My Cruel Husband

My Cruel Husband
Game dunia nyata yang menegangkan


__ADS_3

"Sudah cukup?"


"Kalau ditanya 'sudah cukup atau belum' sebenarnya belum, Uncle. Tapi kita tidak boleh berlebihan,"


"Okay, sekarang kita bayar."


"Kita? uncle yang bayar!" nada bicara Genta tidak santai setelah mendengar ucapan Devan.


"Maksud Uncle, kita ke kasir sekarang untuk ditotal. Astaga...."


"Oh, okay."


Adrian masih menatap liar mainan-mainan yang dijual. Berjalan pun, matanya tidak fokus sampai beberapa kali menginjak bagian belakang kaki Kenith yang berjalan di depannya.


"Hey! kamu kalau jalan itu yang benar! mata dipakai untuk melihat sekitar. Kaki ku diinjak terus,"


"Tidak sengaja,"


"Mana kata 'maaf' mu?"


"Hmm... maaf,"


Usai sampai di tempat pembayaran, Devan langsung mengeluarkan kartu tipis miliknya yang isinya tidak main-main itu.


Satu anak bisa dua sampai tiga mainan. Jadi tidak heran kalau mereka adalah pembeli yang paling lama berdiri di meja kasir.


Urusan pembayaran selesai, saatnya mereka keluar dari toys store itu. "Kita periksa kan kaki nya Adrian dulu di rumah sakit ya,"


Mereka semua mengangguk tapi tidak dengan Adrian. Ia menatap Daddy-nya dengan tajam. Kemudian tidak mau melanjutkan langkah. Sehingga Ia berdiri di depan pintu toys store.


"Aku tidak mau, Dad. Aku baik-baik saja, Daddy mengerti tidak?"


"Tapi Daddy takut---"


"Takut apa sih? di kaki ku tidak ada hantu nya. Apa yang harus ditakutkan dari kaki ku?"


"Barangkali ada tulang yang---"


"Tulang ku kenapa? keropos? tidak mungkin, aku masih kecil. Memangnya aku Grandpa yang sudah tua?"


"Tinggal turuti apa kata orangtua. Susah sekali," ucap Kayla yang malas mendengar perdebatan Adrian dengan Devan.


"Aku tidak mau! pokoknya aku mau langsung pulang," ujar Adrian seraya berjalan menyusul mereka yang sempat berhenti untuk memberikan tatapan tajam padanya.


"Ya sudah, terserah." sahut Devan.


*****


Jhico masih mengeluarkan koper kecil yang menjadi barang bawaan Ia dan Vanilla sementara Vanilla sudah menjadi rebutan para sepupunya yang ingin mengusap perut Vanilla yang sudah mulai terlihat membesar.


"Empat bulan sudah lumayan besar ya. Seperti hamil kembar,"


"Hanya satu, tidak kembar."


"Kamu harus cerita hasil USG kemarin! ayo, duduk dulu."


Lovi membawa Vanilla masuk ke dalam diikuti dengan Nindya, Jo, Devira, dan Jane. Mereka antusias sekali saat melihat Vanilla datang. Vanilla memang sudah dinantikan sejak tadi. Vanilla dan Jhico baru tiba, karena Jhico harus bekerja dulu sebelum berangkat ke mansion.


"Wow anak Mama sudah datang,"


"Hai, Ma. Dimana Papa?"


"Belum pulang. Bagaimana kabarmu? dan cucu Mama baik-baik saja?"


"Aku baik, dia juga baik." jawab Vanilla seraya mengusap perutnya ketika mengatakan 'dia baik.'


"Kamu mau makan apa, Vanilla? aku masak---"


"Aku baru makan, Lovi. Terima kasih atas tawarannya. Perutku benar-benar penuh sekarang,"


"Kamu seperti tidak tahu kebiasaan Vanilla saja, Lovi. Dia menjadi rakus setelah hamil,"


"Ma..." Vanilla merengek protes saat Rena mengatakan Ia rakus. Meskipun kenyataannya seperti itu, tapi Ia sangat sensitif kalau sudah berhubungan dengan nafsu makan nya yang melonjak drastis.


"Anak-anak kalian dimana?"


"Jhico dimana?"


Vanilla dan Rena sama-sama mengajukan pertanyaan. Mereka terkekeh berdua. "Kalian kompak sekali," ucap Nindya.


"Anak-anak sedang pergi bersama Devan,"


Vanilla mengangguk dan matanya tidak lagi mencari keponakannya di mansion. "Jhico sedang---"


"Hallo, Ma."


Belum sempat Vanilla melanjutkan ucapannya untuk memberi tahu keberadaan sang suami, Jhico sudah masuk dengan tangan menarik satu koper dan ada tas Vanilla juga di lengannya yang lain.


