My Cruel Husband

My Cruel Husband
Aunty yang baik hati


__ADS_3

"Lov, tidak masalah kalau aku tunda liburannya?"


Devan dan Lovi tengah terlibat pillow talk. Kedua anak mereka sedang bersama para nenek mereka di bawah. Rena datang bersama Vanilla sore tadi dan sampai sekarang belum pulang karena Raihan belum menjemputnya.


Terkadang Rena mengunjungi cucunya dua atau tiga hari sekali. Namun begitu mendengar cucunya sakit lagi, Rena mungkin akan merubah kembali jadwalnya. Ia sudah mengira kalau ini pasti akan terjadi. Devan dan Lovi belum bisa mengatur kondisi keluarga kecil mereka sendiri. Sehingga sering tidak beraturan. Ini alasan Rena melarang Devan untuk pindah dari mansion dulu. Walaupun kedua cucunya sudah lumayan besar, namun rasa khawatir masih ada. Ditambah lagi kondisi Lovi yang sedang mengandung. Sedikit banyak Adrian dan kakaknya menjadi terbelakang walaupun Devan dan Lovi sudah yakin kalau mereka berlaku adil. Tak bisa disalahkan juga. Karena Lovi memang sedang membutuhkan perhatian lebih.


"Tidak liburan pun tidak masalah bagiku,"


Devan mengecup wajah Lovi dari samping. Dilihat dari sisi manapun perempuan itu memang terpahat dengan sempurna. Hidungnya yang kecil, bibir tipis itu selalu menjadi pusat perhatian Devan, ditambah lagi dengan lemak yang sedikit menimbun di wajah cantik itu.


"Adrian sudah tidak demam lagi bukan? Tadi aku cek, sudah lebih baik."


"Ya, semoga saja sampai tengah malam nanti suhunya tetap normal. Karena biasanya ditengah malam itu, demamnya datang lagi,"


***


"Wah baik sekali Aunty. Adrian sudah lama tidak makan pizza,"

__ADS_1


"Siapa yang membawanya tadi, Aunty?"


"Ya---ya--kurir pizza-nya lah,"


Vanilla nampak gugup. Ia melahap pizza yang dibawa Renald dengan lahap. Beruntung Rena dan Senata tengah berbincang di dekat sliding door yang menghubungkan kolam renang dengan ruang keluarga. Sehingga ketika Vanilla mengambil pizza yang diantar Renald, mereka tidak ada yang tahu. Termasuk kedua anak itu karena Vanilla melarang mereka untuk ikut keluar menerima pizza.


"Adrian kira siapa. Habisnya wajah Aunty senang sekali tadi. Seperti dapat undian mobil saja. Padahal hanya pizza,"


'Huh! Anak ini kenapa mulutnya ceriwis sekali? Tidak bisakah Ia makan tanpa banyak omong?'


Mereka makan pizza bertiga. Vanilla menyantap sekaligus bergulat dengan ponselnya.


Belum ada balasan mungkin si pengantar pizza masih di jalan pulang sehingga belum ada kesempatan untuk membuka pesan dari Vanilla.


"Kabar terakhirnya bagaimana? Kalian benar-benar putus hubungan?"


"Aku tidak tahu, Rena. Yang aku tahu terakhir kali, dia sempat ingin dijebloskan ke penjara,"

__ADS_1


Rena menutup mulutnya terkejut. Yang sedang mereka bicarakan saat ini adalah ayah kandung Lovi, suami Senata. Ternyata serumit itu kehidupan mereka. Perempuan sebaik Lovi bisa mendapat takdir semenyakitkan ini? Rena tidak menyangka.


"Dia sudah mendapat balasan yang setimpal setelah menyakiti Lovi. Sementara aku? Aku malah hidup bahagia sekarang,"


"Kamu masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Bersyukurlah akan hal itu. Kami senang kamu berada ditengah kami,"


Rena membawa tangan Senata dalam genggamannya seolah memberi kekuatan dan keyakinan kalau ini memang jalan terbaik yang digariskan Tuhan untuk keluarga mereka. Jalan hidup Senata dan ayah Lovi berbeda.


"Besok-besok beli lagi ya, Aunty?"


'Uang untuk skincareku berkurang dong!'


Beruntung kali ini pizza itu benar-benar dibayar dan diantar oleh Renald sehingga Vanilla yang sekarang ditekan untuk berhemat oleh Raihan pun merasa kartu ATM-nya aman.


Kalau Ia meminta terus-menerus pada Renald, harga diri Vanilla sebagai perempuan akan merasa diinjak. Menuruti keinginan Adrian sepertinya bukan jalan yang baik. Anak itu akan menambah kesulitannya saja. Lagi pula Devan banyak uang, kenapa tidak minta dengan Daddynya saja? Huh! Apakah Devan sangat irit pada anaknya sendiri? Masalahnya, kalau Ia bergelimangan harta seperti waktu itu, bagi Vanilla tidak masalah membelikan makanan yang banyak untuk mereka.


Sekarang berbeda karena sudah sebulan ini Raihan mengurangi fasilitas mewah putrinya sebagai pelajaran agar Ia bisa berubah menjadi lebih baik. Tapi bukannya berhasil, Vanilla malah semakin parah. Ia jarang sekali pulang ke rumah. Bahkan lebih sering menginap di rumah kakaknya yang Ia anggap lebih nyaman karena kehadiran Lovi yang sangat terbuka dan hangat atas kehadirannya.

__ADS_1


-------


LIKE, KOMEN, VOTE, BINTANG 5, FOLLOW JGN LUPAAA. TERIMAKASIH BWT KM YG BAIK HATI ;)


__ADS_2