My Cruel Husband

My Cruel Husband
Panggilan singkat dari kakak sepupu


__ADS_3

Raihan menjemput Lucas di rumah nya. Esok adalah hari ulang tahun Auristella. Dan ketika Lucas mengatakan sudah siap pindah dan akan segera ke rumah mereka, Devan yang menjemput Ayah dari Istrinya itu.


"YEAYYY GRANDPA DATANG,"


Adrian menyambut kedatangan Daddy dan kakeknya sangat gembira. Ia memeluk Lucas yang akan menjadi teman nya mulai saat ini. Ia seperti tinggal di mansion, tidak merasa kesepian lagi karena ada kakek nya yang akan menjadi teman bermainnya.


"Terima kasih Grandpa sudah mau tinggal di sini,"


"Seharusnya Grandpa yang mengucapkan 'terima kasih' karena kalian sudah mengizinkan Grandpa tinggal di sini,"


Auristella yang sedang digendong oleh Senata meminta untuk dipeluk juga oleh kakeknya. Meskipun mereka jarang bertemu tapi kedekatan Auristella dengan Lucas sama dengan kedekatannya bersama Raihan.


Lucas tersenyum menatap Senata. "Terima kasih sudah mau menerima ku," Senata mengangguk dengan perasaan bahagia. Ia dan Lucas kembali bersama. Tidak disangka itu semua karena cucu mereka juga.


Lucas segera menggendong Auristella. Kemudian mendekati Lovi. Ia terkejut begitu Lovi memeluknya.


"Selamat datang di rumah, Ayah."


"Terima kasih, Lovi. Terima kasih sudah memaafkan Ayah dan mengizinkan ayah untuk tinggal di sini bersama keluarga kecilmu dan turut merasakan kehangatan di dalamnya,"


**********


Pesta ulang tahun Auristella berlangsung sangat meriah. Tangan Auristella dibantu oleh Lovi untuk memotong cake ulang tahunnya yang menjulang ke atas.


Auristella tidak sabaran mencicipi cake nya. Saat Lovi sedang memotong, Ia sudah merengek. Orang-orang di sana tertawa melihat tingkah anak bungsu yang gagal menjadi kakak itu.


Dekorasi tidak kalah menarik dengan yang di rumah. Ini merupakan acara ulang tahun yang sangat mewah. Tidak heran, Karena setiap anak-anaknya ulang tahun, Devan dan Lovi selalu memberikan yang terbaik karena momen bertambahnya usia terjadi sekali dalam satu tahun sehingga yang ulangtahun harus dibuat sebahagia mungkin.


Banyak kado yang melimpahi Auristella hari ini bahkan sejak beberapa hari sebelum nya. Maklum, anak petinggi perusahaan Vidyatmaka corp ini adalah seorang princess bukan di mata keluarganya saja melainkan di mata orang-orang juga. Jadi mereka sangat antusias menyambut ulang tahun Auristella. Dan Devan sebagai Daddy Auristella memberikan sambutannya sebelum acara dimulai tadi, Devan beberapa kali mengucapkan 'terima kasih' yang tidak terhingga karena orang-orang di sekitarnya begitu menyayangi Auristella.


Sama halnya dengan Devan yang bisa berkumpul dengan sepupu-sepupu nya, Auristella pun demikian.


Ia bercanda dengan Kayla dan Sandra sementara kakak laki-laki mereka sibuk bermain bersama. Kenith, Genta, Adrian, dan Andrean kalau sudah bertemu pasti sibuk bermain bahkan Adrian membawa beberapa mainan nya yang kecil-kecil agar bisa mereka mainkan bersama.


"Auris cepat besar ya. Biar kita tambah pasukan,"


Auristella mengangguk seraya membingkai wajah Kayla. Ia mencubit pipi Kayla dengan gemas.


Kayla dan Sandra iri dengan pasukan Andrean. Mereka lebih banyak anggota. Andai saja sepupu-sepupunya yang lain bertempat tinggal tidak jauh jadi mereka bisa sering bertemu setiap ada acara seperti ini.


*****


"Mommy, kapan kita bisa melihat Grizelle?"


"Grizelle masih dirawat. Mau lihat Aunty saja di apartemen? Aunty 'kan sudah pulang,"


"Tidak mau. Aku mau lihat Grizelle,"


"Belum bisa,"

__ADS_1


"Lov, Vanilla sedang di rumah sakit. Coba telepon Vanilla. Dia pasti sedang bersama anaknya. Mereka berdua bisa melihat Grizelle,"


"Haaaa aku mau lihat langsung,"


"Tidak bisa, Adrian. Di sana ada peraturannya."


Lovi langsung menghubungi adik iparnya dengan panggilan video. Barangkali dijawab dan kedua anaknya bisa melihat wajah Grizelle.


Dijawab tapi wajah Jhico yang terlihat.


"Co, dimana Vanilla?"


