My Cruel Husband

My Cruel Husband
Bertemu mantan teman ONS


__ADS_3

"Makan siang dulu, setelah itu kita langsung ke kebun binatang,"


Usai bersenang-senang dan mandi, Devan tak ingin mengabaikan perutnya yang lapar. Perut mereka harus terisi sebelum melanjutkan kegiatan lain yang juga menyenangkan.


Menikmati makanan di tepi pantai lagi. Bedanya, tak ada api unggun seperti semalam dan suasananya juga cukup ramai karena tidak dibooking hanya untuk mereka.


"Adrian semalam mau ayam 'kan?"


"Iya, Dad."


Devan menyerahkan menu pada anak keduanya itu. "Pilih yang benar, tidak ada cerita makanan itu tidak dihabiskan,"


"Iya, aku habiskan. Tapi mau disuapi Daddy ya?"


Devan mengangguk pelan seraya menikmati es krim yang tadi dibeli Lovi untuknya. Ia mengangkat sebelah alisnya saat Adrian mendekatinya. "Kenapa?" tanya Devan semakin bingung ketika Adrian menatap cup es krim miliknya.


"Sudah 'kan tadi?"


Adrian mengangguk seraya tersenyum manis. Tapi tangannya berjalan ingin mengambil minuman kesukaannya itu yang diletakkan Devan di atas meja.


"No, ini punya Daddy. Jangan rakus, Adrian."


"Sedikit saja. Boleh lah, Dad."


"Adrian, tadi kamu sudah habis berapa cup? Jangan ambil punya Daddy,"


Tadi Lovi membiarkan anaknya menikmati es krim sesuka hatinya. Hitung-hitung untuk menghilangkan rasa kesal Adrian yang tak bisa ikut olahraga air tadi.


Akhirnya Adrian tak lagi membujuk. Karena es krim itu juga sudah dilahap habis oleh Devan. Devan sengaja cepat-cepat menghabiskannya agar Adrian tak lagi fokus pada es krim tersebut. Biarkan Ia makan dengan tenang tanpa memikirkan es krim lagi.


Makanan datang dan Adrian langsung menyerahkan miliknya pada Devan untuk di suapi. Melihat itu, Auristella cemburu. Ia juga ingin disuapi Devan. Sehingga dengan pintarnya Ia menyingkirkan piring sang kakak lalu Ia mendekatkan piringnya pada Devan.


Adrian berdecak dan mencubit tangan adiknya, tapi beruntung Auristella tidak menangis. Ia malah melempar tatapan tajam pada kakak keduanya itu.


"Apa?! aku yang lebih dulu minta disuapi Daddy. Biasanya kamu makan dengan Mommy!"


Lovi memijat pelan pangkal hidungnya. Yang lain pun demikian. Akhirnya Senata mencoba untuk membujuk Auristella agar makan bersamanya saja bila tidak ingin dengan Lovi.


Auristella menggeleng, menolak bujuk rayu sang nenek. Ia tetap mempertahankan piringnya di depan Devan tak peduli Adrian berusaha menyingkirkannya.


"Kalau makanannya tumpah, Daddy benar-benar marah nanti ya. Awas saja," ayah beranak tiga itu mengancam kedua anaknya. Devan berharap Adrian lebih mengerti daripada adiknya dan mengalah. Karena tidak mungkin Auristella yang mengalah, anak terakhirnya itu benar-benar keras kepala, kalau sudah memiliki keinginan pasti harus dituruti, sebenarnya tak beda jauh dengan Adrian. Tapi seharusnya Adrian bisa menempatkan dirinya sebagai kakak, yang harus bisa membiarkan sang adik lebih banyak mendapat perhatian.


"Tidak mau! sekali-sekali Auris yang mengalah. Aku juga anak terakhir Daddy dan Mommy!"


"Huh? kenapa begitu?" tanya Akra seraya menahan tawa.