"Hai, bagaimana kabarmu? sehat? masih kuat menghadapi istri hamil?"


pertanyaan Rena membuat Jhico tersenyum. Ia mengangguk tulus. "Masih dan akan terus kuat, Ma."


"Huwaaaa aku mau pingsan sekarang,"


Jane memukul kepala Devira dengan bantal sofa. Sedari tadi mereka berdua diam lebih banyak memperhatikan. Setelah mendengar dialog romantis itu, Devira tak bisa lagi hanya bungkam.


"Mati pun tak masalah,"


"Astaga, Jane! kamu jahat sekali. Aku belum menikah, sial---"


"Ehemm! ini area untuk anak kecil, jangan bicara kasar. Meskipun mereka sedang tidak ada, tapi kalau kalian sudah terbiasa, maka sulit untuk--"

__ADS_1


"Okay, maafkan aku."


Jane tertawa mengejek Devira yang ditegur karena akan mengeluarkan umpatan. "Beruntungnya aku tidak suka bicara kasar lagi,"


"Dulu kamu juga sama saja dengan aku," seru Devira saat Vanilla bicara seolah dia adalah perempuan memiliki tutur kata yang sopan.


"Iya, sekarang tidak lagi."


Jhico sudah pergi ke kamar istrinya untuk meletakkan koper. Sehingga Vanilla berani membela diri. Padahal sampai saat ini kebiasaan buruknya itu masih terjadi. Jhico terkadang menegurnya tegas ketika Ia mengumpat. Mereka akan memiliki anak, jadi dalam bersikap dan bertutur kata tentu saja harus memberikan contoh yang baik meskipun anak belum memahami apa yang dilakukan orangtuanya.


"Kamu masih suka mengumpat. Jangan sok suci ya, Van. Ingat, aku ini hampir setiap hari bertemu kamu," mata Jane melotot tajam. Vanilla menggeleng tidak mengaku.


"Suka bercanda si Jane ini ya,"


"Hih? kalau bohong, aku doakan anakmu kembar. Biar---"


"Jangan, aku tidak akan sanggup mengurusnya,"


"Ssst, Vanilla! kamu kalau bicara hati-hati. Kalimat kamu barusan seolah menunjukkan kalau kamu tidak mau merawat anakmu bila mereka lebih dari satu,"


"Berapapun jumlahnya, kamu harus siap, Vanilla." ujar Lovi yang sudah sangat berpengalaman. Ia juga terkejut saat Vanilla menolak dengan terang-terangan bila memiliki anak kembar.


"Tapi anakku satu dan saat periksa kemarin dia perempuan,"


"Ah perempuan?" tanya Jo antusias. Vanilla mengangguk. "Bukan kembar. Dan semoga saja tidak kembar. Sungguh aku tidak bisa membayangkan kalau aku memiliki anak kembar---"


"Diulang lagi ucapannya. Sudah Mama peringatkan tadi,"


"Tapi sungguh, Ma. Aku tidak akan sanggup, serius."


"Kalau Tuhan memberikan kamu, anak kembar, artinya kamu dianggap mampu untuk merawat mereka. Tuhan lebih tahu semua yang terbaik untuk umatnya,"


"Jhico bisa tersinggung bila mendengar ucapanmu, Van. Itu 'kan anaknya,"


"Vanilla mulutnya memang minta dilempar dengan kembang api. Sembarangan saja kalau bicara. Kamu pikir jumlah anak itu bisa request pada Tuhan?! hah?!" sentak Jane yang tiba-tiba saja tersulut emosinya. Ia saja menginginkan anak kembar karena menurutnya sangat menyenangkan. Sementara Vanilla, belum apa-apa sudah mau menolak bila jumlahnya lebih dari satu alias kembar dengan alasan tidak akan bisa merawatnya.


****


"Aduh, beruntungnya Uncle menyadari kalau bahan bakar sudah tersisa sedikit. Orang kaya, tapi jumlah bensin tidak diperhatikan. Sudah sisa sedikit baru sadar,"


"Komentar saja mulutmu yang bau itu,"


Genta mendorong Adrian sampai sepupunya itu terantuk di pintu mobil. Ia jelas saja kesal ketika mulutnya dikatakan memiliki aroma tidak sedap alias bau.


Ia sengaja membuka mulut lebar-lebar dan melempar hembusan napasnya di dekat Adrian untuk membuktikan. Adrian langsung berteriak histeris seraya menutup hidungnya.


"Bau tidak?!"


"Bau!"


