My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kabar tertunda


__ADS_3

Seperti biasa, malam ini Deni kembali mendatangi kelab malam. Untuk menyenangkan diri sekaligus mengawasi adiknya.


Mata Deni berpaling dari satu sisi ke sisi yang lain, mengeksplorasi keadaan sekitar untuk menemukan wajah Vanilla yang biasanya selalu menempati salah satu sudut kelab bersama dengan Joana.


Kali ini tidak ada. Bukan hanya Vanilla, Joana pun tidak Ia ketahui keberadaannya. Seharusnya bila ada Joana, Deni bisa bertanya dengan gadis itu. Walaupun sebenarnya mustahil karena bila Vanilla tidak ke kelab, maka Joana pun dipastikan akan mengikuti jejak temannya.


"Kenapa wajahmu seperti orang bodoh begitu?" tegur Steve yang sedari tadi memperhatikan kegelisahan Deni.


Ia menggeleng pelan. Entah ingin menjawab dengan kalimat apa karena sejujurnya Deni takut menjadi bulan-bulanan kalau semua temannya tahu Ia mencari seseorang.


"Gadis yang selalu kau ikuti itu tidak ada malam ini. Kemana dia?"


"Kalau aku tahu, Tidak mungkin aku kebingungan seperti ini,"


Bartender datang membawa nampan yang di atasnya ada beberapa gelas whiskey untuk Deni dan teman-temannya.


Deni menyeruput minuman itu lalu merasakan ponselnya bergetar. Ia berdecak pelan, setelah itu meraih ponselnya yang ada di dalam saku.


Key : Deniele, jangan lupa besok pagi jemput aku. Kita ke butik untuk fitting.


Deni tidak membalas apapun. Ia hanya membaca. Semakin dekat dengan hari pernikahan, hatinya semakin ragu namun Deni berusaha untuk keluar dari perasaan itu. Bukan saatnya lagi Ia bimbang. Karena semuanya sudah dipersiapkan dengan matang. Kalau Ia memilih untuk mundur, maka bukan hanya Key dan keluarganya yang sakit hati namun Deni sendiripun akan kehilangan sesuatu yang akan mengobati kerisauan hatinya setelah mengetahui dari Raihan kalau Vanilla pun akan segera menikah dengan lelaki pilihan Raihan.


Malam itu ketika Ia mengantar Vanilla ke mansion, Raihan mengatakan rencananya. Sejak saat itu Deni semakin yakin untuk menjauhi Vanilla secara perlahan. Untuk menghilangkan perasaan kacaunya.


"*Kamu setuju denganku kalau Vanilla seperti ini karena belum menemukan pasangan hidup?"


Deni yang diberi pertanyaan seperti itu langsung menelan ludahnya dengan berat. Namun Ia mengangguk pelan.


Raihan tersenyum puas saat ada orang yang sependapat dengannya. Ia rasa memang benar kalau Vanilla seperti ini karena Ia belum memiliki pendamping hidup. Dengan adanya suami, mungkin Vanilla akan berubah.


"Oleh sebab itu, aku akan menikahinya dengan anak dari rekan kerjaku,"


Deni menatap lurus mata Raihan. Lelaki itu terlihat serius dengan ucapannya. Tidak ada sorot ringan yang sebelumnya menghiasi percakapan mereka.


"Menjodohkan dia?"


"Lebih tepatnya seperti itu,"


"Apa ini semua dilakukan untuk membuat perusahaanmu semakin berada di atas? Kalau ya, maka kau sama saja dengan tokoh novel yang sering Vanilla baca,"


Raihan terkekeh. Ia menatap Deni seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Sepertinya kau tahu betul apa yang Vanilla lakukan,"

__ADS_1


"Apapun tentangnya Pasti aku tahu. Termasuk ketertarikannya dalam membaca novel,"


"Wow, kau adalah lelaki pertama yang mengatakan itu padaku. Berani sekali kau memperhatikan anakku sedetail itu,"


"Sudah aku katakan. Aku adalah kakak untuknya,"


"Jadi... menurutmu bagaimana?"


Deni memicing ke arah Raihan yang sedang menilik raut wajahnya. Ia yakin tidak ada yang aneh dalam dirinya sehingga dengan yakin Ia menjawab, "Aku setuju asalkan dia bukan termasuk anak yang dijual oleh orangtuanya karena harta,"


"Perusahaanku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku tidak akan semudah itu menyerahkan putriku hanya karena kepentingan perusahaan,"


Deni mengangguk singkat. Ia bisa menghela napas lega setelah mendengar ucapan Raihan. Ia yakin Raihan tahu yang terbaik untuk Vanilla.


"Jadi Deni... Tolong berikan Restu untuk adikmu yang cantik itu. Sebagai kakaknya kau harus mendukung apapun yang membuatnya lebih baik*,"


****


Keluarga kecil Devan dan juga Fino sampai di resort Mandapa A Ritz Carlton yang berada di jalan Kedewatan, Ubud. Akomodasi ini berjarak hanya beberapa menit berkendara dari Museum Seni Neka dan Gaya Art Space. Mandapa A Ritz Carlton dikelilingi pepohonan dan sawah hijau. Fasilitas kamar yang ditawarkan antara lain peralatan mandi, akses Internet gratis, brankas, minibar, pendingin ruangan, televisi, dan lain-lain.


