
Lengah sedikit maka rencana yang mereka susun akan hancur berantakan.
Glen, ayah Elea menyerahkan dirinya sendiri kepada Devan yang sedang sibuk di kantornya.
Devan yang disajikan seonggok daging pun dengan senang hati menyantapnya walaupun dengan sedikit usaha. Tanpa basa-basi Devan menghajar lelaki tua itu. Namun dengan secepat kilat Ia mengundang para anak buahnya ke kantor Devan untuk melindunginya.
Glen dan pengawalnya berhasil membuat kericuhan di kantor Devan hingga Raihan yang sedang menjalani pertemuan di kantor anak perusahaannya pun mendapat kabar kericuhan tersebut dari sekretaris Devan yang saat itu juga merasa kebobolan telah membiarkan Glen masuk ke ruangan Devan.
Glen dan para pengawalnya yang berbadan besar berhasil melarikan diri. Hingga Devan yang sudah dirasuki dengan gairah membunuhnya pun mengejarnya.
Namun Devan tidak mengerti dengan kehadiran Raihan di sampingnya. Ia tidak tahu persis kapan Raihan ikut membantunya mengejar Si Tua Glen.
__ADS_1
Devan tidak akan membiarkan dirinya di bodohi. Rencana mereka kabur melalui lintas timur menggunakan mobil lain berhasil diketahui oleh Devan.
Kemanapun mereka pasti akan Devan kejar lalu setelah itu dibunuhnya dengan cara paling kejam. Otak Devan sudah merencanakan dengan cara apa Ia akan membunuh orang itu. Mungkin setelah ditembak sampai nyawanya tinggal sedikit baru kemudian dibakar adalah cara sempurna menurut Devan. Dimana dia akan merasa kesakitan setelah ditembak hingga nyawa berada di ujung tanduk, kemudian dibakar dengan keadaan raga dan nyawa tinggal sedikit lagi.
Mereka telah sampai dibagian ujung sebuah hutan yang begitu mencekam. Sialnya, di ujung hutan saat ini tidak ada lagi lalu lintas yang bisa mereka gunakan. Jalan satu-satunya adalah jurang yang begitu deras seolah mengundang siapapun untuk segera terjun ke sana.
Devan tertawa di dalam mobil. Mereka semua pasti sedang panik sekarang. Memikirkan cara agar bisa mengelabui Devan, Raihan, dan orang-orang berbadan besar hasil pelatihan Devan yang siap membantunya dalam menghabisi tikus pengganggu itu.
Ia mengetuk kaca seraya mengangkat senjata api miliknya, berusaha memaksa mereka semua untuk turun tanpa pemaksaan.
Glen tidak bisa lagi kemana-mana. Langkah yang diambilnya salah. Ia tidak menyangka kalau Devan secepat itu mengetahui akal busuknya dulu yang ingin mencelakai Lovi.
__ADS_1
Niatnya yang ingin sekedar berbasa-basi dengan Devan ternyata dijadikan momentum yang tepat oleh Devan untuk membalaskan dendamnya.
Ia kira Devan telah melupakan kejadian itu. Karena menurut informasi dari orang kepercayaanya pun Devan dan Lovi sudah berpisah beberapa minggu yang lalu. Ternyata lelaki itu masih mencintai Lovi. Ia melihat bukti nyata ini. Kalau Devan tidak lagi mencintai Lovi, tidak mungkin Ia masih menyimpan dendam pada Glen. Ia masih mati-matian membela perempuan yang menjadi mantan istrinya itu. Devan masih tidak terima Lovi dilukai.
"KELUAR!!" Teriak Devan seraya memukul kaca yang tepat bersampingan dengan kepala Glen.
Pintu belakang mobil terbuka menampilkan seorang lelaki yang tersenyum miring menatap Devan. Devan yakin kalau lelaki itu adalah kepala pengawal sekaligus orang kepercayaan Glen.
Tak lama Glen turun dari kursi sebelah kemudi. Ia masih berusaha tenang walaupun jantungnya sudah berdentum tidak karuan. Senjata miliknya juga sudah ada di saku namun melihat mata Devan yang buas membuatnya sedikit merinding.
Ia tidak menyangka kalau rencananya untuk membela sang anak akan mengantarkan dia pada situasi yang menyeramkan seperti ini. Dalam hatinya Ia sudah mengira akan mati. Karena siapapun tidak akan bisa mengalahkan Devan. Apalagi kali ini Devan bukan hanya seorang diri. Ada Raihan yang juga begitu pintar dalam urusan membunuh.
__ADS_1
Perkiraannya benar. Karena hal selanjutnya yang terjadi adalah Devan menekan pelatuk hingga peluru berukuran kecil tersebut berhasil menembus pelipis lelaki itu.