"Anak laki-laki terakhir Daddy dan Mommy. Iya 'kan, Dad?" Adrian menatap Daddy-nya berharap mendapat pembelaan bukannya teguran.


"Dua-duanya saja Daddy suapi. Cepat, duduk yang baik!" titahnya pada Adrian yang berdiri ingin berbuat sesuatu pada adiknya yang menyebalkan itu.


"Aku mau Daddy hanya menyuapi aku saja. Auristella tidak usah!"


Auristella nampak menggigit bibirnya pertanda Ia geram karena sang kakak terus-terusan mengusir piringnya.


"Adrian, apa bedanya? yang penting Daddy suapi 'kan?"


"Tidak mau! Daddy hanya boleh menyuapi aku saja untuk sekarang! sekali-sekali, Daddy." rengek anak itu. Devan melirik jam di tangannya. "Jam satu siang. Pantas saja dia seperti ini," Lovi mengangguk. Mereka tahu betul jam tidur Adrian. Kalau tidak tidur siang, Ia pasti akan semakin bertingkah.


"Kita pulang saja ke resort ya? biar kamu tidur, kamu mengantuk 'kan?"


"Tidak mau! kita harus pergi ke kebun binatang,"


"Tapi jangan membuat Daddy kesal, Adrian. Kamu kalau mengantuk semakin banyak tingkahnya,"


"Auris makan dengan Uncle saja ya?" tawar Jhico dengan lembut tapi tetap saja Auristella tak mau mengalah. Sepertinya anak ini memang sengaja menjahili kakaknya yang saat ini tak ingin berbagi perhatian dari sang ayah.


"Makan berdua, atau tidak ada yang Daddy suapi sama sekali?" Devan menatap keduanya dengan tajam. Auristella yang belum terlalu mengerti hanya diam, sementara Adrian mulai merasa kalah.


"Ya sudah, Daddy boleh suapi Auris juga," sahutnya dengan wajah sulit menerima.


Jo menggeleng pelan usai menghembuskan napasnya, "Kalian benar-benar hebat ya. Bisa menghadapi ketiga anak yang berbeda karakter ini. Aku yang hanya dua anak saja sudah pusing bukan main. Kira-kira ada niat untuk tambah anak tidak?"


Lovi langsung menggeleng. Sejujurnya Ia juga stress memiliki tiga anak. Tapi Lovi rasa semua orangtua di dunia ini sama. Jadi sebisa mungkin Ia tidak mau mengeluh. Lagipula masa-masa seperti ini tidak akan terulang lagi ketika mereka dewasa nanti.


"Kenapa tidak mau?"


"Kamu bisa melihat sendiri tadi,"


"Tapi aku mau, Lov."


"Kamu yang mengandung, melahirkan, dan mengurusnya ya?"


Tawa terdengar setelah Lovi menanggapi ucapan suaminya. Terlihat sekali bahwa mereka berbeda keinginan. Devan masih merasa belum cukup memiliki tiga anak, berkebalikan dengan Lovi yang ingin fokus dengan Andrean, Adrian, dan Auristella saja tanpa menambah anggota keluarga baru.


"Kamu menatap siapa?" tanya Lovi saat menyadari suaminya tengah menatap fokus ke depan. Setelah Ia bertanya, Devan cepat-cepat mengalihkan tatapannya ke piring Adrian dan Auristella.


Vanilla tiba-tiba berbisik padanya selang beberapa detik kemudian. "Dia teman ONS-mu dulu ya? yang hampir jadi kekasihmu juga 'kan?"


Devan berdehem sebagai jawaban. Saat Vanilla ingin mengatakan sesuatu lagi, Ia menggeleng pertanda tak ingin membicarakan hal itu. Interaksi keduanya mengundang rasa penasaran Lovi. Tidak biasanya kakak beradik itu bisik-bisikan.


