My Cruel Husband

My Cruel Husband
Andrean tempramental


__ADS_3

"Adrian, Grandma yang jemput," bisik Andrean saat mereka keluar dari kelas dan melihat Rena dan Senata yang berdiri tak jauh dari mereka.


Acha menahan bahu Andrean sejenak.


"Kamu dijemput siapa? Daddymu lagi?"


Andrean yang polos hanya menggeleng. Sebenarnya Ia tidak mengerti dengan kepentingan Acha yang menanyakan siapa yang menjemputnya pulang sekolah hari ini.


"Grandma dua-duanya. Itu di sana,"


Acha menatap Rena dan Senata yang berjalan mendekati mereka. Senata khawatir melihat kedua anak itu terlibat pembicaraan bersama dengan gurunya bahkan sampai menunjuk ke arahnya dan Rena. Apa mereka membuat masalah?


"Ada apa, Miss?" Tanya Rena seraya menatap kedua cucunya bergantian.


"Jangan terlambat lagi ya besok," Acha tidak menjawab Rena. Namun memberi petuah pada keduanya. Tangan lembut nan lentiknya bertengger di bahu Adrian.


Adrian menatap tajam gurunya. Sampai wajah kecil itu mendongak.


"Tadi Daddy sudah minta maaf. Tidak perlu dibahas lagi, Miss Acha!"


"Adrian, bicara yang baik!"


Rena menegur cucu bungsunya itu. Ia menarik kedua cucunya untuk mendekat. Ia menatap Acha tidak enak, takut perempuan itu tersinggung dengan ucapan Adrian.


"Memang tadi kalian terlambat ya?"


"Iya! Karena Daddy bangun kesiangan," gerutunya lagi yang langsung membuat Rena mengangguk paham. Devan memang gila. Gara-gara dia, anaknya terlambat. Tidurnya seperti orang mati memang.


"Permisi, Nyonya."

__ADS_1


Acha meninggalkan keempatnya. Akhirnya Rena dan Senata juga membawa mereka keluar dari area sekolah lalu memasuki mobil yang sedari tadi membawa Rena dan Senata.


"Grandma bangunkan Daddy yang benar makanya. Supaya Daddy tidak kesiangan,"


Adrian masuk ke dalam mobil diikuti kakaknya. Kaki Andrean kesulitan mencapai mobil hingga Ia mengeluh.


"Kakimu kurang panjang, Andrean." Dengan angkuhnya Adrian meledek sang kakak padahal tadi dia juga diangkat ole Senata.


Rena membawa tubuh cucu sulungnya lalu memangku. Andrean tidak mau. Ia turun dari paha Rena lalu duduk di samping Adrian.


"Kalau kaki Kakakmu kurang panjang. Apa kabar dengan kakimu, Adrian? memang kamu lebih tinggi daripada Andrean?"


Mobil mulai melaju dengan kecepatan normal yang dikemudikan oleh supir pribadi Rena.


Saat ini mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian Andrean dan Adrian yang akan dikenakan mereka saat pesta ulang tahun nanti.


Dengan bangga Adrian menepuk dadanya. Hal itu membuat semuanya terkekeh geli.


Bugh


"Andrean! Tidak boleh memukul begitu!"


Rena langsung menarik tubuh Andrean kembali ke pangkuannya. Andrean baru saja memukul bahu Adrian.


Andrean memang tidak banyak bicara tetapi kalau sudah kesal, maka tangannya beraksi.


"Lovi sudah berkali-kali memarahinya. Andrean jadi hobi memukul adiknya sekarang," senata angkat bicara setelah sekian lama diam.


Kejadian tadi mengingatkannya pada kejadian tempo hari. Dimana Adrian dilempari dengan guling dan mainannya karena Andrean kesal adiknya itu mengambil remot kontrol mobil-mobilannya lalu disembunyikan di bawah sofa.

__ADS_1


Ia yang mengetahui kelakuan adiknya pun langsung meluapkan kekesalannya dengan melempari Adrian sampai memukul Adrian. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Adrian menangis.


"Andrean nanti ditangkap pak polisi kalau menyakiti orang seperti itu," Lovi menegaskan ucapannya. Andrean sudah keterlaluan. Walupun Ia tidak bisa disalahkan sepenuhnya tetapi memukul bukan jalan satu-satunya. Ia bisa berbicara baik-baik dengan adiknya.


Adrian menangis dipelukan Lovi. Wajah merahnya bersembunyi di perut Lovi.


"Kamu juga jangan mengganggu kakak kalau tidak mau dibalas," Lovi menarik hidung bangir anak bungsunya.


"Adrian memang jahil. Persis Devan waktu kecil," tutur Rena. Ia mengusap kepala Andrean yang kini memeluknya setelah Ia peringati dengan tegas.


"Jangan begitu lagi pada siapapun. Kamu harus memberi contoh yang baik. Kalau menyelesaikan masalah dengan kekerasan, itu bukan lelaki kuat namanya,"


***


Lovi memasuki supermarket yang tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja, bersama dengan Desira.


"Pakai yang sayap? Sama kalau begitu,"


Lovi mendengus saat temannya berbicara kencang padahal suasana sedang ramai. Ia langsung berjalan ke tempat makanan ringan untuk membeli snack yang diinginkan anaknya tadi malam.


"Banyak banget, Lovi." Lagi-lagi Desira berkomentar.


"Anakku dua kalau kamu lupa,"


"Tapi ini sepuluh. Sebentar, aku hitung dulu," Desira mendekati troli Lovi. Benar-benar akan menghitungnya. Perempuan beranak dua yang berada di belakang trolinya pun menggeram kesal.


"Ada gunanya kamu menghitung itu? yang ada hanya membuat mulutmu berbuih,"


Desira terbahak sedetik kemudian terbungkam karena orang-orang di sekelilingnya menatap aneh.

__ADS_1


-----


Up lg eyyy. Voment (Vote&komen) jgn irit yaa. Aku tau klean irit kn bkn pelit?😂 lempar voment yg byk makanyaa. Oceee? Makasiii bwt dukungannya yaaa.


__ADS_2