"Ini Vanilla,"


Grizelle sedang diberikan susu oleh perawat melalui botol. Vanilla dan Jhico memperhatikan. Satu jam setelah dilahirkan air susu Vanilla juga diperah sama seperti sekarang karena Grizelle belum bisa menyusu langsung pada Vanilla meskipun Vanilla sudah baik-baik saja.


"Woahh Grizelle minum susu. Semangat sekali dia," Adrian begitu antusias melihat sepupunya yang begitu semangat menikmati air susu Ibunya. Jhico langsung menggunakan mode mute di ponselnya saat Ia tahu Adrian akan bicara. Jhico tahu keponakannya itu akan heboh dan bisa mengganggu ketenangan di ruangan khusus untuk bayi-bayi mendapat perawatan dalam inkubator.


Vanilla dan Jhico tidak bisa lama-lama karena waktu kunjungan dibatasi. Setelah puas meluapkan rasa rindu dan memastikan Grizelle baik-baik saja, mereka pulang dan panggilan video masih aktif.


Sampai di mobil, Jhico tidak lagi menggunakan mode mute dan suara Adrian masih saja antusias.


"Aku semakin tidak sabar. Uncle dengar aku? kenapa dari tadi aku bicara, Uncle dan Aunty diam saja,"


"Di mute, biar suaramu tidak mengganggu. Sekarang tidak lagi,"


Devan dan Lovi tertawa di sebelah anak keduanya. Adrian bicara sejak tadi hanya gerak mulutnya saja yang terlihat sementara suaranya sengaja dibisukan oleh Jhico dan Vanilla.


"Tadi kamu bicara apa saja?"


"Sudah, ah. Aku malas mengulanginya. Tenggorokan aku sakit karena bicara terlalu kencang. Aku ini semangat melihat adik bayi jadi---"


"Maaf, Sayang." ujar Vanilla seraya menatap keponakannya penuh sesal.


"Tapi sudah bisa melihat Grizelle 'kan?"


"Sudah, dan aku lumayan puas melihatnya. Grizelle cantik sekali,"


"Terima kasih," jawab Vanilla dengan senyum mengembang.


"Grizelle yang cantik, bukan Aunty. Kenapa Aunty yang bilang 'terima kasih' ?"


"Errghhh anak ini tidak bisa melihat Aunty nya senang sedikit,"


"Heheheh ya, Aunty juga cantik."


"Aku punya nama panggilan untuk Grizelle. Biar tidak susah-susah,"


"Memang nama Grizelle susah diucap?"

__ADS_1


Sementara istrinya bicara dengan Adrian, Jhico melajukan mobilnya. Jhico, Devan, Lovi, Andrean dan Auristella setia menjadi pendengar Adrian dan Vanilla.


"Tidak susah, tapi biar lebih mudah saja."


"Aku panggil Griz boleh tidak?" sambung Adrian.


"Boleh tidak, Uncle? Adrian bertanya,"


Vanilla meminta pendapat suaminya. Jhico menoleh sesaat kemudian mengangguk.


"Boleh saja,"


"Auristella dipanggilnya Auris. Grizelle panggilan nya Griz,"


Auristella dan Andrean memperhatikan Adrian bicara. Kalau Auristella sudah lancar bicara mungkin Ia akan lebih cerewet daripada Adrian. Karena sekarang saja Ia tampak bergumam-gumam sendiri sampai Lovi dibuat gemas.


"Ya sudah, aku lelah bicara. Aku tutup ya, Aunty."


"Okay, Sayang. Terima kasih sudah memberi panggilan untuk Grizelle,"


"Mulai sekarang kita semua panggilnya Griz, ya."


"Kenapa kamu yang mengatur?"


"HAHAHAHAH," Tawa Vanilla menyahuti ucapan Devan. Adrian mendelik pada Daddy nya yang bicara seperti itu.


"Sudah dibolehkan Uncle. Kenapa memangnya? aku 'kan kakak ny Griz jadi boleh memberi usulan,"


"Ya ya ya, terserah padamu." ucap Devan jengah.


"Bye, Aunty, Uncle. Hati-hati pulang nya. Selamat sampai apartemen ya,"


"Bye, Sayang."


Setelah panggilan ditutup, Adrian menatap kakak dan adiknya. "Kalian kenapa diam


saja tadi? tidak ikut bicara dengan Aunty,"


"Bagaimana mau bicara kalau kamu sibuk sendiri. Tidak ada habisnya kamu bicara. Aku yang mendengarnya saja lelah," ucap Andrean.


Auristella tertawa seraya menutup mulutnya. Ia seolah tahu apa yang dibicarakan oleh kakak sulungnya.


 


Ga sabar Griz gede yaaa. Jarak umur nya Griz sama Auris ga beda jauh kira-kira sifat nya mereka beda jauh ga ya? menurut keleaan gmn?


ADDICTED UP !


__ADS_1


__ADS_2