My Cruel Husband

My Cruel Husband
Memilih untuk jujur


__ADS_3

Devan malas mendengar ucapan Istrinya. Ia semakin emosi karena Lovi dengan terang-terangan membantah ucapannya.


Ia pergi dari sisi Lovi, melepaskan cekalan tangan Lovi yang menahan lengannya agar tidak beranjak.


"Sayang... katakan dulu padaku. Kenapa kamu tidak---"


Devan sudah pergi, akhirnya Lovi tidak menyelesaikan ucapannya. Perempuan itu menghela napas pelan.


"Devan aneh. Dia cemburu atau apa sih?"


Devan mencari anaknya. Karena hanya mereka yang bisa menjadi pemenang untuk Devan. Devan bertemu dengan Jane. Jane segera memberikan Auristella padanya.


"Andrean dan Adrian dimana?"


"Adrian dengan Vanilla di sana. Andrean sedang makan dengan Genta dan Sandra. Itu mereka,"


Jane menunjuk Genta, Sandra, dan Andrean yang menikmati hidangan di kursi terpisah dari tamu lain.


"Auris mau bergabung dengan Andrean? ya sudah, kita ke sana."


"Terima kasih sudah menjaga Auris,"


"Ya, aku kembali dulu ke sana."


Devan mengangguk dan membiarkan Jane pergi. Sementara dirinya dan Auristella mendekati Andrean dan kedua keponakannya.


Andrean langsung mengisyaratkan Devan untuk duduk di sebelahnya. Auristella ingin dipangku oleh Andrean.


"Andrean lagi makan,"


"Tidak apa, Dad."


"Aunty Lovi dimana, Uncle?"


"Di sana. Kenapa memangnya?"


"Tidak apa, biasanya Aunty dan Uncle tidak pernah jauh."


Devan tersenyum tipis. Andrean menatap Devan seperti menyadari kalau ada yang janggal antara Mommy dan Daddy nya. Raut Devan juga terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Daddy kenapa?"


"Daddy baik-baik saja,"


Devan berusaha tersenyum tapi hatinya tetap saja gelisah. Arnold tahu saja kelemahan nya. Devan yakin Arnold kembali mendekati Lovi karena ingin menggunakan Lovi sebagai senjatanya untuk menyerang Devan. Dan Devan tidak akan membiarkan itu terjadi.


Sampai acara selesai dan mereka telah kembali ke mansion, Devan tetap bertahan dalam diamnya. Dan Lovi tentu saja menyadari itu.


Bahkan Devan tidak mengganti bajunya karena malas masuk kamar dimana ada Lovi yang tengah menggantikan baju Auristella.


Devan memilih untuk mencurahkan kegelisahan hatinya pada Raihan yang langsung menyentuh pekerjaan padahal baru saja lelah menghadiri acara keponakan tersayangnya.


"Pa, ternyata Lovi kenal dengan Arnold,"


Mata Raihan yang tadi fokus dengan tablet di tangannya, langsung teralihkan pada Devan.


"Arnold musuhmu itu? mereka saling kenal? apa Arnold cari masalah lagi?"


"Iya, saat Lovi masih sekolah, Arnold pernah menyatakan perasaan nya terhadap Lovi bahkan meminta Lovi untuk menjadi kekasihnya,"


"Kenapa bisa kebetulan begitu ya? Arnold sama-sama ada di dalam masa lalu kamu dan Lovi,"


"Iya, dan sekarang dia mendekati Lovi lagi, Pa."


"Jadi itu yang membuatmu diam di pertengahan acara sampai akhir? kamu cemburu?"


"Bukan cemburu, Pa. Tapi aku khawatir dengan Lovi. Aku sudah katakan padanya untuk menjauhi Arnold tapi Lovi membantah dan menuntut alasan nya kenapa dia harus menjauh,"


"Kamu beri tahu alasan nya. Biar sekalian Lovi tahu betapa jahatnya si brengs*k itu. Beruntungnya Lovi tidak pernah menjalin hubungan dengan dia,"


"Tapi---"


"Kamu menutupinya? bodoh!"