"Serius bau? coba dihidu sekali lagi. Ini,"


HAAH


HAAH


HAAH


"Halah berlebihan sekali anak ini. Jelas-jelas mulutku harum,"


"Harum apa, Genta?" tanya Sandra jahil.


"Harum melati, puas?!"


"Artinya mulutmu seperti pemakaman?"


Mata Genta melirik Kayla, adiknya dengan sinis. Ia menarik telinga Kayla hingga adiknya itu meringis.


Mereka sibuk berdebat, sementara Devan sedang diam di depan kemudinya. Menunggu mobilnya selesai diisi bahan bakar. Ia hanya duduk sendiri di depan, persis seperti supir pribadi. Dan hanya mereka yang berani menjadikan Ia supir seperti ini. Benar-benar hebat sekali anak-anak kecil itu.


"Hey! bangun! tidak usah pura-pura pingsan,"


Adrian masih bertahan dalam kepura-puraannya. Genta lebih cerdik lagi. Ia menyentuh bahu Devan dari kursi tengah tempatnya duduk saat ini.


"Uncle, bagaimana kalau kita ganti mobil? mobil sedang diisi bahan bakar, kita naik mobil lain saja," ucap Genta pada Devan.


"Ya sudah, kalau begitu. Kita menggunakan mobil anak buah di belakang. Mobil mereka juga bagus, tidak akan membuat kalian alergi," ujar Devan yang membuat Kayla mendengus.


"Sejak kapan kami alergi dengan mobil? semua mobil sama saja,"


Devan menganggap ucapan Genta serius. Ia membuka pintu mobil mewahnya untuk beralih ke mobil anak buahnya yang juga mewah yang sedari tadi mengawasi mereka dari belakang.


Adrian segera membuka matanya saat terdengar bunyi pintu mobil terbuka. Genta yang melihat itu sontak saja tertawa keras. Adrian termakan kebohongannya.


"Kamu takut ditinggal ya? HAHAHA,"


"Apa sih? tidak lucu. Dasar, mulut bau!"


"UNCLE, MULUT ADRIAN MINTA DISIRAM DENGAN BENSIN INI," teriak Genta pada Devan setelah Ia membuka pintu. Devan yang sudah menunggu di luar mobil terkejut mendengar teriakan Genta.


"Ada apa?"


"Adrian mengatakan mulutku bau. Memang mulutnya harum?! tidak 'kan? Uncle harus jawab jujur! jangan mentang-mentang Adrian anak Uncle,"


Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mimpi apa dia semalam bisa berurusan dengan anak-anak kecil yang berstatus kan keponakannya itu.


"Adrian jaga bicaramu ya! tidak boleh membicarakan orang lain apalagi dia tidak buat salah padamu. Dosa, tahu tidak?!"


"Berarti kalau dia buat salah, aku boleh mengejeknya lagi?"


"Tidak boleh!"

__ADS_1


"Tadi kata Daddy---"


"Sudah terisi, Tuan." ucapan petugas yang mengisi bahan bakar untuk mobil Devan membuat keributan kecil itu terhenti.


"Ya, terima kasih."


"Kita tidak jadi pindah. Mobil sudah terisi lagi,"


"Uncle tidak bayar? berhutang? astaga, sudah mobilnya hampir kehabisan bensin, sekarang berhutang lagi. Uncle benar kaya atau tidak?" tanya Kenith dengan polos tapi berhasil membuat Devan menggeram dan menghela napas pelan, Ia berusaha sabar.


"Ini 'kan milik Daddy ku. Untuk apa bayar?" sahut Adrian dengan datar nya.


"Apa yang milik Uncle Devan?"


"Tempat pengisian bahan bakar ini, Kenith. Ishh otakmu itu tidak bisa diajak berpikir cepat ya?"


"Mulai lagi mulutnya mencela. Aku heran dengan kamu. Suka sekali berkomentar pedas atas orang lain," gumam Genta yang rupanya benar-benar tersinggung karena tadi dikatakan bau mulut.


"Oh ada yang dendam karena aku ejek tadi. Okay, sorry, Genta. Aku sengaja," ucap Adrian seraya menekan dua kata di akhir ucapannya.


"Terserah!"


Devan kembali mengendarai mobilnya. Keadaan di jalan raya terbilang cukup sepi karena sudah menjelang malam. Semua manusia yang beraktifitas dari pagi sampai sore tadi sepertinya sudah kembali ke kediaman mereka.


"Uncle jangan terlalu kencang bawa mobilnya. Itu bahaya,"


"Padahal ini belum seberapa, kamu sudah panik, Sandra?"


"Tentu saja aku panik. Masa depanku masih panjang, Uncle. Kalau aku kenapa-kenapa---"


CITTT


"Astaga, Tuhan." Adrian mengusap dadanya. Meskipun Ia sudah tahu kebiasaan sang ayah tapi tetap saja Ia belum terbiasa. Devan baru saja mengerem mendadak karena lampu lalu lintas.