Saat Ia bertanya pada Devan 'Ada apa?', Devan mengatakan kalau Vanilla menginginkan satu porsi lagi, Ia masih belum kenyang. Jawaban itu langsung dipercaya oleh Lovi. Ia segera mempersilahkan Vanilla untuk pesan makanan yang diinginkannya.


*******


Semuanya mendapatkan satu wadah kecil berisi makanan satwa yang akan mereka datangi. Saatnya anak-anak kecil yang antusias.


Yang akan mereka sambangi pertama kali setelah sampai di kebun binatang adalah tempat dimana buaya tinggal. Mereka berdiri di atas sebuah jembatan dan buaya-buaya itu berada di bawah sana. Jembatan tersebut juga dibatasi oleh besi yang kokoh.


"Ini daging ya?"


"Iya, kenapa? kamu mau?"


"Hihh! ini makanan buaya bukan makanan aku," sentak Kayla karena kakaknya, Genta, bicara sembarangan.


"Daging apa ya kira-kira? jujur aku jijik memegangnya,"


"Tidak dipegang, ada penjepitnya. Dasar perempuan! begini saja jijik,"


"MAMA, GENTA MULUTNYA BERISIK, MA." Kayla berteriak untuk mengadu pada Jo yang berjalan di belakangnya bersama Jhon, sang suami.


"Mama saja yang memberikan makanan itu untuk buaya?"


"Tidak! memang kenapa kalau aku yang memberikannya?" tanya Genta. "Kalian anak kecil," jawab Jo.

__ADS_1


"Ini sudah ada pagarnya, tidak mungkin buayanya lompat sampai melampaui pagar yang tinggi ini. Kita juga berada di atas jembatan, Ma."


"Ya, sudah. Tapi hati-hati. Tadi kenapa Kayla berteriak?"


"Dia jijik memegang makanan buaya,"


"Mama saja kalau begitu," walaupun Ia sudah memegang satu wadah, tetapi kalau anaknya tidak mau lebih baik Ia saja yang memberikannya. Jadi ada dua wadah yang akan Ia berikan isinya kepada buaya-buaya itu.


"Tidak jijik lagi. Aku bisa," Kayla menolak tegas karena Ia melihat semua sepupunya begitu antusias dengan kegiatan ini.


"Doggie doggie! Hey doggie!"


Adrian memanggil Kenith yang berjalan di belakangnya, anak kedua Devan dan Lovi itu mengibas-ngibas potongan daging ke arah Kenith seolah memancing Kenith agar mendekat. Hal itu membuat Sandra, adik Kenith tertawa.


"ADRIAN MULUTNYA MINTA DISIRAM DENGAN AIR CUCIAN BUNDAKU YA?!" teriak Kenith marah lalu mengejar Adrian.


Sandra masih terkekeh geli, ucapan Adrian tadi masih terngiang di telinganya. Apa lagi melihat raut emosi Kenith tadi. Benar-benar lucu sekali di matanya.


"Kenapa lagi mereka?" gumam Devan yang berjalan di belakang semua anak-anak itu. Ia berjalan berdampingan dengan Lovi yang menggendong Auristella dan juga Nindya serta suaminya, Akra. Sementara beberapa pengawal berjalan di depan menjaga keluarga besar yang terpandang itu. Rena, Senata, dan Raihan pun mendampingi cucu-cucu mereka, sehingga cukup terkejut juga saat menyadari kalau Adrian tiba-tiba berlari dan dikejar oleh Kenith. Mereka tidak sempat mendengar perdebatan antara Adrian dan Kenith karena sibuk menatap banyaknya buaya di bawah sana.


"ADRIAN, HEY!" Devan memanggil anaknya yang tidak bisa diam itu. Adrian langsung menghentikan langkahnya tapi masih tertawa sama halnya dengan Sandra.


"Jangan marah, tampan. Aku hanya bergurau," ledek Adrian dengan gaya tengilnya. Kenith berdecih jijik saat Adrian mengedipkan mata bermaksud agar Kenith tak lagi mengejarnya dan membuang niat untuk meninju lengannya.


