
"Ini permen besar sekali,"
"Iya, pasti kamu suka. Aunty saja suka. Di sana banyak es krim yang bentuknya lucu-lucu, Adrian."
"Kenapa tidak dibawa? oh iya, nanti mencair ya, Aunty?"
Adrian mengusap keningnya, Ia baru ingat kalau minuman dingin itu tidak mungkin bisa dibawa ke sini dari Korea.
Selain membelikan mereka mainan, Vanilla juga membeli makanan, dan baju untuk ketiga keponakannya.
Auristella membuka satu persatu miliknya. Ia merasa kesulitan untuk membuka pengemas baju stelan miliknya. Anak itu mengulurkan nya pada Jhico, minta bantuan untuk dibuka oleh Jhico.
Jhico segera membuka pengemasnya. Setelah itu memberikannya pada Auristella. "Hmmm..." gumam Auristella seraya menatap bajunya dengan senyum.
"Pasti nanti minta langsung dipakai, habis mandi. Lihat saja,"
Kebiasaan Auristella sama dengan kakak keduanya. Kalau punya barang baru yang sangat menarik perhatian pasti minta langsung dipakai.
******
Waktunya badan Lovi dibersihkan. Devan melarang perawat membantunya. Lovi menggeleng tidak mengizinkan. Ia lebih baik dengan perawat saja kalau dengan Devan, Ia merasa malu.
Setelah perawat keluar dari ruangan Lovi, Devan langsung menatap Lovi dengan tajam.
"Kenapa tidak mau dengan aku? aku suamimu, Lov."
"Tapi aku malu,"
"Ck! kita sudah menikah berapa tahun sih? dari dulu sampai sekarang selalu saja bersikap seperti seorang gadis. Kamu sudah punya tiga anak, apa yang---"
Lovi menutup mulut suaminya yang menggerutu. Lovi malu ketika suaminya menatap tubuhnya. Dari dulu ia tidak nyaman bila suaminya membicarakan hal-hal berbau dewasa dan melihat tubuhnya tanpa penutup sama sekali. Ketika mereka melakukan sesuatu terkadang mereka harus berdebat dulu. Devan pasti marah-marah karena istrinya sibuk menutupi sementara gairahnya sudah menggelora.
"Biasakan, Lov. Lagipula kemarin aku yang lap badan kamu,"
"Aku sudah terbiasa! tapi aku tetap malu. Apalagi sekarang kamu mau membantu aku untuk mandi,"
"Apa salahnya? aku sudah sering melihat nya. Tidak usah banyak drama! cepat duduk! aku bantu,"
Devan membantu istrinya untuk duduk. "Yakin kamu mau mandi? tidak aku lap saja?"
"Aku mau mandi dan sendiri. Aku bisa mandi sendiri,"
"Tidak boleh!"
"Errghh Devan!"
__ADS_1
"Apa? aku tidak peduli,"
Devan menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Ia mendudukkan Lovi di dalam bathup. Lalu membuka pakaian yang dikenakan Lovi.
"Devan, kamu keluar saja. Sumpah demi apapun aku malu kalau mandi dan ada kamu di sini," ujar Lovi dengan geram. Ia pasti akan sangat canggung ketika mandi karena ada mata selain matanya di dalam kamar mandi.
Devan tidak menjawab. Ia akan tetap di sini biarpun Lovi mengusir nya. Kalau terjadi sesuatu pada Lovi di dalam kamar mandi, Ia akan menyesal seumur hidup. Kondisi Lovi sudah sangat membaik, tapi tetap saja Devan tidak tenang bila harus membiarkan Lovi mandi sendirian.
*****
Raihan datang ke ruang perawatan menantunya. Devan dan Lovi tidak ada, tapi ada suara aliran air dari dalam kamar mandi.
Ia memutuskan untuk keluar dari ruangan Lovi, kemudian duduk di sofa ruang tamu. Tadi Ia sudah dilarang oleh Devan untuk datang ke sini lagi karena sebentar lagi Lovi sudah bisa pulang.
Semua sudah dipastikan baik oleh dokter. Lovi tidak lagi lemah dan pendarahan yang sempat Ia alami pasca kuretase sudah tidak Ia alami lagi. Lovi sudah baik-baik saja. Dan sehabis mandi, Lovi akan pulang. Oleh sebab itu Devan tidak mengizinkan papanya datang. Tapi Raihan tetap datang ke sini, untuk memastikan semuanya baik-baik saja dan Ia ingin menemani mereka berdua pulang ke rumah.
