
Waktu berjalan begitu cepat. Ketiga malaikat kecil Devan yang dulu belum mengerti apapun selain bermain, mencari kesenangan sendiri, kini sudah tumbuh menjadi anak yang begitu berkualitas. Mulai dari rupa hingga prestasi yang diraih.
Adrian dan Andrean sudah menjadi mahasiswa di sebuah universitas. Sementara adik mereka, Auristella merupakan salah seorang siswa secondary school.
Selain berkuliah, Adrian merupakan seorang selebriti yang sudah meniti karir sejak sekolah menengah atas. Walaupun terbilang baru, namun sudah banyak penghargaan yang diraihnya. Adrian yang dulu gemar meledek adiknya, mengerjai orang hingga membuat siapa saja yang mengenalnya secara sekilas merasa benci padanya, kini bisa membuktikan bahwa dia bisa berprestasi, tidak kalah dengan kakaknya. Anak-anak Devan dan Lovi berlomba mencetak prestasi dalam bidang nya masing-masing.
Adik keduanya menjadi selebriti terkenal yang memiliki bakat akting juga menyanyi, Andrean meniti karir sebagai pencetus sebuah aplikasi berbasis online untuk belajar. Selain itu, Ia juga memiliki sebuah management keartisan dimana management itulah yang menjadi wadah untuk Adrian serta beberapa artis lain.
Auristella juga mulai mengikuti jejak kakak keduanya. Hobinya bermain piano dan gitar Ia abadikan di sosial media. Parasnya yang begitu cantik menambah kekaguman orang lain terhadapnya. Auristella dikenal orang setelah Ia gemar memposting kepiawaian nya dalam bermain alat musik. Selain karena bakat, rupa nya pun mendukung hingga tidak sedikit orang yang menjadikan siswa kelas akhir sekolah menengah itu sebagai idola.
"Jemput aku ya!"
"Ada driver,"
Tut
Tut
Tut
Auristella berdecak kesal saat teleponnya dimatikan oleh Adrian. Ia mencoba sekali lagi, tidak ingin menyerah.
"Apa lagi sih, Auris?"
"Jemput aku, Yan!"
"Kamu selalu minta aku untuk menjemputmu. Coba minta Andrean sekali-sekali,"
"Tidak mau! aku segan. Andrean sibuk juga,"
"Cih! kalau dengan aku tidak segan begitu? aku juga sibuk, setelah ini ada callingan untuk syuting,"
"Tidak usah banyak bicara! cepat jemput!"
Kali ini Auristella yang memutus panggilan secara sepihak. Ia memang gemar sekali membuat kakak keduanya kesal.
"Ean, jemput aku ya."
"Hmm okay,"
Kalau dengan Andrean, sesingkat itu komunikasi mereka. Makanya Auristella malas kalau minta dijemput oleh kakak sulungnya. Ia suka perdebatan dan Adrian adalah rekan debat nya sejak kecil hingga sekarang.
*****
"Mau kemana, Sayang?"
"Jemput Tuan putri,"
"Auris sudah selesai les piano?"
"Berarti sudah. Dia minta tolong aku untuk menjemputnya. Aku pergi ya, Mom. Bye..."
Adrian yang sebenarnya masih mengantuk harus segera bergegas menjemput adik kecilnya. Meskipun Ia baru pulang syuting dan nanti ada syuting lagi, tapi kalau Auristella sudah meminta, Ia tak kuasa menolak.
Adrian mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Ia baru saja merealese single dan saat Ini sedang gemar-gemarnya menyetel lagu sendiri di dalam mobil, itu merupakan salah satu bentuk dukungan untuk diri sendiri. Pekan ini Adrian sibuk perform dari satu panggung ke panggung yang lain untuk memperkenalkan karyanya.
*****
__ADS_1
"Ayo, kita pulang."
Auristella malah berdiri di depan gerbang tempat les piano nya, Ia menatap kakak sulungnya dengan ragu.
"Ean, hmmm...."
"Kenapa diam? ayolah masuk mobil. Kamu meminta aku untuk menjemputmu tadi,"
Auristella bimbang. Tadi dia juga meminta dijemput oleh Adrian. Lalu kalau Adrian datang dan dia sudah pulang bagaimana?
"Ah sudahlah. Paling Yan hanya marah sebentar," batinnya lantas berjalan mengikuti kakak sulungnya masuk ke dalam mobil.
Tidak berselang lama dari hengkangnya mobil Andrean, Adrian tiba di tempat les piano adiknya.
Ia segera keluar dari mobil lalu menjelajahi sekitar dengan matanya yang bulat. Alisnya bertaut saat tidak melihat Auristella di tempat biasa bila Ia menunggu.
Lelaki itu meraih ponsel pintarnya di dalam saku lalu menghubungi Auristella dan Andrean yang sedang singgah disebuah restoran untuk makan siang atas permintaan Auristella sendiri.
"Kamu dimana? aku sudah sampai di sini,"
"Aku sudah pulang bersama Andrean,"
"Astaga, Auris! aku rela-rela bangun dari tidur untuk menjemput kamu, kamu malah mengerjaiku,"
"Aku kira kamu tidak datang. Seharusnya kamu tidak usah datang saja supaya---"
"Nanti kalau aku tidak datang kamu marah-marah. Ck!"
Adrian menggeram pelan lalu memasuki mobilnya lagi dengan perasaan jengkel luar biasa. Seharusnya dia masih istirahat sebelum syuting tapi karena adiknya, dia terpaksa bangun.
******
"Oh, hai."
Seorang gadis yang merupakan teman semasa Andrean bersekolah di senior high school tampak menyapa kakak beradik itu. Rupanya cantik sekali. Saat masih sekolah, Andrean dan gadis itu hanya sebatas tahu nama saja, mereka bukan teman dekat.
