My Cruel Husband

My Cruel Husband
Bertemu langsung dengan Griz


__ADS_3

"Griz sayang. Cepat besar ya, biar teman debatku bertambah lagi, bukan hanya Auris."


Adrian sedang bicara dengan Grizelle yang dipangku oleh Vanilla. Di akhir pekan ini, Andrean, Adrian, dan Auristella mengunjungi adik sepupu mereka yang baru lahir itu.


Auristella menatap Grizelle dengan senyum mengembang sejak tadi. Ia tak banyak bicara, tapi lebih sering memperhatikan.


"Griz cantik ya?" tanya Lovi pada anak perempuannya. Auristella mengangguk setuju. Memang cantik sekali. Bahkan Ia tidak henti ingin mencium pipi Grizelle yang putih bersih dan ada rona-rona merah sedikit. Tapi Lovi melarang ketiga anaknya mencium atau menyentuh Grizelle. Grizelle masih kecil sekali, baru lahir apalagi prematur. Jadi Lovi takut saja keponakannya itu kenapa-napa bila disentuh oleh ketiga anaknya apalagi Adrian. Dia paling bar-bar diantara kakak dan adiknya.


"Padahal aku ingin mencium,"


"Jangan, aduh Mommy ngeri melihatnya,"


"Cium saja," Vanilla mengizinkan. Adrian tersenyum senang. Ia memajukan bibirnya ke wajah Grizelle yang sedang tidur, dan secepat kilat Lovi menahan bibir anak laki-lakinya itu.


"Kalau mau membantah, lebih baik kita pulang." lugas Lovi yang mau tidak mau membuat Adrian terkesiap dan memilih untuk patuh daripada dia pulang.


"Sampai jam berapa Jhico bekerja?" tanya Devan pada adiknya yang baru menjadi Ibu itu.


"Sampai sore biasanya,"


"Semakin giat dia bekerja ya. Karena sudah ada dua princess yang harus dibahagiakan," ujar Devan seraya terkekeh kecil. Ia tahu betul bagaimana senang dan semangatnya menjadi ayah baru. Seperti dicambuk, semangat bekerja dan keinginan memberikan kebahagiaan untuk keluarga semakin besar.


"Seperti kamu dulu ya. Hmm sampai sekarang juga masih. Ambisius sekali kalau sudah bekerja,"


"Demi keluarga, My Lov. Kamu tidak tahu bagaimana prinsip kami sebagai laki-laki. Biar lelah tidak apa, yang penting anak dan istri bahagia di rumah,"


Auristella nampak memperhatikan rambut Grizelle dari dekat. Bahkan anak itu sampai memajukan wajahnya. Hal itu membuat Andrean tersenyum.


"Rambutnya Grizelle sudah lebat ya," ujar Andrean pada adiknya. Auristella mengangguk lagi, sama seperti sebelum-sebelumnya.


"Ya," kali ini ditambah kata 'ya'.


"Iya, seperti kamu dulu saat baru lahir," sahut Vanilla. Tangan perempuan itu mengusap kepala anaknya dengan lembut. Grizelle nampak melenguh dalam tidurnya. Tangan mungil yang berselimutkan kain berukuran kecil itu tampak mengusap wajahnya sendiri dan tak lama mata bulat berwarna abu seperti milik Mumu nya terbuka.


"WOAAHH GRIZ BANGUN GRIZ BANGUN!" Seru Adrian riuh saat melihat Grizelle membuka matanya.


Sedari tadi mereka menunggu Grizelle bangun sampai Adrian mengeluh, "Lama sekali Griz tidurnya,"


Mommy nya hanya bisa menjawab, "Namanya anak bayi pasti suka tidur dan tidak lama biasanya karena dia akan cepat-cepat merasa haus dan lapar,"


Lovi dan Devan yang melihat antusias putra mereka hanya bisa menggeleng. "Dia bisa menangis mendengar suaramu, Adrian. Kamu---"


Oeeekk


Oeekkk

__ADS_1


Oekkkk


"Nah 'kan? apa Daddy bilang tadi?"


Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap Grizelle yang menangis kencang tiba-tiba.


"Dia tidak kaget, Adrian." Vanilla tidak ingin keponakannya merasa bersalah.


"Griz haus. Tadi dia bangun tidak menangis. Dan sekarang menangis pasti karena haus dan lapar," lanjut perempuan itu.


Devan menahab tawa saat melihat wajah bingung Adrian. Dia pasti merasa bersalah juga sebelum Vanilla mengatakan yang sebenarnya. Lovi menepuk lengan suaminya seraya menatap tajam. Anak dan ayah sama-sama hobi mengerjai orang.


"Cepat susui, Van."


Vanilla mengangguk kemudian masuk ke kamarnya. Meninggalkan Devan, Lovi dan ketiga anaknya yang merasa kehilangan boneka baru mereka. Ya, Grizelle seperti boneka untuk mereka. Sayang belum bisa disentuh, hanya bisa dipandang sepuasnya.


