My Cruel Husband

My Cruel Husband
Persembahan untuk adik bungsu


__ADS_3

"Wow hamburger milikmu bagus sekali. Sayang kalau harus dimakan,"


Adrina berdecak kagum saat melihat kreasi hamburger milik Andrean. Anak itu mencetak hamburger sehingga menjadi bentuk boneka beruang. Adrina yang begitu menyukai boneka beruang sangat ingin memilikinya.


"Buat aku ya, Andrean?"


"Tidak boleh, ini akan aku berikan untuk Auris."


"Astaga, baik sekali kamu,"


Andrean menggunakan cetakan roti yang biasanya Lovi gunakan untuk membuat sandiwich Auristella. Pemakaiannya hanya tinggal ditekan sampai terbentuklah boneka beruang.


Andrean ingin mempersembahkan hamburger-nya untuk sang adik. Dia pasti sangat menyukainya.


"Buatkan untuk aku juga, Andrean. Adikmu bukan hanya Auris,"


"Kamu sudah punya. Itu apa?" tunjuk Andrean atas hasil karya adiknya yang sedikit berantakan. Selada tidak tertata dengan baik begitupun dengan mayonaise yang terlalu banyak diberikan di atas beef.


"Mau yang bagus,"


Acha meminta perhatian seluruh muridnya. Saatnya melakukan penilaian. Masing-masing anak sudah mendapatkan buku khusus untuk penilaian. Setiap selesai membuat karya apapun itu, mereka akan memperoleh bintang dan akan dilampirkan dalam buku tersebut.


*********


Hari ini waktunya Auristella painting. Ia menghabiskan banyak cat warna. Seperti anak-anak lain seusianya, Ia hanya bisa menghabiskan cat warna tanpa menciptakan sebuah karya yang sempurna. Tapi paling tidak, Ia senang karena bisa melakukan berbagai eksperimen menggunakan cat warna dan kanvas, Ia juga bisa mengenal lebih banyak warna.


Ketika Ia bangun, tentu saja langsung mencari Mommy-nya. Tetapi Jane dengan cepat mengalihkan sehingga Ia tidak rewel lagi.


Biar saja baju dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh cat warna yang terpenting Ia bahagia dan tidak ada acara tangis-tangisan yang membuat Jane sakit kepala. Beruntungnya kedua kakak dari anak itu belum pulang jadi Jane tidak begitu banyak mengalami kesulitan. Karena Senata dan Rena seperti biasa, menciptakan kreatifitas baru di dapur untuk camilan cucu-cucunya.


Auristella menunjukkan kanvas yang sudah Ia beri warna semaunya pada Jane. "Wow bagus!"


Walaupun hanya coretan-coretan tidak beraturan, Jane tetap memuji seraya mengecup pipi keponakannya.


Sementara anaknya sibuk di ruang bermain dengan alat-alat lukisnya, sang Mommy sudah selesai menghadiri undangan fashion show.


"Sampai jumpa, Lovi."


"Ya, Elea. Sampai jumpa juga. Semoga lain kali aku tidak bertemu kamu lagi," kelakarnya yang sebenarnya merupakan isi hati Lovi. Elea begitu pintar menjadi teman yang sangat akrab dengannya tetapi disaat-saat tertentu Ia mampu menjadi seorang pembenci yang pintar sekali mengeluarkan kata-kata menyakitkan untuk Lovi.


"Sampaikan salam rinduku pada Devan dan anak-anakmu ya,"


Lovi tertegun dan menatap punggung Elea yang sudah menjauh. Ia mendengus, malas sekali ia menyampaikan salam rindu itu untuk Devan. Memangnya dia sepenting apa sampai Devan harus tahu kalau dia merindukan sosok Devan?


"Sial!" maki Lovi dengan pelan. Perempuan lembut sepertinya yang hampir tidak pernah mengumpat saat ini berubah menjadi menyeramkan hanya karena mantan kekasih suaminya dengan terang-terangan masih menyimpan rindu.


