My Cruel Husband

My Cruel Husband
Temu sapa


__ADS_3

Dentingan sendok memenuhi ruang makan. Semalam Devan berhasil memboyong keluarga kecil beserta baby sitter ke rumah megah yang baru dibangunnya.


Lovi dan kedua anaknya tidur sangat lelap membuat Devan bahagia. Sepertinya tempat tinggal mereka saat ini membawa kenyamanan tersendiri untuk mereka.


"Kalau aku bekerja di butik boleh?"


"Butik?"


"Ya, aku akan mendatangi rumah teman lamaku untuk meminta pekerjaan di butiknya,"


Devan menggeleng tidak setuju. Ia meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap Lovi dengan lurus.


"Kamu tidak perlu melakukan itu, Lov."


"Tapi aku ingin bekerja, Devan."


"Uang suamimu----"


"Bukan masalah uang. Aku hanya ingin mendapatkan pengalaman," Lovi memotong ucapan suaminya. Ia tahu kalau Devan akan kembali menyombongkan dirinya.


Devan meneguk air minumnya dengan pelan. Sementara Lovi menunggu harap-harap cemas jawaban suaminya.


"Devan..."


"Aku akan menyiapkan butik untukmu. Kamu akan bekerja di butik itu sebagai pemilik bukan karyawan! karena aku benci bila istriku diperintah oleh orang lain," putusnya dengan tegas. Wajahnya datar ketika Lovi ingin menjawabnya.


"Butik itu milikmu, Lov. Sehingga kamu bebas untuk menentukan jam kerjanya. Tujuanku melakukan ini karena aku tidak ingin waktumu untuk aku dan anak-anak kita menjadi berkurang,"


Lovi menunduk berusaha berpikir jernih. Devan melakukannya tanpa pikir panjang. Semudah itu membuat butik?


"Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak ingin keluarga kita menjadi kurang harmonis. Butik itu milikmu, jadi jangan pernah takut untuk meninggalkan pekerjaan demi aku, Andrean, dan Adrian,"


"Iya, aku akan..."


"Kamu milik kami. Bukan pekerjaan itu yang berkuasa atas kamu,"


"Iya, Sayang. Aku mengerti, tidak perlu diulang begitu. Kamu membuatku merinding," jawab Lovi dengan raut kesal yang menggemaskan.


Devan menyelesaikan sarapannya. Lalu memundurkan kursinya untuk segera bangkit mengecup kedua kening anaknya.


Serry menunduk hormat saat Devan memberinya perintah seperti biasa. Selalu berkaitan dengan Lovi dan kedua anak kecil itu. Ia harus menjaga ketiga orang yang sangat berarti dalam hiup Devan bersama dengan beberapa penjaga yang lain.


Lovi mengantarkan Devan sampai di basement. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher Devan lalu mengecup wajah lelaki itu.


"Hati-hati, ya. Dan terimakasih sudah mengizinkan aku untuk bekerja,"


dengan kerlingan menawannya Lovi berhasil membuat Devan tersenyum. Ia rela melakukan apapun demi hadirnya kebahagiaan Lovi seperti saat ini yang tergambar dengan jelas di wajah istrinya itu.


"Jangan lupakan semua pesanku. Mungkin besok atau lusa kamu sudah bisa bekerja,"


Lovi tidak bisa menahan pekik bahagianya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Devan akan dengan mudah memenuhi keinginannya. Ia rasa syarat dari Devan tidaklah berat untuk Ia lakukan. Lagipula semua pekerjaan itu tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Aku juga akan membuatkanmu restoran. Kamu suka makan, jadi aku anggap itu bisa dijadikan sebagai ide usaha,"


Kalimat terakhirnya membuat Lovi merajuk. Ia mendorong bahu suaminya yang kini tertawa lepas.


"Aku hanya mencairkan suasana, Sayang." ujar Devan seraya meraih pinggang Lovi yang tadi sempat menjauh. Lelaki itu mengecup kening istrinya.


"Aku berangkat, ya. Hati-hati di rumah, jangan nacam-macam dan jaga anakku!"


"Iya! mereka juga anakku. Tidak perlu kamu beri tahu, aku juga sudah mengerti tugasku sebagai Ibu,"


Lovi bersedekap dada. Devan menggeram gemas. Ia mendekatkan bibirnya ke wajah Lovi lalu meraih kulit putih mulus itu untuk digigitnya.


Lovi menghapus rasa basah di wajahnya. Ia mendorong wajah Devan yang masih melancarkan aksinya.


"Menggelikan! cepatlah kamu pergi. Jangan lama-lama bermain drama denganku,"


"Menggelikan tapi tiap malam selalu mencari ini,"


telunjuk Devan menunjuk bibirnya sendiri. Lovi tak bisa lagi menahan semburat merah di wajahnya yang memaksa untuk timbul ke permukaan. Kebiasaannya akhir-akhir ini memang selalu ingin dicium oleh Devan sampai Ia tertidur lelap. Devan kadang lelah.


Bagaimana tidak lelah? bila Ia berhenti sebentar mengecup wajah Lovi, maka istrinya itu akan bangun dan merengek layaknya anak kecil.


**********


"Aku akan mencari sayuran, Serry. Kamu bisa menjaga mereka di sana,"


Setelah menunjuk sebuah kursi berwarna perak yang bentuknya memanjang, Lovi beranjak pergi menelusuri rak-rak supermarket bersama dengan Netta.


