My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sakit atas perbuatan orang lain


__ADS_3

"Ma, ini gula punya Papa,"


"Oh iya, Mama lupa."


Rena membawa satu troli begitu pula dengan Lovi. Mereka berbagi tugas untuk mengumpulkan bahan-bahan makanan dan juga keperluan orang-orang di mansion salah satunya adalah gula khusus yang biasa dikonsumsi oleh Raihan.


"Susu punya Adrian hanya sedikit?"


"Yang stok bulan kemarin saja belum habis, Ma. Dia jarang minum susu sekarang,"


"Jangan dibiarkan. Susu kan sangat dibutuhkan untuk anak seusia dia. Anaknya banyak kegiatan lagi,"


"Katanya kurang suka dengan rasa nya. Padahal biasanya juga minum yang itu,"


"Minta yang rasa apa dia?"


"Mau cokelat katanya,"


"Ya sudah, turuti. Daripada dia tidak minum susu. Masalah gigi kan setiap enam bulan sekali dia periksa,"


Lovi akhirnya mengembalikan beberapa kotak susu milik Adrian yang tadi diletakkan di dalam troli. Lalu dia mengambil lima kotak susu cokelat untuk dicoba Adrian.


"Dia tidak suka strawberry seperti Andrean?"


"Tidak, Ma."


Saat ini Rena berpencar untuk mencari daging. Sementara Lovi ke bagian perlengkapan rumah tangga seperti sabun, pasta gigi, dan lain-lain.


*******


"Adrian hebat! Minum susu apa sih?"


"Jarang minum susu,"


"Tapi kenapa tendangannya kuat sekali?"


"Kemampuanku jangan diragukan lagi. Tidak ada hubungannya dengan susu!"


"Ada lah. Kata Mommy ku anak hebat itu karena rajin minum susu,"


Andrean mengusap keningnya yang berkeringat dengan handuk kecil seraya duduk di tepi lapangan futsal sekolahnya. Nampak Adrina mengangsurkan minum padanya.


"Hey itu minum punya ku! Asal ambil saja!" Seru Adrian tidak terima ketika botol minumnya diberikan pada sang kakak oleh Adrina.


"Maaf, minum kalian 'kan berdampingan. Jadi aku tidak tahu,"


"Lihat namanya!"


"Mana ada nama sih?! Coba buka matamu!"


"Sudah-sudah! Kalian ini bertengkar terus,"


Adrian segera menarik lengan Adrina agar mendekat padanya, Lalu Ia menunjuk dinding botol minumnya yang bertuliskan 'Adrian'.


"Bisa baca 'kan?!"


"Hih cerewet!"


Kini Adrina kembali fokus pada Andrean. Kali ini Ia tidak mungkin salah botol.


"Aku minta minum milikmu, Andrean. "


Dengan seenak hati Adrian merebut botol minum Andrean dari tangan Adrina. Sehingga lagi-lagi Adrina gagal memberikan minum dan Andrean gagal membasahi tenggorokannya.


"Punyamu masih banyak, Adrian." Tegur Thalia yang bingung.


"Itu isinya masih penuh, Astaga." Tambah Revin melihat Adrian yang baru saja menuangkan air minum Andrean kedalam botolnya yang masih terbilang penuh.


"Terserah aku lah. Andrean saja tidak marah saat aku minta minumnya,"


Rahang anak sulung Devan nampak mengeras dengan pandangan tajamnya. Ia sedang lelah dan haus, tapi Adrian memancing emosinya menyeruak.


"Sudah belum? Kemarikan minum nya, Andrean 'kan belum minum,"


Adrian menjulurkan botol minum Andrean pada pemiliknya. Ia menjauhkan botol dari tangan Adrina yang ingin meraihnya.


"Aku saja yang berikan pada Andrean,"


"Aku saja!"


"Aku! Kamu siapa memangnya? Aku 'kan adiknya,"


"Aku temannya,"


"Hanya teman 'kan?"