********


"Aku yakin, yang dimaksud Lovi tadi adalah Elea,"

__ADS_1


Setelah menghubungi istrinya dan mereka sempat berbicara sesuatu yang sebenarnya sangat sensitif untuk dibahas, Devan tak henti memikirkan seseorang yang Lovi bicarakan tadi.


"Dashinta..."


"Ya, Boss?"


"Kalau seandainya istri merajuk karena bertemu dengan masa lalu suaminya tapi dia tidak mau cerita apapun pada suaminya, yang harus dilakukan apa?"


"Huh?" Dashinta mengerinyit bingung. Ia sedang sibuk mengeluarkan berkas-berkas yang harus diperiksa oleh Devan dan tiba-tiba saja Devan bertanya mengenai sesuatu yang konteksnya jauh dari pekerjaan.


Dashinta belum menikah. Jadi Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Bila Devan membicarakan ini, Ia seperti dituntut untuk mengerti masalah-masalah kecil dalam pernikahan padahal Ia belum mengalaminya.


"Hmm..." Ia menggumam bingung. Sementara Devan masih menantikan jawabannya.


"Jangan penasaran, Boss. Biarkan saja sampai istri Boss itu cerita sendiri,"


"Memang yang kita bahas ini istriku? kamu sok tau!" Devan menghardik Dashinta hingga Ia terkejut. Hanya memberi saran, apa salah? tadi Devan juga yang meminta pendapat.


"Untuk apa Boss repot-repot bertanya tentang perempuan kalau dia bukan istri Boss?"


Rahang Devan mengeras. Benar juga ucapan Dashinta. Ia tertangkap basah sedang kebingungan dalam menghadapi Lovi yang baru saja bertemu lagi dengan orang di masa lalunya.


"Kamu boleh keluar," Ia mengusir Dashinta yang memang sudah selesai dengan tugasnya. Pikirannya sedang kusut dan Ia sendiri bingung dimana letak benang-benang yang kusut itu.


********


"Aku di sini," teriak Jane dari ruang bermain, mewakili Auristella. Andrean segera menghampiri sumber suara dan merentangkan tangan dari pintu ruang bermain. Auristella senang sekali kakaknya datang. Ia langsung merangkak untuk memeluk kakak sulungnya.


Ketika pelukan mereka terlepas, Andrean baru menyadari kalau baju adiknya sangat kotor karena penuh warna.


Ia membulatkan matanya panik. Ya Tuhan, ini seragam sekolahnya, kenapa Ia tidak sadar sejak tadi kalau Auristella tengah painting.


"Aunty, seragam sekolahku---"


"YHAAAA KOTOR! HABIS MENCEBURKAN DIRI DIMANA KAMU?!" Adrian datang-datang langsung mencelanya. Ia sibuk tertawa dan mengejek.


"Auris memang tidak bisa dibaiki. Padahal niatmu kan baik, mau memberi dia makanan. Malah dibuat kotor," ujarnya menyudutkan Auristella.


"Hey! dia tidak tahu apa-apa. Memang dia mengerti masalah itu?" Jane menegur Adrian yang sembarangan menuduh. Auristella terlalu senang dengan kedatangan Andrean sehingga langsung memeluk, Ia tidak tahu kalau cat warna yang ada di bajunya bisa mengotori seragam Andrean ketika mereka berpelukan. Salah Dirinya dan Andrean yang seharusnya sadar kalau kondisi Aurisrella tidak memungkinkan untuk dipeluk.


"Nanti Aunty belikan yang baru seragamnya. Aunty juga lupa kalau Auris sedang melukis jadi sampai membiarkan kalian berpelukan,"


Andrean menghela napas pasrah. Lalu Ia menyerahkan kotak makanan berisi hamburger yang mendapat penilaian lima bintang itu pada adik bungsunya.


