My Cruel Husband

My Cruel Husband
Penutup


__ADS_3

Lovi dan Devan sudah semaksimal mungkin menjaga anak-anaknya namun masih saja ada orang yang berniat jahat pada mereka. Tidak bisa lengah sedikit, ada saja orang yang ingin membuat Devan sebagai incaran mengalami penyiksaan batin ketika anaknya diculik.


"BAGAIMANA BISA RUMAH SAKIT INI MEMILIKI PENJAGAAN YANG TIDAK BENAR?!" Devan masih bisa membentak pihak rumah sakit disela pencariannya di sekitar rumah sakit.


Devan dan Lovi tidur di samping Auristella dengan posisi duduk. Lalu tengah malam Lovi pindah ke sofa bed karena merasa badannya pegal.


Setelah itu pagi-pagi sekali Devan seperti dibangunkan oleh sebuah mimpi buruk, begitu Ia menoleh, Auristella tidak ada di sampingnya. Anak berusia satu tahun itu tidak berbaring di bangsalnya.


"Aku ikut, aku ikut, Devan. Aku mohon,"


Lovi sudah menangis saat Ia tidak menemukan anaknya di bangsal. Sementara Devan berusaha tenang meskipun ke khawatiran sudah nampak jelas di wajah nya bahkan deru napas nya saja tidak menentu.


Lovi menahan suaminya yang akan pergi mencari Auristella usai memastikan Auristella benar-benar tidak berada di sekitar rumah sakit Itu.


"Jangan, Lov. Biar aku saja,"


Devan tahu pencariannya nanti akan berujung peristiwa berdarah karena demi apapun Ia akan membunuh siapapun yang telah bermain dengannya menggunakan Auristella sebagai senjata untuk menghancurkannya.


"AKU IKUT MENCARI AURIS! AKU IKUT!" Lovi berteriak.


"Tuan, pasien tidak ada. Tapi pihak rumah sakit sudah---"


"Sialan! diam kalian!" terlalu emosi, Devan memarahi salah seorang perawat yang membantu mencari.


Tidak cukup memarahi pihak rumah sakit, sebelumnya pengawal Devan sudah dibentak habis-habisan dan sekarang mereka masih melakukan pencarian.


Semua makian keluar dari bibir Devan untuk mereka yang dianggap lalai dalam menjaga Auristella. Bahkan Devan tidak segan untuk menyalahkan dirinya sendiri.


Devan dan Lovi angkat kaki dari rumah sakit. Di dalam mobil, Devan mendapat kabar dari anak buah nya mengenai kemungkinan Auristella berada di sebuah tempat.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal sementara Lovi sudah tidak peduli lagi dengan rasa takutnya. Lama-lama mobil Devan melipir ke arah hutan, yang menyingkir dari keramaian kota.


Begitu mobilnya masuk ke dalam sana, Lovi dan Devan menatap waspada dan tak habis pikir. Bagaimana mungkin Auristella dibawa ke tempat yang kondisinya seperti ini. Sepi dengan penerangan yang kurang.


Devan menghentikan mobilnya jauh dari tempat yang menjadi target. Di sana anak buahnya sudah menunggu untuk melakukan penyergapan sesuai perintah Devan tadi, mereka semua harus menunggu Devan. Devan tidak ingin mereka gegabah salah mengambil langkah lalu putrinya menjadi korban.


"Kamu tunggu di sini ya. Nanti saat aku berhasil mengambil Auris, aku akan serahkan Auris padamu dan kalian bisa pergi,"


"Lalu kamu?"


Melihat kecemasan di mata berair Lovi, Devan tersenyum menenangkan. Ia menghapus jejak kristal di wajah cantik istrinya. Lalu mengusap pelan kepala Lovi.


"Tidak usah pikirkan aku. Yang terpenting adalah kalian berdua,"


"Devan---"


"Tidak ada waktu, Lov. Aku keluar ya,"


"Tapi aku ingin ikut masuk ke dalam,"


"Untuk apa? justru dengan adanya kamu, aku kurang bebas bergerak untuk membantai mereka satu persatu,"


"Devan..." cicit Lovi ketakutan mendengar geraman suaminya. Tapi itu memang pantas didapatkan oleh penculik Auristella karena apa yang dia lakukan sudah termasuk tindakan kriminal dan melibatkan seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.


Devan keluar dari mobil setelah memastikan mobil yang ditempati Lovi berada di tempat yang aman. Kemudian dia dan anak buah nya mulai berjalan menuju sebuah rumah tua dan kecil.