"Hih apa---"


"Adrian Adrina, bisa diam tidak?!" Suara Andrean lebih tinggi dari biasanya. Ia menatap keduanya dengan tajam. Mereka memiliki nama yang hampir sama tapi tidak ada kompaknya sama sekali.


"Adrian yang mulai. Masa aku tidak boleh memberikan minum untukmu?"


Andrean akhirnya mengambil botol minumnya dari tangan Adrian lalu memberikannya pada Adrina. "Cepat berikan padaku!"


Daripada Adrina merengek dan membuatnya sakit kepala, akhirnya Andrean membiarkan temannya itu melakukan apa yang dia mau, yaitu memberikan botol berisi air minum padanya.


Adrian yang melihat itu mendengus dan mencibir sampai mulutnya mengerucut. "Sok baik!"


Entah siapa yang dikatakan anak itu 'sok baik'. Karena matanya melirik Andrean dan Adrina.


*****


"Hallo, Nona."


Saat ini Lovi tengah melakukan pembayaran sementara Rena sudah menunggu di luar kasir untuk menyambut belanjaan bersama dengan beberapa pengawal.


"Ada apa, Dashinta?"


Setelah selesai ditotal semuanya, kasir menyerahkan benda tipis berbentuk persegi kepada pemiliknya.


"Terima kasih, Nona."


Lovi tersenyum mengangguk, "kembali kasih."


Dashinta sempat diam mendengarkan Lovi yang tengah bicara dengan seseorang.


Setelah keluar dari tempat belanja tadi, Lovi segera memanggil Dashinta yang malah diam.


"Dashinta, ada apa? Kenapa menelponku?"


"Nona, Tuan dibawa ke rumah sakit karena tidak henti buang air besar dan muntah-muntah."


"Astaga, kapan kejadiannya?"


"Sebenarnya sejak tadi, Nona. Tuan yakin akan membaik dengan obat, tapi ternyata tidak. Dan belum lama, Tuan dibawa ke rumah sakit dengan ambulance bersama Ferro,"


Rena memperhatikan Lovi yang tengah bicara dengan Dashinta. Wajahnya panik sekali. Bodyguard sudah selesai mengangkut semua barang belanjaan.


"Baik-baik, aku akan ke rumah sakit sekarang. Terima kasih sudah memberi tahu aku, Dashinta."


"Iya, Nona. Maaf baru memberi tahu karena tadi Tuan melarang Ferro. Tapi baru saja Ferro menghubungi saya dan meminta saya untuk memberi tahu Nona karena sepertinya Tuan butuh ditemani di rumah sakit,"


Lovi membasahi bibirnya yang mengering. Hatinya langsung resah mendengar kondisi suaminya. Tadi baik-baik saja.


"Lovi, ada apa?" Tanya Rena setelah Lovi selesai bicara.


"Devan muntah-muntah dan buang air besar terus, Ma. Sekarang lagi di rumah sakit,"


"Ya Tuhan, ada-ada saja anak itu."


Lovi dan Rena berjalan cepat-cepat sampai Lovi tidak sengaja menabrak seorang laki-laki yang menggunakan masker yang menutupi wajah bagian bawahnya.

__ADS_1


"Maaf-maaf, aku tidak sengaja,"


"Ya, tidak apa. Lain kali hati-hati,"


Lovi menunduk sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya. Sementara lelaki itu menatap punggung Lovi yang menjauh dengan senyum miringnya.


Saat hampir sampai di rumah sakit yang diberikan alamatnya oleh Dashinta melalui pesan singkat yang dikirimkan Dashinta beberapa saat lalu, Lovi baru ingat akan keberadaan anaknya di sekolah yang seharusnya Ia jemput setelah berbelanja.


Lovi segera menghubungi guru kedua anaknya. Tidak ada jawaban dan itu membuat perasaan Lovi semakin tidak menentu. Di satu sisi Ia khawatir akan kondisi suaminya, di sisi lain Ia juga khawatir dengan kedua anaknya.


Akhirnya Lovi mengirimkan pesan saja, tak lupa menghubungi pengawal yang selalu menjaga mereka berdua agar membawa mereka pulang tanpa menunggu dirinya yang menjemput.


