My Cruel Husband

My Cruel Husband
Menjadi anak baik


__ADS_3

Devan mengusap tengkuknya. Rena tidak membangunkan?


"Kamu tidak tahu saja Andrean, Grandmamu itu hampir membuat pintu kamar Daddy hancur,"


Devan hanya bisa membatin. Kalau dia jujur, maka kedua anaknya semakin sulit untuk diperbaiki moodnya.


"Sekarang kita berangkat ke sekolah ya?"


"Adrian tidak mau sekolah," Adriqn menggeleng di dada ayahnya. Kakinya menghentak kesal.


Devan mengerinyit dalam. Sepertinya hari ini Ia benar-benar tak termaafkan.


Tangan Devan terulur untuk mengusap belakang kepala anaknya. Ia melepas pelukan Adrian namun anak itu menolak tegas.


Ternyata sulit juga punya anak yang karakternya seperti Adrian. Sangat keras sekali kepalanya.


Andrean saja sudah mau terlepas dari pelukan sang ayah. Berbeda dengan Adrian yang semakin mengeratkan tangannya di leher Devan.


"Harus sekolah. Nanti tidak Daddy ajak bermain lagi," Devan harus tegas kali ini. Merajuk seperti apapun, mereka harus tetap sekolah.


Devan melihat Senata yang keluar dari pintu. Ia menatap bingung ke arah cucu-cucunya.


"Sudah jam berapa ini? Kenapa belum berangkat ke sekolah?"


"Merajuk, Grandma." Jawab Devan ketika melihat anak-anaknya yang memilih tutup mulut.

__ADS_1


Senata menggeleng pelan. Ia tahu duduk permasalahannya. Sejak tadi memang kedua anak itu sudah merengek bahkan Adrian ingin melepas lagi seragam sekolahnya.


"Tadi apa kata Mommy? Jangan nakal, harus jadi anak baik. Ingat pesan Mommy?"


Senata mendekat pada Adrian dan berusaha untuk melepaskan anak itu dari Devan. Begitu wajahnya tak lagi bersembunyi dibalik dada Devan, terlihat sekali raut masamnya.


Devan sampai terkekeh melihatnya. Ia merangkum wajah Adrian lalu dikecupnya seluruh bagian dari wajah kecil itu. Adrian pun tertawa. Secepat itu mengembalikan moodnya.


"Lovi sudah berangkat, Ma?"


"Iya, pagi sekali dia sudah bekerja,"


Devan menyimpan dengusannya. Ia juga ingin sekali menggeram tapi ada anak-anaknya. Keduanya akan mengira kalau Devan marah pada mereka. Lovi kembali berusaha menghindarinya.


Devan tersenyum pada Senata lalu menatap kedua anaknya.


Kedua tangan Devan menggenggam anak-anaknya. Devan memberi isyarat pada mereka untuk berpamitan pada Senata.


"Grandma Sena, kami berangkat sekolah dulu ya," yang tadi merajuk sampai-sampai tak ingin sekolah sekarang malah terlihat sangat semangat.


***


Sampai di sekolah rupanya sudah waktunya masuk ke dalam kelas. Devan tentu saja harus memastikan anaknya sampai di kelas dengan aman.


Begitu sampai di depan kelas, mereka disambut guru perempuan. Devan menatap datar perempuan yang ada di hadapannya itu. Pandangannya liar membuat Devan bergidik.

__ADS_1


Devan tidak akan peduli. Ia hanya perlu mengantar anaknya dan menjamin mereka bisa belajar semestinya walaupun terlambat. Dan lagi ini adalah kesalahannya. Mereka sudah disiplin. Dirinya saja yang memang sulit bangun pagi. Semenjak berpisah dari Lovi, Devan memang menghabiskan waktu malamnya untuk bekerja. Guna mengalihkan segala pikiran yang selalu tertuju pada Lovi, Lovi, dan Lovi.


"Maaf, anak-anakku terlambat," ujarnya dengan datar. Membuat perempuan itu terkesiap. Devan sadar kalau perempuan itu memujinya melalui tatapan. Dan Devan tidak akan memberikan celah sedikitpun. Ia hanya ramah pada keluarganya.


"I--iya Tuan. Tidak masalah,"


Perempuan itu tidak mengira kalau Andrean dan Adrian akan diantar lelaki tampan dengan balutan stelan kerja yang terlihat begitu memukau.


"Kemarin Miss Acha memarahi Revin yang terlambat. Padahal belum lima belas menit setelah bel masuk sama seperti kami sekarang. Kita tidak dimarahi juga?"


Devan mengulum senyumnya saat Andrean membuat perempuan itu terdiam. Wajahnya langsung kaku. Dan tentu saja sumpah serapah sudah Ia layangkan untuk Andrean kalau saja tidak ada Daddynya yang tampan di sini.


"Oh mungkin karena Mommy Revin tidak minta maaf pada Miss Acha seperti yang dilakukan Daddy Adrian ini,"


"Hmmm bisa jadi," batin Devan tergelak.


"Pelajaran akan dimulai. Sebaiknya kalian masuk," lugasnya. Kedua anak polos namun mampu membuat orang dewasa mati kutu itu menuruti apa yang dikatakan oleh guru mereka.


Usai mendapat kecupan di dahi dari Devan, mereka masuk ke dalam kelas yang sudah ramai.


Devan kembali menatap perempuan itu dengan dingin. Alisnya terangkat sebelah.


"Seharusnya Anda berlaku adil. Revin, dan anak-anakku hanya terlambat beberapa menit setelah bel masuk berbunyi. Tapi kenapa Anda memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda?"


----

__ADS_1


Up lg ga ntr? tp vote&komennya dl yaaa. Mwehehe😀😀


__ADS_2