Berbelanja kebutuhan bulanan adalah salah satu hal yang tidak pernah Ia lewatkan. Seperti biasa, Lovi akan membawa serta Serry dan Netta untuk ikut dengannya. Selain untuk membantu Ia dalam membawa segala belanjaan, Lovi rasa mereka juga perlu keluar sejenak dari rumah, melihat-lihat lingkungan di luar agar tidak jenuh bekerja.


"Netta, tinggi badanku benar-benar memalukan," keluhan Lovi membuat Netta tertawa. Mengerti akan ucapan yang keluar dari mulut Lovi, Netta langsung mengangkat tangannya untuk meraih sayuran hijau brokoli kesukaan Andrean.


"Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu tidak ikut. Siapa yang menjadi penyambung tangan pendekku ini?"


Netta menggeleng pelan dengan tawa yang masih terdengar. Kelakar Lovi terasa menggelitik perutnya.


"Jangan lupa membeli wortel, Nona. Kesukaan Si bungsu jangan sampai dilupakan,"


Lovi menjentikkan jarinya seraya mengangguk. Sedari tadi otaknya sudah berpikir apa lagi yang kira-kira masih belum Ia ambil.


"Adrian suka wortel baru-baru ini. Jadi aku belum terlalu ingat,"


Netta membenarkan. Pada saat bayi, anak bungsu itu bahkan sangat membenci sayuran berwarna oranye tersebut. Bila Lovi memberikannya wortel, maka Adrian tidak segan untuk mengeluarkannya dari mulut. Dalam hal makanan, anak itu lebih pemilih dibandingkan dengan kakaknya.


Lovi memastikan isi troli. Ia yakin kalau semuanya sudah Ia ambil. Dan sekarang Lovi berjalan ke arah kasir untuk membayarnya.


Kasit tersenyum menyambut black card dari tangan Lovi. Melihat penampilan sederhana perempuan di hadapannya, kasir tersebut tidak menyangka kalau di dalam dompet Lovi terdapat kartu yang hanya dimiliki oleh orang-orang super kaya.


***********


"Kalian mau yang mana?"

__ADS_1


Lovi menunduk untuk menatap kedua anaknya di dalam stroller. Saat ini mereka sedang berada di depan sebuah lemari kaca toko donat yang tak jauh dari supermarket tempat mereka berbelanja tadi.


"Matcha, Mommy."


"Ad mau coklat,"


Walaupun mereka mengatakannya belum terlalu jelas, tapi Lovi mengerti. Ia langsung memesan donat pada pelayan sesuai keinginan anak-anaknya.


Setelah memberi tahu pesanannya untuk di makan di tempat, dan juga untuk dibawa pulang ke rumah, Lovi kembali membawa mereka untuk duduk di salah satu sudut toko. Lovi memilih tempat yang tidak terlalu panas agar kedua anaknya nyaman. Hari yang mulai beranjak siang, menjadikan teriknya matahari sangat menyengat. Kedua anak lelaki itu akan merengek saat sinar matahari menusuk mata mereka.


"Tunggu sebentar ya Serry dan Netta. Pesananan kita sedang di siapkan," ucapnya ketika duduk di sebelah Netta. Sementara Serry langsung mendekat pada kedua anak Lovi.


"Ya, Nona." Netta menjawabnya.


Beberapa menit mereka lewati dalam diam. Sampai akhirnya beberapa piring kecil dan kotak besar berisi donat untuk pekerja lain di rumah pun tiba di meja mereka.


"Silakan, Nona."


"Lovi?"


"Hm?"


Lovi langsung menoleh terkejut saat pelayan lelaki itu memanggilnya. Ia mengerinyit dalam.


"Hm maaf, Nona. Aku pikir, anda adalah temanku dulu,"


Lovi masih diam tidak mengerti. Sampai akhirnya lelaki itu kembali berkata,


"Anda mirip dengan temanku yang bernama Lovi,"


"Namaku Lovi. Tapi aku tidak merasa memiliki teman seperti kamu,"


Mereka saling menatap. Pelayan tersebut tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Nona, sepertinya kalian hanya mirip. Sekali lagi maaf telah membuatmu kurang nyaman,"


"Tidak masalah. Tapi aku langsung berpikir tentang ucapanmu sambil mengingat-ingat masa laluku lagi,"


Lovi mengatakannya dengan tawa kecil yang terdengar sangat akrab. Ia seperti sudah mengenal lama pelayan lelaki itu. Netta dan Sery menatap interaksi mereka aneh.


"Temanku menghilang sudah lama, Nona. Tidak mungkin kalau dia adalah anda,"


"Mungkin saja. Tapi jujur aku tidak ingat akan hal itu. Kalau memang benar, aku senang bisa bertemu dengan temanku,"


"Namaku Fifdy. Mungkin dengan mengetahui namaku, bisa membantu Anda dalam mengingat pertemanan kita. Aku berharap kalau temanku benar-benar telah kembali,"


Tangan mereka saling terjalin. Lelaki itu benar-benar memperkenalkan dirinya dengan senyum hangat. Ia merasa bahagia bisa bertemu dengan seorang perempuan berkelas tinggi yang sangat ramah dan mirip dengan teman lamanya. Semoga saja perempuan yang baru saja menjauhkan tangannya itu benar-benar Lovita, teman semasa remajanya yang tiba-tiba menghilang setelah kehancuran keluarganya.


"Sikap kalian sangat mirip. Membuat aku berharap kalau Anda memang teman lamaku,"


*********

__ADS_1


Mon maap typonya yak. Udh di revisi tp pasti ada aj yg kelewat sm mata eike yg warbiasyah ini wkwkwk. Malumin up nya lama, udh gt tengah mlm lg🤣🤣 krn br mood gengs. Jgn lupa tinggalkan jejak yaaaa!


__ADS_2