
Angel, anak Lianne hari ini datang ke rumah. Sambutan hangat diberikan untuk anak yang sudah tidak punya Ibu itu.
Ini pertama kalinya Angel datang ke rumah dan bertemu dengan ketiga anak Lovi dan Devan. Biasanya Lovi dan Devan yang melihat keadaan anak itu di rumah neneknya.
Setelah berkali-kali Angel diminta untuk datang, akhirnya anak itu datang juga. Sebenarnya Ia malu datang ke rumah Devan dan Lovi karena mereka terlalu baik padanya. Bahkan biaya sekolahnya saja ada campur tangan Devan.
"Angel cantik ya,"
"Terimakasih," ujar Angel setelah mendapat pujian dari Senata.
Mereka makan bersama di meja makan. Seraya berbincang sesekali. "Jadi sekarang kegiatanmu apa?" tanya Adrian. Seperti biasa, Ia selalu akrab dengan tamu daripada Andrean.
"Belajar dan membantu nenekku bekerja,"
Andrean dan Adrian bergantian melirik gadis itu. Auristella yang melihatnya, langsung memutar bola mata.
Auristella dan Senata perhatikan, Andrean sering sekali melirik Angel, tapi tidak mengeluarkan suara apa-apa, tidak seperti Adrian yang beberapa kali mengajak Angel berbicara.
"EHEEEM!" Auristella berdehem keras hingga kakak sulungnya terkejut namun Andrean sangat pintar menutupi. Ia berusaha terlihat tenang. Ia menatap Auristella dengan tajam karena Ia tahu maksud deheman Auristella yang tidak wajar itu. Bukan hanya Andrean saja yang terkejut. Melainkan semua yang ada di meja makan juga sama terkejut nya.
"Apa? tenggorokanku gatal," Auristella pura-pura tidak paham tatapan kesal kakaknya. Auristella mengusap lehernya lalu minum, berusaha meyakinkan Andrean bahwa yang Ia lakukan tadi memang murni karena tenggorokannya gatal.
"Kenapa Ean harus kesal saat aku berdehem mengalihkan perhatiannya? sepertinya Ean suka dengan Angel," batinnya menduga.
*******
Sepuluh tahun menjalani pernikahan, Jane dan Richard baru memiliki anak. Saat ini usianya enam tahun berjenis kelamin laki-laki. Mereka menjadi warga negara lain selama beberapa tahun. Hanya bertemu dengan keluarga yang di Manhattan sesekali saja, bila ada acara keluarga.
Di masa liburan ini, mereka ke Manhattan dan mengunjungi rumah-rumah sepupu Jane seperti Devan.
Bila berkumpul, seperti biasa, Dimitry, anak Jane dan Richard selalu saja diam, tidak banyak bicara. Sifatnya hampir sama dengan Andrean.
Tidak hanya keluarga kecil Richard, keluarga kecil Jhico, Akra, dan Jhon pun juga.
Mereka akan staycation di sebuah hotel. Dan sebentar lagi akan berangkat ke hotel tujuan.
"Dimi, ayo bermain. Ah kamu tidak seru," Gisca, adik Grizelle menarik-narik tangan Dimi, kakak sepupunya yang usianya hanya berjarak dua tahun lebih tua darinnya.
"Gisca, jangan paksa Dimi. Kamu seperti tidak tahu Dimi saja," Grizelle menegur adiknya. Gisca langsung melepaskan tangan Dimitry lalu Ia merengut. Kemudian anak itu berlari ke arah Jhico yang sedang di carport, menyalakan mobil.
"Pupu, Dimi tidak mau bermain,"
Richard yang sedang meletakkan minum di mobilnya yang bersampingan dengan mobil Jhico, menoleh pada Gisca, begitupun dengan Jhico.
"Jangan dipaksa, Gisca."
"Tapi aku mau bermain!"
"Nanti Uncle suruh Dimi bermain denganmu," sahut Richard yang membuat Gisca tersenyum. Ia melompat kesenangan.
Agak sulit juga memiliki anak yang perangainya seperti Dimitry yang kaku, tidak banyak bicara dan cenderung dingin. Dimitry merupakan fotocopy Richard sekali. Berbeda dengan Jane yang justru kebalikan dari suami serta anaknya, Dimitry.