*******


Adrian dan Andrean melambai pada tiga orang pengawalnya yang menunggu di depan gerbang seperti biasa, untuk menemani mereka menunggu jemputan tapi dari jarak yang tidak dekat.


Ketiganya nampak mendekati Andrean dan Adrian. Tidak biasanya, karena sebelumnya selalu menjaga dari jauh saja.


"Ada apa?" Tanya Andrean dengan dahi mengerinyit.


"Tuan kecil, sekarang kalian pulang bersama kami ya. Tadi Nona Lovi memberikan kami perintah seperti itu,"


"Biasanya Daddy yang jemput,"


"Hari ini tidak, tadinya Nona Lovi yang mau menjemput. Tapi tidak jadi karena Tuan sedang di rumah sakit,"


"Daddy sakit?"


"Iya, Tuan kecil."


"Ya sudah, izin dengan Ms Acha dulu,"


Mereka mengangguk dan salah satunya menghampiri Acha di ruangannya. Acha terkejut melihat ada lelaki berbadan besar yang sering dilihatnya memperhatikan dua anak muridnya masuk ke dalam ruangannya.


"Saya harus segera membawa Andrean dan Adrian pulang, Ms." Ujar Racka, pengawal yang sedang meminta izin pada Acha langsung pada intinya karena Ia harus bergerak cepat mematuhi titah Lovi.


"Tidak bisa, mereka akan dijemput oleh Daddy nya,"


"Ms sudah membaca pesan yang dikirimkan Nona Lovi?"


Acha segera meraih ponselnya untuk melihat pesan yang dikatakan penjaga itu. Setelah membaca seluruh nya, Ia mengangguk mengizinkan. "Silahkan kalau begitu,"


"Terima kasih, Ms."


Adrian dan Andrean sudah menunggu di depan ruangan gurunya. Mereka juga gelisah mengetahui kalau Daddy mereka sakit.


Setelah Racka keluar dari ruangan Acha, mereka segera meningalkan sekolah elite tersebut.


"Daddy sakit apa?"


"Kami juga tidak tahu, Tuan kecil."


"Kasihan Daddy. Pasti Daddy kelelahan bekerja makanya jatuh sakit,"


Melihat kelembutan hati Adrian, tiga orang dewasa itu tersenyum walaupun kaku sekali karena mereka jarang menampilkan seyum. Keseringan raut garang lah yang terpaut di wajah mereka.


******


"Tuan mengalami keracunan. Kau yang membuatkan kopi untuk Tuan 'kan?"


"Astaga, Demi tuhan aku tidak memberikan apapun di dalam kopi Boss. Lagipula yang membuat kopi itu bukan aku,"


Ferro sudah kembali ke kantor setelah Lovi datang ke rumah sakit untuk menemani Devan.


Begitu mendengar hasil pemeriksaan dokter, dan juga cerita Devan bahwa tadi pagi Ia makan sarapan Lovi dan tidak mengalami apapun, tapi sebelum jatuh sakit, Ia sempat menikmati kopi hangat yang diberikan Dashinta.


Devan tidak menuduh siapapun apa lagi Dashinta. Tetapi Ferro yang terlalu khawatir dengan kondisi Tuannya malah melakukan hal yang sebaiknya. Ferro tak tega melihat Devan pucat sekali tadi, bahkan nampak lemah. Devan sudah dianggap anak olehnya.


"Kita lihat kamera cctv sekarang!"


"Iya, aku tidak takut."


Mereka menuju ruangan khusus IT di kantor perusahaan Devan untuk melakukan penyelidikan. Di dalam ruangan itu ada beberapa operator dan juga banyak komputer yang menampilkan kegiatan semua orang di setiap sudut kantor berdasarkan pengamatan kamera cctv.


Dengan seksama mereka memperhatikan. Dilihat dari gerak tubuh Dashinta, perempuan itu memang nampak santai dan tidak ketakutan karena memang bukan dia pelakunya. Untuk apa juga dia mencelakai Devan? kalau memang mau membuat Devan berpaling padanya seperti yang pernah dilakukan sekretaris Devan sebelumnya, sudah Ia lakukan hal keji itu dari lama.


