
Adrian bangun dari lelapnya. Tangannya yang tak terpasang infus terasa kebas karena ditindih kepala Vanilla yang tertidur. Mulut kecilnya berdecak kesal.
"Aunty, Aunty bangun! Aunty niat jaga Adrian tidak sih?!"
Adrian menggoyang lengannya agar Vanilla terganggu. Ia mengerang kesal saat Vanilla yang tukang tidur tak juga membuka mata.
"AUNTY, BANGUN! TANGAN ADRIAN SAKIT!"
Pintu berdentum saat Devan masuk dengan wajah paniknya. Ia berjalan tergesa ke arah Adrian yang wajahnya memerah.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit? Kamu mencari Daddy? Maaf, tadi Daddy lihat keadaan Mommy sebentar," Devan tidak bernapas selama mengatakan itu. Ia terlalu kaget saat dari luar pintu suara Adrian terdengar melengking. Pikiran buruk langaung memenuhi otaknya.
"Ini Aunty Vanilla tidur di tangan Adrian. Sakit, Daddy," Ia merengek dan Devan baru sadar kalau ada manusia di samping bangsal anak bungsunya.
Ia menggeram lalu menarik telinga Vanilla agar gadis itu bangun dan tak lagi menyakiti anaknya.
"Kamu bukannya jaga Adrian malah--"
Vanilla berdecak dan mengusap singkat telinganya yang terasa sakit. Tapi Ia tak juga membuka mata.
"Vanilla! Telingamu sudah dipenuhi kotoran ya makanya tidak bisa mendengar lagi? Percuma sering ke salon--"
"Devan, berisik! Keluar dari kamarku!"
Mata Devan membulat. Rahangnya mengeras. Ia kira ini kamarnya? Sepertinya Vanilla sudah terlalu jauh masuk ke alam mimpi sampai lupa dia sedang berada dimana.
"Aunty, bangun!"
Akhirnya Vanilla mengangkat kepalanya. Ia mengusap kasar telinganya yang terasa ngilu. Anak dan Ayah sama saja. Hobi mengeluarkan suara dahsyat.
"Kenapa, Adrian? Aunty mengantuk,"
"Ya Adrian tahu. Tapi jangan tindih tangan Adrian. Sakit, Aunty! Kepala Aunty besar. Seperti rumah," jawabnya dengan gaya menyebalkan. Kalau ia sedang tidak sakit, sudah pasti Vanilla membuat pembalasan.
"Kamu pulang saja! Terima kasih sudah menjaga Adrian," Devan menekan kata 'menjaga' seolah ada makna ganda di dalamnya. Karena memang bukan itu yang seharusnya Ia ucapkan. Namun Devan masih menghargai adiknya itu. Seharusnya 'menyakiti' lah yang keluar dari mulutnya.
"Lihat, Jane dan Andrean saja masih tenang dalam tidur. Kamu selalu saja buat masalah. Dasar--"
__ADS_1
"Sudah-sudah, jangan berbicara lagi. Kamu diam saja. Suaramu seperti terompet Adrian. Anakku bisa sakit kepala nanti,"
Devan mengibaskan tangannya di udara mengusir gadis itu dari samping Adrian. Vanilla bangkit dengan wajah bersungut. Ia membanting tubuhnya di sofa. Ingin kembali memejamkan mata.
"Aunty..."
Vanilla berdecak seraya menggeram.
"Apa lagi, Adrian? Tadi aunty disuruh diam. Aunty sudah diam, masih saja dipanggil-panggil,"
"Jangan tidur lagi. Ngobrol saja,"
Vanilla enggan menjawab apa lagi menuruti ucapan keponakannya itu. Ia meletakkan lengannya di atas kedua mata lalu bersiap untuk menjemput alam bawah sadarnya lagi.
"Ngobrol sama Daddymu saja. Suaranya 'kan tidak seperti terompet," Ia masih sempat menyindir. Devan terkekeh mendengarnya. Rupanya gadis itu tersinggung dengan kalimatnya.
"Kamu bukan anak kecil lagi. Jangan merajuk terus. Tidak ada yang mau menjadi kekasihmu nanti,"
Kalau sudah mendengar 'kekasih' di dalam topik pembicaraan, Vanilla akan lebih sensitif. Karena Ia sedang sibuk menelaah perasaannya sendiri. Ia sedang dekat dengan seorang lelaki, Ia menganggap kedekatan itu lebih daripada teman. Namun sepertinya lelaki itu tidak menyambut perasaan Vanilla, atau mungkin belum. Sehingga Vanilla bingung, ingin tetap pada rasa sukanya, atau menyerah dan memilih lelaki lain.