"Pa, aku melakukan itu karena aku yakin Lovi akan sulit percaya. Percuma saja,"


"Berikan buktinya! apa itu sulit untukmu? kamu pintar segalanya, tapi untuk urusan ini otakmu sangat memalukan,"


"Tidak semudah itu, Pa. Lovi sangat dekat dengan dia. Dari dulu Lovi tahu Arnold orang baik,"


"Kalau kamu jujur, ada buktinya, pasti mudah membuat Lovi menjauhi lelaki itu. Dokumentasi-dokumentasi pada saat kamu kuliah, berteman dengan Arnold, keluarkan saja semuanya. Biar Lovi tahu dan tidak menuntut alasannya lagi dan agar dia segera menjauhi Arnold karena Papa yakin Lovi hanya dijadikan senjata oleh Arnold untuk menyerang kamu,"


"Itu yang aku pikirkan sejak tadi,"


"Kalau perlu berikan video cctv pada saat kamu difitnah oleh dia. Lovi harus tahu itu. Arnold tidak sebaik yang dia kira,"


Devan terkekeh kecil setelah mendengar kalimat Raihan. Sebesar itu keinginan Raihan untuk membuat menantunya menjauhi Arnold.

__ADS_1


"Jangan biarkan kedekatan mereka berlarut, Devan."


Devan mengangguk saat Papanya memberi peringatan seperti itu. Ia juga tidak akan membiarkan itu terjadi. Tapi rasanya begitu sulit untuk mengatakannya langsung pada Lovi. Hati istrinya itu begitu lembut. Apa dia percaya kalau Arnold lah yang membuat masa muda Devan menjadi semakin menyedihkan? Karena Ia dijebak menggunakan obat-obatan terlarang, setelah lulus kuliah, Devan malah memiliki bisnis gelap yang berkaitan dengan itu. Devan menjadikan bisnis tersebut sebagai pelampiasannya.


"Jangan menjauhi Lovi, karena wajar saja dia menuntut alasan. Kamu tiba-tiba saja menyuruh dia menjauhi Arnold yang dia kenal adalah orang baik. Beri tahu dia pelan-pelan tapi jangan hanya omong kosong,"


Mendengar ucapan Papanya, pikiran Devan jadi lebih terbuka lagi. Ia tidak buntu sekarang karena Raihan membantunya mencari jalan keluar untuk membuat Lovi sadar bahwa lelaki bernama Arnold itu adalah orang yang jahat.


*****


"Lov, aku mau bicara padamu."


Devan menunggu Lovi sampai keluar dari kamar mandi usai membersihkan tubuhnya. Ia menepuk sisi ranjang yang kosong agar Lovi duduk di sana.


"Aku pakai baju dulu," jawab Lovi seraya melirik bathrobe yang dikenakannya. Devan mengangguk dan membiarkan sang istri mengenakan bajunya.


Devan rasa saran Raihan harus Ia lakukan. Dalam waktu secepat kilat, Devan bisa mendapatkan hasil rekaman cctv saat Arnold memfitnah dirinya dan detik-detik Ia di drop out dari kampus.


Setelah Lovi mengenakan baju, Ia segera mendekati suaminya. Suasana diantara mereka kali ini sangat tenang. Karena kedua anaknya berada di kamar mereka, sementara Auristella terlelap.


"Mau bicara apa?"


"Aku punya tontonan yang menarik untukmu,"


"Apa?"


"Yang jelas bukan sesuatu yang ada di otakmu saat ini,"


"Maksudmu?"


"Kamu kira ini video yang menampilkan gaya-gaya dalam--"


PLAKK


"Awsss sakit, My Lov."


Mulutmu keterlaluan!"


"Makanya lihat saja, jangan banyak bertanya,"


Devan segera memperlihatkan rekaman tersebut kepada istrinya. Lovi awalnya belum memahami isi dari video tapi lama-lama dia mulai mengerti.


"Ini kamu 'kan? dan ini seperti Arnold,"


"Itu memang dia,"


"Dia yang membuat aku dipenjara, Lov. Aku sudah menceritakan itu padamu sebelumnya,"


"Pelakunya Arnold?"


"Iya, dia sahabat sekaligus orang yang memfitnah aku hingga aku dipenjara, dikeluarkan dari kampus. Padahal saat itu kondisi keluargaku baru baik-baik saja, Mama dan Papa kembali bersatu setelah Papa menjalin hubungan dengan seorang wanita bayaran. Aku baru merasakan kebahagiaan lagi, tapi direnggut oleh Arnold,"


Lovi menutup mulutnya tidak menyangka. "Kamu serius? ini tidak bohong? tapi Arnold baik,"


Apa yang dipikirkan Devan sebelumnya terjadi juga. Lovi tidak percaya dengan apa yang Ia dengar dari mulutnya padahal bukti sudah ada.


