
"Mommy tunggu di sini ya?"
"Jangan pergi kemanapun ya, Mom."
"Iya, memang kamu pernah Mommy tinggal?"
Adrian tersenyum lebar seraya menggeleng. Ia segera berlari ke tengah lapangan futsal untuk bermain.
Lovi memperhatikan dari tepi lapangan indoor tersebut. Kedua anaknya mulai unjuk kebolehan padahal baru menyelesaikan pelajaran formalnya. Begitu selesai belajar, mereka langsung berganti baju.
Hari ini Lovi membawa Auristella ikut bersamanya karena Lovi akan menunggu Andrean dan Adrian lebih lama dari biasanya karena harus bermain futsal terlebih dahulu.
"Netta, sebaiknya kamu makan dulu. Biar aku yang menyuapi Auris,"
Netta menggeleng dengan senyumnya. Seharusnya Lovi yang melakukan itu karena sejak pagi Ia belum menyentuh makanan sedikitpun.
"Kalau Tuan tahu Nona belum makan sejak pagi, Tuan pasti marah besar,"
Auristella membuka mulutnya lebar-lebar saat sendok yang dipegang oleh Netta mendarat tepat di depan mulutnya.
"Perutku sakit. Tidak nafsu makan juga,"
"Mungkin Nona hamil lagi,"
"Haish! kamu ini,"
Netta terkekeh saat Lovi mendelik padanya. Ia hanya asal bicara saja. Karena saat menghamili ketiga anaknya, kebiasaan Lovi memang seperti itu.
"Semakin besar, Auristella semakin mirip dengan Tuan ya, Nona?"
"Iya, padahal aku yang membawanya kemana-mana selama sembilan bulan,"
"Tidak ada yang mirip Nona, sepertinya,"
Lovi menghela napasnya kesal. Kenyataannya memang seperti itu. Kedua anak kembarnya memiliki wajah tampan seperti Devan, dan sebagian dari sifat mereka pun sama. Begitupun dengan Auristella.
****
"Aku senang, Lov. Aku sembuh karena kamu ada di samping aku. Mau menerima aku, memberi dukungan yang luar biasa untuk aku. Terima kasih, Lov"
__ADS_1
Devan mengecup punggung tangan sang istri untuk kesekian kalinya. Ia benar-benar bahagia saat mendengar ucapan Riyon, dokter yang menangani psikis-nya.
Devan dinyatakan telah sembuh dari penyakit skizofrenia yang sempat dideritanya. Setelah menikah kembali dengan Lovi, kondisi Devan memang semakin membaik dan Riyon mengatakan Devan hanya perlu waktu sebentar lagi untuk kembali merasakan kesehatan jiwanya.
Dan sekarang waktu itu tiba. Dan Lovi yang selalu berada di sampingnya juga menambah kebahagiaan Devan. Istrinya itu tidak pernah lelah untuk menemaninya, menerima semua kekurangan Devan dengan rendah hati.
"Aku juga senang. Akhirnya aku tidak dibuat khawatir lagi,"
Devan menutup pintu mobil setelah Istrinya masuk. Ia memutari mobil dan duduk di balik kemudinya.
Ia menoleh pada Lovi, "Seharusnya kita rayakan ini. Sebagai bentuk rasa syukur,"
"Kita datang ke panti asuhan saja. Bagaimana menurutmu? jangan lupa juga ajak anak-anak kita,"
"Terdengar menarik. Kamu tahu, sejak dulu aku hanya menyuruh orang untuk datang ke sana, sekarang aku yang akan datang. Aku jadi tidak sabar. Bagaimana suasana di sana ya? pasti menyenangkan karena banyak anak-anak kecil,"
Ferro adalah orang yang dimaksud Devan. Lelaki tua itu yang selalu membawa semua kebutuhan anak-anak di salah satu panti asuhan, untuk satu bulan sesuai perintah Devan. Devan tidak pernah turun tangan langsung. Ia menyadari kalau selama ini, perbuatan baik yang dia lakukan memang sangat tanggung. Seharusnya Ia datang ke tempat mulia itu lalu melihat kehidupan di sana agar Ia bisa belajar juga.