Tapi biarpun begitu, Richard dan Jane sangat bersyukur memiliki Dimitry. Anak itu sudah dinantikan kehadirannya. Pengorbanan Jane untuk memilikinya juga luar biasa. Berkali-kali mengikuti program hamil tapi tidak langsung berhasil. Sampai-sampai keluarga Jhico yang tadinya begitu baik padanya, perlahan berubah karena Ia belum berhasil memberikan anak untuk Richard.
Auristella sudah selesai mempercantik diri. Pakaian nya kali ini adalah one set berwarna biru laut, Ia juga menggunakan pita rambut yang warnanya sama dengan baju yang Ia pakai.
"Gisca, aku ada kuteks baru," ucap Auristella setelah keluar dari kamarnya lalu mendekati Gisca.
__ADS_1
"Mana? aku mau,"
Gisca seolah lupa dengan keinginannya tadi yang ingin bermain dengan Dimitry. Padahal Richard sudah menyuruh anaknya untuk menghampiri Gisca lalu mengajaknya bermain tapi Gisca malah ke kamar Auristella.
"Mau aku pakaikan?" tanya Auristella pada Gisca. Gisca menggeleng, Ia duduk di tepi ranjang Auristella.
Ia mulai berkutat dengan kuku dan kuteks Auristella. Auristella keluar dari kamar meninggalkan Gisca, dan Ia bertemu dengan Grizelle yang mencari adiknya.
"Dikamarku, pakai kuteks,"
"Kenapa kamu biarkan? dia belum boleh pakai itu yang bukan untuk anak kecil,"
"Bisa hilang dengan air," jawab Auristella. Grizelle menggeram kesal padanya lalu masuk ke kamarnya. Auristella menggeleng pelan.
"Gisca, ayo keluar. Kita sudah mau berangkat,"
"Sebentar, Kak."
"Tidak ada sebentar-sebentar. Cepat keluar!"
Gisca mendengus namun tetap menuruti titah kakaknya. Ia membawa kuteks itu. "Kak Auris, ini buatku ya?" tanya Gisca saat melihat Auristella yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Aku baru beli,"
"Nanti Kak Auris bisa beli lagi,"
"Ya sudah, ambil."
"Yeayy terimakasih,"
******
Andrean menyusul ke hotel karena Ia ada urusan pekerjaan, begitupun dengan Adrian yang baru selesai syuting setelah keluarganya sampai di hotel.
Mereka berdua berangkat dengan mobil masing-masing. Andrean dari kantornya dan Adrian dari lokasi syuting nya.
Yang sampai lebih dulu adalah Andrean. Selang satu jam berikutnya barulah Adrian. Adrian paling dinanti-nantikan sepupunya karena Ia paling bisa mencairkan suasana.
Mereka menikmati makan siang bersama setelah itu istirahat sebentar. Dan sore nya, mereka berenang. Sementara orangtua mereka mengobrol di sebuah meja melingkar yang letaknya di pinggir kolam renang.
Dimitry meluncur dari water slide kolam renang. Water slide itu tinggi sekali, hingga membuat Jane berteriak histeris melihat anaknya yang begitu berani.
"Tidak usah berlebihan. Dia anak laki-laki, jadi biarkan saja,"
"Kamu bagaimana sih? Dimi itu berlian, dapat nya susah!" cibir Jane yang tidak terima ketika dikatakan berlebihan oleh suaminya.
Dimitry hadir setelah penantian panjang, jadi Jane benar-benar over protective pada anak itu. Sementara Richard lebih membebaskan anaknya untuk berekspresi. Asalkan masih wajar. Dan meluncur dari water slide merupakan hal yang disukai Dimitry. Dia tidak takut melakukan itu.
"Aku juga mau!"
"Gisca, tidak boleh!"
"Tapi aku mau, Mumu."
"Tidak boleh! itu tinggi sekali,"
"Nah 'kan Dimi. Gisca jadi mau mengikuti kamu," Jane menegur anaknya yang telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh anak seusia Gisca karena Ia akan mengikuti.
