
"Aduh rajinnya Daddyku ini,"
Adrian menggeleng takjub melihat Devan yang pagi ini sudah membersihkan mobil. Tidak biasanya Ia serajin itu. Benar-benar kejadian langka. Jadi pantas saja Adrian sedikit heran.
"Ada apa, Dad?"
"Maksudmu?" tangan Devan masih bekerja keras menyabun setiap bagian mobil yang kerap dipakainya untuk bekerja itu.
"Kenapa mau mencuci mobil?"
"Sedang ingin,"
Adrian merendahkan tubuhnya di samping Devan yang sedang membilas ban mobil. "Jangan di sana. Nanti bajumu basah,"
Devan menarik tangan anaknya. Namun Adrian tetap nyaman pada posisinya. Akhirnya Devan membiarkan.
Sengaja, Ia malah menyiram air mendekati tubuh Adrian. Lama-lama membuat tubuh Adrian basah. Kalau seperti itu, Ia pasti akan menjauh.
"Daddy, kenapa diarahkan ke Adrian airnya? mobil yang lagi dicuci bukan Adrian!"
"Siapa yang menyuruhmu di sana?"
******
Auristella menyambut kedatangan Jane dengan tangan terangkat, meminta untuk digendong.
"Aunty belum mandi. Nanti saja gendongnya ya?"
Berhubung Jane baru saja pulang dari kampusnya juga membantu Vanilla dalam urusan pekerjaan, ada baiknya Ia membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum menyentuh Auristella.
Auristella berontak dari gendongan Serry. Ia tetap pada keinginannya. Jane menghela napas lalu meraih anak itu.
"Tidak biasanya kamu manja seperti ini,"
"Auris dan Adrian baru ditegur Mommy, Aunty."
__ADS_1
"Memang kenapa?"
"Mereka bertengkar lagi,"
Penjelasan Andrean membuat Jane geleng kepala. Akhirnya mereka mendapat pelajaran dari Lovi.
"Biasanya kamu selalu dibela. Sekarang dapat bagian juga ya?" tawa Jane meledak hingga Auristella menangis seolah tahu bahwa Ia sedang digoda.
"Adrian dimana?"
"Tadi menghampiri Daddy yang sedang membersihkan mobil. Sekarang entah kemana,"
"Tadi Aunty tidak menemukan mereka di pekarangan,"
Andrean menghela bahunya tidak tahu. Seingatnya Devan sedang mencuci mobil dan karena Adrian ditegur oleh Lovi, maka Ia memilih untuk mengganggu Devan.
Tidak ada yang tahu kalau Devan dan Adrian tengah pergi membawa mobil yang sudah bersih. Adrian mengajak ayahnya untuk mengeringkan mobil dengan cara berkeliling di lingkungan mansion. Itu alasannya agar bisa keluar dari mansion dan tidak kebosanan lagi.
"Seharusnya setelah mobil bersih, disimpan dengan baik," cibir Devan yang sebenarnya masih menolak ide anaknya itu. Sejujurnya Devan malas sekali keluar, Ia ingin istirahat.
"Kita pulang sekarang!"
"Jangan banyak permintaan, Adrian. Katamu tadi hanya jalan sebentar, sekarang kenapa malah minta ke lain tempat?"
"Bagaimana kalau aku menemani Daddy minum kopi?"
"Di coffee shop?"
"Iya!"
"Tidak, Daddy sudah kurang suka kopi,"
Padahal bukan seperti itu kenyataannya. Bila tidak ada Lovi, Ia khawatir tidak bisa mengendalikan diri. Aroma kopi yang begitu menusuk hidung akan membuat Devan lupa kalau Lovi sudah memperingati berulang kali agar sedikit mengurangi kebiasaan buruknya itu.
******
__ADS_1
Usai bermain dengan Auristella sebentar, Jane kembali menyerahkan Auristella pada Serry. Anak itu sedang makan tapi karena meminta pembelaan padanya sampai rela meninggalkan makanan kesukaannya, ikan salmon yang dibuat seperti nugget.
"Nanti kita main lagi," serunya.
Auristella makan sambil bermain. Sesekali mulutnya akan menghembuskan makanan dari dalam mulut, pertanda Ia sudah tidak ingin lagi melanjutkan makannya.
"Padahal masih banyak," gumam Serry melihat anak itu belum makan setengah dari yang disiapkan.
Auristella menolak untuk makan lagi tapi malah menggigit mainan berupa beneka jerapah yang bentuknya lentur, pemberian Adrian kemarin. Auristella lagi sedang-sedangnya menyukai benda menggemaskan itu.
"Nona kecil sudah mau tumbuh gigi ya? wah, Mommy harus tahu itu,"
Serry akan mengatakannya kalau Lovi sudah selesai menyiapkan makanan di dapur. Serry membuka pelan mulut Auristella, lalu diperhatikannya lamat-lamat.
"Ada apa, Serry, dengan mulut Auris?"
"Oh, Nona Lovi. Sepertinya Nona kecil sudah mau tumbuh gigi,"
"Ya, memang. Sejak beberapa hari lalu aku sudah menyadarinya. Ada gigi yang mulai terlihat,"
*******
"Lov..."
"Ya? berhubung anak-anak sudah tidur, saatnya kamu memanjakan aku. Punggungku nyeri semua, Lov. Boleh tolong pijit?"
Lovi yang tadinya ingin mempersiapkan diri sebelum tidur, langsung berbalik arah. Ia menuruti keinginan suaminya.
"Kamu terlalu lelah bekerja. Hanya punggung saja yang sakit, bukan?"
"Yang lain juga sebenarnya,"
"Apa yang sakit? nanti aku--"
Devan membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba lalu mencium istrinya tanpa persetujuan.
__ADS_1
"Bibir aku yang sakit. Seharian belum bertemu bibir istriku,"
-------