Mereka berpencar untuk mengepung. Dan Devan mulai menyelinap masuk ke dalam. Di sebuah kursi kayu yang bergoyang, Ia melihat seorang perempuan tua yang penampilannya sangat berantakan layaknya orang gila dan seorang laki-laki yang posisinya membelakangi Devan. Devan memaki karena belum bisa melihat wajah lelaki itu.


Yang membuat hati Devan semakin panas adalah, Auristella berada di dalam gendongan perempuan itu.


"Astaga, dari penampilannya tidak meyakinkan sekali kalau dia pantas untuk menggendong anakku," batin Devan marah, di satu sisi Ia khawatir. Kalau benar dia adalah perempuan gila, lalu bagaimana nasib anaknya?


Apa maksud dia menggendong Auristella? apakah Auristella akan tinggal di sana bersamanya sehingga Auristella diculik?


Binar kecil dari mata Devan berhasil dilihat oleh perempuan itu. Ia berseru seraya menunjuk hingga lelaki yang belum diketahui oleh Devan rupanya, menoleh.


"Sialan! Devan!"


"Arnold, brengsek!"


Arnold langsung mengambil senjata yang dia tinggalkan di sebuah meja yang ada di sudut ruangan. Sebelum Arnold berhasil mengambil nya, Devan sudah menembak kaki Arnold hingga mantan sahabatnya itu terjatuh tak berdaya di lantai. Devan melakukan nya berkali-kali hingga Arnold berteriak kesakitan.


"AARGHHH SIALAN! HENTIKAN BODOH!"


"Ini yang aku tunggu-tunggu. Kita bertemu dan aku berhasil membuat mu kesakitan. Sebentar lagi kau akan mati,"


Dorr


Dorr


Dorr


Perempuan yang menggendong Auristella kalang kabut. Auristella menangis dalam dekapannya karena mendengar suara tembakan yang menyeramkan.

__ADS_1


"Bila sedang melakukan kejahatan, simpan senjata di dalam sakumu, Bodoh!" ejek Devan pada Arnold yang bodoh karena melepaskan senjata dari tangannya dan meletakkan itu di meja.


Dorr


Dorr


Dorr


Arnold sudah menutup matanya. Tidak ada lagi gerak dari dada nya yang menandakan bahwa dia sudah tidak lagi bernapas.


Devan terbahak keras namun siapapun yang mendengarnya pasti akan merinding. Devan beralih pada perempuan yang akan kabur dengan Auristella dalam gendongan.


"KEMBALIKAN ANAKKU!"


"TIDAK! INI CUCUKU,"


Napas Devan memburu. Dari kalimatnya, Devan bisa menilai. Rupanya benar perempuan itu memiliki gangguan mental. Dia mengatakan bahwa Auristella cucunya.


Anak buah Devan masuk di waktu yang tepat, lalu berusaha merebut Auristella dan perempuan itu adalah urusan Devan. Devan harus mematikan semua kuman yang telah mengganggu keluarganya.


"Arnold sudah mati. Kau harus menyusulnya karena kau sudah terlibat dalam kejahatannya,"


Perempuan itu mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya. Ia mengancam pengawal Devan yang akan merebut Auristella.


"Sebelum kalian mengambil cucuku, akan aku bunuh dulu dia,"


Devan ingin berteriak sekencang mungkin saat ini. Pisau itu dekat sekali dengan leher Auristella. Demi apapun, dada Devan berdentum tidak karuan. Kakinya bahkan gemetar, tak bisa dibayangkan bila perempuan itu bergerak sedikit, tajamnya mata pisau bisa membunuh putri nya.


Saat perempuan itu menatap tajam anak buah Devan dengan pisau yang masih berada di atas leher Auristella, Devan melangkah pelan kemudian meraih Auristella dalam gendongannya seraya melempar pisau itu jauh-jauh. Berhasil! Auristella sudah di tangannya. Dan Ia menembak perempuan itu tepat di kepalanya.


Auristella semakin menangis histeris. Biarpun Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi Ia tahu bahwa dirinya sedang dalam bahaya, begitu pun dengan Daddy nya.


BUGH


Perempuan itu terjatuh ke lantai yang terbuat dari kayu. Melihat dua orang tumbang karenanya, Devan tersenyum miring.


Dia yang dulu kembali lagi. Devan si My cruel husband nya Lovi tidak akan segan-segan membunuh bila ada yang mengganggu keluarganya. Sudah lama tangannya tidak menyebabkan peristiwa berdarah. Sekarang, Ia kembali melakukannya ketika Arnold, yang menjadi incarannya sejak lama berada di depan matanya. Ia membunuh sebagai bentuk pelajaran karena Arnold sudah berani mengganggu jiwa raganya yaitu Lovi dan ketiga anaknya.


