
Lovi bangun dari tidurnya saat mendengar suara benda yang terjatuh di lantai. Ia melihat Devan yang sedang sibuk berpenampilan di depan cermin. Entah apa lagi yang di cari lelaki itu. Padahal sebelum matahari terbit Lovi sudah mempersiapkan semuanya setelah itu Ia tertidur kembali.
Lovi bangkit dan mengikat asal rambutnya. Devan yang sedang menata rambut pun menoleh saat bayangan Istrinya berada di cermin.
"Maaf mengganggu tidurmu,"
"Apa yang Tuan cari tadi?"
"Kamu lupa menyiapkan parfum untukku," Usai menjelaskan, Devan meletakkan sisirnya kemudian meraih berkasnya yang memenuhi meja di sudut ruangan. Meja yang tadinya di peruntukkan untuk Lovi namun lambat laun di ambil oleh Devan.
"Bolehkah aku keluar dari mansion?" cicit Lovi. Ia nekat meminta hal itu. Karena sudah terlalu bosan berada di mansion itu. Ia membutuhkan beberapa waktu untuk menikmati dunia luar setelah sekian lama tidak disapanya.
Devan meyakinkan pendengarannya.
"Apa? Kamu ingin keluar dari sini?"
Devan salah menangkap maksud dari ucapan Lovi.
"Ya, hanya untuk berjalan-jalan sebentar maksudku,"
Hanya Devan yang menyadari kalau setelah mendengar itu, Ia menghela napas lega. Ia kira Lovi masih ingin membahas masalah kemarin yang hingga kini membuatnya sangat menyesal.
Devan mengangguk lalu mengusap puncak kepala Istrinya yang kini berdiri di hadapannya. Dengan balutan piyama merah mudanya, Lovi terlihat seperti anak kecil.
"Mereka selalu mengawasimu,"
"Terimakasih,"
****************
Hari ini Devan membawa mobilnya sendiri. Ferro sudah pergi ke kantor lebih dulu untuk mempersiapkan meeting dengan kliennya hari ini.
Devan memutar kemudinya lalu memasuki basement khusus untuknya. Devan keluar dari mobil lalu bergegas memasuki gedung megah di hadapannya.
Ia melihat Ferro yang sudah menantinya di depan pintu ruangan. Dengan raut wajah yang tampak gelisah. Ferro mungkin khawatir pada Devan yang datang terlambat.
__ADS_1
"Meeting sudah dimulai, Tuan," Ucapnya segera saat Devan ada di hadapannya.
"Anda terlambat,"
"Ya, aku baru saja mengurus bayi besar,"
Devan langsung memasuki ruangan meninggalkan Ferro yang bingung.
"Bayi besar?"
Bahkan Lelaki setengah baya itu sampai bergumam sendiri. Ia tak mengetahui alasan jelas yang menyebabkan keterlambatan Devan untuk menghadiri meeting penting hari ini.
Lovi kembali di serang gejala Morning sickness nya. Bahkan sampai pingsan hingga membuat Lelaki itu panik. Padahal ketika meminta izin untuk pergi, Lovi baik-baik saja. Saat Devan menyantap sarapannya di lantai bawah, Ia mendengar pekikan Netta yang saat itu sedang mengantar sarapan untuk Lovi dan laporan yang di terimanya dari pelayan lain.
Sampai akhirnya Devan tidak sempat untuk menyantap sarapan paginya. Ia lebih memilih untuk berada di samping Lovi hingga kesadarannya pulih. Devan tak henti mengusap kening Lovi yang mengeluarkan keringat dingin. Wajah pucatnya berhasil membuat Devan Tak bisa tenang. Ia sempat mempunyai niat untuk meninggalkan segala kepentingan pekerjaannya.
"Aku baik-baik saja. Tuan silakan bekerja," Ucap Lovi saat itu yang masih terbaring di ranjang dengan tangan yang digenggam erat oleh Devan.
"Kesehatanmu lebih penting," Lovi menggeleng dan Ia berusaha bangkit dari posisinya. Hal itu membuat Devan berdecak.