Sedangkan, fasilitas penunjang yang bisa dinikmati antara lain spa, sauna, kolam renang dengan pemandangan indah, kedai kopi, lounge, dan lain-lain.


Lovi merasa wajahnya panas dan berminyak lebih. Sehingga begitu sampai di dalam kamar Ia memutuskan untuk menggunakan masker wajah agar jauh lebih segar sebelum nanti pergi ke Jimbaran untuk makan malam.


"Kamu mau makan apa, Lov?"


"Belum lapar,"


Devan mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara kedua anaknya mendekati Lovi yang baru saja berbaring dengan masker di wajahnya.


"Mom, Adrian mau pakai itu juga. Boleh ya?"


"Apa-apa mau,"


"Kenapa?! masalah buatmu?"


"Mau apa, Adrian?" Lovi menengahi perdebatan anaknya. Ia mengisyaratkan mereka untuk duduk di sisinya.


"Mau pakai masker juga. Lucu seperti hantu,"


"Hantu kamu bilang lucu?" Lovi menghela napas jengah. Entah ada dimana letak lucu yang dimaksud Adrian dalam menilai makhluk bernama 'hantu'.


Lovi mengambil satu kemasan maskernya lalu menepuk posisi di sebelahnya agar Adrian bersiap di sana sebelum Ia memasangkan masker itu di wajah kecilnya.

__ADS_1


Lovi menoleh pada anak sulungnya sebentar,. "Andrean juga mau?" Andrean langsung menggeleng dengan wajah tidak minat sama sekali.


"Aku tidak suka itu, Mom. Seperti perempuan saja," Ia menyindir adiknya seraya melirik tajam. Namun Adrian memilih untuk diam. Ia memejamkan mata sebentar saat sensasi sejuk menghampiri wajahnya.


"Nanti wajah Adrian tetap tampan, Mom?"



"Hei jangan bicara lagi. Diam!" Lovi mengeluarkan suara dengan gerak bibir yang sangat halus. Takut wajahnya berkerut namun anaknya ini perlu diberi tahu kalau Ia memang benar-benar mau memakai masker. Seharusnya Ia beri tahu tadi sebelum sesi maskeran dimulai.


Ponsel Devan yang tak jauh dari milik Lovi bergetar. Lovi segera menatapnya. Ia ragu namun penasaran juga. Lovi melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat dan suara gemercik air pun masih terdengar.


Akhirnya Lovi meraih ponsel suaminya. Si pengirim pesan tidak ada namanya di kontak Devan sehingga Lovi tidak tahu siapa dia.


Begitu Ia membuka room chat mereka, kalimat pertama yang dilihatnya adalah,


Cepat kabari aku setelah kau berhasil mengetahuinya~Devan


Tidak ada balasan atas pesan yang dikirim Devan tadi pagi saat mereka masih berada di Jogja.


Namun pesan yang baru saja masuk membuat Lovi diam membeku.


Nona Vanilla mengalami kecelakaan bersama dua orang lainnya di dalam mobil Nona Vanilla sendiri. Itu terjadi kemarin, Tuan.


Lovi menutup mulutnya dengan mata membulat. Ia mengerjap dan membaca sekali lagi rangkaian kalimat yang dikirimkan orang tersebut.


Ya Tuhan, ternyata firasat suaminya kemarin benar-benar menggambarkan keadaan Vanilla saat ini.


Pintu kamar mandi terbuka. Devan sudah jauh lebih segar. Ia mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk dan tidak menyadari gerakan cepat sang Istri yang meletakkan ponsel di nakas.


Devan berjalan ke sudut luar kamar untuk meletakkan handuk yang tadi digunakannya. Setelah itu Ia bergabung dengan anak Istrinya.


Lovi menahan napas saat Devan berada di dekatnya seperti ini. Ia bingung harus memulainya dari mana. Tidak bisa dibayangkan betapa hancurnya lelaki ini saat mengetahui kabar yang baru saja dibacanya tadi.


"Kenapa dia memakai itu juga?" Dagu Devan mengarah pada sang anak yang kini bermain iPad. Wajahnya kaku hingga mengundang raut geli Devan.


Lovi berdehem lalu menghela napasnya sebentar. Devan harus mengetahui ini secepatnya. Ia tidak bisa diam saja ketika adik iparnya sedang terbaring di rumah sakit tanpa diketahui sang kakak kandung.


"Devan, Aku baru saja---"


"Mari kita tidur sebentar sebelum pergi nanti malam,"


------

__ADS_1


SELAMAT PAGI MENJELANG SIANG SEMUANYAAHH. SEBELUM LANJOOTTT TEKAN LIKE DULU, KETIK KOMEN, KASI BINTANG 5, BWT YG KELEBIHAN POIN BOLEH LEMPAR KE SINI WKWK, OH IYA KLIK 'FOLLOW' JG DONGG JAN KETINGGALAN. BHAIQLAH, TERIMA KASIH YAAAA


__ADS_2