"Jangan sampai aku punya sepupu yang berbelok arah," walaupun masih kecil, Ia sudah mengerti kalau bukan seperti itulah sikap seorang laki-laki yang seharusnya.


Sandra kian heboh tertawa. "Terus goda kakak-ku, Adrian!" serunya menyemangati Adrian.


"Tidak mau, nanti aku yang dimarahi Daddy," Adrian balas berseru. Lalu Ia kembali mendekati barisan keluarganya menyusul Kenith.


Devan menggeleng pelan melihat anaknya yang sangat jahil. Pintar sekali dia berakting menjadi laki-laki setengah perempuan hanya untuk meredam rasa kesal Kenith. Kenith langsung mundur, tak jadi melakukan sesuatu terhadap Adrian karena Adrian bersikap aneh seperti itu, menyerupai perempuan yang genit.


Devan melempar daging-daging yang akan menjadi santapan buaya ke arah sekumpulan hewan yang terkenal dengan keganasannya itu.


Seorang anak perempuan tampak berteriak senang di samping Devan sampai membuat telinga Devan pengang. Devan menoleh dengan wajah datarnya, sayangnya anak itu tak menyadari kalau Devan merasa terganggu. Malah perempuan yang mendampingi anak itu yang menoleh ke arah Devan. Devan membeku di tempatnya. Ia tak bisa melanjutkan kegiatannya yang tadi untuk beberapa saat.


"Hai, Devan." sapa perempuan itu dengan hangat. Tenggorokan Devan tercekat. Di depannya saat ini adalah Lianne, gadis yang ditemuinya tadi ketika makan siang bersama keluarga besarnya, sosok yang dikenali juga oleh Vanilla.


"Lianne..."


"Kamu masih ingat aku kah?"


Lovi yang berdiri di samping suaminya belum menyadari kalau Devan tengah sibuk mengendalikan kilas balik yang berputar di otaknya.


Lovi terlalu sibuk mengajak Auristella berbincang seraya memberi makanan untuk buaya.


"Ada apa denganmu?" tanya Devan setelah perasaannya normal kembali. Ini pertemuan pertama setelah sekian lama Devan berpisah dengan wanita yang pernah menjadi teman One night stand yang sempat Ia beri harapan lebih namun nyatanya Ia memilih Elea.


Devan bertanya 'ada apa?' karena Ia bisa melihat dengan jelas kalau wajah wanita itu sangat pucat. Lianne tersenyum tipis kemudian kembali menatap ke depan.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana kabar Elea? seingatku Elea yang aku kenal, bukan dia, yang ada di sampingmu," ujar Lianne seraya melirik Lovi.


"Dia Lovi, Istriku."


"Oh, aku kira---"


"Tidak, hubunganku dengan Elea tidak berjalan semulus yang kamu bayangkan,"


Lianne terkekeh pelan seraya membenarkan letak topi rajut yang membalut kepalanya. Sikap tubuh wanita itu tak lepas dari perhatian Devan. Devan mengerjap terkejut saat melihat kepala Lianne yang licin, tak ada rambut.


"DADDY, MAKANAN YANG AKU PEGANG SUDAH HABIS. AKU MINTA PUNYA DADDY," Teriakan Adrian yang tak jauh dari keberadaan Devan dan Lianne berhasil membuat interaksi antara Devan dan Lianne terhenti. Devan belum mendapatkan jawaban, dan Lianne terlanjur pergi bersama anak yang ada di dekatnya tadi.


Adrian menghampiri sang ayah karena Devan tampak diam, menatap punggung seorang wanita yang sudah menjauh.


"Dad, dengar aku tidak? aku minta makanan buaya yang Daddy pegang," Adrian segera meraih wadah yang ada di tangan Devan. Setelah itu, Ia kembali menatap Devan yang terlihat seperti orang kebingungan.


