My Cruel Husband

My Cruel Husband
Jalan berdua


__ADS_3

Devan tidak menggunakan supirnya pagi ini. Ia akan menghabiskan waktu berdua dengan Lovi. Sesuai rencananya, setelah mandi Ia akan membawa Lovi ke suatu tempat.


Devan mengecup bibir Lovi singkat kemudian membuka pintu mobil untuk Lovi. Lovi menahan senyumnya. Ia tidak boleh terlalu bahagia.


"Pergi kemana?" tanya Lovi ketika Ia sudah masuk ke dalam mobil begitupun Devan yang sudah siap dibalik kemudinya.


"Kita akan berbelanja,"


Lovi menatap Suaminya bingung. Apa yang akan mereka beli? Bukankah semua perlengkapan di Mansion sudah menjadi urusan para pelayan?


"Belanja baju untuk kamu, dan anakku juga," jawab Devan sebelum mengendarai mobilnya dengan tenang.


Oh Tuhan, bahkan Lovi saja belum mempunyai pikiran untuk membeli baju anaknya. Karena menurut perkiraan dokter, Ia akan melahirkan sekitar tiga puluh hari lagi. Ia pikir masih terlalu lama untuk menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan bayinya.


"Bukankah aku melahirkan masih lama?" tanya Lovi pada Devan membuat suaminya itu tertawa.


"Tidak lama lagi, Lov. Kamu tidak bisa menghitung?"


Lovi mendengus ketika Devan menggodanya. Lovi membuang arah pandangnya ke luar jendela mobil. Dan Devan tahu kalau saat ini Lovi dalam mode sensitifnya.


"Aku orang bodoh berbeda denganmu yang sangat pintar,"


Devan menghentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Hal itu tidak di sia-siakannya. Devan meraih dagu Lovi untuk berkata dengan lembut,


"Kamu ingin menjadi orang pintar? Aku akan memanggil seseorang untuk membantumu," tawarnya. Mungkin saja Lovi ingin melanjutkan pendidikannya.


Mata Lovi langsung menatapnya antusias. Masa sekolahnya sempat berhenti karena masalah hidup yang dihadapinya. Dan sekarang Devan menawarkan sesuatu yang menjadi impiannya.


"Benarkah?"


Devan mengangguk kemudian melanjutkan perjalanan.


"Ya, Jika kamu menginginkannya,"


"Tentu saja aku ingin,"


Devan menoleh sebentar pada Lovi seraya tersenyum. Keadaannya yang sedang berkendara menghalangi Ia untuk melakukan hal lebih dengan Lovi. Misalnya saja mencuri kesempatan untuk mencium wajah Lovi. Padahal Ia sangat ingin melakukan itu. Lovi sangat menggemaskan di matanya.


Alhasil Devan hanya bisa mencubit lembut sisi wajah Lovi yang semakin berisi seiring bertambahnya usia kandungan.


"Mulai besok gurumu akan datang,"

__ADS_1


"Terimakasih,"


Lovi tersenyum hingga mata kecilnya menyipit. Dan Devan sangat menyanyangkan tidak bisa melihat senyum itu sekarang karena suasana jalan raya yang cukup padat mengharuskannya untuk tetap fokus membawa mobilnya dengan benar.


******************


"Berikan Dia pakaian hamil terbaik," titah Devan pada pelayan toko baju terbesar yang ada di mall tersebut.


Devan sudah lama tidak menyambangi pusat perbelanjaan miliknya. Saat ini ia membawa Lovi ke sana. Sekaligus memberi tahu pada perempuan itu kalau kekayaan untuk putra kembarnya sangatlah melimpah. Lovi hanya menanggapi seadanya. Tidak terlalu memikirkan harta warisan untuk kedua putranya.


"Aku sudah ingin melahirkan. Tidak perlu lagi baju hamil,"


"Itu masih kamu perlukan, Lov,"


Lovi hanya menghela napas pelan. Devan yang seolah tahu semua keperluannya bukan dirinya sendiri.


"Baju hamilmu sudah sempit sekarang," ucap Devan memberi tahu Istrinya. Lagi-lagi Lovi tidak bisa menyanggahnya.


"Setelah ini kamu ingin makan apa?"


"Bukankah tadi sudah sarapan?"


Devan menatap jam tangannya. Ia kembali menoleh pada Lovi.


"Aku makan apa saja,"


"Benarkah? Tidak akan mual lagi?"


"Daging sapi, ayam, telur aku tidak ingin,"


"Artinya tidak jadi makan apa saja?"


"Iya, Devan,"


Devan mengedipkan matanya genit saat mendengar perempuan itu menyebut namanya.


"Aku suka bila kamu yang mengatakannya.."


Ucapannya terhenti saat pramuniaga membawa beberapa paper bag lalu menyerahkannya pada Devan.


"Kalau orang lain tidak boleh memanggilku seperti itu," lanjut Devan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Aku orang besar jadi harus memanggilku dengan kata Tuan,"


Ternyata sifatnya yang tinggi hati itu tidak bisa dihilangkan barang sejenak. Selalu saja membuat Lovi bosan dengan mengatakan kalau ialah lelaki terkaya, tertampan. Apapun itu Lovi tidak peduli.


"Kekayaan tidak selamanya membuat kita bahagia," gumam Lovi.


Mereka keluar dari brand itu kemudian berjalan menuju deretan food court yang cukup jauh. Karena seperti biasa, setiap pusat perbelanjaan memiliki bagian masing-masing.


"Dengan kekayaan yang aku miliki, aku bisa menemukan kebahagiaanku," dengan percaya diri Devan menjawab apa yang di dengarnya tadi.


"Wanita maksudmu?"


"Hm?"


Entah apa yang dimaksud Lovi Devan tidak mengerti. Yang jelas, Ia melihat tatapan sinis Lovi.


"Dengan kekayaan, kamu bisa membeli banyak wanita,"


Kenapa Lovi jadi pintar membuat Devan terdiam? seiring berjalannya waktu, perempuan itu sudah berhasil menembus pertahanan Devan yang biasanya tak pernah ingin kalah dalam berdebat. Lovi ternyata bisa membuat seorang Devan yang angkuh menjadi sosok yang lemah seperti saat ini. Devan terlalu menyayangi perempuan itu.


"Apa maksudmu, Lov?" tanya Devan setelah berhasil mengendalikan dirinya.


"Aku yakin kamu mengerti,"


"Aku tidak pernah membeli wanita selain kamu,"


Alis Lovi menukik seolah tertarik dengan pengakuan itu. Senyumnya pun terlihat beda dari biasanya.


"Artinya hanya aku yang murahan ya?"


Rahang Devan tiba-tiba saja mengatup keras. Ia menyipit pada Lovi.


"Aku tidak suka kamu berbicara seperti itu,"


"Aku hanya mengulang ucapanmu dulu. Oh atau sekarang juga?"


Devan merasa kalau Lovi sengaja memancing emosinya. Padahal topik mereka sedari tadi tidak kembali pada masa lalu yang menyakitkan itu. Devan hanya mengatakan kalau kekayaannya berhasil membuat Ia menemukan kebahagiaan.


"Aku tidak ingin menyakitimu lagi. Jadi aku mohon, hentikan pembicaraan sialan ini,"

__ADS_1


***********


Eh aku mau gnti judul My cruel husband kira" cocok ga? ksh pndpt dungss wkwk.


__ADS_2