******


Devan terkejut begitu melihat kehadiran istrinya di ruangan tempat Ia berbaring sekarang. Ia masih sadarkan diri bahkan bisa tersenyum melihat Lovi, berusaha menenangkan sang istri yang terlihat sekali raut paniknya.


"Tuan mengalami keracunan, Nona."


Penjelasan singkat itu membuat Lovi bingung. Seingatnya Ia tidak salah memberikan Devan menu makanan.


"Tadi aku sempat minum kopi, Lov. Bukan salah makanan yang kamu masak. Aku yakin," Devan menenangkan istrinya yang pasti langsung menyalahkan diri sendiri. Lagipula Ia memang yakin bahwa ini semua bukan salah Lovi karena setelah menyantap sarapan, semua baik-baik saja. Bahkan Ia bekerja seperti biasa. Dan setelah minum kopi, hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit, perutnya langsung terasa diacak-acak.


"Menurut Dokter tadi, Tuan sudah bisa pulang, Nona. Tapi menjelang malam nanti, setelah cairan infus yang ini habis dulu,"


"Terima kasih, Ferro."


"Iya, kalau begitu saya kembali ke kantor lagi. Semoga lekas pulih, Tuan."


"Terima kasih," Devan mengulangi ucapan istrinya tadi sebelum Ferro benar-benar meninggalkan ruangannya.


"Ma, masuk. Ngapain diam di sana?"


Rena yang sedari tadi diam memperhatikan anaknya dari depan pintu akhirnya masuk.


"Mama kesal dengan kamu ya, Devan."


Devan tak bisa terkekeh terlalu keras karena perutnya masih terasa melilit. Devan tahu penyebab Mamanya kesal. "Karena aku minum kopi ya?"


"Iya, tapi bukan karena itu saja. Sudah tahu bahaya sedang mengintaimu, tapi kenapa malah---"


"Aku pikir itu di kantorku sendiri, Ma."


"Jangan naif, Devan. Bisa saja ada yang menjadi penjahat di sana. Mama bukan menuduh, tapi apa salahnya waspada? Kejahatan bisa ada di manapun,"


*******


Arnold menatap foto masa lalunya bersama sahabat-sahabatnya di masa lalu. Dalam gambar tersebut ada juga wajah Devan dan Deni.


Ia tersenyum miring menatap kebersamaan mereka dulu. "Semua baik-baik saja sebelum kau mengkhianati adikku, Devan."


FLASHBACK ON


Arnold menemukan adiknya, Aruna semakin hancur setiap harinya. Tubuhnya semakin mengurus karena setiap diberikan makan tak pernah dimakan padahal ada janin yang harus Ia pikirkan kesehatannya.


"Aruna, sampai kapan kamu akan seperti ini?"


"Devan berkhianat padaku,"


Selalu kalimat itu yang keluar dari mulut Aruna dan akan memancing emosi Arnold, sang kakak yang begitu ingin melindungi adiknya. Namun di lain sisi Devan adalah kawannya.


Aruna mengandung namun bukan Devan ayah biologis anak yang dikandungnya. Tapi Aruna begitu menginginkan Devan. Sampai berbagai penolakan yang diberikan Devan selalu tak diacuhkannya.


Sampai suatu ketika Aruna mengetahui Devan memiliki seorang kekasih yang begitu dicintainya bernama Elea, Aruna marah, Aruna kecewa. Ia yang selama ini berharap akan memiliki hati Devan malah dihempaskan jauh-jauh. Devan hanya menganggapnya sebagai adik, karena dia merupakan adik dari Arnold, sahabatnya.


Sampai suatu ketika Aruna tidak kuat lagi melihat kemesraan Devan dengan Elea. Ia merasa dikhianati. Devan lebih memilih perempuan lain daripada dirinya.


Aruna ditemukan Arnold menghabiskan nyawanya sendiri di dalam kamar setelah sebelumnya semakin mengurung diri di kamar begitu mengetahui bahwa Devan telah memiliki kekasih.


