My Cruel Husband

My Cruel Husband
Mengemas kado untuk adik


__ADS_3

"Nanti aku akan sering-sering ajak Grandpa bersepeda. Karena Grandpa akan tinggal bersamaku,"


"Iya, boleh. Asalkan jangan terlalu membuat Grandpa kelelahan ya," ujar Devan seraya fokus mengemudi. Dalam perjalanan, Adrian sangat ekspresif sekali menggambarkan kebahagiaannya setelah tahu bahwa Lucas akan pindah ke rumah mereka, tidak tinggal sendirian lagi di rumahnya yang kecil itu.


Adrian dan Andrean sudah menginginkan hal itu sejak lama, bahkan saat masih di mansion. Kalau tinggal dengan kakek dan nenek, rasanya tidak pernah kesepian. Apalagi bila orangtua mereka sedang memiliki kegiatan masing-masing. Pasti kakek, nenek, dan pengasuh mereka yang menjadi teman.


Baik Raihan, Rena, Senata, dan Lucas juga tidak pernah mengekang dalam menjaga. Mereka membiarkan cucunya untuk melakukan apapun selagi tidak membahayakan diri mereka sendiri.


Itulah sebab nya rasa nyaman hadir di hati Andrean, Adrian, dan juga Auristella. "Semoga sebelum Auris ulang tahun, Grandpa sudah pindah ke rumah kita ya, Mom."


"Secepatnya tadi kata Grandpa,"


******


Senata sedang membereskan kamarnya yang belum sepenuhnya tertata dengan baik. Setelah cukup beristirahat, Ia turun untuk berbincang-bincang dengan maid lalu kembali masuk ke kamar untuk menyibukkan diri.


Senata tidak bisa berlama-lama melihat kamarnya berantakan biarpun hanya sedikit saja.


Tok


Tok


Tok


"Grandma...."


"Masuk, Sayang." Senata menyuruh Adrian untuk masuk ke dalam kamarnya. Dari cara ketukannya saja sudah bisa ditebak siapa yang berada di depan pintu kamarnya sekarang.


Adrian masuk kemudian menatap kesibukan neneknya. "Grandma sedang apa? biasanya menunggu aku di bawah kalau aku belum pulang,"


"Kamar Grandma belum selesai ditata,"


"Grandma, secepatnya Grandpa Lucas ingin tinggal di sini. Ah aku tidak sabar,"


Alis Senata terangkat satu. Adrian sudah mengatakan perihal itu kepada neneknya, sementara kedua orangtuanya belum mengatakan apapun sehingga Senata merasa terkejut.


"Benarkah?"


"Iya, Grandma tanya saja pada Mommy,"


Setelah mengatakan itu, Adrian pergi. Senata mengangguk pelan. Baiklah, sudah saatnya Ia kembali hidup seperti di masa lalu. Berdampingan dengan anak dan suaminya. Bukan hanya Adrian yang senang, tapi Senata juga demikian.


*****


Devan baru membaca pesan dari adiknya yang sudah masuk sejak satu jam yang lalu. Vanilla mengatakan bahwa Ia sudah tiba di penginapan, setelah melakukan perjalanan panjang menuju Korea untuk babymoon.


Ia menghubungi Vanilla melalui panggilan video dan langsung dijawab tapi oleh suaminya.


"Sudah sampai? Vanilla dimana?" tanya Devan pada suami dari adiknya.


"Sudah, Vanilla sedang membuat minuman hangat,"


"Kalian datang ke sana di musim yang kurang tepat,"


"Iya, benar sekali. Keluar dari pesawat langsung terasa menusuk dinginnya karena musim di sini,"


Devan menoleh saat pintu kamarnya terbuka. Lovi masuk bersama dengan Auristella dan Adrian.

__ADS_1


Adrian melompat ke atas ranjang dimana Devan sedang berbaring nyaman. Ia mencuri pandang ke ponsel Devan. Anak itu memposisikan diri di sebelah Devan.


"Okay, selamat berlibur untuk kal---"


"Uncle, bagaimana perjalanan nya? Uncle dan Aunty baik-baik saja bukan?"


Adrian yang berbaring di samping Devan langsung meraih ponsel Devan kemudian memunculkan wajahnya di layar. Seperti biasa, setiap kali berkomunikasi dengan orang lain di ponsel selalu saja Adrian mengganggu nya.


"Perjalanan kami menyenangkan,"


"Syukurlah, semoga adik bayi senang diajak berlibur,"


"Ya, itu pasti."


"Jangan lupa bawakan aku----"


Devan merampas ponsel yang sejak tadi dikuasai oleh Adrian. Adrian mendengkus dan berusaha ingin merebutnya dari sang ayah, tapi tidak bisa.


"Aku tutup teleponnya, Jhi."