"Tuan pergi dari sini! biar kami yang membereskan semuanya,"


BRAKK


BRAKK


"Kalian pikir semudah itu keluar dari sini?!"


"Masih ingat aku, Devan?"


"Gana,"


"Ya, aku Gana. Pemilik perusahaan senjata api dan obat-obatan terlarang yang pernah kau tolak ketika mengajukan kerja sama. Saat itu perusahaanku masih kecil dan aku benar-benar tersinggung atas penolakan itu,"


Rahang Devan mengeras. Mata tajamnya menghunus Gana yang kini tertawa kencang. Semua anak buah Devan akan menghajar Gana namun Devan melarang.


"Urusanmu denganku. Biarkan anakku keluar dari sini,"


Devan menyerahkan Auristella pada salah satu anak buahnya. Kemudian menyuruh mereka pergi.


"Anak itu menjadi bagian dari dirimu. Seharusnya dia dibuat mati juga seperti kau yang akan kubuat mati sekarang juga,"


"KALIAN PERGI DARI SINI SEKARANG!" Devan memberi titah pada anak buahnya agar berlari keluar karena rupanya Gana sama jahatnya dengan Arnold. Ia kira hanya dirinya yang akan mendapat serangan dari Gana. Ternyata tidak, Auristella juga menjadi incaran Gana.


Gana mengeluarkan senjata api dari saku celananya dan melumpuhkan kaki laki-laki yang membawa Auristella. Namun beruntungnya Auristella bisa diraih oleh anak buah Devan yang lainnya. Saat akan melumpuhkan orang kedua yang menggendong Auristella, Devan segera menghajar wajah Gana hingga Gana terjatuh dan senjata api nya terpelanting.


Auristella berhasil dibawa keluar. Dan ternyata di luar sana sudah banyak anak buah Gana yang berjaga dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang siapapun yang keluar dari rumah itu dalam keadaan selamat.


Mereka semua saling menyerang. Pihak Devan tidak ada yang ingin kalah. Banyak yang tumbang karena saling memukul satu sama lain.


Saat lelaki yang menggendong Auristella akan menyelamatkan dirinya dan Auristella, kepala yang membawahi anak buah Gana mengacungkan senjata pada nya. Dengan kencang, Ia menendang senjata yang mengarah padanya itu sebelum peluru sempat dilepaskan.


Lovi mendekati mereka yang sedang bertengkar hebat. Di tangannya ada sebilah kayu memanjang yang lumayan besar, entah darimana Lovi mendapatkan itu.


Selama di dalam mobil tadi, Ia merasa tidak tenang membiarkan suaminya berjuang bersama para anak buahnya untuk menyelamatkan Auristella sementara dirinya sebagai Ibu dari Auristella diam saja.


Lovi memukul kepala lelaki yang telah berani mengacungkan senjata api pada anaknya. Dia sudah terkapar kesakitan di jalanan akibat tendangan anak buah Devan tadi dan Lovi semakin menambah kesakitan nya tatkala Lovi memukul kepalanya menggunakan kayu.


Kemudian Lovi memukul rata kepala mereka semua yang masih berdiri kokoh membelakanginya dan menyerang anak buah suaminya. Lovi akan menyakiti siapapun yang telah menghalangi langkahnya untuk menyelamatkan sang putri.


"Benar-benar jahat kalian! anakku tidak salah apa-apa, kalian malah berniat untuk menyakitinya,"


"Terima kasih, Nona." ujar anak buah Devan pada Lovi yang telah membantu mereka untuk menyerang lawan dari belakang.


Auristella sudah dibawa masuk ke dalam mobil oleh lelaki tadi. Dan Lovi segera menyusul.

__ADS_1


"Nona cepat keluar dari hutan ini,"


"Lalu bagaimana dengan Devan--"


"Tuan baik-baik saja, Nona. Aku mohon kalian keluar dari sini sekarang juga!"


Menjaga Lovi, Andrean, dan Adrian adalah tanggung jawab yang sudah ditanamkan Devan ketika melatih anak buahnya. Apapun yang terjadi, mereka haruslah selamat tanpa luka sedikitpun.


Lovi mengangguk dan segera mengendarai mobil suaminya keluar dari hutan bersama Auristella yang sudah tenang. Sedari tadi Ia menangis karena dibawa berlari agar Ia selamat. Kondisinya masih sakit dan anak itu sudah diajak untuk bertengkar juga. Hentakan demi hentakan yang dia rasakan selama berpindah-pindah gendongan, membuat kepala Auristella pening.