"Dad, kenapa?" Adrian menarik ujung kaus yang dikenakan Devan dan itu berhasil membuat Devan terbangun dari lamunannya.


"Oh, tidak."


"Daddy, aneh. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Ada apa sebenarnya?"


"Tidak ada, cepat beri makanan itu. Semua buayanya masih kelaparan,"


"Sudah habis makanannya, Auris. Senang tidak melihat buaya makan?"


Auristella tidak mengerti dengan makna pertanyaan Mommy-nya tapi Ia tahu kalau Lovi sedang bertanya padanya dan menginginkan jawaban. Sehingga Ia mengangguk seraya menjawab singkat, "Ya."


Lovi tersenyum dan mencium pipi anak dalam gendongannya dengan gemas. Kemudian Ia menoleh ke arah Devan dan Adrian yang sedang menatap Daddy-nya.


"Punyamu belum habis, Adrian?" tanya Lovi melirik wadah yang dipegang Adrian. "Wadah satu lagi punya siapa? Daddy ya?"


"Iya, Sebentar lagi aku selesai. Aku ke sana lagi ya," pamit Adrian sebelum kembali mendekati semua sepupunya.


"Andrean, melemparnya jauh sekali," ujar Kenith yang heran melihat Andrean begitu kencang melempar sampai daging-daging itu terlempar ke ujung tempat tinggal buaya.


"Supaya yang di sana juga kebagian. Kasihan mereka yang tidak bisa ke sini karena dihalangi oleh para seniornya," ujar Andrean, seraya fokus mengambil daging di wadah lagi dengan penjepitnya.


"Oh iya, banyak yang tidak bisa mendekat ke kita ya karena ada yang lebih besar-besar dan ditakuti,"


"Ya, makanya aku mau adil,"


Kenith mengikuti langkah yang diambil Andrean. Terlalu banyak buaya yang mendekat ke arah sumber makanan sampai ada beberapa yang harus mengalah, terutama buaya-buaya yang masih kecil.


********


Adrian baru saja berenang untuk mengambil topi Jane yang jatuh ke dalam lautan dimana Ia berenang kemarin. Peristiwa yang cukup menggelitik perut itu terjadi beberapa saat lalu ketika mereka semua bersepeda di jembatan penginapan yang terapung di atas lautan air tersebut.


Jane meminta bantuan pada Adrian. Awalnya anak itu menolak, tapi karena Aunty-nya sudah memohon, akhirnya Ia rela berenang walaupun risikonya Ia harus mandi lagi nanti.


Setelah berhasil mengambil topi milik Jane, Adrian malah merasa keram di kakinya. Ia tak bisa naik ke atas jembatan, beruntungnya ada Jhico yang langsung gesit membantu.


Devan membawa putra keduanya ke dalam kamar untuk dikeringkan tubuhnya. Lovi mengikuti dari belakang dengan perasaan khawatir sekaligus bingung dengan jalan cerita kejadian tadi sampai akhirnya sang anak bisa keram seperti itu.


"Mandinya nanti saja. Masih keram,"


"Iya, Sayang. Sekarang luruskan kakimu," titah Devan setelah menurunkan Adrian di atas sofa.


Ia duduk di bawah dan Lovi langsung menyiapkan baju sekaligus handuk untuk mengeringkan tubuh Adrian.


Setelah berhasil memperolehnya, Lovi segera mengusapkan handuk di kepala Adrian. Beruntung Auristella sedang tidur, jadi Ia bisa fokus dengan Adrian yang baru kali ini keram. Biasanya selama apapun Ia berenang, tidak pernah keram. Tadi hanya beberapa menit saja kenapa bisa keram? Devan dan Lovi bingung.


Devan memijat pelan kaki anaknya yang berbaring. "Sepertinya kamu keram karena tidak pemanasan dulu tadi. Langsung terjun begitu saja," Devan baru ingat kebiasaan sang anak sebelum memulai kegiatan renangnya. dan tadi, Adrian melupakan kebiasaan itu.

