My Cruel Husband

My Cruel Husband
Untuk kedua kalinya


__ADS_3

Devan mengangkat sebelah alisnya begitu mendapat kode dari Rena. Lovi menatap Rena yang berbalik dengan Andrean dalam gendongannya.


"Memangnya kenapa anak-anak tidak boleh ikut?" tanya Lovi dengan raut sedihnya. Malam ini Devan memintanya untuk tampil lebih menawan karena Devan akan membawanya ke suatu tempat. Namun Devan dan Lovi pergi tanpa adanya kedua anak mereka.


"Ini waktunya mereka beristirahat," jawab Devan dengan tenang. Tangan kekar itu membawa Istrinya masuk ke dalam ruangan yang khusus digunakan untuk berdandan. Dimana sudah ada Nemi di sana yang siap merubah penampilan Lovi.


"Berikan karya terbaikmu untuknya!"


Nemi menelan ludah seraya mengangguk patuh. Ia menghela napas lega saat Devan meninggalkannya bersama Lovi di ruangan itu.


"Ada apa denganmu?" tanya Lovi.


"Saya memang seperti itu bila berhadapan dengan Tuan Devan. Segan dan...sedikit takut," ucap Nemi dengan nada yang semakin rendah di akhir ucapannya. Lovi terkekeh maklum.


Nemi menatap Lovi khawatir. Statusnya sebagai seorang perancang busana dan perias akan punah bila Lovi menyampaikan semua ucapannya pada Devan.


"Nona tidak akan melaporkannya pada Tuan bukan?" tanya Nemi memastikan. Raut wajahnya sulit dibaca. Lovi bisa melihat ketakutan di matanya.


"Sepertinya itu bisa aku lakukan,"


Dengan senyum jahilnya, Lovi menggoda Nemi. Namun dalam waktu sekejap Nemi langsung menarik tangannya dan menggengam sangat erat.


"Nona orang yang baik hati. Tidak mungkin tega denganku," ucap Nemi dengan raut wajah memohon. Lovi tersenyum sangat manis menenangkan wanita itu.


"Kamu terlalu serius," jawab Lovi seraya duduk di depan meja rias yang besar tersebut. Wajahnya sudah siap untuk di poles. Ia tidak sabar untuk segera sampai di tempat yang menjadi tujuan Devan malam ini.


Sebenarnya apa yang akan dilakukan lelaki itu malam ini?


"Aku tidak ingin warna merah menyala itu," ucap Lovi saat Nemi akan mempercantik bibirnya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan hingga Nemi tertawa. Sikap Lovi masih seperti anak kecil.


"Kalau begitu aku akan menggunakan warna hitam,"


Mata Lovi membulat dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia menatap Nemi yang ada di sampingnya.


"Aku akan terlihat seperti vampir," gumam Lovi dan bodohnya Ia benar-benar membayangkan hal itu. Lovi menggeleng dengan wajah panik.


"Kamu tidak akan melakukan itu. Karena kalau sampai aku buruk rupa, Tuanmu akan marah besar,"


"Oh Tuhan kenapa Nonaku berubah menjadi sosok yang pintar mengancam?" ucap Nemi seraya menengadahkan wajahnya ke atas. Lovi kembali dibuat terhibur.


************

__ADS_1


"Tidak ada baju lain yang lebih sopan, Nemi?"


Mata Devan seolah menilai setiap bagian tubuh Istrinya yang sudah dibalut dengan gaun elegan itu.


"Aku tidak suka dengan bagian bahunya. Ini terlalu seksi," gumam Lovi yang diam-diam juga menyetujui kalimat Devan.


Devan paham dengan ketidak nyamanan istrinya. Ia mengusap wajah Lovi yang sudah tampil sempurna.


"Menurutku gaun ini yang paling baik di antara yang lain, Tuan,"


Devan akhirnya mengangguk. Ia mengibaskan tangannya pertanda meminta Nemi untuk keluar dari ruangan, meninggalkannya hanya berdua dengan sang istri.


"Aku benar-benar tidak boleh tahu kita akan kemana?"


Devan tersenyum menyadari rasa penasaran Lovi yang belum juga menguap.


"Tidak, Sayang. Malam ini akan menjadi waktu paling indah dalam hidupmu,"


Lovi mengangkat sebelah alisnya.


"Benarkah?"


