My Cruel Husband

My Cruel Husband
Terbiasa dengan kelembutanmu


__ADS_3

Devan belum bisa memejamkan mata apabila sang Istri belum ada di sampingnya. Akhirnya Ia memutuskan untuk membuka ponselnya seraya menunggu Lovi yang tengah menemani anaknya yang manja itu ke kamar mandi sekaligus melepas masker di wajah mereka.


Devan buru-buru menegakkan tubuhnya saat Ia membuka aplikasi chatting. Di sana ada nomor Gafie, orang yang diperintahkannya untuk memastikan keadaan kedua orangtua juga adiknya di Manhattan.


Ia membuka pesan dari Gafie dengan cepat. Sembari berpikir keras. Siapa yang dengan lancang membuka pesan ini lebih dulu?


Nona Vanilla mengalami kecelakaan. Itu terjadi kemarin, Tuan.


Kalimat yang menjadi inti dari pesan tersebut. Dan sial! Ia baru mengetahuinya sekarang. Siapapun yang sudah membuka ponsel Devan, dia tega melakukan ini pada Devan. Dia menyembunyikan semuanya.


"LOVI, ADRIAN CEPAT KELUAR!"


Kemungkinan terbesar adalah mereka berdua yang melakukannya. Karena Andrean hampir tidak pernah menyentuh ponsel Devan.


"Mom, kenapa Daddy teriak seperti itu?"


Adrian terdiam sebentar dengan mulut yang penuh busa. Ia menyikat giginya sementara Lovi sedang menggunakan produk perawatan yang lain di wastafel.


"LOVI!"


"Astaga, apa yang terjadi dengan dia?" perasaan Lovi mendadak tidak enak. Pikirannya menebak-nebak sesuatu yang menyebabkan suaminya berteriak seperti itu.


Lovi menyelesaikan kegiatannya dengan cepat. Ia menoleh pada Adrian yang sedang berkumur.


"Ayo kita keluar,"


Devan berdiri di dekat ranjang dengan wajah marahnya. Lovi benar-benar dibuat bingung. Sebelum Ia masuk ke dalam kamar mandi, semuanya baik-baik saja. Lovi tidak membuat kesalahan apapun.


Devan membanting ponselnya di lantai. Hal itu membuat Lovi tersentak kaget. Begitupun dengan Adrian yang langsung memeluk Lovi dari samping. Ia menenggelamkan kepalanya di pinggang Lovi.


"Siapa yang dengan lancang membuka ponselku?!"


Lovi membeku di tempat. Tangannya yang tadi mengusap punggung anaknya langsung berhenti saat kata demi kata yang seharusnya Ia ucapkan sebagai jawaban malah bersarang di kepala.


"JAWAB!"


"Devan, maaf---" dari kata 'maaf' saja Devan sudah bisa memastikan siapa pelakunya. Kenyataan itu membuat amarah Devan kian tersulut.

__ADS_1


"KAMU?! IYA?! KENAPA KAMU TIDAK MEMBERI TAHUKU DENGAN CEPAT?! KENAPA KAMU HANYA DIAM SEOLAH TIDAK MENGETAHUI APAPUN? ADIKKU SEKARAT DI RUMAH SAKIT, DAN KAMU TIDAK MENGATAKAN APAPUN PADAKU!"


"Daddy, Adrian takut." suara Adrian yang sangat pelan hanya mampu di dengar oleh Lovi. Karena telinga Devan memang sudah dikuasai bisikan emosi. Tidak ada lagi sorot lembut yang selama ini Ia berikan untuk keluarga kecilnya.


"Aku akan mengatakannya tadi. Tapi--"


"KITA PULANG SEKARANG! CEPAT SIAPKAN SEMUANYA!"


Devan semakin menjadi. Kemarahan yang selama ini Ia jaga agar tidak menyakiti mereka, malam ini malah tumpah ruah tanpa tersisa.


Andrean mengerjapkan matanya. Suara Devan sangat mengganggu tidur lelapnya. Ia duduk dan menatap ketiga orang yang sedang berdiri itu.


"Dad, ada apa?"


"Cepat siapkan semuanya! kenapa kamu diam?!" Devan menatap Lovi dengan berang karena perempuan itu malah diam seperti orang bodoh. Dia tidak tahu kalau tubuh Lovi saat ini benar-benar lemas. Tatapan, kalimat, dan semua yang Devan lakukan tadi berhasil membuat Lovi terjatuh. Dan Ia bingung harus bangkit dengan cara apa.


