My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tidak bisa jauh


__ADS_3

Senata dan Rena sedang membuat cookies di dapur, sementara Auristella sedang diberi makan oleh perawatnya. Dan Raihan tengah membaca sesuatu di ruangan yang sama dengan Auristella.


Begitu sampai di mansion, Adrian langsung berteriak memanggil kakaknya untuk menunjukkan trofi yang ada di tangan.


"Wah, Kamu menang?" sambut Raihan.


"Iya, Grandpa. Tapi menangnya di hati Daddy,"


"Maksudmu? seharusnya menang di pertandingan bukan menang di hati Daddy,"


"Aku kalah, Grandpa!"


Raihan menggusar rambutnya bingung. Tadi rautnya bahagia, ketika ditanyai olehnya, malah berubah sedih.


Devan mengangkat anaknya itu lalu memberi ciuman bertubi-tubi di wajahnya. Adrian terkekeh geli dan Raihan memperhatikan.


"Adrian kalah, Pa." ujar Devan seraya menurunkan anaknya kembali.


"Lalu kenapa mendapat itu?" matanya mengarah pada benda yang dipegang Adrian.


"Sebagai pengharagaan dari aku. Dia tetap pemenang bagiku,"


"Oh, jadi trofi itu didapatnya dari kamu, Devan?"


"Benar!"


"Adrian... Adrian... kamu aneh-aneh saja. Yang namanya trofi, itu untuk pemenang. Tidak ada orang kalah dapat penghargaan. Hanya kamu satu-satunya yang seperti itu,"


******


Adrian dan kakaknya dibawa oleh Vanilla dan Jhico untuk berlibur ke tepi kota. Mereka menginap di sebuah bungalow. Jhico memiliki waktu untuk membawa ketiga orang itu liburan selama dua hari.


Dan di malam pertama mereka berlibur, Adrian merasa gelisah. Sedikit-sedikit meminta Vanilla untuk menghubungi Lovi. Seperti tengah malam ini, Ia terbangun karena haus lalu berusaha membangunkan Vanilla agar menyambungkan telepon dengan Lovi.


Jhico yang tidur seorang diri di ranjang lebih kecil daripada yang ditempati oleh Vanilla dan kedua keponakannya, pun ikut terbangun saat mendengar suara Adrian membangunkan sang istri.


"Adrian, diam! Aunty mengantuk," Vanilla berbalik memunggungi Adrian. Anak itu langsung menekuk wajahnya.


Jhico segera meraih ponsel lalu mencari nomor Devan. Ia yang akan menuntaskan rasa rindu anak itu. Padahal bila dihitung, sudah lebih dari lima kali Ia menelpon orangtuanya. Menurut Jhico wajar, karena keduanya sangat jarang berpisah dari Lovi dan Devan.

__ADS_1


"Ini, bicara dengan Daddy,"


Suara Devan yang menyapa dari seberang sana terdengar mengantuk sekali.


"Hallo, Daddy? Daddy sudah tidur?"


"Oh, Adrian. Daddy kira ini Uncle,"


"Adrian selalu terbangun, entah karena apa."


"Jangan seperti itu. Aunty dan Uncle bisa terganggu, Sayang."


"Lov, Adrian menelpon lagi," Devan terdengar membangunkan Lovi. "Mau dengar suara Mommy,"


"Iya, ini Mommy,"


"Mommy sudah tidur cukup lama?"


"Belum, seperti biasa, Auris selalu mengajak Mommy bermain sampai tengah malam. Dimana Andrean?


"Tidur,"


"Menyenangkan, tapi terasa ada yang kurang kalau kalian tidak ikut,"


"Lain kali kita akan berlibur bersama Aunty dan Uncle,"


"Ya, nyanyikan Adrian sebelum kembali tidur, Mom."


Jhico belum benar-benar tertidur lagi setelah berhasil bangun karena Adrian. Ia mendengar Lovi dan Adrian yang berbincang sampai akhirnya Lovi berhasil membuat putranya tertidur kembali. Ponsel Jhico terjatuh di samping kepala Adrian.


Ia berdiri untuk meraih ponselnya. Ia melihat panggilan telah ditutup oleh Lovi. Jhico mengusap kepala anak itu sesaat, Andrean pun diperlakukan demikian.


"Menyenangkan sekali menjadi orangtua. Semoga tidak lama lagi giliranku yang dirindukan oleh anak,"


*****


Aroma nikmat yang menghampiri hidung membuat Vanilla mengerjapkan matanya. Ia melihat empat piring nasi goreng sudah ada di atas nakas.


Gadis itu membangunkan Adrian dan Andrean yang tidur di sampingnya. Adrian yang memang tidur tengah malam dan selalu terbangun, kali ini sulit untuk dibuat membuka mata. Berbeda dengan Andrean yang begitu cepat bangun.

__ADS_1


"Ada nasi goreng. Aunty yang membuat? tidak biasanya,"


Jhico memasuki kamar seraya membawa empat mug air minum. Sebenarnya ada dua kamar di bungalow ini, tapi karena kedua anak kembar itu tidak ingin tidur terpisah dari Vanilla, maka Jhico memutuskan untuk membawa mereka tidur bersamanya dan Vanilla. Beruntung ada dua ranjang di kamar itu. Karena mereka semua tidur di kamar yang sama, maka kamar yang satu lagi kosong.


"Uncle yang membuatnya,"


"Hmm... Uncle hebat," gumam anak sulung itu.


Andrean menyentuh lengan adiknya agar bangun. Adrian berdecak tidak ingin diganggu. Ia menyingkirkan tangan Andrean yang mengganggu.


"Bangun, Adrian. Uncle sudah buatkan sarapan,"


"Adrian, bangunlah. Setelah sarapan boleh tidur lagi,"


"Tidak mungkin dia tidur lagi kalau sudah bangun. Apa lagi sedang liburan,"


Akhirnya Adrian bangun seraya mengusap wajah dan rambutnya. Ia dan Andrean bangkit untuk mencuci muka dan tangan.


"Ini buatan Uncle?"


"Ya, semoga rasanya tidak membuat kalian mual ya?"


Jhico merendah pada kedua anak itu. Jhico merasa khawatir rasanya tidak sesuai dengan selera mereka.


"Enak, enak sekali. Uncle hebat!"


Mereka makan di atas permadani yang berada di antara kedua ranjang. Menikmati sarapan dengan posisi seperti ini lalu ditemani orang-orang terdekat adalah hal yang palling menyenangkan.


"Pantas saja Aunty mau menerima Uncle menjadi pangerannya. Aunty tidak bisa apa-apa, dan sepertinya Uncle berbanding terbalik dengan Aunty. Uh! kalian saling melengkapi,"


"Kamu mengejek Auntymu sendiri, Adrian?"


Adrian terkekeh menunjukkan barisan gigi putihnya. Apa yang Ia ucapkan adalah kenyataan. Vanilla yang tidak bisa melakukan apapun menikah dengan Jhico, laki-laki yang begitu hangat sampai-sampai mau menyiapkan sarapan untuk mereka. Daddynya saja belum tentu bisa diandalkan bila disuruh seperti ini.


----------


SELAMAT MALAM KIWIN-KIWIN🙋SEMANGATKU BWT NULIS MULAI KENDOR KRN DUKUNGANNYA JG TURUN DRASTIS NIH :( KLIK LIKE, SUMBANG VOTE KL ADA, DAN KETIK KOMEN JGN SAMPAI LUPA YAAA. T E R I M A K A S I H🙏


VANILLA UDH UP YAAA. CEK CEK CEK DI PROFIL AKU

__ADS_1



__ADS_2