Auristella yang tadi kebingungan karena orang-orang di dekatnya berdebat, langsung berubah berseri lagi dan Ia dengan senang hati menerima sesuatu yang diberikan Andrean.


"Dari kamu untuk Auris mana?" tanya Jane pada Adrian.


"Sudah aku makan sampai habis,"

__ADS_1


"Huh! dasar perut karet,"


"Di kamar Aunty ada cermin super besar, coba Aunty berdiri di depannya lalu memutar tubuh,"


Mata Jane memicing tajam. Ia bersiap mengeluarkan suara kencangnya.


"MAKSUDMU APA?!"


"Barang kali kita sama. Kan lebih menyenangkan kalau aku punya teman yang perutnya sama-sama seperti karet,"


"ADRIAN!"


Adrian berlari menghindar dari kejaran Jane yang terlalu gemas dengan anak itu. Ingin sekali mencubit seluruh tubuh Adrian sampai dia jera membuat Jane dipermalukan seperti tadi.


Auristella tampak bingung lagi. Andrean hanya menggeleng pelan melihat pertengkaran antara Aunty dan adiknya itu. Daripada Auristella fokus pada mereka, lebih baik ia ajak bicara.


"Coba dimakan," Andrean membuka kotak makan miliknya yang ada di tangan Auristella.


Ia segera meraih kotak makan saat menyadari kalau tangan Auristella sangat kotor. Astaga, sejak tadi Ia bodoh sekali. Sampai lupa kalau adiknya sedang melukis.


"Aku yang suapi ya?"


"Ya," jawabnya singkat yang membuat Andrean tersenyum.


Auristella memperhatikan tangan kakaknya lamat-lamat. Seolah tahu sedang diperingati lewat tatapan, Andrean menatap Auristella.


"Aku sudah cuci tangan sebelum masuk mansion. Tenang saja,"


Auristella memang sudah sepintar itu. Ia akan menatap sesuatu yang sekiranya membuat Ia ragu, dan semua orang tahu kebiasaannya itu. Seperti contohnya Ia ragu apakah orang lain yang dekat dengannya sudah cuci tangan atau belum, Ia akan memperhatikan tangan orang tersebut sampai sadar kalau Ia tengah diperingatkan oleh Auristella. Begitupun kalau Devan pulang kerja dan langsung memeluk serta menciumnya. Pasti Ia akan memberi peringatan dengan cara seperti itu. Auristella sering melihat Mommy-nya sangat concern dalam hal kesehatan, mungkin sikap seperti itulah yang diikuti oleh Auristella.


"Enak?"


"Ya,"


Hanya satu kata yang singkat seperti itu tetapi membuat Andrean tak henti menggeram gemas. Apapun yang dilakukannya selalu membuat orang lain gemas.


Adrian berlari sampai ke luar. Kebetulan Lovi pun sampai di mansion. Ia langsung terdiam begitu melihat Mommy-nya berjalan memasuki pekarangan.


Jane berhasil mendapatkannya. Ia mencubit pipi Adrian dan menggelitiki perut keponakannya itu.


"Ada apa ini? tidak biasanya kalian hidup rukun,"


"Rukun darimana?! ini sedang bertengkar, Lovi!" sahut Jane dengan sebal.


"Oh begitu? ya sudah, lanjutkan saja."


"YESSS DIBERI IZIN OLEH MOMMY-MU," Seru Jane dengan semangat, Ia bebas mau melakukan apa pada Adrian karena yang punya anak saja mengizinkannya.


"MOMMY TOLONG AKU!" Adrian memanggil Lovi yang sudah masuk ke dalam, membiarkan dirinya dikerjai oleh Jane habis-habisan. Ia sampai sakit perut karena tertawa terus. Jane menggelitiki perutnya dengan puas. Seolah hari esok Ia tak bisa lagi membuat anak ini kalah, berada di bawah kekuasaannya.

__ADS_1


__ADS_2