
"Wah, banyak sekali teman di sini. Adrian boleh bermain di taman itu?"
Begitu sampai di panti yang memang menjadi tujuan sejak kemarin, Adrian langsung senang melihat begitu banyak anak-anak seusianya yang menghuni panti tersebut.
Tanpa diperintah untuk bergabung dengan mereka, Andrean dan adiknya sudah melakukan itu. Sementara Lovi dan Devan menyerahkan semua kebutuhan yang telah disiapkan untuk panti.
"Aku tidak menyangka kalau Tuan yang akan menyerahkan ini secara langsung. Biasanya Tuan Ferro yang menyampaikannya,"
Devan mengangguk singkat dengan senyumnya yang kaku. Ini untuk pertama kalinya Devan merasakan bagaimana hangatnya suasana di panti.
Mungkin masa kecil mereka tidak seberuntung Adrian dan Andrean. Namun hak untuk bermain tetaplah diberikan oleh pengurus panti.
"Maaf kami hanya bisa menyajikan ini," ujar kepala panti saat salah satu pengurus menyajikan minuman hangat dan beberapa wadah cookies.
Devan terlihat enggan menikmatinya. Bukan Ia sombong. Tapi kebetulan sebelum berangkat ke sini, mereka sudah makan di mansion.
"Aku makan,"
"Enak sekali cookiesnya,"
Yang dilakukan Lovi justru berbanding terbalik dengan Devan. Mereka harus saling menghargai. Sekalipun Devan tidak ingin menikmatinya, paling tidak Lovi sudah menutupi sikap suaminya yang mungkin dinilai orang tidak menghargai sambutan.
****
"Adrian, tangkap bolanya!"
Adrian lengah, Ia terlalu fokus melihat anak-anak bermain badminton sampai tugasnya sebagai penjaga gawang dilalaikan.
Andrean berjalan dengan cepat ke arah adiknya. Ia menggeram dan siap-siap untuk menarik telinga adiknya, namun sebelum itu terjadi Adrian sudah mendekati sumber yang membuatnya tidak fokus itu.
__ADS_1
"Aku boleh bermain ini juga? sudah bosan dengan benda bulat itu," tunjuknya pada bola. Padahal biasanya permainan itu sangat digemari Adrian. Apa dia benar-benar bosan atau hanya sekedar ingin mencoba hal baru?
"Ambil ini,"
Adrian segera menerima benda untuk memukul bola kecil yang nantinya akan melayang di udara.
Anak itu bersiap dengan posisinya. Adrian tidak bermain tunggal. Ada satu anak laki-laki juga di sampingnya. Lawannya pun ada dua orang.
Adrian yang memang sangat awam dengan olahraga ini, hanya bisa diam menyaksikan temannya yang selalu berhasil menangkis bola.
"SUDAH, MUNDUR SAJA! DARIPADA MEMALUKAN,"
Adrian menatap kakaknya dengan tajam. Ia sedang diremehkan sekarang. Tapi apa boleh buat? Ia selalu tidak tepat sasaran. Keseringan yang dipukulnya adalah angin.
Melihat adiknya yang masih percaya diri, Andrean akhirnya memilih untuk melanjutkan kegiatannya tadi yang sempat terhenti karena hengkangnya Adrian.
Mereka kekurangan pemain sekarang. Ia mencari anak laki-laki yang sekiranya bisa diajak bermain bukan hanya sekedar menonton.
"Yang di tepi kanan lapangan. Tapi dia menolak main karena ada kamu,"
"Huh? memang kenapa?"
"Kamu lebih bagus dalam bermain. Dia malu,"
Andrean dengan tampang dinginnya berdecak. Anak sulung dari Devan itu berjalan mendekati tepi kanan lapangan untuk menghampiri seorang anak yang menonton dengan wajah senang.
"Kenapa tidak dilanjut permainannya? karena Adrian pergi kah?"
"Ya, aku rasa kita butuh anggota yang lain untuk mengisi kekosongan posisi Adrian. Kamu ikut bermain ya?"
__ADS_1
Ada sorot ragu di matanya. Andrean segera menarik lengan anak yang sudah dianggap sebagai temannya itu agar Ia segera bangkit. Andrean menepuk bahunya singkat.
"Ayo, jangan kalah dengan tim badminton. Mereka semangat, kita juga harus lebih semangat,"
*****
Sampai di mansion, Adrian masih membahas keseruan selama di panti tadi. Ia tidak lelah berceloteh. Justru Devan, Lovi, dan Andrean yang lelah mendengarkannya.
"Karena Adrian ikut bermain badminton, Adrian jadi bisa olahraga itu selain sepak bola. Ternyata tidak kalah menyenangkan juga,"
Devan menggusar lembut kepala anaknya. Ia meraih Adrian untuk dipeluknya. Adrian bergerak menolak.
"Sesama laki-laki tidak boleh berpelukan, Daddy!"
"Hey! siapa yang mengatakan itu? jadi ayah dan anak tidak boleh berpelukan? darimana asalnya peraturan itu?"
"Oh iya, Daddy orang tua Adrian. Maaf, Adrian lupa,"
"Iya, Adrian. Terus saja bicara sesukamu. Daddy berusaha menahan kesal. Karena Daddy ingat kamu anak Daddy,"
Devan menyindir sosok kecil di sampingnya yang sedang terkekeh. Devan sering kehabisan akal untuk membalas ulah Adrian.
--------
HALOHAA SEMUANYAAA. KOMEN DI BAWAH, SIAPA AJA YG UDH MAMPIR KE LAPAKNYA VANILLA DGN JUDUL : NILLAKU
TINGGALIN JEJAK KALIAN DI SEMUA NOVEL YAAA. BELAJAR SALING MENGHARGAI :) JGN JD PEMBACA GELAP PLZ.
__ADS_1
TUNGGU UP ' NILLAKU ' YAAAA. PANTENGIN TRS LAPAKKU YG ISINYA SI PANIL SAMA DONAT JEKO. SAMPAI KETEMU DI SANA. BABAAYY