"Andai Griz bisa kita bawa pulang ya, Mom, Dad." ujar Andrean dengan tenang. Kedua orangtuanya terkekeh. Mereka tidak menyangka bahwa Andrean senang juga melihat Grizelle padahal sejak tadi lebih banyak diam daripada Adrian, seperti biasa. Ternyata Ia juga menahan gemas.


"Andai saja adik kita tidak pergi ya, Andrean? aku sedih sekali. Pasti dia sama menggemaskan nya dengan Griz,"


Lovi merasa sesak setelah Adrian bicara seperti itu. Rupanya bukan Ia dan Devan saja yang begitu menginginkan kehadiran dia yang sudah pergi. Baru kali ini Adrian mengungkapkan kesedihannya secara langsung.


Andrean menutup mulut adik keduanya seraya menatap Adrian dengan tajam. Adrian tidak sengaja bicara seperti itu padahal ketika Mommy nya di rumah sakit, Senata dan Rena sudah menasihati Andrean dan Adrian agar tidak membahas perihal kepergian adik mereka bila Devan dan Lovi sudah kembali ke rumah.


Adrian merangkum wajah Ibunya. Dan menatap Lovi penuh penyesalan. Ia benar-benar kelepasan, tidak menyangka kalau mulutnya akan selancang itu.


"Sorry, Mom. Aku tidak bermaksud membuat Mommy---"


"Tidak apa, Mommy baik-baik saja, Sayang. Tidak perlu khawatir,"


*****


Playground outdoor seperti yang selama ini diinginkan oleh Adrian sudah mulai tahap pembangunan. Devan benar-benar mewujudkan keinginan anaknya itu agar semakin nyaman di rumah. Kalau ingin main di playground outdoor tidak perlu berjalan lumayan jauh lagi ke playground yang menjadi fasilitas perumahan mewah tempat mereka tinggal saat ini. Lokasinya hanya sekitar lima meter dari tempat tinggal Devan.


Devan sedang memantau langsung pembangunan di hari kedua ini. Saat sedang memperhatikan dengan serius pengerjaan yang sedang dilakukan, Adrina yang merupakan tetangga nya terdengar menyapa nya.


"UNCLE DEVAN, HALLO." Seru nya dari dalam gerbang tinggi yang menjulang. Devan mengangkat tangannya singkat, membalas sapa.


"Hallo, Adrina,"


"Adrina jangan di sana. Gerbangnya ingin dibuka," ujar Jino menyuruh putrinya menyingkir karena security di rumah ingin membuka gerbang karena mobilnya akan keluar, Ia dan Adrina ingin pergi makan di luar dan Adrina minta ditemani beli mainan. Mereka pergi tanpa Sheva karena Sheva sedang kurang sehat.


Adrina segera menuruti apa kata Daddy nya. Ia menyingkir dan membiarkan security membuka gerbang agar mobil Jino bisa keluar.


Jino membunyikan klakson nya menyapa sahabatnya. "Mau kemana?" tanya Devan dengan suara lumayan besar agar sampai ke telinga Jino.

__ADS_1


"Menemani Nona kecil beli mainan,"


"Oh, hati-hati "


"Okay, pergi dulu, Dev."


Devan mengangguk, dan mobil Jino sudah menjauh dari pandangannya. Mereka jarang sekali bertegur sapa karena memang tidak sering bertemu padahal jarak rumah mereka sangat dekat. Devan hanya keluar rumah pagi hari dan masuk rumah saat sore begitupun dengan Jino. Sementara Lovi dan Sheva lebih banyak di dalam rumah.


Tapi apapun yang terjadi pada keluarga kecil Devan, Jino dan Sheva pasti datang dan memberi dukungan seperti saat Lovi keguguran kemarin. Devan dan Lovi juga begitu. Mereka tetap saling peduli.


******


"Playground kapan jadinya, Dad?"


"Baru juga dibangun. Sudah bertanya kapan jadi nya? yang benar saja kamu,"


"Tidak lama 'kan, Dad?"


"Tidak sampai satu tahun,"


"Astaga itu lama sekali,"


"Tidak sampai, Daddy katakan begitu tadi."


"Oh aku kira setahun,"


"Tidak, itu hanya playground jadi tidak begitu lama,"


Semua sudah tersedia sehingga pembangunan akan berjalan dengan cepat. Adrian benar-benar tidak sabar untuk segera menikmati playground yang diberikan Devan untuknya, Andrean, dan Auristella saat besar nanti.


"Sepertinya kamu belum mengatakan 'terima kasih' pada Daddy sementara Andrean sudah. Padahal yang minta dibuatkan playground adalah kamu,"


"Aku sudah mengucapkan 'terima kasih' bahkan sebelum Andrean,"


"Memang iya? Daddy lupa,"


Adrian menghembuskan napas panjang. Lalu memeluk leher Daddy nya. Ia juga mengecup pipi Devan bertubi-tubi.


"Terima kasih, Dad sudah menuruti keinginan ku. Daddy terbaik!"


 --------


Addicted aku up lebih cepet. Udh cek di sana? kuyyy baca yaaa


__ADS_1


__ADS_2