Devan mengambil berkas-berkas saat Ia menjalani hukuman dulu. "Dia bersaksi dengan kebohongan, Lov. Dia kira cctv sudah rusak semua. Ternyata masih ada yang berfungsi. Sejak saat itulah dia yang ditetapkan jadi tersangka. Dan Papa melaporkan dia balik atas pencemaran nama baik aku,"


"Kamu lihat namanya. Sama tidak dengan nama Arnold yang selama ini kamu kenal?" telunjuk Devan mengarah pada nama Arnold di berkas yang tadi diambilnya. "Aku tidak tahu nama lengkapnya. Bisa jadi ini orang yang ber--"


"Astag, Lov. Sudah ada bukti berupa video, kamu masih tidak percaya?"


"Aku bingung. Kenapa dia bisa sejahat itu sementara dengan aku baik sekali. Dan seperti tidak masuk akal. Kenapa dia bisa sama-sama menjadi masa lalu kita?"


"Dia baik padamu karena ada maksudnya. Dia itu masih menyimpan dendam dengan aku, Lov. Dia membenci aku karena Ia mengira akulah penyebab kematian adiknya yang sedang mengandung itu."


"Astaga,"


Lovi terperangah, mencengangkan sekali masa lalu Devan dan Arnold, lelaki yang pernah dengan manis menyatakan perasaan cintanya terhadap Lovi.


"Dan asal kamu tahu, dia juga yang memberikan semua teror-teror untuk keluarga kita selama ini. Mulai dari pembantaian banyak bodyguard di mansion ini, sampai pada aku yang sengaja dibuat keracunan..."


Devan menggenggam erat tangan Lovi, berharap Lovi percaya padanya. "Dia mau aku mati, Lov. Biar kamu bisa bersama dengan dia,"


Saat mengatakan itu, hati Devan hancur membayangkan kalau hal itu benar-benar terjadi dalam hidupnya.


"Banyak kejadian yang dia buat untuk mencelakai aku. Ban mobilku pernah dirusak agar aku mengalami kecelakaan, dia menggunakan office boy kepercayaan aku untuk meracuni aku. Dia membuat aku dengan orang sekelilingku terpecah belah,"


Kening Lovi mengerinyit dalam, Ia berusaha mencerna rangkaian penjelasan dari suaminya. ini mengejutkan dan Lovi tidak tahu apakah ada cela lagi untuk tetap percaya pada Arnold yang jelas-jelas sudah jahat sekali terhadap keluarganya lebih khusus pada Devan.


"Tapi kenapa dengan aku, dia baik?"


"Dia tahu kalau kamu adalah kelemahanku. Kamu dijadikan senjata oleh dia agar aku menyerah,"


Lovi melepas pelukan suaminya dengan raut sangat bingung. "Aku--tidak menyangka, Devan. Ini terlalu mengejutkan untukku. Selama ini Arnold yang aku kenal adalah orang baik. Tapi kenapa---kenapa dia bisa sejahat itu padamu? Rasanya aku masih sulit percaya,"


Devan menghela napas pasrah. "Ya sudah kalau kamu belum bisa percaya. Tidak apa, nanti Tuhan yang membantu aku untuk membuktikannya lagi padamu,"

__ADS_1


Jangan sampai Lovi baru percaya setelah dia melihat langsung kejahatan Arnold. Tapi itu yang ditunggu Devan agar Lovi langsung membenci lelaki itu.


"Aku percaya, mulai sekarang aku akan menjauhi Arnold. Sebenarnya nomor Arnold sudah aku blokir setelah kamu marah tadi,"


"Istriku pintar," puji Devan seraya menepuk-nepuk kepala Lovi dengan lembut.


"Dia berbahaya, Lov. Kamu belum tahu dia yang sebenarnya. Dia memang baik tapi dulu sebelum adiknya meninggal. Setelah adiknya meninggal, dia berubah menjadi musuh untukku,"


"Kenapa dia menuduh kamu yang telah menyebabkan adiknya meninggal?"


"Karena adiknya menyukai aku. Sementara aku hanya menganggap dia sebagai adik. Ketika dia tahu aku memiliki kekasih, dia langsung mengakhiri hidupnya."


"Kenapa kamu tidak membuka hati untuk dia?"


"Kamu pikir aku tidak melakukannya? sudah aku coba, Lov. Tapi tetap saja, aku hanya menganggap dia sebagai adik karena dia memiliki usia di bawah aku, dan dia adalah adik dari sahabatku."


