My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kecup untuk Daddy


__ADS_3

"Aku akan bermain lagi, Mom boleh pergi. Sampaikan kecup jauhku pada Daddy,"


Anak kecil perempuan bermata hitam legam itu melambaikan tangannya seraya tertawa. Ia melihat wajah ibunya yang nampak sedih.


"Cepat kembali, Mom. Kapan aku bermain kalau mom belum juga pergi dari sini?" Bibirnya mengerucut lucu. Waktu bermainnya habis karena Ibunya yang masih merindukannya.


"Mom tidak ingin kembali. Bersamamu lebih baik,"


Manik kecil itu membulat. Ia menggeleng dengan wajah garangnya yang justru terlihat menggemaskan.


"Aku tidak ingin Mom di sini. Nanti aku dimarahi Daddy bila menahan Mom di sini," Ujarnya dengan arogan agar Ibunya itu segera kembali.


"Jaga dirimu baik-baik, Sayang. Kita akan bertemu lagi,"


Anak itu tersenyum dan berbalik kemudian hilang di dalam secercah cahaya.


Devan tertegun saat melihat mata Lovi yang masih tertutup namun mampu mengeluarkan air mata. Ia mengusapnya pelan dengan harap-harap cemas. Keadaan Lovi menunjukkan progres yang baik. Ia bersyukur akan hal itu.


Saat melihat kelopak istrinya bergerak, Secepat kilat Devan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Lovi.


Dokter yang sedang memeriksa seluruhnya tersenyum saat melihat mata Lovi terbuka sempurna.


Devan bahagia luar biasa. Namun tak ada yang berubah dari ekspresinya, tetap datar tak terbaca. Devan melihat kebingungan dari mata Lovi. Tatapannya tak fokus, menyesuaikan cahaya yang menusuk retinanya.


"Aku senang Nona kembali untuk orang-orang yang menyayangi Nona," Ujar Dokter usai melaksanakan tugasnya.


Ketika pintu di tutup oleh Dokter, Devan kembali mendekati Istrinya yang sedari tadi diam. Mencoba menarik perhatian perempuan itu dengan menautkan jari mereka.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan?" Gumam Devan memandang wajah istrinya dari samping.


Lovi melepaskan tautan yang terjalin. Lalu memunggungi Devan tanpa berkata apapun.


Melihat sikap perempuannya, Devan mengerinyit dengan wajah tak terima diperlakukan demikian.


"Ingat tanganmu sedang di infus. Jangan banyak bergerak!" Tegasnya pada perempuan yang berusaha untuk memejamkan matanya kembali. Ia lelah dan ingin beristirahat lagi dengan tenang tanpa penyiksaan dari siapapun.


Devan yang tak biasa dengan sikap Lovi pun berusaha membuat tubuh Lovi berbalik menatapnya. Lovi mengertak Devan lewat gerak tubuhnya yang seakan tidak ingin disentuh.


"Ada apa denganmu, Lovi?! Aku sudah menghabiskan waktuku hanya untuk menjagamu. Begini caramu berterima kasih?"


Dengan menggebu Devan menyemburkan kerisauan hatinya. Bahkan Ia sampai tidak sadar kalau perempuan itu membeku. Devan menjaganya?


Lovi meringis hingga membuat Devan khawatir.


"Tuan yang menarik tanganku," Dengan kesalnya Lovi berdecak. Tidak takut lagi dengan kekuasaan Tuannya itu.


Devan memanggil perawat yang dengan sigap membantu lovi. Usai memperbaiki infusnya, Perawat membersihkan sisa darah yang masih melekat di tangan Perempuan itu.


"Jangan sampai lepas lagi, Nona. Bukankah itu sakit?" Perawat itu tersenyum hangat. Mencoba untuk menghilangkan ketegangan yang terpancar dari Lovi.


"Ya, terimakasih,"


Lovi menatap langit-langit kamar perawatannya sementara Devan memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sofa. Beberapa hari ini tenaga dan pikirannya terkuras habis. Banyak hal yang menjadi beban pikirannya. Selain anak dan juga istrinya, Devan masih memiliki Elea. Gadis yang sangat dicintainya namun dengan tega melakukan hal sekejam itu pada Lovi yang tengah mengandung buah hatinya.


Sisi lain dalam dirinya tidak terima dengan semua sikap Elea namun hatinya masih mempertahankan perasaan itu. Jika Devan di minta untuk memilih, maka Lelaki itu tidak akan melakukannya. Ia harus mempertahankan semuanya.

__ADS_1


Suasana sunyi menyelimuti sepasang suami istri itu. Lovi menatap suaminya yang berbaring di sofa dengan menumpu lengan di atas kepalanya hingga menutupi kedua mata. Napasnya yang sudah teratur membuat Lovi ragu mengatakan keinginannya.


Ia tidak mungkin mengganggu istirahat Devan. Lelaki itu terlihat sangat lelah dan suntuk. Matanya membesar seperti orang yang kekurangan waktu istirahat. Penampilan Devan pun tidak seperti biasanya. Beberapa bagian dari wajah tampan itu sudah di tumbuhi bulu-bulu halus.


Lovi meringis saat mendengar suara perutnya sendiri. Dengan bibir digigit kuat Lovi memejamkan matanya berharap Devan tidak mendengar itu. Karena Ia akan merasa sangat malu berada dalam situasi kelaparan seperti ini.


Devan mengangkat lengan yang menutupi matanya lalu menatap Lovi yang sedang menyentuh perut datarnya dengan mata terpejam.


"Suara apa itu?"


Mendengar suara berat suaminya yang ternyata belum tidur membuat Lovi terkejut. Ia menatap Devan tidak nyaman.


"Aku lapar, Tuan," Cicitnya sangat pelan.


Devan berdecak lalu bangkit untuk memanggil perawat kembali. Untuk kedua kalinya mereka memanggil perawat. Membuat Devan bosan.


"Kenapa tidak bilang dari tadi? Perawat tidak bekerja hanya padamu. Rumah sakit ini juga memiliki pasien lain," Ujar Devan seraya mendengus lalu menekan tombol yang berada tak jauh dari bangsal.


"Perawat bukan hanya satu disini. Lagipula itu sudah menjadi tugas mereka. Tuan memberi uang pada mereka untuk bekerja, bukan? Sama sepertiku," Jawab Lovi dengan suara yang semakin pelan di akhir kalimatnya.


Devan menatap Lovi tidak suka mendengar ucapan perempuan itu. Mengapa sekarang Lovi jadi pintar menjawab? Apa perempuan itu sudah bosan hidup?


Secepat kilat Devan melahap bibir Istrinya penuh tuntutan namun dilakukan secara lembut. Seolah bibir manis itu adalah harta berharganya yang tidak boleh terluka sedikitpun.


***********


Maaf yak agak lama up nya. Soalnya kelean jg gk pd semangat comment nih :( like, vote nya jgn lupa yaaa. tencyuuu

__ADS_1


__ADS_2