My Cruel Husband

My Cruel Husband
Makan malam pertama di rumah


__ADS_3

"Mau dibuka sekarang bingkisan nya, Auris?" tanya Devan pada anaknya. Auristella menggeleng dan menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri.


"Buka saja,"


"Ndak,"


"Oh tidak, ya sudah."


Devan terkekeh kecil setelah diberi isyarat oleh istrinya untuk tidak mengganggu Auristella yang sedang serius memainkan bucket bunga nya.


"Jangan dilepas-lepas kelopak bunga nya. Nanti tidak cantik lagi,"


Auristella menggeram saat Mommy nya menjauhkan bucket bunga dari tangannya. "Sayang kalau dirusak," kata Lovi memberi tahu Auristella. Anak itu merengek kesal dan akhirnya Lovi mengembalikan bunga itu.


"Ya ampun, padahal Mommy suka bunga nya. Malah di lepas-lepas kelopak nya,"


"Biar saja, Lov. Kamu menyuruh aku untuk tidak ganggu, kamu sendiri ganggu Auris. Itu bunga miliknya, terserah mau diapakan,"


"Tapi aku suka bunga nya, Devan! masa dirusak?"


"Kamu suka? mau aku belikan?"


"Tidak,"


******


Bukan hanya Adrian yang punya lemari kaca berisi mainan, Andrean juga seperti itu. Ia menatap satu persatu robot dan mobil-mobil kecil di dalam lemari tersebut. Ternyata banyak sekali mainannya.


"Andrean..."


Lovi memunculkan kepalanya di sela pintu kamar anaknya yang terbuka sedikit untuk memanggil Andrean.


"Iya, Mom?"


"Ayo makan. Kamu melamun?"


"Tidak,"


Andrean keluar dari kamar. Dan Lovi langsung merangkul bahunya. "Kamu kenapa hobi sekali menyendiri di kamar? sewaktu kamarnya masih bersama Adrian juga seperti itu. Apalagi sekarang sudah kamar sendiri. Jangan suka menyendiri. Mommy khawatir. Bermainlah dengan adik-adikmu,"


"Aku hanya melihat-lihat mainanku tadi. Ternyata banyak juga,"


"Iya, 'kan sama dengan Adrian. Kalau Adrian punya, kamu juga harus punya. Harus adil,"


Devan melihat kedatangan anaknya. Ia segera mengisyaratkan Andrean untuk duduk di sampingnya. Sementara Auristella menunjuk tempat di sebelahnya.


"Jadi aku duduk dimana?"


"Terserah Andrean," ujar Devan. Pastinya Andrean memilih di dekat adiknya, daripada Auristella merajuk.


"Daddy kira kamu di Playground,"


"Dia di kamar. Sendirian saja, menatap lemari kaca," Lovi memberi tahu suaminya.


"Apa yang kamu lakukan di kamar dan hanya sendirian?"


"Tidak melakukan apa-apa,"

__ADS_1


"Okay, jangan memendam apapun sendirian."


Andrean tersenyum tipis. Lovi dan Devan terlalu khawatir padanya. Ia hanya ingin sendiri di kamar saja langsung mengira telah terjadi sesuatu padanya.


"Mommy dan Daddy tahu 'kan aku seperti apa? aku memang seperti itu dari dulu,"


"Iya dan kami masih saja merasa khawatir, takut kamu mengalami suatu hal,"


"Andrean dari dulu memang begitu 'kan, Mom? Entah apa yang membuatnya betah di dalam kamar. Kegiatannya hanya belajar, menggambar, menonton, dan melamun. Aku juga bingung,"


"Kalau kamu lebih banyak bermain ya?" tanya Devan dengan senyum jahilnya.


"Iya, anak kecil seharusnya banyak bermain bukan diam saja di kamar. Tidak bosan apa?"


"Aku tidak bosan, karena aku melakukan kegiatan yang kamu sebutkan tadi. Aku memang lebih suka ketenangan di dalam sebuah ruangan yang sepi daripada di tempat yang banyak orang apalagi kalau ada kamu. Errghh sakit kepalaku," Andrean berujar panjang lebar, tumben.


Lovi terkekeh kecil mendengar perdebatan mereka. "Biasanya kita makan bersama Grandma Rena dan Grandpa Rai. Tapi sekarang tidak," ucap Adrian.


"Grandma Sena masih sakit, Mom?" tanya Andrean karena Ia tak melihat nenek nya itu di meja makan. Sejak tadi siang Senata memang lebih banyak di kamar karena kurang sehat.


"Demam nya sudah mulai turun,"


"Mama terlalu kelelahan mungkin, Lov."


"Kelelahan karena apa?"


"Kita baru saja kembali ke rumah ini. Dan Mama banyak membantu kita,"


"Aku juga berpikir begitu. Tapi Mama mengatakan tidak,"


"Padahal sudah ada orang yang mengurus barang-barang tapi Mama tetap saja turun tangan,"


"Grandma sudah makan?" tanya Adrian pada Lovi yang langsung mengangguk.