Lovi keluar dengan penampilan segarnya. Ia berjalan dibantu oleh Devan. Ia duduk di bangsalnya sementara Devan memasukkan pakaian kotor istrinya ke dalam koper kecil. Baju bersih Lovi sudah habis dan pas sekali dengan kepulangannya.
Semua barang-barang Lovi sudah dibereskan oleh Devan. Ruang perawatan sudah benar-benar kosong, tidak ada lagi barang Lovi dan dirinya sebagai orang yang selalu menjaga Lovi di sana.
"Sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Lovi pada suaminya. Devan menggeleng yakin.
Raihan yang mendengar suara Lovi dari luar langsung masuk ke dalam. Devan dan Lovi terkejut melihat kedatangan Raihan.
"Papa kenapa datang? sekarang kita mau pulang, Pa." ucap Devan.
Raihan menatap barang yang sudah siap dibawa ke rumah. "Papa sudah menyuruh mereka untuk membawa semua itu. Sekarang kita ke mobil," ucap Raihan yang memang sudah meminta bantuan pada anak buah untuk meletakkan barang ke mobil.
Devan mengangguk. Ia menatap Lovi sejenak seraya bertanya, "Benar sudah kuat berjalan? atau mau pakai kursi--"
"Aku sudah bisa berjalan,"
Meski begitu, Devan tetap membantu Lovi untuk berjalan. Lelaki itu merangkul Lovi. Sementara Raihan berjalan di belakang mereka dan pengawal sudah memindahkan barang ke mobil. Cukup banyak, ada satu koper kecil, satu tas untuk pakaian Devan, ada hampers yang dibawa rekan-rekan Devan saat menjenguk Lovi.
"Papa bawa mobil sendiri. Tidak ikut di mobil kalian ya,"
"Okay, Pa."
Devan menutup pintu dan supir langsung membawa mobil nya menelusuri jalan menuju kediamannya.
Ia melihat Lovi yang menatap jalanan. Ingatan Lovi terlempar pada kejadian beberapa hari lalu. Dimana dia dibawa ke rumah sakit melalui jalan ini juga. Kondisinya saat itu benar-benar lemah tapi dia masih ingat kejadian setelah pendarahan. Setelah tiba di rumah sakit, Ia hilang kesadaran. Tidak ada lagi yang Ia ingat setelah pingsan.
"Lov, kamu memikirkan apa?"
"Tidak, hanya melihat jalanan yang ramai,"
__ADS_1
"Jangan memikirkan apapun. Ingat kataku!"
"Iya, aku ingat."
Devan mengusap kepala istrinya, berharap segala pikiran buruk di kepala perempuan itu hilang tak bersisa.
*****
Mobil yang membawa Devan dan Lovi memasuki rumah diikuti dengan mobil Raihan di belakangnya.
Ketiga anak Devan dan Lovi tidak ada yang tahu tentang kepulangan Lovi ini. Sengaja tidak diberi tahu untuk menjadi kejutan.
Mobil berhenti dan anak buah membawa barang-barang Lovi ke dalam. Devan langsung keluar dari mobil kemudian Ia membantu istrinya untuk keluar juga.
Raihan pun meninggalkan kemudi nya setelah itu berjalan bersama Devan dan Lovi menuju rumah.
Ketika anak buah sibuk mengangkat barang, hal itu menyita perhatian Adrian yang sedang mondar-mandir mengikuti Hulk nya yang sudah dipindahkan ke lantai bawah.
"Siapa yang datang?" Ia bertanya-tanya sendiri.
Ia penasaran dan langsung berjalan ke pintu. Matanya membulat saat melihat Mommy nya datang.
"MOMMY, HAAA AKU RINDU."
Adrian berlari kencang lalu memeluk Mommy nya sampai Lovi tersentak ke belakang. Lovi sempat meringis seraya memegang perutnya.
"Adrian!" Devan memperingati anaknya dengan tegas. Lovi mengusap lengan suaminya. Adrian begitu merindukannya jadi sangat excited memeluknya.
"Maaf, Mom. Aku tidak sengaja. Perut Mommy sakit ya?"
"Tidak apa. Dimana Andrean dan Auris?"
"Mereka di kamar Grandma Sena,"
"Grandpa..." Adrian menyapa kakeknya yang langsung tersenyum menyambut pelukan Adrian.
"Jadi anak baik selama tidak ada Mommy dan Daddy?" tanya Devan pada anaknya.
"Tentu saja. Daddy bisa tanya Grandma kalau tidak percaya,"
Hellaww manteman onlenku. Seneng bgt liat dukungan kalian. Makasih yaaa buat semuanya yang udh mampir, kasih like, vote, dan komen.
ADDICTED UP!!
__ADS_1