
Vanilla dan Jane memasuki Ruang kerja Devan dengan santai. Untuk bertemu dengan Devan yang langsung menatap kedatangan mereka dalam diam dan mengalihkan perhatiannya dari berkas penting yang sedang di amatinya.
Kedua gadis itu duduk tak jauh dari meja kerja Devan. Vanilla menatap banyaknya tumpukan kertas di meja Devan sementara Jane berusaha mencari perhatian lelaki tampan itu dengan bergerak gelisah di atas sofa.
"Aku tahu apa yang kalian lakukan dibelakangku,"
Tanpa menunggu waktu lama, Devan mengutarakan sesuatu yang entah mengapa sudah berhasil mengganggu pikirannya sejak pesta yang berlangsung semalam berakhir.
Vanilla tidak mengerti apa yang dikatakan kakaknya. Sementara Jane sudah membuang wajahnya malas.
"Masalah perempuan itu?" Sanggah Jane tepat sasaran karena Devan langsung mengangguk.
"Dia yang mengatakan itu padamu?"
Devan menatap tajam adiknya. Bukan Lovi yang jujur padanya. Tapi Ferro yang melakukannya. Lelaki baya itu mengatakan apa yang dia dengar ketika dilanda khawatir mencari keberadaan Lovi yang tidak terlihat di pertengahan pesta.
"Tidak mungkin! Aku yakin dia yang membuat fitnah," Vanilla terkekeh tidak percaya.
"Bukan fitnah, Vanilla. Itu semua memang kalian yang melakukannya,"
Vanilla bangkit dari posisi nyamannya lalu melipat kedua lengannya di dada menantang Devan dengan berani.
"Lalu apa masalahnya denganmu?" Ujar Vanilla dengan dagu mengangkat angkuh.
"Dia milikku,"
"Hanya karena itu kamu sampai memanggil kami ke sini?"
__ADS_1
"Itu tidak penting sama sekali, Devan!" Jane ikut berbicara. Memutus tatapan tajam yang terjalin di antara kakak beradik itu.
"Semua yang berhubungan denganku adalah sesuatu yang penting. Kalian ingat itu!"
Jane tertawa tidak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya. Devan tidak bisa lagi menutupi sesuatu yang sedang membuatnya tidak tenang itu.
"Kamu memiliki rasa yang lebih pada wanita itu?"
Vanilla terlalu khawatir dengan hal itu. Kakaknya tidak boleh berhubungan dengan perempuan semacam Lovi, Perempuan yang hampir menghancurkan masa depan keduanya. Ia tidak akan membiarkan devan melakukan hal yang sama seperti Raihan dulu. Devan tidak boleh meninggalkan cinta sejatinya, Elea.
"Vanilla, Kamu berguyon?" Devan mempersempit tatapannya pada sang adik. Mencari tahu maksud dari omong kosong Vanilla.
"Aku takut kamu mencintainya, Devan. Kamu tidak boleh melakukan itu. Dia bukanlah perempuan baik-baik. Ingatlah masa lalumu yang terjadi sangat buruk karena perempuan seperti dia,"
Devan mengangguk pelan. Ingatannya kembali pada masa dimana ia mengalami kesulitan dalam menuntut ilmu dan makan sehari-hari karena Raihan yang tidak bertanggung jawab dalam hal Financial semenjak otaknya diracuni oleh Perempuan ****** pilihannya.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Vanilla, Kamu tidak perlu mengatakan hal itu lagi padaku!"
"Aku yakin kamu mencintainya,"
Devan menggeram saat mendengar ucapan Jane yang kini tersenyum miring menatapnya.
"Kamu baru saja mengatakan hal bodoh,"
"Lalu apa alasanmu memanggil kami ke sini?" Vanilla bertanya pada Devan yang masih melayangkan tatapan intimidasinya pada Jane.
"Kalian tidak berhak untuk ikut campur dalam urusanku. Dia adalah milikku karena aku yang membelinya,"
__ADS_1
Mendengar itu Jane mengangkat sebelah alisnya dan menantang Devan,
"Lalu?"
"Berhenti untuk menyakitinya. Hanya aku yang bisa melakukan itu,"
"Benarkah? Tapi apa yang aku perhatikan akhir-akhir ini, Sikapmu terlihat berbeda,"
"Tutup mulutmu, Jane!" Hardik Devan membuat kedua gadis itu terkejut.
Ada bagian dalam dirinya yang tidak terima kalau Perempuan malang itu dibicarakan sedemikian rupa oleh sepupu gilanya, Jane.
"Aku mengatakan sesuatu yang menjadi penilaianku, Devan. Kenapa kamu sangat marah?"
"Kamu tidak seharusnya berbicara seperti itu,"
"What ? Bahkan kamu lebih kejam daripada aku," Jane kian mengejek Devan membuat Lelaki itu sangat ingin memberi pelajaran untuk Jane melalui tamparan panas dipipinya. Namun, Devan tidak bisa melakukan itu. Devan terlalu malas berurusan dengan Raihan.
Kalimat Jane yang tepat sasaran membuat batinnya berteriak mengejek. Devan mengakui kalau yang dikatakan Jane tadi tidaklah seberapa dengan kalimat-kalimat kasarnya yang selalu ia lontarkan untuk istrinya itu.
"Aku katakan sekali lagi, Hanya aku yang bisa melakukan semua itu pada Lovi. Tidak ada yang lain,"
Lagi-lagi Devan membuat Claim kalau semua perlakuan maupun ucapan kasar yang menyakitkan hanya ia yang boleh melakukannya terhadap Lovi karena perempuan itu adalah miliknya.
*************
Aku bersyukur sih kalo ep ini bs lolos review mlm ini jg wkwkwk. krn aku pengen bwt kelean bahagiaaa mlm ini aku double up. makanya ksh aku semangat yg lebih dongg caranya gmpg kookk. kasih like, coment, vote aja aku udh seneng mweheheh😁
__ADS_1