
Pulang dari kantor, Raihan menjemput sang istri di rumah Devan. Sudah menjadi kebiasaannya bila Rena mengunjungi kedua cucunya. Sebelum kembali ke mansion, biasanya mereka makan malam terlebih dahulu di luar. Menikmati waktu berdua di usia yang sudah senja ini.
Raihan membawa parsel buah karena Rena memberitahunya kalau Devan sakit. Baru sehari bekerja, sudah tumbang saja dia. Kenapa Devan malah lemah seperti ini? Sewaktu berpisah dari Lovi, Ia bahkan bekerja tanpa kenal lelah.
"Dimana anak payah itu?" Tanya Raihan setelah Rena meraih parsel dari tangannya.
"Belum keluar dari kamar sejak Mama datang,"
"Lagi bermesraan dia? Ck, tubuhnya sakit tapi otaknya selalu dipenuhi cinta,"
Rena menggeleng pelan mendengar cibiran suaminya. Untuk apa juga Raihan berbicara padanya? Kan bukan dia yang sedang dimabuk cinta. Orang yang dimaksud kini tampak menuruni tangga dengan Adrian dalam gendongan.
"Tidak biasanya kalian datang ke sini tiba-tiba,"
"Mama hampir tiap hari ke sini," sanggah Rena yang mengundang tawa Devan.
Lovi menyiapkan sajian untuk kedua mertuanya. Ia tidak tahu kalau Rena sudah datang sejak tadi. Lovi selalu berada di samping Devan. Selain tidak tega melihat lelaki itu kesakitan, Ia juga khawatir Adrian mengulangi kesalahannya tadi.
"Aunty Vanilla dimana? Tidak ikut?"
Adrian berontak ingin turun dari gendongan Devan. Setelah itu Ia berlari mendekati kakeknya yang sedang melepas jas.
"Grandpa tidak bawa es krim?"
Devan berdecak mendengar ucapan anaknya. Apa kurang es krim yang sudah dimakannya kemarin? Sampai-sampai Devan dimarahi Lovi karena membelinya terlalu banyak tidak memikirkan kesehatan anak katanya. Padahal Devan hanya ingin membuat anaknya tersenyum dan merubah kata-kata Adrian menjadi 'Daddy baik'
__ADS_1
"Ini sudah malam, sayang,"
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Rena menahan tawa saat cucunya tiba-tiba saja terbatuk. Ia pikir Adrian hanya bercanda. Tapi batuknya tak kunjung reda.
Lovi datang dari dapur membawa segelas kopi yang biasa disukai Raihan dan susu hangat. Padahal Rena sudah meminum susu yang dibuatkan Netta tadi.
"Sudah batuk begitu masih minta es krim?" Lovi mencibir. Setelah menyajikan itu, Ia naik ke lantai atas untuk mengambil obat batuk anaknya. Kalau seperti ini, Lovi yang khawatir. Biasanya kalau sudah sakit, mereka pasti tidak nyaman dalam tidur. Meracau tidak jelas, berkeringat dingin, dan mengeluh nyeri kepala.
"Habis ini Daddy lagi yang kena sembur Mommy,"
"Bagaimana kondisimu? Bisa sakit juga, heh?"
"Bisa lah, Pa. Aku juga manusia,"
Raihan tergelak. Ia menepuk sisi kosong di sebelahnya. Ingin berbincang mengenai perusahaan, tapi Devan sedang sakit.
"Pa, setelah aku sembuh, aku akan membawa Lovi dan anak-anakku berlibur,"
Lovi kembali turun ke lantai bawah. Ia berlalu ke dapur untuk mengambil air putih. Setelah itu mendekati keluarganya. Ia memangku Adrian.
__ADS_1
Belum apa-apa Adrian sudah menutup mulutnya. Mulai bermain drama lagi. Padahal biasanya Ia begitu menyukai obat. Malah kalau sakit, Ia selalu minta obat pada Lovi padahal belum waktunya. Ia menyukai obat karena rasanya manis dengan berbagai macam aroma buah.
Jelas manis karena itu obat untuk anak kecil. Lain hal dengan obat yang biasa diminum orang dewasa.
"Ke Korea saja, Devan." Rena memberi saran dengan menggebu-gebu sampai semua orang di sana menatapnya aneh.
"Aku bukan mengajak Mama. Kenapa jadi Mama yang semangat?"
Sialan anak ini!
Semuanya sontak tertawa mendengar kalimat Devan yang sangat tepat.
Bahu Rena merosot seketika. Ia melupakan fakta itu. Ia terlalu mencintai Korea karena akhir-akhir ini sering menonton serial dramanya.
Raihan merangkul bahu Istrinya lalu menatap Devan dengan senyumannya.
"Mamamu ini sudah diracuni oppa-oppa ,"
"Di sana banyak tempat-tempat berlibur yang sangat memukau. Mama saja sangat berharap bisa ke sana nanti,"
sepertinya Ia tengah melempar kode untuk Raihan yang tahun ini belum mengajaknya berlibur.
"Ini babymoon untuk Lovi,"
----------
__ADS_1
SELAMAT PAGIII SEMUANYAA. LIKE, KOMEN, VOTE, BINTANG 5, FOLLOW JGN LUPA YAKKK. TENCUUUU😚💙