Dari sanalah awal mula Arnold membenci sahabatnya sendiri. Secara tidak langsung Devan lah yang telah membuat adik kesayangannya mati.


"Kau yang telah membunuh adikku, Devan."


"Aku tidak melakukan apapun. Tolong lepaskan, Arnold."


Devan meminta cekikan di lehernya yang disebabkan oleh Arnold untuk dilepaskan. Ia kesulitan bernapas. Devan tahu betul Arnold melakukan ini karena ingin membunuhnya juga.


"Kau memilih perempuan lain, bukan dia! dia menganggap itu adalah sebuah pengkhianatan. Dia semakin terpukul, brengsek!"

__ADS_1


"Aku dan Aruna tidak memiliki hubungan apapun. Jadi tidak ada pengkhianatan sama sekali. Dia yang menganggap aku terlalu berlebihan. Aku ini kakaknya, aku sudah mengatakan itu berulang kali,"


Arnold tersenyum miring dan kian menambah tekanan di leher Devan. Ketika Devan berontak, Ia meninju sudut bibir Devan hingga mengeluarkan darah.


"Sesulit itu membuka hati untuk adikku? hanya untuk membahagiakan dia, keparat! apa salahnya?!"


"MEMANG SEMUDAH ITU MEMBUKA HATI UNTUK ORANG YANG TIDAK DICINTAI SAMA SEKALI?!"


Arnold segera membuat tubuh Devan babak belur. Devan berusaha melawan sekuat tenaga tapi pada akhirnya Ia tetap menjadi pihak yang kalah.


Arnold membela yang salah yaitu adiknya sendiri. Ia semudah itu menyuruh Devan untuk membuka hati. Memang dia pikir Devan tidak mencobanya? sudah! Devan sudah berusaha melihat keberadaan Aruna sebagai sosok lain di hatinya, bukan hanya Ia anggap adik. Ia tidak bisa mencintai Aruna bukan karena kondisinya yang sudah hamil dengan orang lain, melainkan ini perkara hati. Sekalipun Aruna tidak hamil dengan kekasihnya pun Devan tidak bisa menganggapnya lebih.


Arnold mulai melancarkan aksi balas dendamnya pada Devan untuk membalaskan rasa sakit hati sang adik yang sempat Ia rasakan sebelum mati.


Ia menjebak Devan di kampusnya. Ia memasukkan banyak obat-obatan terlarang di dalam ranselnya. Dan kebetulan pada hari itu tengah ada razia sekaligus penyuluhan untuk semua mahasiswa di universitas mereka agar terhindar dari obat-obatan terlarang.


Semua orang terperangah begitu mengetahui kalau Devan yang selama ini mereka kenal baik ternyata liar juga, menyimpan barang yang tidak seharusnya Ia simpan apalagi dibawa ke fasilitas pendidikan.


Devan langsung diringkus ke pihak yang berwajib sementara menunggu hasil penyelidikan. Sayangnya Arnold sudah mengatur sedemikian rupa agar Devan lah yang menjadi pihak bersalah. Devan harus menjalani proses hukuman selama beberapa bulan sekaligus rehabilitasi.


Tapi di hari ke empat Devan menjalani hukuman, Raihan berhasil mengungkap kebenaran. Devan tidak terbukti bersalah. Raihan berhasil membuat Arnold mengaku bahwa dialah yang telah menjebak sang putra sampai kehilangan teman, dan dikeluarkan dari kampus tempatnya menuntut ilmu.


Pengalaman dikhianati oleh sahabat itulah yang menjadi salah satu faktor yang membuat Devan berubah menjadi sosok yang dikenal Lovi saat awal pernikahan mereka. Dingin, kejam, dan tak tersentuh. Ia terjun ke dalam dunia hitam bahkan sampai mempunyai perusahaan yang bergerak dalam kejahatan yaitu peredaran gelap senjata tajam dan obat-obatan terlarang. Ia melampiaskan rasa sakit hatinya dengan melakukan hal-hal keji salah satunya membunuh orang tanpa belas kasihan sekalipun kesalahan yang mereka lakukan tidaklah berat.