Pihak keamanan lalu lintas menyadari kesalahan Devan yang hampir saja membuat kendaraan dibelakangnya menabrak mobil Devan. Kalau kedua mobil itu bersentuhan, apa tidak terjadi kecelakaan?


Polisi mencibir dan akan memberi teguran. Namun lampu sudah terlanjur berubah warna. Devan mengendarai mobilnya secepat kilat seraya menatap polisi itu dari spion dengan senyum miringnya.


Polisi tidak akan tinggal diam. Devan sudah dianggap menentang peraturan. Ada satu orang yang mengejar mobil Devan menggunakan motor kebanggan mereka.


Gesitnya polisi tidak akan mengalahkan betapa liciknya Devan dalam berkendara. Devan pikir berkelit dari kejaran polisi adalah hal yang menyenangkan dan semua keponakannya yang saat ini berada di dalam mobilnya harus mencobanya.


"Uncle jangan macam----"


Drrrrr


Drrrr


Kayla menutup telinga nya saat deru mobil terasa menusuk indera pendengaran. Devan terkekeh melihat kepanikan anak-anak itu dari kaca di atas kepalanya.


"Tenang saja. Ini menegangkan tapi seru. Kalian harus mencobanya,"


"Uncle, aku tidak mau! ini bahaya," ucap Genta khawatir.


Devan tidak menjawab karena Ia fokus melaju cepat seperti kilat. Dan polisi berhasil kehilangan jejaknya. Devan pintar berkelit. Apalagi situasi jalanan sangat mendukung.


"Daddy sudah! aku juga takut," teriak Adrian yang wajahnya tidak kalah pucat dengan sepupunya.


Setelah memastikan bahwa mereka aman, barulah Devan berkendara dengan normal. Di saat itulah Ia tertawa kencang. Ia menoleh sebentar ke belakang dimana Adrian, Genta, Kenith, Sandra, dan Kayla masih terdiam karena mengendalikan detak jantung mereka yang masih tidak karuan.


"Uncle, akan aku laporkan pada Aunty Lovi. Dia pasti marah sekali bila kita diajak--"


"Jangan, dibawa santai saja. Jangan apa-apa laporan. Ah kalian tidak seru,"


"Santai darimana, Uncle?! yang tadi itu seperti di film action,"


"Ya, tapi kurang baku hantam ya,"


Mereka menggeleng tak habis pikir mendengar jawaban Devan yang santai itu. Mereka sudah ingin pingsan, Devan masih bisa tertawa sejak tadi. Bahkan menyuruh mereka untuk santai dan menganggap bahwa yang terjadi tadi adalah sesuatu yang menyenangkan.


"Lain kali, kita main game seperti tadi lagi ya,"


"Tidak mau! sampai kapanpun tidak mau! aku tidak ingin mati muda. Selesai sekolah saja belum, masa sudah mencari maut?"


Tawa Devan kembali meledak keras. Lucu sekali menyaksikan kekhawatiran mereka. Devan sudah biasa berada di situasi seperti ini tapi semenjak ada Lovi memang sudah jarang sekali. Karena Ia sudah memikirkan nyawa dan kemungkinan yang akan terjadi bila Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya. Dulu, Devan sering sekali mencari masalah dengan polisi. Karena itu memiliki sensasi tersendiri untuk Devan. Hobi nya memang melanggar.


"Aku juga belum mendapat jodoh, Dad. Tidak boleh---"


"Apa? kamu bicara apa? sepertinya Daddy salah dengar,"


Devan mengencangkan suaranya. Adrian sudah membahas jodoh padahal usia masih sangat belia.


"Aku belum mencari jodoh, Daddy."


"Memang jodoh itu seperti apa menurutmu? kekasih?"


"Hmm... jodoh itu seperti Mommy dan Daddy bukan?"


"Iya, dan kamu mau menjadi seperti Mommy dan Daddy? lantas siapa perempuan yang akan menjadi---"


"Belum tahu, nanti aku pikirkan,"


"Astaga, Adrian... Adrian... genit sekali anak ini. Kamu tidak boleh memikirkan jodoh untuk sekarang,"


"Tidak, aku akan fokus belajar dulu,"


"Biasanya anak itu mewarisi sifat ayahnya. Mungkin Uncle Devan---"


"Uncle tidak seperti ini saat kecil. Seingat Uncle,"


--------

__ADS_1


Devan kecil kayaknya emg mirip Adrian deh. Pandai modus dan genit😂 tp Doi gk ngaku wkwkwk


__ADS_2