__ADS_1


"Oh iya, sepertinya kesalahanku di situ,"


"Dad, jangan marahi Aunty Jane. Adrian membantu karena kata Aunty topi itu mahal, bahkan lebih mahal dari robot Adrian,"


"Tetap saja dia salah. Semahal apapun barang miliknya, tidak ada yang semahal kamu. Kamu berharga buat Daddy, malah dibuat sakit seperti ini,"


"Lagi pula aku akan mendapat bayaran kalau aku membantu Aunty,"


Lovi mendengus saat mendengar pengakuan itu. Pantas saja Ia begitu semangat berenang tadi. Karena ada sesuatu yang melatar belakangi kebaikannya itu.


"Tapi sebenarnya tanpa diberi hadiah pun, Adrian akan tetap membantu. Karena Aunty Jane menawarkan, ya sudah Adrian terima saja. Kebaikan tidak boleh ditolak 'kan, Dad?"


Devan menghembuskan napasnya berusaha sabar menghadapi anaknya yang pintar sekali membuat hatinya panas ini. Ia dibuat khawatir oleh anaknya yang menginginkan hadiah dari Jane.


Pintu kamar mereka diketuk dari luar. Lovi segera bangkit untuk membuka pintu, Ia kira Nindya yang datang bersama Auristella. Rupanya Jane, tanpa meminta izin, Ia langsung masuk ke dalam kamar Devan dan Lovi.


Devan menoleh penasaran dengan yang datang, ketika melihat Jane, Ia merotasi bola matanya.


"Kenapa datang ke sini?"


"Adrian, Maaf sudah membuatmu seperti ini,"


"Tidak apa, Aunty. Aku baik-baik saja,"


"Tapi Daddy-mu pasti---"


"Tidak akan, Daddy tidak akan marah pada Aunty. Iya 'kan, Dad? ini salah Adrian yang tidak stretching dulu,"


"Bukan salahmu. Di saat panik seperti itu memang akan ingat dengan stretching? salah Aunty Jane yang bisa-bisanya menyuruh kamu. Kenapa tidak dia sendiri? kan dia bisa berenang juga,"


"Selagi ada laki-laki, maka perempuan tidak boleh turun langsung, Dad."


Lovi, Devan, dan Jane terperangah dengan kalimat singkat namun bermakna dalam yang keluar dari mulut Adrian. Tak menyangka akan sebesar itu rasa menghargai yang dimiliki Adrian untuk kaum perempuan.


"Devan, maaf." ujarnya singkat yang membuat Devan menoleh dan menatap Jane dengan tajam. "Niat atau tidak meminta maaf padaku? aku yang punya anak, Jane. Ingat ya,"


"Ingat, akan selalu ingat, Tuan tampan yang terhormat."


"Lalu tunggu apa lagi kamu belum meminta maaf dengan benar? aku bisa saja menuntutmu,"


Alis Lovi menukik saat mendengar ucapan suaminya yang serius itu. Sementara Jane langsung mencibir, "Hanya keram, Astaga. Belum aku buat pingsan anakmu,"


"Oh berani kamu melakukan itu? benar-benar jeruji besi tempatmu,"


Jane meringis takut saat membayangkan. "Jangan begitu lah dengan sepupu. Kamu tidak ingat sebaik apa aku ini padamu?" ketika Jane mengungkit, Lovi terkekeh geli. Mereka sepupu yang benar-benar seperti Tom and Jerry.


"Menuntut itu apa, Dad?"


"Tidak, kamu tidak perlu tahu. Sekarang sebutkan hukuman apa yang kira-kira tepat untuk Aunty Jane,"


"Devan, aku harus dihukum? astaga, seharusnya kamu mengerti kalau topi itu sangat berharga untukku, oleh sebab itu aku meminta bantuan Adrian untuk mengambilnya,"


"Berharga? memang ada apa di dalam topi itu?"