Tapi Andrean terkejut ketika gadis itu menyapanya dengan hangat layaknya bersahabat. "Boleh aku duduk di sini?" tanya gadis itu.
"Boleh, silahkan."
"Sudah hampir dua tahun kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik,"
"Oh, ini kekasihmu?"
Auristella melirik ketika dirinya ditunjuk. "Bukan lah, aku adik nya. Kenapa?"
Respon Auristella setiap kakak-kakaknya didekati perempuan memanglah seketus itu. Ia seakan belum siap bila kedua kakaknya memiliki kekasih. Nanti perhatian mereka kepadanya jadi terbagi.
"Masa iya anak sekolah punya hubungan dengan lelaki dewasa?" cibir Auristella yang sepertinya kurang tahu dunia luar.
"Kamu mungkin tidak tahu kalau di zaman sekarang ini tidak sedikit anak sekolah menjalin hubungan dengan orang yang lebih dewasa yang dianggap mapan,"
"Tapi aku adiknya!"
"Auris..." tatapan Andrean menghunus Auristella yang baru menyahuti dengan sinis. Lagi-lagi Ia harus memberi pengertian bahwa tidak seharusnya para perempuan ditanggapi dengan sinis begitu oleh Auristella bila dekat dengan dirinya.
__ADS_1
"Boleh aku minta nomor ponselmu? biar---"
"Kamu itu sebenarnya siapa sih? nomor ponsel kakak ku itu hanya untuk---"
"Boleh, sebentar."
Auristella melotot saat Andrean mengambil ponsel nya di atas meja. Mereka saling bertukar nomor telepon. Hanya untuk berteman apa salahnya? lagipula Andrean belum ada niat untuk memiliki kekasih. Membayangkan sulitnya mengambil hati Sang adik saja Ia sudah malas mencari perempuan untuk menjadi pendamping hidupnya.
*****
"Kamu tidak boleh seperti itu, Auris. Andrean dan Adrina sudah dewasa. Biarkan mereka dekat dengan perempuan. Yang tidak boleh memiliki kekasih itu kamu karena kamu masih sekolah,"
"Pokoknya tidak boleh! aku tidak mau mereka berdua lupa dengan aku,"
"Tidak ada ceritanya kakak lupa dengan adik setelah punya kekasih, Sayang."
Lelaki beranak tiga yang usianya tidak lagi muda menatap putrinya dengan lembut. Ia paham dengan alasan kenapa Auristella begitu posesif terhadap kedua kakaknya yang tampan dan mapan itu.
"Ada, teman-teman ku banyak yang mengalami itu. Setelah kakak mereka punya kekasih, jadi tidak acuh pada mereka,"
"Tapi Daddy yakin kedua kakakmu tidak begitu,"
Ketiga anak Devan dan Lovi terbiasa menjadi anak yang terbuka pada orangtua. Tidak ada yang boleh ditutupi, begitulah didikan yang diterapkan oleh Lovi dan Devan sebagai orangtua mereka. Sehingga ketika tadi bertemu dengan seorang perempuan di restoran dan berusaha untuk mendekati kakak nya, pasti akan disampaikan juga oleh Auristella.
"Aku tidak siap kalau Andrean dan Adrian punya kekasih. Aku takut mereka tidak memanjakan aku lagi," raut sedih begitu jelas tergambar di wajah anak bungsu Devan dan Lovi.
"AURIS KAMU BENAR-BENAR YA!"
Adrian datang-datang menarik telinga adiknya . Tidak kencang, hanya sebagai pelampiasan rasa kesalnya saja.
"Adrian jangan begitu pada adikmu. Kasihan Auris,"
"Mom, lebih kasihan aku. Aku sedang tidur lalu dia menelpon minta dijemput. Setelah aku jemput, dia sudah pulang."
Adrian menatap adiknya dengan tajam. Mata nya seperti ingin keluar dari tempatnya. Di tengah rasa lelahnya, Auristella mencari masalah dengannya.
"Niat sekali kamu mengerjai aku ya?!"
Gigi Adrian bergemelutuk kesal. Ingin memakan adiknya hidup-hidup tapi tidak mungkin.
"Ternyata kamu masih peduli sama aku ya. Sedang tidur setelah syuting tetap rela bangun dan menjemput aku,"
"Dari dulu dan sampai kapanpun aku akan tetap peduli padamu, Auris! jangan buat aku kesal ya! memang selama ini aku pernah menghiraukan kamu?!"
"Pernah,"
Mata Adrian melotot semakin tajam. Seingatnya tidak pernah. Ia selalu mencurahkan perhatian dan kasih sayang untuk adik dan orangtuanya meskipun Ia memiliki jam terbang yang tinggi sebagai artis.
"Waktu kamu pergi berdua dengan Adrina, kamu menghiraukan aku. Pesanku tidak dibalas, teleponku tidak dijawab,"
"Oh kamu pernah seperti itu pada adikmu?"
Adrian tergagap saat Mommy nya menyoroti sikap yang pernah Ia lakukan terhadap Auristella ketika pergi bersama Adrina.
"Ti--ti--tidak, Mom. Auris berbohong. Aku tidak menghiraukan. Mungkin pada saat itu aku tidak pegang ponsel jadi tidak tahu kalau Auris mengirimkan pesan dan menelpon aku,"
"Kamu dan Adrina terlalu asik jalan berdua. Makanya aku tidak mau kamu dan Andrean punya kekasih. Pasti kejadian itu akan terulang pagi,"
__ADS_1
Ini ex part nyaaa. Si kembar udh kuliah+kerja. Dan Auris udh kelas akhir SMP. Ada yg sama kek Adrina pocecip nya sama abang?