"Ya Tuhan, Devan menyakitiku lagi. Sungguh aku tidak bermaksud untuk menutupi ini semua,"


Lovi berusaha melepas pelukan anak bungsunya namun dia malah semakin mengeratkan. Akhirnya Lovi memutuskan untuk membawa Adrian dalam gendongannya. Tidak peduli seberat apa bobot anaknya itu. Karena yang dibutuhkan Adrian saat ini adalah ketenangan. Dan hanya Lovi yang bisa memberikannya.


Devan bahkan tidak melarang Lovi menggendong Adrian. Biasanya, lelaki itu akan bicara dengan tegas pada anaknya yang memaksa ingin digendong oleh Lovi.


"Mommy, ikut!"


"Mommy ambil koper sebentar," jawabnya dengan pelan. Ia berjalan ke walk in closet dimana Ia menyimpan koper.


Devan duduk di dekat Andrean. Ia sibuk dengan ponselnya yang lain. Karena ponsel miliknya yang tadi sudah tak berbentuk. Ia mempersiapkan perjalanan mereka nanti.


Fino : Kenapa kalian pulang? tidak nyaman atau bagaimana?


Fino sangat terkejut saat Devan memintanya untuk mengantar mereka ke bandara. Mereka baru saja sampai dan sekarang harus kembali ke negara asal.


Devan : Adikku kecelakaan.


Lovi membereskan semua pakaian mereka. Beberapa helai baju yang sudah dimasukkan ke dalam lemari, Ia bawa ke kamar untuk dimasukkan ke dalam koper.


"Kita benar-benar pulang, Mom?"

__ADS_1


Lovi mengangguk pelan. Ia tersenyum dengan mata berkaca. Kesedihan belum juga sirna. Lovi terlalu kaget saat mendapati suaminya yang seperti tadi. Ia sudah terbiasa dengan sosok Devan yang lembut ketika bersamanya.


Saat air matanya jatuh, buru-buru Lovi hapus dengan jemarinya. Ia tidak boleh menunjukkan perasaan sakit ini pada anaknya. Cukup Adrian mendengar bentakan Devan.


"Dad, kenapa pulang? kita baru saja sampai,"


Devan menatap anak sulungnya dengan tajam. Ia bangkit untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih hangat.


"Jangan banyak bertanya. Cepat siap-siap!"


****


"Vanilla, jangan terlalu sering menangis,"


Rena mengusap kepala putrinya dengan lembut. Walaupun memunggungi, Tapi Ia tahu kalau Vanilla sedang menumpahkan air matanya lagi, menyesali takdir.


"Aku tidak mau buta, Ma."


"Mama juga tidak mau melihat kamu seperti ini. Kalau bisa memilih, lebih baik Mama yang mengalaminya,"


Vanilla menghela napas pelan. Ia berbalik dan tersenyum. Ini untuk pertama kalinya Ia memberi ketenangan untuk Rena melalui senyuman.


"Bagaimana keadaan Renald dan Joana?"


"Belum terlalu baik. Sama sepertimu, mereka masih membutuhkan perawatan dari pihak medis,"


Raihan membuka pintu ruang perawatan putrinya dengan pelan. Ia kira Vanilla sedang tertidur.


"Ada apa, Sayang? kamu merasa kesakitan?"


"Aku akan terus merasa kesakitan, Pa."


Kalimat itu terdengar pilu, menggambarkan perasaan Vanilla saat ini. Namun lagi-lagi Ia tersenyum. Berusaha untuk terlihat kuat setelah dua hari berkutat dengan kesedihan.


Raihan mengusap kepala putrinya dengan lembut. Ia juga menyematkan kecupan di kening Vanilla. Terselip doa saat kening itu dikecupnya.


"Aku berusaha untuk menerima semuanya. Mungkin ini adalah balasan yang diberikan oleh Tuhan untukku yang selama ini begitu jahat pada orang lain,"

__ADS_1


-------


ASSALAMUALAIKUM ONTY ONLEN NYA SI KEMBARRR. APA KABAR DGN HATI? MSH DIGANTUNGIN? DIPACARIN? ATAU UDH DIHALALIN?🤣 APAPUN ITU TETAP BERSYUKUR YAA. DAN SEMOGA KITA SEMUA SEHAT SELALU. SUPAYA BISA MENJALANI HARI TANPA HAMBATAN. JGN LUPA DUKUNGANNYA UNTK CERITA INI. TERIMA KASIH UNTK KALIAN SEMUA YG MSH SETIA KASIH KOMEN, LIKE, VOTE, DLL. AKU SYENANG DGN RESPON KALIAN.


__ADS_2