*************


Devan dan Lovi memasuki sebuah restoran megah dengan gaya romawi yang penuh dengan nuansa klasik. Devan membuka pintu mobil dan menggenggam lembut jemari Lovi. Lovi tak henti berdecak kagum ketika melihat desain di setiap sudut restoran itu. Bangunan dirancang dengan sangat baik. Yang menambah kenyaman Lovi adalah, tidak adanya pengunjung di sana kecuali mereka berdua.


"Kamu memesan restoran ini hanya untuk kita?" tanya Lovi yang langsung di jawab oleh Devan dengan bangga.


"Tentu saja. Untukmu, semuanya harus sempurna,"


Hati Lovi menghangat saat Devan berkata demikian. Apakah malam ini adalah saat yang tepat untuknya membuka hati?


Begitu keduanya memasuki area restoran lebih dalam, alunan musik yang merdu menyambut mereka. Semua lelaki yang berada di balik alat musik itu memberikan penampilan terbaiknya.


Lovi menatap tidak percaya ketika matanya menangkap sosok Rena dan Raihan bersama dengan kedua putranya.Yang membuat Lovi kian terkejut adalah, semua teman-teman dekatnya semasa sekolah juga hadir memberikan senyuman terbaik.


"Selamat ulang tahun, sayang," bisik Devan yang ternyata sudah berada di belakang Lovi dengan tangan yang melingkari pinggang ramping itu.


"Memangnya sekarang aku berulang tahun?" tanya Lovi seperti orang bodoh.


Rena tertawa lalu mendekati Lovi untuk memeluknya.

__ADS_1


"Kamu melupakan hari penting dalam hidupmu, Lov?"


Devan bingung dengan perempuan itu. Usianya masih muda tapi kenapa hari ulang tahunnya saja Ia bisa lupa?


"Kamu juga melupakan hari pernikahan kita?" tanya Devan dengan pandangan menyelidik.


"Kurasa itu lebih penting dari hari ulang tahunku. Maka tidak mungkin aku melupakannya,"


Devan tersenyum lalu bergantian dengan Rena untuk memberi pelukan pada Istrinya yang sudah menangis terharu. Lovi menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang Devan. Hanya dengan cara itu Ia bisa mengucapkan rasa terimakasihnya pada Devan.


"Terimakasih, malam ini kamu membuatku kembali mengingat hari ulang tahunku. Aku tidak bisa memberikan apapun yang lebih dari ini untukmu," bisik Lovi yang mampu didengar jelas oleh Devan. Lelaki itu melepas rengkuhannya dan merangkum wajah Lovi dalam balutan tangannya.


"Kamu tidak perlu memberikan apapun. Aku hanya ingin kamu selalu ada di sampingku, Adrian dan Andrean. Itu sudah cukup, Lov,"


Mata Devan menatap penuh cinta. Ia menembus pertahanan Lovi dengan segala perasaan cinta yang dimilikinya. Hingga malam ini Lovi mengaku kalau Ia tidak bisa lagi menjaga hatinya terlalu lama dari sentuhan Devan.


"Aku mencintaimu, Devan,"


Devan berkaca mendengarnya. Setelah sekian lama ia menunggu kalimat itu dari mulut Lovi.


Devan berlutut lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Mata Lovi menatap isi dari kotak tersebut. Cahaya yang dipantulkan berlian mewah itu berhasil membuat Lovi kagum.


"Malam ini aku akan mengulang momen pernikahan kita dulu,"


Lovi mengerinyit. Ia tidak mengerti dengan ucapan Devan.


"Dulu, aku memberi perhiasan padamu tidak disertai dengan perasaan apapun,"


Devan terdiam sebentar. Sementara para tamu yang sengaja di undang oleh Devan sudah menatap gemas ke arah mereka.


"Untuk kedua kalinya aku menginginkan kamu sebagai pendamping hidupku selamanya,"


Lovi menggigit bibir bawahnya berusaha menahan isak haru. Perlakuan Devan sangat manis. Setelah sekian lama kebahagiaan dalam hidupnya terenggut, kini Devan berhasil mengembalikannya.


"Kamu akan selalu menjadi penerang dalam hidupku yang kelam ini, sayang,"


**********


**END


Ga deng boong:pšŸ˜‚šŸ˜‚ msh mau lnjt? dukungannya jg hrs lnjt dongg. Jgn lupa like, coment & votenya. Makasih semuanyaaa**

__ADS_1


__ADS_2