Dendam Arnold semakin berkobar saat Raihan melaporkan balik dirinya. Ia harus masuk ke dalam jeruji besi, mengalami hal serupa dengan Devan.


FLASHBACK OFF


"Saat aku melihat kau hidup bahagia dengan dia yang pernah ada di masa laluku, aku semakin yakin untuk membunuhmu,"


********


Lovi membantu suaminya untuk masuk ke dalam mobil. Pukul tujuh, infus Devan baru habis dan Ia diizinkan untuk pulang.


"Sudah nyaman?" tanya Lovi setelah memastikan suaminya bersandar dengan nyaman.


"Belum," kata Devan dengan pelan seraya menggeleng.


"Aku mau dipangku kamu saja. Pasti nyaman,"


Lovi akhirnya mengangguk. Ia segera duduk dengan nyaman lalu Devan berbaring berbantalkan paha Lovi. Sementara Rena duduk di samping kemudi.


"Manjanya si Daddy tiga kurcaci," ledek Rena dengan tawa kecil. Ia menoleh sebentar melihat Devan yang hanya menahan senyum mendengar ucapannya. Ia belum kuat untuk menimpali. Besok pagi mungkin stamina nya sudah kembali lagi.


"Nanti minum kopi lagi, Devan, ya. Kopi 'kan minuman kesukaanmu. Itu pelajaran karena kamu tidak mendengar ucapan istri. Sudah dilarang minum kopi karena usia tidak lagi muda, malah--"


"Aku masih muda. Mama yang tua,"


"Huh? sedang sakit tapi mulutmu masih saja bisa bicara sembarangan ya?"


"Yang sakit itu perut, Ma. Kalau dikatakan tua, masa aku diam saja?"


Walaupun Ia masih terlihat lemah, tapi masih bisa berdebat masalah usia oleh Mamanya.


"Mama yakin ada yang sengaja membuat kamu seperti ini,"


Devan juga sudah berpikir seperti itu dari awal. Dan Ia sudah berencana untuk mengusut tuntas perkara ini agar pelaku jera mencelakainya. Dan siapapun yang melakukan hal ini padanya, maka akan Devan keluarkan dari perusahaan, dan akan Ia masukkan ke dalam blacklist semua perusahaan agar Ia benar-benar tidak bisa bekerja dimanapun. Lagipula untuk apa perusahaan mempekerjakan orang tidak tahu diri? sudah diberikan segala fasilitas saat bekerja. Tapi dengan tega dia membuat Devan dehidrasi karena buang air besar terus dan lelah karena tak henti memuntahkan isi perutnya.


"Biar saja mereka jahat, kamu tidak perlu membalasnya," ujar Lovi dengan lembut seraya mengusap kepala Devan yang matanya kini terpejam, menikmati belaian sang istri. Kapan lagi dia bisa manja dengan istrinya? kalau di rumah, Lovi dikuasai oleh tiga anak mereka.


"Harus dibalas, Lov. Karena sudah keterlaluan, dan dia membahayakan kesehatan aku,"


"Tapi kasihan kalau sampai kamu memecat mereka," Lovi tahu betul hal apa yang akan dilakukan Devan setelah masuk ke kantor nanti. Pasti mencari pelaku dan memecatnya.


"Mereka cari perkara padaku,"


Menyaksikan suaminya keras kepala, Lovi hanya bisa menghembuskan napas pelan. Ia hanya tidak ingin siapapun yang melakukan hal jahat itu kehilangan mata pencaharian. Lovi memikirkan keluarganya.


******


"Kau ingin kemana?"


"Ke mansion Tuan Devan. Melihat keadaannya,"


"Aku ikut, boleh tidak?"


"Boleh, kamu bukan pelakunya 'kan? jadi tidak perlu takut untuk bertemu Tuan,"


Dashinta terkekeh seraya menyampirkan tangannya di lengan Ferro. Melihat itu, lelaki paruh baya yang sudah lama mengabdi pada Devan itu mengusir tangan Dashinta.