"Iya, kamu sombong jadi untuk menginjakkan kaki di sana pasti tidak akan kamu lakukan,"
"Bukan begitu, Lov. Aku pikir, hanya dengan membuat mereka bahagia melalui orang lain itu sudah cukup. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, jadi menyerahkan semuanya pada Ferro,"
****
"Wow, tidak biasanya Mommy baik hati seperti ini,"
"Mommy selama ini jahat, Adrian?"
Anak itu mengangguk polos, "Karena Mommy jarang sekali membeli es krim dan kembang gula untuk Adrian," ucapnya yang membuat Lovi mendengkus kasar.
"Tidak seperti Daddy yang sering membelikannya untukku,"
"Hei sekarang tidak lagi," sangkal Devan ketika melihat Lovi yang menatapnya tajam. Adrian sengaja ingin menciptakan perdebatan di antara Ia dan Lovi, atau bagaimana?
Auristella yang berada dalam baby chair nya mulai menatap liar sesuatu yang sedang dinikmati sang kakak. Melihat adiknya yang sangat menginginkan itu, Adrian sengaja menggodanya. Ia melahap es krim dengan gaya berlebihan sehingga menimbulkan rasa ingin Auristella kian meningkat. Ia bergumam untuk menggambarkan betapa nikmatnya es krim itu.
"Lezatnya. Uh, dingin-dingin menyegarkan,"
Lovi pergi ke dapur untuk menyajikan makanan yang dibelinya ke dalam piring. Sementara Devan mulai memberi pelajaran untuk putranya itu.
__ADS_1
Ia melotot pada Adrian, namun anak itu tetap saja membuat adiknya merengek.
"Adrian, lebih baik kamu makan di sana seperti Andrean agar tidak dilihat Auris," saran Devan seraya menunjuk sofa yang ada di depan televisi.
"Tidak mau! Kenapa tempat untuk makan saja harus diatur Daddy?"
Devan menggeram kesal lalu memiting pipi bulat anaknya dengan gemas, "Bukan begitu. Kalau kamu tidak menggoda Auris, tidak masalah makan di sini. Tapi yang kamu lakukan malah sebaliknya."
"Lihat, Auris--"
Belum sempat kalimatnya selesai, suara tangis Auristella sudah terdengar memenuhi telinga Devan dan seluruh sudut ruang keluarga mansion ini.
"DEVAN, KENAPA AURIS MENANGIS? KAMU GANGGU YA?!"
Devan menghela napas seraya menggusar kasar rambutnya. Sejak dulu hingga sekarang, bila anaknya menangis dan Devan ada di dekatnya, pasti Devan yang selalu disalahkan.
Devan menyahuti suara istrinya yang berasal dari dapur, "BUKAN AKU, LOV. ADRIAN YANG--"
"DADDY BOHONG, MOMMY. AURIS MENANGIS KARENA DADDY. AURIS TAKUT MELIHAT WAJAH DADDY YANG BERANTAKAN,"
Devan menatap anaknya dengan garang. Ia bersiap untuk memberi pelajaran tapi anaknya itu jauh lebih gesit. Ia berlari menghindari Devan yang sudah mengambil ancang-ancang.
Lovi datang dengan dua piring di tangannya. Ia memicing ke arah Devan yang sedang menahan rasa kesal.
"Mandi! makanya mandi sebelum main bersama mereka agar wajahmu sedikit tampan dan tidak menakutkan,"
"Sulit sekali ya mengakui kalau aku ini sangat tampan bukan sedikit. Tanpa mandi pun aku tidak akan buruk rupa. Dan perlu kamu tahu..."
Devan menunjuk anak laki-lakinya yang sedang menjulurkan lidah ke arahnya.
"Adrian sengaja menyantap es krim di depan Auris lalu menggodanya juga sampai Auris menangis. Dia mau tapi tentu belum bisa. Salahkan anakmu yang menyebalkan itu,"
--------
HELLAW SEMUANYAAA. Stlh dua abad aku gk up😂 malem ini aku bawa keluarga kecil Devan untk menemani malam libur kleaaan. SELAMAT MEMBACA DAN JANGAN LUPA LIKE, VOMMENT(VOTE & KOMEN) YAAAA. JGN PELIT-PELIT ATUH. FOLLOW AKUN INI JG HEY. MAACIW LHOO🤗
NILLAKU UP, CHECK!
__ADS_1