__ADS_1
"Gisca jangan macam-macam lah. Dimi anak laki-laki, jadi tidak masalah. Kalau kamu perempuan, masih sangat kecil juga,"
Gisca merengut saat kakaknya ikut melarang. Akhirnya Ia keluar dari kolam renang kemudian duduk di atas pangkuan Jhico. Anak itu menyembunyikan wajahya di dada Jhico.
"Baju Pupu basah, Gisca." ucap Jhico.
"Tidak apa, demi anak." gumamnya dalam pelukan Jhico.
"Yang merajuk, silahkan pulang. Kalau berlibur, semua harus senang," sengaja Vanilla berkata seperti itu agar anak bungsunya tidak merajuk dan tidak meminta dukungan dari Jhico.
"Ayo, Gisca berenang lagi." panggil Adrian dari kolam renang. "Gisca..." bujuknya dengan lembut.
"Gisca, mau pulang ya?" tanya Auristella.
"Tidak mau!"
"Ya sudah, ayo berenang lagi. Jangan merajuk, nanti kamu pulang."
Andrean keluar dari kolam renang, kemudian meraih Gisca dari pelukan Uncle nya. Setelah itu Ia menggendong Gisca dan dibawanya ke kolam renang. Ia tidak bisa berbicara banyak, hanya ini yang bisa Ia lakukan agar Gisca menyelesaikan acara merajuknya.
****
Tidak hanya staycation, mereka juga mencoba untuk menantang diri dengan menaiki balon udara. Yang paling antusias tentu saja yang laki-laki sementara perempuan lebih banyak takut.
"Aku tidak ikut lah,"
"Harus ikut semua," tegas Adrian setelah mendegar adiknya bicara seperti itu.
"Adrian, kamu tidak takut mati muda? kamu belum menikah dengan Adrina, ingat!" bujuk Auristella yang jarang sekali membawa-bawa nama Adrina. Biasanya Ia paling tidak mau membahas perempuan di depan kedua kakaknya.
Adrian berdecak seraya mengetuk kening adiknya dengan punggung jari telunjuk.
"Bukan Adrina, Auris. Tapi Angel, 'kan baru kemarin bertemu dengan Angel. Mereka berdua akrab sekali," Senata ikut menggoda Adrian.
Andrean melirik Adrian dan itu membuat Auristella terkekeh pelan. Kemudian Auristella menatap neneknya penuh arti.
"Sepertinya Angel untuk Andrean saja, Grandma. Mereka berdua sama-sama salah tingkah saat bertemu,"
"TAPI KALIAN TIDAK BOLEH PUNYA KEKASIH SEKARANG YA! INGAT! KALAU HANYA KAGUM, AKU IZINKAN." lanjutnya seraya berseru.
Layaknya orangtua pada anak, Auristella bicara seraya menatap kedua kakaknya dengan tajam, penuh peringatan. Meskipun Ia membahas Adrina dan Angel, bukan berarti Ia sudah mengizinkan kedua kakaknya menjalin hubungan khusus dengan seorang perempuan. Ia belum siap kalau kedua kakaknya punya kekasih. Ia belum bisa kehilangan kasih sayang dan perhatian yang utuh dari mereka.
Β -------
EX PART UDAH SELESAI SAMPE SINI. AKU MAU KALIAN RAMEIN KOMEN, LIKE, DAN VOTE UNTK TERAKHIR KALINYA SEBELUM PISAH SAMA TRIPLE Aπ TENCUUUπ
TRIPLE A BAKAL SERING MUNCUL DI LAPAKNYA GRIZELLE YG JUDULNYA (NILLAKU) BWT YG KANGEN MEREKA, BISA PANTENGIN TERUS LAPAK NILLAKU
BACA JUGA CERITA MASA MUDA DUO R (RAIHAN & RENA) YG JUDULNYA ADDICTED. DIJAMIN KALIAN SUKA DEH ;)
Yg belum follow Noveltoon aku, follow yak ;) follow IG sama twit aku jg boleh (arzeemhrn)π itu uname nyaa.
YUK YUK PEMBACA GELAP SEGERA MENERANGKAN DIRI. UDH DI EP TERAKHIR MASA MASIH NGUMPET AJA?ππ
__ADS_1