"Aku ingin berjalan-jalan, Tuan,"
"Kamu gila, Lovi! Keadaanmu tidak memungkinkan untuk keluar dari mansion,"
Lovi langsung menatap Devan untuk menyampaikan protesnya. Namun melihat tatapan Devan yang semakin tajam, Lovi memilih untuk membuat Devan luluh tanpa melakukan protes sedikitpun. Lelaki itu tidak bisa dipaksa dengan keras.
Dengan menampilkan wajah memohonnya, perempuan itu berkata,
"Aku ingin menikmati lingkungan di luar, Tuan. Hanya sebentar saja,"
Devan mempertimbangkan banyak hal. Termasuk keselamatan Anaknya yang harus di utamakan. Beberapa waktu ini, Devan akan luluh jika Lovi bersikeras menginginkan sesuatu. Rasanya sangat sulit menolak permintaan Lovi yang selalu saja sederhana. Ia tidak siap mendapati raut sedih Lovi disaat keinginannya tidak terpenuhi.
Devan menghela napas dan akhirnya menyetujui. Ia meraih mangkuk bubur di nakas. Devan menunduk untuk mengaduknya. Namun tangan Lovi menghentikan.
"Tidak, Jangan diaduk. Aku lebih suka seperti ini,"
__ADS_1
Devan lagi-lagi memenuhi keinginan perempuan yang sedang mengandung anaknya itu. Ia membawa sendok berisi bubur kari ayam tersebut mendekat ke arah Lovi.
"Ya sudah buka mulutmu,"
Dengan telaten Devan mengurus Lovi. Kali ini Devan berhasil membuat Lovi menghabisi makanannya. Setelah sarapan, Lelaki itu membantu Lovi untuk mengganti pakaiannya hingga penampilan Lovi lebih mempesona walaupun hanya dengan gaun santai yang sederhana.
"Tuan tidak bekerja?"
"Bisa kutinggal?"
Lovi langsung mengangguk. Ia tidak ingin mengganggu pekerjaan Lelaki itu lagi. Devan akan meninggalkan kewajibannya di kantor bila Ia mengetahui kondisi Istrinya tidak dalam keadaan baik.
Setelah meyakinkan Lovi baik-baik saja, Devan langsung bergegas ke kantor. Walaupun terlambat, Devan dengan percaya dirinya memasuki ruangan yang dipenuhi oleh para petinggi itu.
"Maaf aku terlambat," Ujarnya dengan dingin lalu duduk di tempatnya.
Semuamya Bersiap untuk mendengarkan presentasi yang akan disampaikan oleh beberapa pihak. Suasana ruangan cukup ramai dan tidak terlalu membosankan namun pikiran Devan selalu tertuju pada Istrinya yang diyakini tengah menikmati waktu bebasnya.
"Aku rasa daerah itu bisa diandalkan untuk mendapat keuntungan yang jauh lebih besar. Mengingat potensi dibidang pariwisatanya sangat tinggi,"
Devan akan membangun sebuah perhotelan kembali di daerah yang mempunyai peluang besar dalam menarik para wisatawan untuk berkunjung.
"Bagaimana?"
Devan tersentak ketika salah seorang rekannya meminta jawaban. Ia menetralkan kembali raut wajahnya yang terlihat jelas sedang merasa khawatir.
"Ya,"
Semua orang di sana hanya mampu melihat tanpa harus bertanya. Devan adalah sosok yang tertutup soal kehidupannya.Tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengambil risiko pembatalan kerja sama dalam hal investasi bila mereka lancang bertanya sesuatu yang bukan kapasitasnya.
Semua mata langsung menatap Devan yang tiba-tiba berdiri dan berdehem sebelum akhirnya berucap,
"Aku harus pergi. Aku serahkan semuanya pada Ferro,"
**************
__ADS_1
Yuhuuu akyu dtg lageehh. Jgn lupa like, coment & vote nyaa manteman onlineq. Maaciw