
Ferro datang ke ruang perawatan Lovi bersama dengan beberapa rekan bisnis Devan. Tepat di hari ke empat, Auristella sudah diperbolehkan satu ruangan bersama Lovi.
Dan rencananya esok, Lovi dan Auristella sudah bisa pulang ke rumah. Devan sangat senang mendengar kabar tersebut. Terlalu lama melihat anaknya di dalam ruangan khusus membuat hati Devan melirih pilu. Ia pernah ditempatkan dalam posisi seperti ini. Dimana rasa khawatir terhadap anak yang sakit adalah sesuatu yang mampu menghilangkan akal sehat Devan.
Banyak sekali hampers sebagai buah tangan untuk Auristella, bayi perempuan atau anak ketiga dari Lovi dan Devan yang dilahirkan dengan sedikit perbedaan dari kedua kakaknya. Mereka tidak dirawat seperti Auristella karena terlahir dalam kondisi baik-baik saja.
"Beruntung Adrina tidak jadi ikut ke sini,"
"Kenapa memangnya?"
"Tidak ada temannya,"
Gelak tawa Devan terdengar setelah beberapa hari ini terlihat lesu karena kondisi anaknya yang buruk.
Tentu saja semua tahu kalau yang dimaksud Syarief adalah Adrian, anak yang gagal menjadi bungsu.
Kalau mereka dipertemukan memang bisa dipastikan suasana akan lebih hidup. Mereka memang jarang terlihat tentram namun hal itulah yang menjadi sumber tawa untuk orang lain.
*****
"Mama ingin sekali mencium pipinya itu,"
Senata menggeram gemas saat melihat cucu perempuannya melalui sambungan video. Senata tidak pernah absen bertanya mengenai cucu dan anaknya. Karena Ia hanya bisa bertemu Lovi sekali setelah anaknya itu melahirkan. Sementara untuk melihat wajah Auristella, saat itu Ia hanya bisa melihat dari kaca saja, tanpa menyentuh.
__ADS_1
"Besok sudah bisa dicium, Ma."
Devan yang sedang membaca sesuatu di laptopnya terdengar menyahuti. Ia menatap sebentar pada Lovi seraya tersenyum. Perempuan itu merona. Devan sangat tampan dengan kacamata yang membingkai manik hitam legam miliknya. Hidung bangirnya sangat bisa diandalkan dalam menopang frame di sela kacamata itu.
"Dimana mereka?"
"Seperti biasa, lagi bercocok tanam di taman,"
Lovi menggeleng pelan. Sementara bibir Devan berkedut karena tertawa pelan di sela kegiatannya.
"Apa yang mereka tanam?"
"Andrean menjadi Tuan tanah jadi dia tidak melakukan apapun. Hanya memastikan petaninya bekerja dengan baik. Petaninya tentu saja anak kalian yang menyebalkan itu,"
*****
"AUNTY VANILLA, ADRIAN DATANG. MAIN YUK!"
"Aunty di kamarnya. Pasti tidak mendengar,"
"Hei, mau kemana?" Tangan Senata menahan gerak cepat Adrian yang sudah melangkahkan kaki untuk menaiki undakan.
"Bertemu Aunty di kamarnya,"
__ADS_1
"Kalau lagi istirahat jangan diganggu,"
Adrian meletakkan tangan kanannya di pelipis, memasang sikap hormat, layaknya pada atasan.
"Siap, Grandma."
Adiknya naik ke lantai atas, Andrean memilih untuk mendekati Jane yang terlihat bergelut dengan laptop dan buku-bukunya di ruang keluarga. Tidak seperti biasanya yang selalu menyambut kedatangan Ia dan adiknya.
"Aunty Jane, sedang mengerjakan tugas ya?"
Jane menghela rambutnya ke belakang lalu menatap sosok yang menyapanya.
"Oh Andrean, kapan sampai?"
Andrean berdecak dengan wajah dinginnya, lalu duduk di dekat Jane. Memperhatikan laptop milik gadis itu. Ia mengerinyit bingung saat melihat banyaknya grafik dan diagram yang sedang dikerjakan Jane.
"Aunty belajar apa? Andrean belum pernah pelajari ini di sekolah,"
Jane menahan tawanya. Jelas saja belum belajar mengenai materi yang sedang Ia kerjakan ini. Andrean bahkan belum menginjak pendidikan dasar.
---------
MALAM LEBARAN NIH. SELAMAT LEBARAN YAAA UNTUK SEMUA PEMBACAKU YG MERAYAKAN. SMG KITA SEMUA SEHAT SELALU, BISA BERTEMU DGN HARI RAYA DI THN BERIKUTNYA, AAMIIN :)
__ADS_1