My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pertemuan belum sempat terjadi


__ADS_3

Raihan bertugas untuk menjaga kedua cucunya sementara Auristella di rumah sakit bersama kedua neneknya.


Adrian dan Andrean sudah lumayan besar, mereka mengerti kalau adiknya sedang sakit sehingga tidak menuntut banyak hal.


Keduanya kompak tidak membuat kakek mereka semakin sakit kepala dan kepikiran.


"Sudah makan malam, kalian tidur ya?"


"Iya, Grandpa."


Mereka pun jadi lebih mudah diatur. Raihan pulang sangat awal setelah mendengar kabar bahwa cucu perempuannya jatuh sakit.


"Siapa yang telepon, Grandpa?"


"Grandma,"


Adrian dan Andrean menghentikan suapannya secara bersamaan. Mereka menatap Raihan dengan serius.


******


"Demamnya naik turun, diare, mual dan muntah juga. Setelah dilakukan diagnosa lebih lanjut, Nona Auris terkena demam tifoid atau tipes, Nyonya."


Kemarin mereka kira Auristella akan berakhir baik-baik saja, langsung bisa pulang ke mansion. Tetapi kondisi tubuhnya sangat tidak mendukung. Sampai akhirnya dokter menetapkan hasil diagonosa yang baru setelah melakukan beberapa pemeriksaan. Auristella bukan hanya demam biasa.

__ADS_1


"Lalu bagaimana penanganannya, Dok?"


"Sudah diberikan antibiotik karena penyebab penyakit ini adalah bakteri.


Penyebabnya adalah bakteri bernama salmonella typhi yang menyerang organ pencernaan. Bakteri tersebut bisa berasal dari air atau makanan. Dan anak seperti Auristella yang sudah mendapatkan MPASI cenderung lebih mudah terinfeksi bakteri tersebut. Rupanya kebersihan makan dan minum Auristella selama ini belum bisa menjamin Auristella bebas dari penyakit itu.


"Selama ini kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kebersihan makan, minum, dan lingkungan Auris. Aku bingung, kenapa Auris bisa seperti ini,"


"Iya, kurang higienis apa lagi kita?"


kedua wanita paruh baya itu masih kebingungan dengan penyakit cucu mereka yang tidak disangka itu.


"Ini cara Tuhan untuk membuat Auris semakin kuat. Kita harus yakin Auris bisa melewati rasa sakitnya,"


Setelah mendapatkan penjelasan dari istrinya, Raihan menatap kedua cucunya satu persatu. Ia mengusap kepala Andrean dan Adrian yang sejak tadi juga mendengarkan pembicaraannya bersama Rena.


"Jadi adik belum bisa pulang, Grandpa? dia menginap lagi?"


"Ya, belum tahu sampai kapan,"


Tiba-tiba saja Adrian menangis histeris. Andrean dan Raihan sangat terkejut melihatnya. Andrean langsung memeluk adiknya sangat erat begitupun dengan Raihan.


"Kasihan Auris. Dia kesakitan, Grandpa. Aku tahu rasanya disuntik," ujarnya disela Isak tangis. Bila sudah seperti ini, terlihat sekali bahwa Adrian sangat menyayangi adiknya walaupun setiap hari mereka bertengkar.

__ADS_1


******


Devan dan Lovi mendarat di bandara dengan selamat. Namun perasaan mereka belum sepenuhnya lega. Sebentar lagi mereka akan bertemu dengan malaikat kecil yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.


Ya Tuhan, Lovi benar-benar tidak sabar memeluk anak perempuannya, lalu membisikkan kata-kata menguatkan agar anaknya bisa melewati cobaan yang sedang menerpa dirinya.


"Ayo, cepat, Bito!"


Begitu masuk ke dalam mobil, Lovi langsung berseru tidak sabar. Rasa cemasnya belum bisa hilang kalau Ia masih jauh dari Auristella.


"Lov, tenang. Auris akan baik-baik saja,"


"Aku tahu, tapi dia perlu aku sekarang,"


Bito melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Tetapi Lovi selalu memintanya untuk cepat sampai akhirnya Ia berkendara dengan kecepatan yang gila. Lovi yang biasanya paling tidak bisa dibawa oleh kendaraan yang melaju sangat cepat, tiba-tiba saja berubah. Sementara Devan sudah biasa berada dalam situasi ini. Ia sering berkendara dengan gila. Bahkan dulu Devan sering dikejar oleh polisi karena menganggap bahwa jalan raya hanya miliknya sendiri, tetapi berkelit dari kejaran polisi adalah kemampuan Devan yang mumpuni.


Semuanya khawatir sampai lupa dengan keselamatan diri sendiri. Terlalu memikirkan Auristella sampai tidak peduli bahwa mereka juga punya nyawa yang harus dijaga.


Mobil yang dikendarai Bito ditubruk dari arah belakang. Seolah itu adalah akibat karena mereka terlalu egois dalam berkendara.


Di detik terakhir sebelum matanya tertutup bibir Lovi masih sempat memanggil nama anak bungsunya yang sedang berjuang sendiri. "Auris," semoga itu sampai di telinga Auris dan Ia bisa kuat dalam menghadapi semuanya. Ini akan semakin berat karena kedua orangtuanya pun sedang berjuang sendiri-sendiri untuk keluar dari kegelapan yang tiba-tiba saja merenggut terangnya dunia mereka.


----------

__ADS_1


__ADS_2