"Kau harus mati Devan!"


Devan menggeleng. Tubuh kokohnya menindih Gana yang baru saja berdesis seperti itu disela kesakitannya akibat serangan Devan yang bertubi-tubi.


"Aku bekerja sama dengan Arnold untuk membalaskan dendam,"


"Kalian benar-benar brengsek. Arnold sudah berhasil mati di tanganku. Kau harus menyusulnya ke neraka!"


BUGH


BUGH


"MATI KAU!"


Devan menarik kerah baju Gana untuk bangkit. Kemudian menyuruh Gana untuk melawan. Tapi tidak bisa, Gana tak mampu lagi melawan bahkan berdiri saja sulit sekali.


"CEPAT LAWAN AKU! KAU INGIN MEMBUNUHKU 'KAN?! CEPAT LAKUKAN!"


Devan tersenyum miring. Setelah mengatakan itu, Ia melihat mata Gana tertutup dan tarikan napasnya sudah tidak terasa lagi.


Devan bangkit dan menepuk-nepuk tangannya, membersihkan jejak kuman yang telah berhasil Ia basmi.


*****


Devan tiba di rumah dengan perasaan lega liar biasa. Ia segera mencari anak dan istrinya yang telah pulang lebih dulu.


"Devan...."


"Ya, Sayang."


"Syukurlah kamu tidak apa,"


Lovi memeluk suaminya sementara Auristella sudah terlelap setelah ditangani oleh dokter dan seorang perawat. Begitu sampai di rumah tadi, Lovi langsung menghubungi rumah sakit dimana Auristella mendapat perawatan sebelumnya.


"Aku ingin Auris dirawat di rumah saja. Aku masih trauma dia kembali ke rumah sakit,"


"Saya dan juga seorang perawat akan membantu merawat Nona Auris di rumah," ujar dokter yang menangani Auristella.


"Terima kasih,"


Lovi membawa Devan masuk ke kamar agar Ia bisa segera mengobati luka-luka Devan dan Devan bisa melihat putrinya yang sedang terlelap dengan tenang.


Devan mendapatkan luka itu dari Gana. Arnold tidak sempat menyakitinya karena Ia langsung melepaskan peluru.


Devan mengecup kening anaknya sebentar sebelum tangannya ditarik oleh Lovi untuk duduk di sofa. Lovi sudah mengambil kotak obat.


Ia mulai mengobati suaminya yang terluka cukup parah karena menyelamatkan putri mereka. Tidak perlu diragukan sebesar apa cinta Devan untuk ketiga anaknya. Tidak peduli Ia akan mati, yang terpenting anaknya bisa keluar dari rumah tua itu dengan keadaan selamat.


"Pelan-pelan, Lov."


"Iya, maaf-maaf. Sakit sekali ya?"


"Tidak,"


Tidak seberapa sakit dibandingkan dengan melihat pemandangan anaknya digendong oleh perempuan gila dan hampir dibunuh dengan pisau.


Devan menatap anaknya yang terlelap dengan damai. Tak lama pintu kamar terbuka. Andrean dan Adrian masuk ke dalam.


Mereka segera menghampiri Devan dan memberi pelukan hangat sebagai obat untuk Devan yang mereka yakini tengah kesakitan.


Mereka sudah tahu dari Lovi tentang apa yang baru saja terjadi sehingga tanpa perlu bertanya langsung pada Devan kenapa Devan bisa terluka, mereka sudah tahu jawabannya.


"Terima kasih, Dad. Selalu memberikan yang terbaik untuk kami," ujar Andrean dengan pelan. Kalimat sederhana itu membuat bibir Devan terangkat.


"Daddy terbaik!" ucap Adrian seraya mengecup kening Devan dan kedua pipi Devan bergantian.


"Terima kasih juga sudah hadir di hidup Daddy,"


Devan memeluk orang-orang yang telah membuat hidupnya lebih berwarna, tidak lagi hanya hitam seperti di masa lalu.


Tanpa Lovi, Andrean, Adrian, dan Auristella, Devan tidaklah utuh karena mereka adalah separuh dari Devan. Bersama mereka, Devan merasa hidupnya sudah lengkap tanpa kekurangan apapun.


~END~

__ADS_1


MCH udh end guysss. Terimakasih untuk kalian semua yg masih setia membaca dan juga memberi dukungan. Kalian luar biasa👏


Jgn bosan untuk nikmati karyaku yg lainnya yaaa. Sekali lagi terimakasih semuanyaaa🙏 Ku sayang kalian🤗💙


__ADS_2