"Kamu dekat dengan siapa sekarang?"
"Tidak usah membahas itu. Anakmu telinganya sudah panjang itu, mendengar pembicaraan kamu,"
"Adrian bukan gajah! panjang darimana? Aunty pegang sendiri ini," Adrian menarik telinganya memperlihatkan pada Vanilla. Ia protes ketika Vanilla secara tidak langsung menuduhnya menguping. Walaupun kenyataannya memang begitu, tapi jangan membuat Adrian malu, bisa 'kan?
Jane melenguh dalam tidurnya. Ia mengangkat kepalanya yang sebelumnya berada di samping tangan Andrean.
"Ada apa?" dengan tampang bodoh Jane bertanya. Devan mendengus kesal.
"Aku masih ingat pesanku tadi pada kalian, Aku meminta kalian menjaga anakku. Kenapa kalian malah tidur?"
"Mereka tidur, lalu aku harus diam memandangi dinding sampai mereka bangun, begitu?"
"Memang tidak punya hati dia. Apa salahnya kita tidur?" Vanilla mendukung protesan Jane pada Devan.
"Kalau anakku--"
__ADS_1
Andrean mengerakkan bibirnya masih dengan mata terpejam. Ia terganggu dengan perdebatan yang sebenarnya dilebih-lebihkan oleh Devan.
"Dad, Andrean mau minum,"
Devan langsung mengambil gelas milik anak sulungnya lalu membantu anak itu untuk bangkit.
"Kamu mengigau atau bagaimana? matanya belum terbuka tapi sudah minta minum,"
***
"Lovi, bagaimana keadaanmu? atasan kita mengatakan kalau kamu sakit, makanya setelah pulang bekerja kami langsung ke sini,"
Desira dan Fifdy datang menjenguk Lovi yang sudah beberapa hari tidak masuk kerja. Setelah jam kerja habis, mereka langsung bertandang ke rumah sakit.
"Aku baik-baik saja,"
"Hanya Nyonya Senata yang menjagamu di sini? suamimu dimana?" Fifdy bertanya usai menjelajahi ruangan Lovi. Ia hanya menyapa Senata di dalam sana. Tidak ada orang lain.
"Suaminya sedang menjaga anak-anak mereka yang dirawat juga,"
Desira menatap Senata dengan raut terkejut. Bukan Lovi yang menjawab pertanyaan Fifdy tadi. Entah mengapa Senata perlu mengatakan itu agar Devan tidak buruk dimata teman-teman Lovi.
"Si kembar sakit juga?" Desira beralih pada Lovi yang langsung mengangguk.
"Sakit apa?"
"Jatuh dari tangga," Senata menjawab Fifdy untuk yang kedua kalinya. Nadanya datar seperti menahan kesal. Ia ingat betul lelaki ini. Semasa remaja Fifdy pernah mengatakan padanya secara terang-terangan kalau Ia menyukai Lovi. Mereka yang berteman membuat Fifdy ragu untuk berkata jujur pada Lovi. Oleh sebab itu Ia meminta bantuan pada Senata.
Walaupun itu sudah lama, tetap saja Senata harus menciptakan batasan. Apa lagi yang Ia lihat Lovi tampak acuh saja padahal bisa dilihat dengan jelas dari tatapan lelaki itu kalau Ia memiliki perasaan terpendam untuk Lovi.
"Boleh menjenguk mereka?" Desira bertanya hati-hati. Ia tahu keluarga mereka bukanlah sembarangan. Barang kali ada batasan untuk menjenguk kedua anak itu.
"Boleh, Desira. Kalau tidak macam-macam, Devan tidak akan mengaum kok. Kalian tenang saja,"
Lovi menahan tawanya saat Senata mengatakan itu. Ia tak menyadari kalau dibalik kalimat Senata ada makna tersendiri. Itu ditujukan untuk Fifdy yang mungkin masih berniat untuk memiliki Lovi.
-----
__ADS_1
Itu ninik-ninik nyinyir bat mulutnya😂😂 udh antisipasi dia takut si babang pipip cemacem. INI PANJANG LHOO. JGN LUPA KLIK 👍 DAN 💬 TENCUUUU OOOLLL