"Oh aku kira belum. Nanti aku suapi, aku 'kan bisa menyuapi orang lain,"


"Coba suapi adikmu kalau begitu," suruh Lovi. Adrian langsung menggeleng enggan seraya mengangkat bahunya.


"Tidak ah. Aku masih kesal dengannya. Dia pelit padaku. Masa hanya pegang bunga nya saja tidak boleh,"


Devan menggeleng pelan. Adrian masih kesal, sepertinya Auristella juga. Ia lebih banyak berinteraksi dengan kakak sulungnya di meja makan saat ini.


Auristella mengulurkan satu stick kentang pada Andrean. Ia meminta kakaknya itu untuk memakannya. Ketika Andrean mendekatkan mulutnya, Auristella malah memasukkan kentang itu ke mulutnya sendiri.


Lovi terkekeh melihat kelakuan anak bungsunya itu. Saat Auristella mengulurkan kentang lagi, Andrean menggeleng. Ia yakin adiknya akan mengulangi kejahilan nya yang tadi.


"Aaaa!" Auristella marah karena Andrean tidak mau memakan kentang di tangannya.


"Aku tidak mau. Pasti kentang itu akan berakhir di mulut kamu lagi. Tidak usah memberi kalau hanya ingin bercanda saja,"


Andrean merajuk dengan gaya nya yang tenang. Tapi Auristella tidak menyerah. Ia memakan kentang di tangannya kemudian mengambil satu lagi dan memberikannya pada Andrean.


"Tidak mau, Auris. Aku bisa ambil sendiri,"


"Ck!"


Melihat anak bungsunya kesal dan berdecak seraya menatap Andrean dengan tajam, Devan berujar, "Ayo, dimakan kentang nya, Andrean. Adikmu sudah kesal itu,"

__ADS_1


"Dia hanya mengerjai ku saja, Dad. Nanti kentangnya ditarik lagi dan dimakan sendiri,"


"Ndak!"


"Dengar, katanya untuk kali ini 'tidak',"


Andrean membuka mulutnya dan siap untuk melahap kentang pemberian Auristella. Benar, Auristella tidak jahil lagi.


"Kakak nya Auris ada berapa?"


"uwa,"


Devan menatap anaknya takjub. Ia menoleh pada Lovi yang baru saja bertanya begitu pada Auristella.


"Darimana dia tahu, Lov?"


"Kemarin aku tanya begitu aku kira dia tidak jawab. Tapi ternyata jawab 'dua'. Aku pernah mengajarinya tapi itu hanya dua kali seingatku dan itupun sebelum dia bisa bicara sama sekali. Aku pikir dia tidak ingat lagi,"


"Wah sudah tahu jumlah kakak yang kamu miliki ya? hebat anak Daddy,"


"Karena kakak mu ada dua, coba suapi yang satu lagi. Jangan hanya Andrean yang disuapi,"


Auristella menggeleng enggan. Ia juga melirik Adrian dengan tajam. "Hih aku juga tidak mau kamu suapi. Nanti jadi berantakan," Adrian ikutan kesal karena adiknya belum mengibarkan bendera perdamaian. Padahal kalau Auristella sudah bersikap baik padanya, Ia akan sebaliknya.


"Nanti kamu tidak dipinjamkan Hulk besar, Auris. Jangan seperti itu pada Adrian,"


Dengan gaya arogan nya Auristella mengangkat bahunya seolah bicara 'aku tidak peduli'.


"Benar tidak mau pinjam Hulk lagi?"


"Ndak!"


"Oh ya sudah, Hulk akan aku amankan supaya kamu tidak bisa pinjam! huh!"


"Wleeee,"


"Tidak boleh begitu, Auris." Devan mengusap wajah anak perempuannya yang dengan seenak hati menjulurkan lidah meledek kakak keduanya.


"Siapa yang mengajarkanmu begitu? sudah beberapa kali Mommy lihat,"


"Adrian sering begitu, Lov. Auris melihatnya dan dia meniru,"


"Kenapa aku yang disalahkan?"


"Kamu sering begitu. Jadi adikmu mengikuti apa yang kamu lakukan,"


"Tapi aku----"


"Sudah, makan dulu. Debat nya nanti,"


Auristella mengerucutkan bibirnya menatap Adrian, Ia masih membuat kakak keduanya kesal. Tidak menjulurkan lidah, tapi memasang raut sedih seolah prihatin dengan Adrian yang disuruh diam oleh Lovi.


----------


Selamat malam, selamat istirahat semuanyaa😴 makasih udh baca dan kasih dukungan. Kalian warbiasyaahh❤️ Oiya, jgn lupa baca novel ku yg baru yaa


__ADS_1


Mampir jg ke lapaknya Vanilla si bumil



__ADS_2