
"Aku boleh bertemu dengan Lovi?" wajah Devan tampak keberatan untuk menjawab pertanyaan laki-laki paruh baya di depannya ini.
Jam makan siang dimana seharusnya Devan beristirahat dan mengisi perutnya, Ia malah menerima tamu yang bukan merupakan rekan bisnisnya. Ketika sekretarisnya meminta persetujuan sebelum membiarkan tamunya itu masuk, Devan sudah mempersiapkan diri sebelum kembali bertemu untuk yang kedua kalinya. Dia ayah Lovi, Lucas. Nyatanya, ketika Ia bertemu dengan Lucas rasa gugup itu masih ada apalagi ketika Lucas meminta untuk bertemu dengan istrinya yang Ia ketahui langsung menunjukkan reaksi berlebih ketika membahas ayahnya.
Lucas bercerita lumayan banyak mengenai kehidupannya setelah keluar dari penjara. Termasuk penyakit yang sedang dideritanya sejak beberapa bulan lalu yaitu penyakit jantung dan juga gagal ginjal.
"Akan aku coba. Saat aku mengatakan bahwa beberapa hari lalu aku bertemu denganmu, Lovi terlihat aneh. Dia tidak ingin ada pembahasan tentangmu,"
"Terima kasih, Nak. Aku tahu kamupun membenci sikapku dulu. Sikapmu yang seperti ini membuat aku tidak menyangka bahwa Devan yang selama ini dikenal memiliki hati kejam di balik aura dinginnya ternyata tidak benar seperti itu,"
Devan tersenyum miring. Ia meletakkan pena yang sedari tadi berputar dalam jarinya lalu menatap lurus ke arah Lucas.
"Aku memang seperti itu. Apa lagi ketika ada yang menyakiti keluargaku. Aku sedikit baik padamu karena kalau kau tidak membuat Lovi masuk ke dalam rumah bordil itu, aku tidak akan bertemu dengan perempuan sebaik dia,"
*******
"Auris, jangan!" Lovi menggeleng tegas pada putrinya yang sudah bisa merangkak untuk menghampiri Adrian yang tengah sarapan di depan televisi dengan seragam lengkapnya.
"Diam! kalau disuruh Mommy diam artinya kamu harus diam! nanti kalau aku balas mengganggumu, aku lagi yang disalahkan. Padahal kamu yang memulai,"
__ADS_1
"Hey kenapa bicara seperti itu pada adikmu?"
Lovi bertanya seraya menyiapkan bekal makan siang untuk kedua putranya. Ia menoleh pada Adrian yang tidak menjawab, rupanya Adrian tengah melotot pada sang adik.
Lovi melihat reaksi anak bungsunya. Ia tidak menangis justru semakin mendekati sang kakak lalu memeluk lehernya.
"Mom, Auris malah memelukku. Bagaimana aku bisa makan?!"
"Ya Tuhan, cucu Grandma sudah tidak mau lagi dipegang-pegang adiknya,"
Rena melerai mereka berdua. Heran dengan Auristella dan Adrian yang sering bertengkar hanya karena masalah kecil yang biasanya disebabkan oleh Adrian.
Andrean kalau sudah melihat televisi pasti akan lupa dengan sekelilingnya. "Andrean, dimakan sarapannya,"
Andrean menoleh ketika Senata menegur, "Iya, Grandma." jawabnya singkat lalu memasukkan sesendok sereal ke dalam mulut dengan cepat.
"Auris sarapan juga ya?"
Rena membawa cucu bungsunya ke dalam gendongan untuk menghampiri Lovi yang sedang mempersiapkan bubur Auristella.
__ADS_1
Pagi ini mereka sarapan tanpa Devan karena lelaki itu harus segera sampai di kantor untuk memimpin jalannya rapat. Sehingga Raihan tidak ada teman untuk berbincang sebentar setelah sarapan. Raihan langsung berangkat menuju gedung perusahaannya setelah menghabiskan sarapan buatan Istrinya.
*****
"Sial! jadi kau sengaja tidak mengangkat teleponku?"
"Iya! sudah dijawab berkali-kali masih saja bertanya. Telingamu sudah rusak?"
"Ya Tuhan, padahal aku ingin tahu kabar Vanilla setelah dioperasi,"
"Dia baik, Deni. Jangan khawatir, ada suaminya yang menjaga,"
Saat Devan ingin pulang ke mansion, Deni datang. Ia menyempatkan waktu setelah bekerja hanya untuk menghampiri sahabatnya di kantor.
"Ya, sudahlah. Titipkan salam dan rinduku untuk Vanilla,"
Devan berdecih jijik. Ia menghempas tangan Deni yang singgah di dagunya dengan jahil.
"Dia tidak menerima rindu dari siapapun selain dari suaminya,"
__ADS_1
---------