"Aku sudah punya cucu, Dashinta. Istriku juga ada di rumah. Jadi jangan harap aku tertarik padamu,"


Dashinta langsung mendecih dan tak lagi memeluk lengan lelaki yang sudah dianggapnya sebagai ayah itu.


"Aku mau cari yang masih muda, bukan orang tua yang sudah bau tanah,"


"Sialan mulutmu! Minta kupecat ya?"


"HAHAHAH...."


"Memang aku bekerja padamu? Boss Devan yang aku takuti, bukan kau bapak tua,"


*******


Sampai di mansion, Devan langsung disambut ketiga anaknya yang nampak menggemaskan dengan pakaian tidur. Andrean dan Adrian hampir setiap hari mengenakan baju tidur yang sama, baik model maupun motif nya. Biasanya Devan pun tak ingin ketinggalan. Mereka bertiga selalu tampil kompak sekalipun akan berakhir di tempat tidur. Begitupun dengan Lovi yang juga kompak bersama Auristella.


"Daddy sudah sembuh?"


"Belum lah, lihat saja masih pucat begitu," sahut Andrean. Kalau sudah sembuh, tidak mungkin Devan dibantu berjalan oleh Rena dan Lovi.


Setelah mencapai ranjang, Devan menghembuskan napas lega seraya memejamkan mata singkat. Akhirnya Ia bisa sampai di mansion. Sekalipun di pangkuan Lovi Ia merasa nyaman, tapi kemacetan membuat Devan begitu merindukan kenyamanan di ranjang.


"Daddy, mau aku pijat? apa yang sakit?"


"Tidak usah, Sayang. Daddy mau istirahat saja,"


Adrian nampak sedih karena bantuannya ditolak. Padahal Ia ingin membantu Devan dalam menghilangkan rasa sakitnya.


Melihat wajah anaknya yang cemberut, akhirnya Devan menunjuk keningnya seraya bicara, "Tolong pijat di sini."


Adrian langsung bergerak cepat. Ia beringsut mendekati Devan lalu mulai melakukan tugasnya. Sementara Andrean berinisiatif untuk memijat kaki Devan.


Rena dan Lovi terharu melihat perhatian mereka. Andrean dan Adrian sudah mengerti bagaimana caranya memperlakukan orangtua yang sakit sekalipun mereka hanya bisa memijat, belum bisa membantu menyiapkan makanan atau mengambil alih tugas-tugas Devan.


"Kamu mau makan lagi?"


"Andrean suapi," Andrean langsung mengajukan dirinya.


"Tidak, tadi 'kan sudah makan di rumah sakit, Lov."


"Tapi sudah kenyang?"


"Sudah,"


"Perutmu masih sakit, Devan?"


"Sedikit, Ma..."


"Malah kram di sebelah kiri juga,"


"Aku kompres ya. Tunggu sebentar,"


Lovi cepat-cepat mengambil alat kompres dan mengisinya dengan air panas yang sekiranya bisa menenangkan otot-otot perut suaminya.


Lovi segera mendekati sang suami, lalu menyingkap sedikit baju suaminya untuk mengompres bagian yang kram.


"Mama siapkan baju untukmu,"


Melihat kesibukan Lovi dan kecemasan Lovi, Rena yang berinisiatif untuk mengambil baju ganti anaknya sehingga nanti saat kondisinya sudah sedikit membaik, Devan langsung bisa mengganti pakaian kerjanya.


"Daddy jangan sakit," gumam Adrian dengan tangan yang masih sibuk memberikan pijatan lembut untuk sang ayah.

__ADS_1


Seperti biasa, Andrean lebih banyak diam. Dia tidak menampilkan rasa khawatir akan kondisi Daddy nya dengan terang-terangan tapi dari dalam hati anak itu, Ia merasakan apa yang juga dirasakan Adrian. Ia tidak suka melihat lelaki yang menjadi panutan nya jatuh sakit.


"Cepat sembuh, Daddy. Tidak apa Daddy sering marah-marah, Adrian terima dengan lapang dada. Asalkan Daddy jangan sakit,"


__ADS_2