Tut


Tut


Tut


"Arghh Daddy! aku belum selesai bicara. Kemarikan ponselnya,"


"Tidak usah bicara begitu. Pasti Aunty Vanilla membawakan kamu sesuatu setelah pulang dari sana,"


Devan segera menghampiri anak bungsunya. "Dia memang gemar sekali membuat orang terkejut. Maafkan kakakmu ya, Auris. Dan jangan mencontoh nya,"


******


"Kita mengundang Angel juga, Lov?"


"Ya, memang kenapa?"


Devan menggeleng dan kembali melihat-lihat list orang-orang yang akan diundang untuk hadir di perayaan ulang tahun Auristella yang pertama.


"Kita harus berbagi kebahagiaan pada siapapun,"


"Aku bahagia sekali memilikimu. Tidak ada rasa kesal sedikitpun padahal kamu tahu bagaimana aku dan Lianne dulu,"


Lovi memang tidak pernah sama sekali mengusik masa lalu Devan. Sebanyak apapun Ia mengoleksi perempuan sebelum menikah, tidak membuat Lovi benci pada mereka. Apa yang harus dibenci dari masa lalu? justru dari sanalah semua orang belajar untuk menjadi lebih baik.


Mungkin banyak orang akan berpikir bahwa Lovi bodoh, mau menerima Devan yang brengsek. Tapi percayalah, Lovi juga bukan manusia yang sempurna. Lovi menikah dengan Devan, artinya sudah siap menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diri Devan.


"Wow Adrina ada di list pertama diantara teman-teman Adrian yang lain,"


"Ya, kebetulan dia orang pertama yang aku ingat,"


Devan terkekeh kecil. Bukan hanya anaknya saja yang saling bersahabat. Devan dengan Jino, Daddy Adrina, juga bersahabat. Begitupun Lovi dan Sheva. Mereka juga tinggal dekat sekarang. Jadi wajar saja kalau Adrina adalah orang pertama yang Ia ingat dari banyaknya teman Adrian dan juga Andrean.


"Teman-teman sekolah nya Auris juga aku undang semua,"


"Dari sekolah renang nya juga?"

__ADS_1


"Iya, itu juga harus. Sudah aku tulis semuanya,"


Lovi memanggil kedua anaknya yang sedang menonton televisi di kamar, menemani adik mereka yang tertidur.


"Andrean, Adrian, Mommy sudah belikan kado yang akan kalian berikan untuk Auristella,"


"Wow apa kadonya, Mom?"


"Apalagi kalau bukan mainan?"


Lovi memanggil mereka untuk melihat beberapa mainan yang akan menjadi kado untuk Auristella dari Andrean dan juga Adrian.


"Kita kemas sendiri saja, Mom."


"Tidak usah, Mommy saja. Tadinya mau langsung dikemas, tapi karena kalian belum melihat kado nya, akhirnya tidak jadi dikemas,"


"Aku mau mengemas nya sendiri," ujar Andrean.


"Aku juga, Mom." sahut adik keduanya Andrean itu.


"Ya sudah, biarkan aja mereka yang mengemas kado nya, Lov."


Melihat betapa antusias nya mereka, Devan menyuruh Lovi untuk membiarkan kedua anaknya untuk mengemas pemberian mereka sendiri.


"Yang bagus ya. Jangan berantakan,"


"Ya, tenang saja. Aku pasti bisa,"


Andrean sudah mulai mengemas satu persatu mainan yang akan Ia berikan untuk adik bungsunya.


Baru kali ini Ia menyiapkan kado untuk orang lain seorang diri. Biasanya yang melakukan itu Lovi. Ternyata menyenangkan juga berkutat dengan kertas pembungkus kado yang motif nya cantik dan menggemaskan, sesuai dengan karakter Auristella.


******


"Dashinta, ponsel Devan tidak bisa dihubungi. Tolong kamu sampaikan padanya bahwa Lovi masuk rumah sakit karena terjatuh di kamar mandi,"


Dashinta membulatkan matanya usai menerima telepon dari Senata yang berbicara cepat di seberang sana.


"Baik, Nyonya. Sekarang saya sampaikan pada Boss,"


"Terima kasih,"


Dashinta langsung beranjak ke ruangan Devan padahal sebelumnya baru saja mengantar lembaran laporan untuk diperiksa Devan.


Kepala Devan yang sedari tadi fokus menunduk karena membaca langsung terangkat. Ia menatap Dashinta di depan pintu yang wajahnya panik.


"Boss, Nona Lovi masuk rumah sakit,"


---------


Selamat siang mantemaaan. Pa kabs? semoga baik ya dan sehat trs untuk kita semua. Mo promo dulu ah kek biasa🤪


KUY MAMPIR KE SINI YAA. 'ADDICTED' NOVEL BARU YG AKU TULIS. INSYA ALLAH ADDICTED RAJIN KOK UP NYA. NILLAKU JG RAJIN DI UP. SAMA LAH KEK MCH INI. SOOO JANGAN LUPA MAMPIR😊



__ADS_1


__ADS_2