"Itu hadiah pertama dari Richard,"


Mendengar jawaban Jane, Devan langsung berdecak dan menanggapi, "Pantas saja kamu kalang kabut ya?!"


"Iya, sekarang kamu tahu 'kan? jadi tidak ada hukuman seharusnya,"


"Kata Aunty harganya mahal. Memang Aunty tahu dari siapa? Uncle Richard yang memberi tahu harganya? ah Uncle Richard pamer juga ternyata,"


"Hey, bukan dia yang beri tahu Aunty. Tapi Aunty pernah melihat harganya di mall,"


"Semahal apapun topi itu, tidak semahal anakku. Jadi lain kali jangan diulangi lagi, Jane!"


Jane segera meletakkan tangannya di pelipis dengan posisi tubuh tegap seperti orang yang ingin memberikan hormat.


"Tidak dihukum 'kan?" tanya Jane seraya mengedipkan matanya. Devan yang melihat itu mengerinyit geli. Ia jadi ingat saat dulu, Jane sempat tergila-gila padanya. Sampai Lovi saja dihajarnya habis-habisan karena Ia menganggap Lovi telah merampas Devan dari tangannya. Jane memang segila itu dulu. Menyukai sepupunya sendiri. Beruntung sekarang dia sudah memiliki orang yang tepat, semoga saja. Devan bersyukur karena hidupnya tidak diganggu lagi dengan ketertarikan Jane terhadap dirinya itu.


"Devan, sekarang aku boleh keluar?"


"KELUAR SAJA MEMANG SIAPA YANG MELARANGMU KELUAR?"


"Astaga, aku kaget." Jane tersentak saat Devan berseru padanya. "Terlalu percaya diri sekali kamu. Kamu mau hilang sekalipun aku tidak peduli. Cepat keluar!" titah Devan yang membuat Jane menghentak kakinya kesal.


Saat Jane mencapai pintu, suara Adrian menginterupsi Jane, "Aunty, hadiah untuk aku apa?"


"Tadi katamu akan dipikirkan dulu,"


"Sudah aku pikirkan, Aunty."


Jane kembali berbalik dan bersedekap dada menunggu Adrian menyampaikan keinginannya.


"Kamu mau hadiah apa sebagai bayaran atas bantuanmu tadi?"


"Robot yang besar,"


"Huh?"


"TIDAK BOLEH!" bukan Jane yang menjawab, tetapi Lovi lah yang berseru tidak setuju.


"Yang lain,"


"Aku mau itu!"


"Adrian, kamu sudah memilikinya di mansion. Untuk apa beli itu lagi?" Lovi menggerutu kesal. Tidak adakah keinginan yang lain, yang lebih wajar?


"Tidak ada hadiah kalau begitu," putus Devan dengan tegas.


"Aku meminta hadiah dari Aunty, kenapa Daddy yang bicara seperti itu?"


"Jane, kau harus dengarkan aku!"


"No, Aunty, ingat janjimu tadi 'kan? kalau tidak ditepati, nanti dosanya semakin banyak, Aunty."


Jane menatap anak dan ayah itu secara bergantian. Jane mengacak rambutnya, kebingungan.


"Jane, jangan turuti kalau dia minta robot. Dia sudah memilikinya. Satu sjaa sudha membuat Auris ketakutan setiap masuk kamarnya, apa lagi ketika punya dua? bisa-bisa Auris tidak mau tinggal di sana, memilih angkat kaki," Lovi mendukung suaminya yang tidak mengizinkan Jane untuk menuruti permintaan Adrian.


"Jane, awas saja kalau kamu--"


"Baiklah, selesai liburan kita beli robot besar yang baru, agar kamu punya dua,"

__ADS_1


 


RALAT BUKAN KE KEBUN COKLAT YAA. TP KE KEBUN BINATANG. MAAPKEUN AKU YG LABIL INI WKWK


__ADS_2