan mereka di dekat meja. Lalu mengambil minum untuk Tuan kecilnya.


Adrian berjalan untuk mengambil remot televisi. Lalu dia menekan tombol 'On'. Telinganya seolah disumpal saat suara Rena yang menuruni tangga berbicara padanya dan juga Andrean.


"Ini bajunya, Sayang."


"Ya, Grandma." Kakaknya menjawab. Tapi Adrian sudah sibuk memilah-milah channel televisi.


"Ayo, Adrian. Kamu jangan pura-pura tidak punya telinga begitu,"


Akhirnya Adrian tertawa saat neneknya menggerutu. Ia patuh saat kedua kakinya dikunci dengan kaki Rena yang kini duduk di sofa. Rena sudah antisipasi kalau-kalau Adrian kabur saat diganti bajunya.

__ADS_1


__ADS_2