Lovi menghela napas pelan. Devan dikelilingi banyak wanita sejak dulu. Devan sudah terbuka padanya. Dan tidak mengelak saat Lovi mengatakan bahwa Ia adalah buaya darat.


"Sesulit itu menjadi orang tampan ya?"


"Hahahaha apa maksudmu, Lov?"


"Banyak sekali yang menginginkan kamu. Ternyata masih ada yang belum kamu ceritakan padaku,"


"Iya, terlalu banyak, Lov. Ada yang terlewatkan saat aku menyebutkan siapa saja yang pernah mendekati aku,"


"Sebanyak itu? kamu mengoleksi atau bagaimana? yang waktu itu kamu ceritakan saja menurutku sudah banyak. Sekarang tambah lagi. Kira-kira ada yang kamu lupakan lagi tidak?"


"Sebenarnya aku tidak pernah melupakan adiknya Arnold, dia sangat baik padaku. Tapi aku tidak pernah mau menceritakannya padamu karena akan membuat aku kembali mengingat kejahatan kakaknya."


"Tapi kamu sudah memaafkan dia 'kan?"


"Hmm?"


"Kamu sudah memaafkan kesalahan Arnold? aku harap sudah, karena Tuhan saja memaafkan kesalahan hambanya. Kamu yang hanya manusia biasa seharusnya juga bisa melakukan itu,"


Devan ******* bibir istrinya yang bicara begitu bijaksana. "Aku sudah memaafkan dia,"


"Artinya kamu tidak akan melakukan apapun padanya 'kan?"


"Tetap, Lov. Karena dia sudah berani mengganggu aku lagi. Aku sudah baik, melupakan semuanya. Tapi dia datang lalu membuat kekacauan lagi. Kamu pikir aku akan diam saja?"


"Kalau begitu, kamu belum memaafkan dia."


"Lov, apa yang dia lakukan sudah seharusnya mendapat balasan. Kalau ditanya sudah memaafkan atau belum, aku sudah memaafkan semua orang yang menyakiti aku baik di masa lalu maupun sekarang dan nanti,"


"Tapi aku tidak ingin kamu menyakiti siapapun,"


Devan menghela napas pelan. Lovi terlalu baik padahal Devan tidak akan berbuat sesuatu kalau tidak dimulai lebih dulu. Ia tidak salah, lalu harus diam saja ketika orang terdekatnya terancam? tidak mungkin Devan biarkan.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kamu jangan khawatir,"


"Devan, kamu ingat 'kan kalau kamu itu punya anak?"


"Ingat lah, masa tidak?"


"Aku tidak mau anak-anak kita seperti--"


"Seperti aku yang kejam ini?"


"Kejam dengan orang yang mengganggu kebahagiaan kita, tidak ada salahnya, Lov."


"Anak kita laki-laki juga. Aku sangat takut, serius. Dan kamu tahu, hukum alam akan terus berlaku. Kalau kamu menjahati orang lain, lalu balasannya datang menghampiri anak-anak kita bagaimana?"


Devan menghela bahunya seraya menghembuskan napas berat. Ketakutan seperti itu memang selalu menghantui hari-harinya. Mengingat masa lalu Devan yang begitu buruk, Ia takut akan berimbas pada semua anaknya.


"Kamu suka sekali menyakiti orang. Hati perempuan juga kamu sakiti terus,"


"Itu dulu, Lovi."


"Semoga kedua anakku tidak begitu sifatnya,"


****


"Oh dia sudah memblokir aku sepertinya,"


"Arrghh ****!"


Arnold meletakkan ponselnya ke atas meja dengan kasar. Ia tidak bisa lagi menghubungi Lovi. Ia rasa Lovi sudah memblokir nomornya agar tidak mengganggu lagi.


Lelaki itu terlalu agresif. Seharusnya kalau Ia bisa lebih tenang dalam mendekati Lovi, mungkin Devan tidak akan secemas itu. Sekarang Arnold tidak tahu kalau Lovi sudah mengetahui semua kejahatannya terhadap Devan.


"Aku terlalu senang sampai rasanya ingin selalu dekat dengan Lovi, dan mendengar suaranya yang sudah lama tidak menyapa telingaku,"


Arnold menatap kaca besar di depannya dengan tatapan kosong. "Kenapa aku selalu menjadi pihak yang kalah?


--------

__ADS_1


Kl gk digembleng sm bokapnya, Devan msh stuck aja tuh_- Tinggalkan jejak yaaa. Terima kasih semuanya 🙏


__ADS_2